Firgiawan Ramaulana: Membuat Konten Twitter yang Bikin Penasaran

Belakangan ini, setiap kali membuka media sosial Twitter, kita sering diberi kejutan joke-joke yang sama sekali tidak terpikirkan oleh kita sebelumnya. “Aduh, kok bisa sih kepikiran begitu?!” Dan Twitter, sebagai platform media sosial yang populer membuat semuanya rata dan adil. Semua bebas menulis atau mengarang lawakan ala mereka, atau merespon akan satu isu yang sedang naik di trending topics dan lain-lain.

Cuitan itu sering kali keluar dari akun @seterahdeh. Firgiawan Ramaulana lebih dikenal dengan nama akun @seterahdeh di media sosial, utamanya Twitter dan Instagram. Ia memiliki ratusan ribu followers di akunnya. Bukan pesulap, walau bio di Twitter-nya tertulis “pesulap”, Firgi memiliki cerita sendiri soal perjalanan akun media sosialnya itu.

Dari ceritanya, Firgi memang awalnya sengaja merespon banyak akun selebtwit lain untuk mendapatkan followers. Dan setelahnya, Firgi juga sempat mengalami momen “viral dalam semalam” serta mendapatkan hujatan dari netizen satu negara. Saat ini, sebagai influencer, Firgi tidak takut mencoba banyak bentuk konten, bahkan mulai dari lagu di Spotify hingga video di YouTube. Berkesempatan mewawancarai Firgi soal itu semua, berikut obrolan Crafters dengan Firgiawan Ramaulana atau seterahdeh.

Firgiawan Ramaulana: Membuat Konten Twitter yang Bikin Penasaran
Sosok Firgiawan Ramaulana (Dok. Instagram @firgiawanr)
Gimana sih cerita awal kamu bermain Twitter dan pada akhirnya mendapatkan project pertama sebagai “SelebTwit” atau influencer?

Dulu gue gak tau kalo julukan artis di Twitter tuh selebtwit, gue kira sama kayak Facebook istilahnya “ADM”, Artis Dunia Maya, hahahaha. Dulu gue masih suka nge-follow akun yang followers-nya banyak, seru aja liat tweet-tweet-nya, terus kadang juga suka iri gitu, kok dia tiap nge-tweet selalu ada aja yang retweet dan ada aja yang respon? Terus gue pikir mungkin karena followers-nya banyak. Akhirnya memutuskan untuk pengen punya followers banyak juga, tapi bingung gimana caranya, ya udah pake jalur pintas aja, ya, pake autofollowers.

Baca Juga: Andi Hiyat: Selebtwit Dadakan yang Merangkai Konten dengan Spontan

Ini semacam bot gitu, cuma enggak ada efeknya–banyak doang followers-nya, tapi yang merespon sedikit. Udah gitu enggak bertahan lama, baru seminggu udah normal lagi followers gue karena berkurang terus. Akhirnya gue coba cara lain, yaitu tiap si selebtwit nge-tweet, gue nimbrung aja ikutan komen, sok-sokan ikut dilucu-lucuin, dan ternyata itu berhasil. Waktu itu gue di-follow selebtwit seneng banget masa’, hahahaha. Tapi sekarang udah b aja. Nah, sejak di-follow selebtwit itu, tweet gue di-retweet terus akhirnya berantai gitu ‘kan jadi pada follow gue dan Alhamdulillah, followers belum ada 10.000 waktu itu gue udah dapat project gara-gara saling follow sama selebtwit kali ya.

Jika kamu bisa menjelaskan dengan sederhana, konten-konten buatanmu itu bisa didefinisikan sebagai konten seperti apa sih?

Entah. Random aja. kadang lucu-lucuan, kadang sok-sok puitis, kadang serius. tapi makin ke sini tuh gue kalau bikin sesuatu tuh pengennya kayak pada nyesel gitu karena sudah baca atau nonton konten yang gue bikin. Bagian terbaik dari bikin konten ‘kan gimana respon yang menerima konten itu. Nah, gue suka kalau bikin sesuatu orang pada marah-marah, menyesal atau segala macam. Mereka baca atau menonton konten gue itu bukan karena suka, tapi karena penasaran. Tapi gue bisa bedain sih mana followers gue mana yang bukan. Jadi kalau ada yang ngatain gitu gue enggak marah, malah senang, hahaha.

Banyak dari influencer di Twitter yang amat tanggap isu atau responsif. Untukmu sendiri, ini penting enggak sih dan apa alasannya?

Penting. Untuk meraup pundi-pundi retweet. Kalau mau banyak retweet-nya ya gitu, harus membahas apa yang lagi ramai. Tapi sekarang gue udah enggak terlalu ikut-ikutan apa yang lagi ramai. Ya, pernah sih sekali dua kali, itu juga kepancing, tapi sudah jarang. Bahkan setiap ada bencana, gue enggak mau ikut-ikutan nge-tweet tentang itu–bukannya enggak peduli lho, cuma gue takut jadi bumerang aja. Salah nge-tweet sedikit, kelar sudah. Jadi gue sekarang ini lagi pengen bikin “dunia sendiri” aja gitu di Twitter, enggak melulu selalu tanggap apa yang lagi ramai.

Seperti kebanyakan orang di media sosial, kamu pernah beberapa kali membuat sebuah konten yang pada akhirnya memancing para “netizen” marah dan mengkritik akunmu. Apa yang kamu lakukan dan bagaimana kamu melewati masa-masa seperti itu di media sosial?

Hahaha, dari semua wawancara, baru kali ini ada yang nanya begini, dan akhirnya bisa bersuara juga. Sebenarnya ada banyak banget masalah akun gue dengan netizen, entah sudah berapa kali gue kena caci maki netizen. “Loh bukannya lu seneng kalo dihujat gitu?”, enggak, ini beda konteks, mereka marah karena bercanda gue terlalu berlebihan, mungkin istilah kasarnya, becandaan ‘tongkrongan’ gue bawa ke publik, dan enggak semua orang terima, akhirnya pada marah.

Tapi yang paling chaos sih gue masih inget banget di kepala gue, yang pas bercandain Ibu Vero, itu benar-benar berantakan Twitter pada saat itu. Hampir (mungkin) semua itu tertuju ke akun gue. Enggak punya empati, jahat, too far bercandanya. Gue enggak akan ceritain kronologisnya kenapa gue bisa nge-tweet gitu, karena malah nanti gue dikira cari pembelaan. Intinya dari ngatain fisik, ngancem mau digebukin, mau dibunuh, sampe bawa-bawa orang tua. Wah pokoknya macem-macem banget dan gue benar-benar hancur banget waktu itu. Setelah minta maaf, gue pun tutup akun.

Lihat influencer yang tergabung dalam jejaring GetCraft!

 

Firgiawan Ramaulana: Membuat Konten Twitter yang Bikin Penasaran
(Dok. Twitter @seterahdeh)
Firgiawan Ramaulana: Membuat Konten Twitter yang Bikin Penasaran
(Dok. Twitter @seterahdeh)
Cara paling enak main Twitter itu, jangan gampang kesinggung, cara biar enggak gampang kesinggung, jangan gampang percaya. Cara biar enggak gampang percaya, ya diam saja. Itu udah paling cukup.

Selain gerah sama mention-mention yang masuk, gue juga menyelamatkan followers gue yang berkurang hampir 2.000 kurang dari 24 jam. Soalnya ‘kan kalau gue tutup akun, mereka yang follow enggak bisa unfollow, hahaha tapi tetap akun, Twitter tutup, larinya ke Instagram, bener-bener jadi DPO gue waktu itu, dikejar sampe manapun. Bahkan berita ini sampe ke orangtua gue, gara-gara dia baca berita, ada username gue.

Dan gue cuma ngeyakinin ke orangtua gue, kalo gue enggak kenapa-kenapa. Sebenernya mereka bukan cemas hidup gue terancam, tapi cemas gue enggak dapat kerja sama lagi dari Twitter, hahahaha. Enggak tau juga, soalnya gue sempet mikir gitu, di-blacklist banyak agency pasti. Tapi ya namanya rejeki, sudah ada yang mengatur–setelah kejadian itu ya lumayan banyak brand-brand yang masuk. Gue mengaku salah, cuma gue percaya, orang yang suka marah-marah itu enggak sengaja megang handphone, lalu terciptalah kalimat hujatan yang diketik pas lagi emosi tanpa mikir. Gue bisa aja balas-balasin mention yang ngatain gue, tapi gue enggak mau. Pertama, di situ posisi gue emang salah. Kedua, gue enggak mau apa yang gue ucap, apa yang gue ketik, itu jadi lebih jahat dari mereka, jadi gue cuma diam dan menenangkan diri aja.

Sekarang ini, kamu tidak hanya membuat konten di Twitter saja. Boleh diceritakan kenapa awalnya kamu membuat konten di platform media sosial lain dan apa alasannya?

Awalnya sih iseng, coba-coba, eh ketagihan hahahaha. Enggak deng, jadi gue beneran iseng doang, gue selalu senang sama respon-respon mereka yang mantengin konten gue, yang nungguin konten gue, terus ‘kan kayak Twitter tuh terbatas gitu kan video-nya, jadilah gue bikin di YouTube, terus responnya hampir sama kayak di Twitter, yaudah, lanjut bikin sampai sekarang, walaupun udah jarang banget sih. Dulu gue “mendewakan” Twitter, seakan-akan Twitter itu platform terbaik. Tapi kemudian gue sadar, gue seperti itu karena followers gue banyak aja di Twitter, kalo YouTube sama Instagram gue followers-nya udah banyak. Mungkin–mungkin lho ya, gue bakal meninggalkan Twitter nantinya–enggak ninggalin juga sih, bakal jarang ngetwit aja, isinya udah aneh Twitter sekarang mah, kebencian semua. Seram.

Misal dapat mengulang kariermu sebagai influencer, apa 3 hal yang akan kamu lakukan?

Kalau misalnya bisa diulang, ya gue bakal ngetwit yang baik-baik aja, enggak perlu sampai memancing semua netizen buat ngehujat akun gue. Tapi gue enggak mau diulang ah, soalnya dulu rate gue kecil, sekarang enak, sudah gede. Hahahahaha.

Bagaimana sih kamu meyakinkan klien saat bekerja sama untuk mempercayakan “barang” mereka dijual dengan balutan konten buatanmu? Karena hal ini penting untuk influencer namun kadang menjadi sulit karena brand memiliki pantangan-pantangannya sendiri. Boleh diceritain pandanganmu soal ini?

Gue sekarang udah enggak sembarang sih nerima kerjasama gitu, lihat crowd juga, masuk apa enggak di followers gue, gue paling senang kalau dapat brand kerja sama yang brief-nya enggak terlalu hard-selling banget, bisa dibuat lucu-lucuan, yang bisa terasa relatable sama si followers gue itu. Walaupun ujung-ujungnya kena omel juga “woilah, ujung-ujungnya iklan,” apalagi yang pake foto sendiri gitu, gue bikin nyeleneh terus kan si followers jadi kepancing buat liat tweet gue.

Baca Juga: Admin Bude Sumiyati: Viral Bermodal Kuota Setengah Giga

 

Firgiawan Ramaulana: Membuat Konten Twitter yang Bikin Penasaran
(Dok. Instagram @firgiawanr)
Dari semua project kolaborasimu dengan sebuah brand, bentuk konten seperti apa sih yang menantang untukmu dan apa alasannya?

Belum ada. Gue selama ini pengen banget dapet brand dalam bentuk gue disuruh bikin video gitu, jadi kayak gue bikin iklan sendiri buat si brand itu. Sejauh ini belum ada yang ngajakin itu.  Terakhir ada sih, video reaction gitu, cuma ya namanya reaction ya gitu-gitu aja. Jadi otak gue merasa ditantang untuk liar kalo dapet brand yang di mana gue disuruh bikin video. Cuma pe-er juga kalo konten gue enggak masuk di brand itu dan suruh direvisi, hahahaha.

Di zaman serba panas dan media sosial lebih dibaca netizen daripada portal berita ini, apa sih yang kamu lakukan sebagai influencer untuk mengedukasi pembacamu dalam memberantas hoax? Apakah kamu turut andil dan bagaimana caramu?

Ya gampang banget. Lihat faktanya, bukan katanya. Jangan gampang percaya, ah. Cara paling enak main Twitter itu, jangan gampang kesinggung, cara biar enggak gampang kesinggung, jangan gampang percaya. Cara biar enggak gampang percaya, ya diam saja. Itu udah paling cukup.

Kalau ada teman yang gampang kemakan hoax, kasih tahu aja pelan-pelan, kalau dia masih ngeyel juga, ya balik lagi, diemin aja, lo debat sama orang bebal? Sampe kucing makan rumput juga enggak kelar-kelar.

Ke depannya, apalagi sih bentuk konten yang akan kamu coba buat dan bagaimana menurutmu perkembangan industri influencer di masa datang?

Gue lagi coba ke dunia tarik suara nih, hahaha beneran. Setelah lihat respon debut album gue yang “BODO” itu ada di-Spotify (jangan lupa streaming), gue jadi terpacu buat bikin lagi. Bayangin saja, lagu kayak gitu saja sampai didengar oleh Kunto Aji sama Iga Massardi dari Barasuara. Seperti yang gue bilang tadi, mereka itu nikmatin bukan karena suka, tapi karena penasaran ajahahahahaha.

Buat perkembangan influencer di masa datang, asyik nih, gue enggak jarang menemukan mereka-mereka yang dulunya ngatain buzzer, akhirnya jadi ngiklan juga, dulunya ngatain ujung-ujungnya jualan di Twitter, akhirnya ikutan jualan juga. Terus ‘kan jadi banyak juga bibit-bibit selebtwit baru yang siap dihujat para anti-selebtwit. Semoga mereka sadar, kalau jadi influencer atau selebtwit itu enggak enak, lo udah enggak sebebas itu ngetwit-nya (enggak seperti saat followers lo masih sedikit). Pesan gue terakhir, jangan lupa berbuat baik ya teman-teman.

 

Kamu seorang influencer yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?