Crafters

Portal konten yang fokus mengangkat beragam hal seputar industri kreatif. Mulai dari wawancara, laporan khusus, sampai tips dari para kreator yang berkarya di bidang seni, kebudayaan, bisnis kreatif, dan teknologi.

Melalui Crafters, kami ingin memberikan kontribusi untuk perkembangan industri kreatif di Asia Tenggara.

Dikelola oleh

Sign up to receive bi-weekly creative inspiration, delivered directly to your inbox!

Fiersa Besari: Pentingnya Keseimbangan Dunia Nyata dan Maya

Cerita dimulai dengan seorang perempuan bernama Lacie Pound. Ia terlihat sedang membenahi dirinya di depan cermin sambil memperagakan senyuman dan tawanya. Lewat matanya, kita bisa melihat suatu cahaya yang berbinar dan kemudian menampilkan “status” sosial dirinya di cermin. Rating Lacie hari itu 4.2 bintang sekian dari nilai maksimal 5 bintang. Tidak buruk, namun ternyata Lacie masih cukup di bawah rata-rata dari bintang sempurna impiannya.

Hidup Lacie amat rumit. Ia menjalani segalanya dengan palsu, di kehidupan nyata dan media sosial. Demi mendapatkan respon baik dan meningkatnya bintang rating-nya, ia melakukan segala cara untuk dapat menyewa sebuah apartemen mewah yang membutuhkan bintang minimal 4.5 bagi penyewanya. Pada akhirnya, Lacie kena tulah karena sisi manusianya perlahan muncul dan ia mulai marah dengan keadaan, hingga tidak dapat menerima penolakan. Ini adalah sebuah cerita dari sebuah episode dari seri Black Mirror di Netflix yang berjudul Nosedive.

Fiersa Besari: Pentingnya Keseimbangan Dunia Nyata dan Maya
(Dok. Instagram @fiersabesari)

Dan ini adalah sebuah mimpi buruk dari perkembangan teknologi, terutama media sosial. Saat ini, kita mulai dapat menelaah fenomena media sosial dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi sebagian besar kehidupan kita. Tapi, apakah pantas, sebuah platform media sosial menjadi penentu kita dalam menilai kehidupan orang secara utuh?

Menurut Fiersa Besari, tidak. Kita biasa melihat nama seorang Fiersa Besari di platform media sosial Twitter, Instagram dan YouTube. Kreator dengan banyak ketertarikan ini memiliki followers minimal 1 juta di tiap-tiap akun media sosialnya. Lewat media sosialnya, ia mampu berkarya musik, menerbitkan lebih dari 3 buku dan menjadi seorang influencer sukses.

Namun, Fiersa tidak seperti Lacie Pound. Ia tegas dalam memisahkan kehidupan nyata dan kehidupannya di dunia maya. Ia sendiri, memiliki kritik terhadap media sosial yang ia jalani. Bagaimana cerita Fiersa dari awal meniti kariernya di platform-platform tersebut hingga meraih puncak sukses kariernya sekarang ini? Bagaimana pandangan Fiersa sendiri soal menyeimbangkan dan membelah dirinya di dunia nyata dan maya? Simak wawancara Crafters dengan Fiersa Besari.

Boleh ceritakan enggak, pertama kalinya kamu terjun ke dunia media sosial?

Dulu pertama kali bener-bener merasakan benefit dari media sosial itu Twitter ya. Itu tahun 2010 kalo enggak salah saya bikin Twitter, abis itu jadi media saya untuk cerita, udah gitu, ternyata banyak orang nge-retweet, jadi dari situ suka nge-tweet. Mungkin karena pada masanya dulu, saya melihat oh, ternyata seru juga ya, menulis terus banyak yang membaca, jadi seperti microblogging pada saat itu. Meskipun kala itu, saya ingat, orang-orang nge-tweet dan balas membalas. Jadi orang-orang mempergunakan Twitter untuk chatting gitu, sementara ada beberapa orang yang menggunakan sebagai microblogging, termasuk saya. Waktu itu Twitter, saya sempet kena hack saat saya sedang berjalan-jalan menelusuri Indonesia tahun 2013.

Akhirnya saya bikin ulang, dari yang tadinya @fiersa jadi @fiersabesari. Itu jadi pertama kali saya terjun ke dunia media sosial ya, yaitu tulisan-tulisan di Twitter, curhat-curhat yang di-retweet sama orang-orang. Pada eranya sepertinya itu happening sekali. Padahal dulu, followers-nya udah lumayan banyak, sekitar 7500 orang. Saat itu udah ‘wah’ banget bagi saya. Tapi sayangnya kena hack. Ya udah, tapi jadi berkah tersendiri ketika memulai lagi dari nol. Kemudian orang-orang yang tadinya nge-follow saya cuma untuk melihat kata-kata saya, ternyata ingin melihat perjalanan saya waktu menyusuri Indonesia. Dan sebelumnya juga, saya sudah punya musik yang saya unggah di SoundCloud, waktu itu lagi zamannya. Tapi enggak pernah diurusi karena pada saat itu saya main musik suka-suka saya saja. Bikin album, ya cuma 100 orang yang dengar. Tapi ketika orang-orang tau saya menulis, saya berkelana, orang-orang jadi penasaran siapa sih Fiersa Besari?

Dan akhirnya, mereka mulai tahu lagu-lagu saya di skala yang lebih besar dan waktu saya pulang menyusuri Indonesia jadi berkah. Ternyata tanpa diduga-duga, lagu-lagu yang saya biarkan berkeliaran di internet jadi banyak yang tahu. Jadi, mungkin berbarengan kali ya, jadi musisi dulu tapi enggak diseriusin, menulis juga enggak diseriusin. Eh, jadi berkah semua.

Baca Juga: Handoko Tjung: Bukan Sekedar Konten Receh, Tapi Berisi

Apa hal yang kamu suka dan tidak suka dari media sosial?

Yang paling saya suka sih, informasi diterima dengan cepat. Informatif. Justru kalau sekarang berita bisa terlambat beberapa jam dibandingkan medsos. Atau malah sering kali, orang dapat berita dari medsos. Itu hal baiknya. Jadi lebih cepat untuk menerima informasi, tapi gak senangnya ya, karena tidak ada yang mengkurasi, banyak juga kalo kita enggak selektif dalam mencerna informasi itu, kita bisa aja kemakan sama hoax gitu. Dan itu yang bahaya sih, mungkin itu yang paling tidak saya suka. Dan di medsos orang gampang sekali, bahkan berita yang paling mustahil sekalipun masih ada yang percaya.

Hoax itu dapat menyebar dengan mudah karena kita sendiri yang memfilter. Hmm, apalagi ya? Hal lain yang saya suka dari media sosial adalah ketika kita punya karya. Kalau zaman dulu, kita harus bergantung dengan label-label raksasa, terus bergantung dengan televisi nasional, sekarang dengan kreatif di media sosial saja kita bisa menyebarkan karya kita sendiri. Dan orang-orang jadi mudah mencari tahu tentang karya kita. Namun itu pun punya efek negatifnya, orang-orang jadi bebas mengkritik dan bebas ngatain karya kita, kalau bagi orang-orang yang enggak kuat mental ya, hal-hal seperti itu bisa bikin drop banget.

 

Fiersa Besari: Pentingnya Keseimbangan Dunia Nyata dan Maya
(Dok. Fiersa Besari)
Saya rasa meskipun tadi saya bilang bahwa media sosial adalah dunia yang tidak bisa kita hiraukan, tapi kita juga harus tahu caranya nge-rem. Kalau kita sudah terus-terusan baca timeline Twitter atau Instagram, mereka mudah sekali membuat kita tertarik ke dalam dan kita susah lagi keluar untuk terkoneksi dengan dunia nyata, karena itu kita harus tahu remnya, harus tahu gas-nya, harus tahu kapan nge-gas, harus tahu kapan ngerem.
Kamu memandang media sosial sebagai apa sih saat ini?

Ya, itu. Saya melihat kalau 5 tahun yang lalu kita masih bisa menjadi orang yang, bilang bahwa lebih penting dunia nyata dibanding dunia maya. Apa-apa yang kita kerjakan lebih penting di dunia nyata. Kayaknya sekarang sudah enggak deh, kalau sekarang itu sudah 50:50 ya, apa yang kita kerjakan di dunia maya ber-impact besar ke dunia nyata, apa yang kita kerjakan di dunia nyata juga ber-impact besar ke dunia maya. Itu jadi seperti dua dunia yang terintegrasi. Media sosial tuh jadi kehidupan, bukan lagi kehidupan yang bisa dianggap remeh, kita jadi bisa berbisnis di sana, kita jadi bisa berkarya di sana, kita bisa jadi dikenal orang di sana.

Bagi beberapa orang, media sosial bisa menjadi kesempatan berkarya dan berusaha, dan bisa dapat uang juga dari sana karena kan menyenangkan ya. Jadi, kita sudah tidak bisa meremehkan peran media sosial di hari ini, saya lihat banyak sekali dan patut disayangkan karena saya sering melihat teman-teman yang karyanya bagus tapi karena mereka tidak tahu cara mengelola media sosial jadinya karya mereka kurang dapat exposure, jadi ya bagi saya, media sosial sekarang adalah dunia yang cukup penting untuk kita garap, untuk kita jadikan mata pencaharian, dan untuk kita bisa bertahan hidup di sana.

Ada banyak apresiasi namun juga banyak kritik yang muncul di dunia media sosial pastinya ya? Dari semua kritik yang muncul, apa ada yang membuat pandanganmu berubah?

Sangat, ya. Apalagi kalau kita sudah terkoneksi banget dengan Twitter. Apalagi tahulah ya, kalau memang aktif di Twitter dan senang berbagi pendapat di sana, sharing di sana, balas-balasan di sana, kata-kata apa pun yang kita keluarkan itu bisa jadi bumerang dan saya beberapa kali tertampar oleh ini. Saya ngomong apa, saya cuma bertanya cuma satu kata, orang bisa nanggapnya berbeda. Ya itu sebenarnya resiko dari demokrasi, ya. Karena demokrasi di media sosial, orang-orang jadi bebas mengutarakan pendapat. Tapi itu jadi menampar saya juga untuk lebih berhati-hati dalam berucap dan tidak terus-terusan–kalau orang Sunda bilang, ngedegul–tidak terus-terusan ada di depan media sosial 24 jam. Saya rasa ya meskipun tadi saya bilang bahwa media sosial adalah dunia yang tidak bisa kita hiraukan, tapi kita juga harus tahu caranya nge-rem. Kalau kita sudah terus-terusan baca timeline Twitter atau Instagram, mereka mudah sekali membuat kita tertarik ke dalam dan kita susah lagi keluar untuk terkoneksi dengan dunia nyata, karena itu kita harus tahu remnya, harus tahu gas-nya, harus tahu kapan nge-gas, harus tahu kapan ngerem.

Ya kalau dari semua kritik, itu yang membuat pandangan saya berubah, akhir-akhir ini, membuat saya lebih berhati-hati dalam berkata, membuat saya lebih berhati-hati lagi juga dalam bersikap. Yang saya tadinya asal banget kalau ngomong dan sempat sih diingatkan teman saya juga, dia bilang “Iya, memang bukan tanggung jawabmu untuk berkata-kata sopan, atau menjaga sikap tapi ingat bahwa kamu punya followers yang banyak dan tidak semua followers kamu berpikir dengan matang.” Dan itu yang membuat saya jadi berpikir bahwa kita enggak bisa sembarangan ngomong.

Kritik itu membangun sebenarnya, dan satu lagi soal kritik, kadang dengan banyaknya followers, makin ke sini, saya melihat teman-teman saya tidak mudah menerima kritik, karena makin banyaknya followers tidak berbanding lurus dengan tingginya ego. Jadi reaksi pertama ketika dikritik, adalah langsung menahan atau langsung defensif. Harusnya enggak gitu, kalau menerima kritik, kunyah dulu, jangan buru-buru balas, setelah itu kan kita yang punya pilihan untuk memuntahkan sebagian, menelan sebagian, atau menelan seutuhnya, tapi ucapkan terima kasih saja karena percaya orang yang sudah mengkritik kita adalah orang yang paling perhatian sama kita dibanding yang memuji. Yang memuji paling perhatiannya cuma setengah dari yang mengkritik.

Media sosial sebagai salah satu tempat pemasaran sebuah karya. saat ini dirasa banyak orang sangat efektif. Apa pendapatmu?

Mungkin sudah menjawab tadi ya, sangat sangat efektif. Self-branding itu menurut saya hal yang harus kita kuasai jika kita ingin karya kita lebih ter-expose. Ini bukan kewajiban, tapi memang jika tujuan kita untuk membuat karya kita tersebar lebih luas lagi, kita harus tahu caranya melakukan self-branding, kita enggak bisa terus-terusan bergantung sama label yang lebih besar atau pihak yang yang lebih besar. Kita harus bikin industri kita sendiri. Enak gitu di dunia yang dimana audience sudah memilih sendiri mereka suka, kita juga bisa memberikan pilihan-pilihan itu untuk audience. Akan sangat disayangkan kalau kita nunggu, audience yang menghampiri kita–harusnya kita yang menjemput.

 

Fiersa Besari: Pentingnya Keseimbangan Dunia Nyata dan Maya
(Dok. Fiersa Besari)
Bagaimana kamu membesarkan akun media sosialnya, ada tips yang bisa di-share untuk orang-orang yang ingin sepertimu?

Nah itu sih, mungkin ini kelemahan saya ya, meskipun saya tahu cara saya nge-branding diri saya sendiri tetapi saya bukan orang yang terlalu memperhatikan engagement. Yang gitu-gitu saya tidak terlalu memperhatikan sih.Kemarin ada teman juga nanya “Kenapa sih enggak mau terima endorse?” Ya karena saya masih berpikiran, “Ah, belum deh,” bukannya nanti enggak ya.

Saya bukan orang yang terlalu fokus untuk membesarkan media sosial saya. Saya biarkan saja media sosial saya berjalan, saya punya prinsip bahwa saya harus selalu mengerjakan sesuatu, dan saya harus selalu membaginya di media sosial, entah itu cuma sebatas tulisan, sebatas cerita harian gitu, atau cuma sebatas Instastory yang isinya kutipan-kutipan, bentuk lagu, atau video puisi.

Apa pun itu, saya harus tetap berkarya gitu, itu jangan sampai berhenti. “Ayo dong, masa minggu ini tidak ada karya sih?” dan saya selalu saya memecut diri saya dengan itu, tapi ingat bahwa saya harus menyukai karya saya sendiri, jadi untuk dalam waktu dekat saya tidak akan menjadi orang yang kalau berkarya tau-tau nge-prank, atau bikin grebek-grebek apalah. Belum ya, mungkin kelak kalau lagi butuh uangnya, hehehe. Tapi enggak sekarang.

Tapi intinya sih, membesarkan media sosial berarti intinya adalah–mungkin ini klise ya, tapi berkarya lah dengan jati dirimu sendiri, berkaryalah dengan apa yang kamu suka, jadi kalau ibaratnya nanti sebulan atau dua bulan lagi kamu melihat karyamu sendiri, kamu harus tetap suka. Pelajarilah seleramu sendiri dulu. Pada akhirnya orang akan mengikuti kita kok kalau kita jujur dalam berkarya, jangan berhenti berkarya saja intinya, mah. Dan jangan berhenti nge-posting karya. Otomatis kok orang-orang akan terus mem-follow kita. Mungkin kalau bukan dengan karya bisa juga dengan sensasi, tapi saya percaya bahwa orang yang dibentuk dengan sensasi tidak akan bertahan lama.

Baca Juga: Alexander Thian: Kegelisahan untuk Bercerita

Kalau tadi bicara kritik yang kamu terima, kalau sekarang, kamu punya kritik enggak sih untuk media sosial? Misalnya, kritik soal industri yang tercipta dari media sosial?

Kritik saya sih lebih ke arah jangan sampai demokrasi kita kebablasan, jangan sampai segala pemikiran kita yang dikeluarkan lalu kita jadi gemar menyinggung orang lain. Karena tidak semua orang mentalnya sekuat kita. Atau sekuat kalian yang senang menyinggung. Itu sih, kritik utamanya di antara obrolan-obrolan kita sehari-hari, karena saya lihat kurangnya rem-nya itu, orang-orang jadi seenaknya ngomong, jadi seenaknya menyinggung orang lain atas nama kebebasan berekspresi. Akhirnya, jadi enggak nyaman. Kalau mau lebih baik ya perlakukan sama seperti kita berinteraksi di dunia nyata. Kalau kita di dunia nyata berlaku seperti itu, maka jangan dilakukan di media sosial.

Kritik lainnya ya? Hoax. Aduh, tolong, kalau menyebarkan hoax-nya tidak bisa direm berarti kita kta yang harus bikin pagar untuk pemikiran kita. Jangan sembarangan menerima hoax lalu disebarkan lagi.

Kalau soal industrinya, menyenangkan sih, tetap berkarya aja ya jangan menunggu industri yang lebih besar untuk men-spot-on kita. Kita bisa kok, kita bisa dengan langkah kita sendiri, kita bisa dengan usaha sendiri juga bisa.

Kamu adalah seorang kreator yang memiliki banyak ketertarikan, sebenarnya kalau ingin dikenal atau nge-branding dirinya apa sih?

Kalau self branding-nya sih, orang lebih kenal dengan tulisan-tulisan saya. Kalau saya dikasih dua pilihan sebagai orang yang suka menulis atau seorang musisi? Saya lebih ingin dikenal sebagai orang yang suka menulis, dan berkelana. Kalau ada pilihan lain, mungkin ingin dikenal sebagai peternak suatu saat nanti. Cita-cita itu mah.

Terakhir, ada gak sih bentuk karya lain yang ingin kamu coba?

Saya ingin sekali bikin naskah untuk film, saya ingin bikin lagu untuk soundtrack film, saya ingin sekali beternak lele suatu saat nanti. Banyak, lah, Banyak hidup yang tidak terduga, dan mungkin saya akan menjadi salah satu dari kejutan itu.

 

Kamu seorang kreator yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?

May 16, 2019
Trik Mudah Membuat Storyboard  bagi Visual Designer
Storyboard tak hanya bermanfaat dalam dunia perfilman, tapi juga untuk para desainer. Berikut tips...
May 20, 2019
Endi Feng: Make up Tak Melulu Milik Wanita
Endi Feng menunjukkan jalan bahwa makeup adalah sebuah jalan untuk mengekspresikan diri; sebuah seni....