Famega Syavira: Menulis Sambil Traveling, dari Pantai Sampai di Bus

Famega Syavira 4

Traveling dan menulis menjadi kombinasi passion yang kini dilakoni eks jurnalis Famega Syavira Putri.

Lulusan Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta ini memulai karier menulisnya sejak ia mulai menjalani profesi wartawan di Detik.com cabang Jogja pada 2006. Selang dua tahun, Famega hijrah ke ibu kota dan bergabung dengan Koran Tempo.

Selama jadi wartawan Tempo, Famega menjalani tugas peliputan pasar saham, juga isu hukum dan politik nasional sampai tiga tahun, hingga kemudian menduduki posisi Global News Producer dan Editor di Yahoo! Indonesia.

Sepanjang kariernya di Yahoo!, Famega belajar banyak tentang operasional media digital. Namun keseruannya mendalami area baru di industri media sempat terhenti, akibat ditutupnya Yahoo! Indonesia.

Setelah peristiwa itu, perempuan yang juga akrab disapa Fame inipun sempat memutuskan ‘istirahat’ dulu. Setahun kemudian ia menjajal posisi Head of Social Media & Community di Rappler Indonesia; hingga akhirnya yakin untuk menantang dirinya menjalani peran profesional sebagai pekerja lepas atau freelancer.

Hingga kini Fame masih aktif menulis dan terus memperkaya pengalamannya sebagai kreator di jejaring GetCRAFT.com.

Kenapa memutuskan jadi penulis lepas full-time?

Sebetulnya saya bukan hanya ingin jadi penulis lepas, tapi lebih luas, yakni pekerja lepas. Keputusan ini saya ambil karena bertahun-tahun sebelumnya, saya selalu bekerja untuk perusahaan dan memberikan waktu saya sepenuhnya ke mereka. Dan itu menjadi zona nyaman saya.

Jadi saya ingin menantang diri sendiri dengan mencoba menjadi pekerja lepas. Sehingga saya bisa bekerja di mana saja dan punya banyak waktu untuk melakukan hobi saya, traveling.​

Bagaimana strategi Anda memperoleh project atau pekerjaan sebagai penulis lepas?

Networking adalah hal paling penting sebagai pekerja lepas. Salah satu caranya seperti bergabung sebagai penulis lepas di jejaring GetCRAFT.com, yang memberikan saya beberapa project.

Apa yang biasanya Anda pastikan saat akan memulai penggarapan sebuah project?

Saya butuh gambaran jelas tentang keinginan dan harapan klien, serta target yang ingin dicapai; jadi saya bisa memberikan saran yang optimal untuk membantu mencapai tujuan tersebut.

Apa kendala yang Anda rasakan sebagai pekerja lepas?

Pertama yang agak sulit adalah mengatur waktu. Lalu soal keuangan, karena tidak seperti kerja kantoran, pendapatan freelancer tidak tetap tiap bulannya.

Biasanya, apa penyebab writer’s block atau mati angin saat menulis yang Anda rasakan? Dan bagaimana mengatasinya?

Itu terjadi kalau sedang terlalu banyak kerjaan; writer’s block muncul karena otak lelah dan butuh istirahat. Jika terjadi, saya langsung stop kerja dan melakukan hal lain, seperti membaca, makan es krim, atau memasak. Selain itu, tenggat waktu juga bisa jadi solusi dan penyemangat; karena meski suntuk, jika sudah deadline biasanya pasti selesai.

If you want to be a writer, you must do two things above all others: read a lot and write a lot. —Stephen King
Famega Syavira 3
Apa buku yang Anda anggap berpengaruh terhadap karier Anda sebagai penulis?

Buku adalah hal penting dalam hidup saya. Kalau mau dibilang buku apa, banyak sekali. Saya paling suka buku dan novel sejarah. Menarik untuk memperhatikan, bagaimana para penulis tersebut mengemas hal yang rumit menjadi sesuatu yang menarik dan mudah dipahami oleh orang awam.

Kalau dari sisi penulisnya, dari Indonesia saya penggemar karya-karya Pramoedya Ananta Toer, Sapardi Djoko Damono, NH Dini, Remy Silado, Seno Gumira, Ayu Utami, Agustinus Wibowo, Sindhunata, serta Oka Rusmini.​

Untuk penulis luar, saya suka Jhumpa Lahiri, Orhan Pamuk, Svetlana Alexievich, Isabel Allende, Ivo Andric​, dan masih banyak lagi yang lain.

OK, sekarang soal perlengkapan pendukung; apa saja yang Anda andalkan dan selalu dibawa di dalam tas untuk mendukung kegiatan menulis?

MacBook Air, charger, dan tentunya iPhone, yang juga saya andalkan sebagai device untuk tethering data.

Selain itu earphone juga penting, terutama buat mendukung kegiatan conference call, powerbank yang mesti siap pakai karena bisa menyelematkan ponsel dari isu kehabisan baterai akibat digunakan untuk tethering data. Dan tentunya, pulpen dan buku catatan.

Buat saya, pendukung paling penting itu adalah internet kencang. Itu saja. Selain itu, saya bisa kerja di mana saja, mulai dari dalam bis sampai di tepian pantai.

Sebagai freelance, kini Anda bisa bekerja sembari menjalani kegemaran traveling. Bagaimana cara mengatur waktu di antara jalan-jalan dengan tanggung jawab pekerjaan?

Ya, itu bukan hal mudah. Karena saat traveling semua jadi seperti tidak pasti. Misal, besok saya belum tahu bakal ada di mana, atau tinggal di mana.

Maka itu biasanya saya menggarap pekerjaan di pagi hari, sebelum bepergian, lalu melanjutkannya lagi sore hingga malam hari.

Sembari traveling juga, saya usahakan agar saluran komunikasi via Skype dan WhatsApp aktif, sehingga saya masih bisa menggarap project, koordinasi dengan penulis, dsb.

Seperti sempat kemarin ini saya mengunjungi desa terpencil dan naik gunung, tapi tidak menghalangi fokus saya pada pekerjaan. Karena buat saya, walaupun sambil jalan-jalan, pekerjaan tetap yang utama.

Apalagi Anda juga sembari menulis cerita bernuansa sejarah dari perjalanan Anda untuk dimuat di media massa. Bagaimana proses dan teknis penggalian bahan yang dilakukan?

Salah satu yang menarik dari traveling itu adalah proses mengenali kebudayaan lokal, ketimbang pergi ke tempat-tempat wisata. Jadi biasanya saya tinggal di rumah warga setempat, dan banyak mengobrol dengan mereka. Nyaris semua bahan tulisan saya dapatkan dari hasil perbincangan tersebut, selain dari pengamatan. Sebelum tiba di lokasi tujuan juga, biasanya saya membaca dulu tentang tempat tersebut dari buku atau artikel di media daring atau blog terpercaya.

Ada saran yang bisa di-share untuk pembaca yang tertarik menjadi penulis lepas seperti Anda?

Perkuat networking, pandai mengatur waktu, dan jangan malas. Penting juga buat diingat, meski pekerja lepas tidak diawasi, bukan berarti bisa bebas dan seenaknya; karena pekerjaan kita dinilai dari hasilnya, dan jika tidak disiplin maka kita akan kesulitan mengembangkan diri sebagai penulis lepas yang berkualitas.

Banyak penulis berkualitas seperti Famega Syavira yang telah bergabung di GetCraft untuk menawarkan jasa penulisan dan editing untuk para klien di seluruh Indonesia. Ingin tahu penulis mana saja yang sudah gabung? Yuk lihat disini!