Membedah Fenomena InstaPoet Bersama Dika Agustin

Karya sastra puisi klasik memiliki sejarah yang penting dan panjang dalam pembentukan karya sastra modern. Dalam bentuknya sendiri, puisi sudah banyak berganti-ganti sejak awal penemuannya di salah satu yang tertulis dalam teks Piramida (puisi tertua).

Elemen-elemen dalam puisi yang biasa digunakan untuk membuat pembacanya menangkap maksud emosi si penulis pun sering dilibatkan, seperti; rima, aliterasi, asonansi, dan metafora. Bentuk yang dihadirkan dalam puisi sendiri juga beragam, mulai dari mantra, syair hingga ode–jika bicara soal puisi klasik.

Sekarang, mari maju ke era puisi yang berhasil menarik apresiasi anak muda beberapa tahun lalu. Toko buku fisik akhirnya melihat ketertarikan banyak pembaca dan mulai mencetak karya-karya puisi baru selain buku-buku puisi literatur klasik. Sebut saja penulis-penulis puisi Indonesia seperti Adimas Immanuel, Avianti Armand dan Gunawan Maryanto.

Menariknya, tampilan pada buku puisi ternyata juga termasuk penting untuk persyaratan selera estetis anak muda. Kepentingan membaca sastra seperti puisi, belakangan ini juga didukung dengan pengapresiasian layout dalam buku yang bersangkutan. Maka itu, bentuk apresiasinya dimulai dari pembelian buku-buku tersebut, hingga pengunggahan potongan karya puisi ke media sosial, terutama Instagram.

Baca Juga: Bisnis Komik di Indonesia, Masih Bertahankah?

Apalagi yang dapat membuat para penulis memudahkan penyebaran karyanya? Seperti menjawab keresahan para penulis yang kesulitan menerbitkan karyanya, tiba-tiba saja, platform blog dan media sosial dipenuhi oleh karya-karya penulis luar yang mulai berani menerbitkan karya lewat akun yang mereka buat.

Lewat platform inilah, para InstaPoet (sebutan penulis puisi di Instagram) memulai eranya. Tumblr memang di sebut-sebut sebagai situs blog yang meramaikan awal mula penyebaran karya puisi di media sosial ini. Tapi, tidak mau kalah dari Tumblr, penulis-penulis tersebut kemudian banyak yang hijrah atau melanjutkan berkarya lewat akun barunya di Instagram; media sosial yang kepopulerannya naik pesat.

Batasan untuk berbagi karya di media sosial memang nyatanya tidak pernah ada. Bahkan karya sastra klasik seperti puisi dapat dikemas dengan apik dalam berbagai bentuk layout oleh para InstaPoet ini. Fenomena InstaPoem (puisi di Instagram) juga dimaksimalkan oleh Rupi Kaur.

Penulis buku Milk and Honey (2014) ini setelah menulis puisi di Tumblr selama satu tahun memutuskan untuk mulai menulis di Instagram dengan menambahkan ilustrasi-ilustrasi sederhana untuk menemani rangkaian puisinya.

Membedah Fenomena InstaPoet Bersama Dika Agustin
Dika Agustin

Dengan ledakan jumlah followers-nya, ia juga langsung menyambar kesempatan menerbitkan buku pertamanya yang sukses terpampang di rentetan buku best-seller, serta berhasil diterjemahkan ke 25 bahasa lainnya.

Itu cerita singkat Rupi Kaur, penulis asal Kanada. Di Indonesia sendiri, fenomena InstaPoem ini juga terus berkembang. Sebagai pembaca setia puisi, saya sendiri juga banyak menikmati karya-karya para InstaPoet lokal, salah satunya Dika Agustin (@dikagustin). Menurut saya, yang menarik dari fenomena InstaPoet di Instagram ini salah satunya adalah bagaimana kita dapat menikmati karya penulis tersebut, kadang tanpa mengetahui latar belakang si penulis dengan jelas. Karya sastra, memang sejatinya dapat dinikmati tanpa menimbang-nimbang background atau tampilan fisik si penulisnya sendiri.

Tapi, apa salahnya mengambil kesempatan untuk mengetahui lebih jauh tentang kehidupan dan insights dari seorang InstaPoet? Saya berhasil ngobrol singkat via surel dengan Dika Agustin, seorang pelajar di bangku kuliah yang berhasil memaksimalkan kegiatan InstaPoem-nya lewat akun @dikagustin. Memang, Dika mengaku sudah hobi menulis sejak kecil. Dari ketertarikannya membaca puisi via online, ia akhirnya berani memulai memasarkan karyanya dan mendapatkan kesempatan untuk mencetak karyanya dalam bentuk buku fisik dalam waktu dekat.

Bagaimana awalnya Dika terjun ke dunia penulisan puisi?

Jujur sejak SD saya sudah suka menulis, walaupun sekadar menulis diari dan saya lakukan sampai SMA. Tapi, awal mula saya mulai terjun ke dunia penulisan puisi adalah ketika saya mulai share tulisan-tulisan saya di Tumblr dengan tujuan sekedar blogging saja. Di sana saya banyak menemukan poems yang menurut saya simple, mendalam, tapi berkesan, yang sering saya re-blog karena sangat relatable dengan hal yang saya alami. Yang membuat saya benar-benar mulai mendalami menulis puisi adalah ketika saya tidak sengaja menemukan link video spoken word poetry di beranda yang di re-blog salah satu following saya, tentang OCD oleh Neil Hilborn. Menurut saya sangat keren, dan itu membuat saya termotivasi untuk menulis puisi.

Bagaimana akhirnya membuat InstaPoem di Instagram?

Sebenarnya sudah lama saya suka post foto-foto dengan menambahkan caption supaya lebih terkesan aesthetic di akun pribadi saya. Dan entah kenapa, terlintas di pikiran saya, kenapa tidak saya buat satu akun lagi untuk share tulisan-tulisan saya? Tapi saat itu saya belum berani memakai nama asli, jadi saya pakai nama samaran, supaya enggak ketahuan sama teman-teman. Dan enggak menyangka juga bisa mendapat banyak respon positif dari orang-orang, terutama orang barat. Dari situ, saya mulai pede untuk menuangkan pikiran saya berdasarkan experience pribadi, dan terkadang kalau ada teman curhat bisa jadi ladang inspirasi bagi saya.

Selain Dika, lihat juga para kreator konten media sosial lain yang sudah bergabung di GetCraft

Apakah yang membuat Dika memilih Instagram sebagai platform berbagi karya?

Saya rasa Instagram lebih efektif, saya lebih bebas menuangkan pikiran dan kreativitas saya. Bagaimana mengemas puisi-puisi itu kedalam sebuah foto dengan style dan tema unik sesuai yang saya inginkan, dan Instagram memudahkan saya untuk meraih readers.

Apakah komunitas di Instagram membantu Dika untuk berkarya via media sosial?

Sangat membantu, karena support merekalah yang membuat saya terus berkarya dan semangat setiap saya merasa saya tidak bisa menulis. Saya selalu mengatakan pada diri saya sendiri bahwa “they need my voice,” karena banyak orang diluar sana yang tidak berani menyuarakan isi hati dan pikiran mereka, sehingga menurut saya, puisilah yang bisa mewakilinya selain lagu.

Mengapa Dika menggunakan bahasa Inggris dalam penulisan puisi?

Kalau ditanya kenapa, jujur terkadang saya tidak tahu jawabannya. Tapi, yang saya tahu pasti saya lebih bisa mengekspresikan diri dan emosi saya ketika saya menuliskannya dalam bahasa Inggris. Mungkin karena sudah terbiasa mendengarkan lagu-lagu barat, menonton film barat, dan membaca buku atau artikel dalam bahasa inggris.

Membedah Fenomena InstaPoet Bersama Dika Agustin
Salah satu karya Dika Agustin (Dok. Instagram)
Saya rasa Instagram lebih efektif, saya lebih bebas menuangkan pikiran dan kreativitas saya. Bagaimana mengemas puisi-puisi itu kedalam sebuah foto dengan style dan tema unik sesuai yang saya inginkan, dan Instagram memudahkan saya untuk meraih readers.
Format visual seperti apa yang menurut Dika paling efektif untuk InstaPoet di Instagram?

Menurut saya, menggunakan dua baris quote atau poem dan menambahkan illustrasi pada gambar, serta menyertakan keseluruhan poem di caption box adalah format yang efektif . Dan banyak para InstaPoet lainnya yang juga menggunakan format ini. Karena, menurut kebanyakan dari InstaPoet berasumsi bahwa para pembaca di Instagram lebih interest ketika mereka membaca hal yang simpleyet on point.

Untuk debut buku yang akan datang, seperti apa persiapannya?

Saat ini, buku sedang dalam tahap ilustrasi. Untuk konsepnya sendiri, saya ingin buku ini bukan hanya sekedar puisi, tetapi harapannya buku ini juga bisa menjadi terapi healing bagi pembacanya.

Baca Juga: Rukmunal Hakim: Edukasi Dunia Ilustrasi Lewat Karya dan Podcast

Siapa yang menginspirasi Dika untuk membuat InstaPoem?

Rupi Kaur, Nikita Gill dan Michael Faudet. Mereka yang menginspirasi saya untuk membuat puisi dengan visual yang menurut saya menarik, karena visual mereka yang simple dan tidak berlebihan. Ini menginspirasi saya, bagaimana membuat visual yang menarik supaya para readers love at first sight ketika melihat tulisan saya, sehingga mereka tertarik untuk mengikuti dan menanti konten yang akan saya unggah selanjutnya.

Apakah masukan dan kritik di platform Instagram membuat Dika semakin belajar dan berani berkarya?

Tentu, itu yang membuat saya lebih percaya diri untuk menyuarakan isi hati, isi pikiran saya dan lebih bisa mengapresiasi diri saya sendiri.

Apa tips untuk berani menulis dan publish karya di platform besar seperti Instagram?

Be confident, stay true to yourself and stop thinking “what will people say,” karena itu yang akan menghentikan kita untuk berkarya.

Apa masukan/ saran untuk penulis-penulis InstaPoet di Instagram yang baru ingin memulai berkarya?
  • Ikuti kata hati dan menulislah
  • Menentukan tema dan style penulisan, serta harus konsisten
  • Posting paling tidak satu kali dalam sehari, kalaupun tidak bisa, usahakan untuk like dan comment regulary untuk selalu terkoneksi dengan komunitas
  • Gunakan hastags, sehingga memudahkan komunitas menemukan tulisanmu
  • Menjalin koneksi dengan poets lainnya untuk membantu growing your page
  • Do prompts atau challeges dan tag InstaPoet lainnya
  • Kirim puisimu ke page feature accounts, biasanya lewat DM atau submit ke website mereka
  • Yang terpenting, jangan terfokus dengan angka, because it will stop you, just writewrite and share