Faisal Oddang: Menulis Ialah Usaha Merespons Peristiwa-peristiwa

Perkenalan pertama saya dengan Faisal Oddang adalah lewat seorang teman yang menahan rombongan kami nongkrong setelah menonton pertunjukan musik di Bentara Budaya Jakarta, beberapa tahun silam. Waktu itu teman saya bersikeras untuk menunggu. Katanya pertunjukan setelah tampilnya band yang kami tonton barusan itu akan sangat bagus. “Teater Boneka Papermoon membawakan cerita yang diangkat dari karyanya Faisal Oddang,” jelas teman saya.

Dari teman saya itulah, saya mulai mengenal nama penulis tersebut. Beberapa kali saya pergi ke toko buku melihat namanya terpampang sebagai pengarang. Beberapa kali pula saya berharap bisa membaca tulisannya sambil menabung satu demi satu judul buku yang wajib dibaca. Selagi saya terus menerus menabung judul bukunya untuk dibeli dan dibaca, prestasi yang ditorehkan Faisal Oddang dalam dunia sastra semakin banyak dan membuat saya berdecak kagum.

Faisal Oddang adalah seorang penulis asal Wajo, Sulawesi Selatan. Karya-karyanya terdiri dari puisi, cerpen dan novel. Membaca sebagian besar karya Faisal Oddang, kamu akan menemukan tema sejarah, tradisi serta adat istiadat Sulawesi yang kental. Kepiawaiannya menulis dan menuturkan kisah membuatnya mendapatkan beberapa penghargaan, seperti Penghargaan Cerpen terbaik Kompas tahun 2014 untuk cerpen berjudul Di Tubuh Tarra dalam Rahim Pohon. Masih di tahun yang sama, ia mendapat penghargaan ASEAN Young Writers Award 2014 dari pemerintah Thailand.

Faisal Oddang: Menulis Ialah Usaha Merespons Peristiwa-Peristiwa
(Dok. Kala Literasi)

Bukunya, Puya ke Puya, terpilih menjadi pemenang ke-4 Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta dan sebagai novel terbaik tahun 2015 oleh majalah Tempo serta dinobatkan sebagai Tokoh Seni Tempo 2015 di bidang prosa. Tahun 2016, Faisal Oddang mengikuti residensi penulis di Belanda dengan dukungan Komite Buku Nasional. Kemudian pada tahun 2018, ia menerima Robert Bosch Stiftung and Literariches Colloquium Berlin Grants 2018. Selain terus aktif menulis, Faisal Oddang pun kerap diundang sebagai pembicara dalam acara sastra dan membangun Institut Sastra Makassar, sebuah sekolah penulisan kreatif, penerbit dan konsultan literasi yang berbasis di Makassar.

Baca Juga: 6 Manfaat Penulisan Kreatif bagi Content Writer

Beruntung, saya berkesempatan untuk berkenalan lebih dari sekadar kenal nama dengan Faisal Oddang. Mewakili Crafters, saya berhasil mengobrol lebih lanjut mengenai perjalanan kepenulisannya, skena kepenulisan di Indonesia, transisi media baca dari konvensional menuju digital hingga isu pembajakan buku yang belakangan ini marak dibicarakan. Berikut wawancaranya.

Boleh ceritakan kapan dan pengalaman apa yang membuat Faisal jatuh hati pada dunia tulis menulis?

Sepupu saya bekerja di perpustakaan SMP di kampung kami, itu waktu saya SD dan SMP kalau tak salah ingat, dia kadang pulang membawa buku-buku yang bisa saya pinjam dan baca, dua buku awal yang saya ingat waktu itu merupakan buku terbitan Balai Pustaka; Sitti Nurbaya karya Marah Rusli dan Kasih Tak Sampai karya Tulis Sutan Sati, meskipun kadang tidak mengerti dengan bahasa  yang digunakan, saya menyukai kedua buku itu, dan saya menyalin pantun-pantun dalam Sitti Nurbaya di buku catatan sekolah .

Sejak saat itu,  saya merasa menulis akan menjadi sesuatu yang menyenangkan dan berkeinginan kelak bisa menulis juga. Sebelum masa-masa membaca buku atau bahkan sebelum saya bisa membaca, dari radio, saya juga banyak mendengar sandiwara seperti Saur Sepuh dan Tutur Tinular bersama ayah—itu adalah pengalaman menyenangkan dan seringkali membuat saya membayangkan bisa membuat tokoh dan cerita saya sendiri.

Saat dihadapkan dengan istilah kepenulisan kreatif, apa saja yang terlintas dalam kepalamu? Dari kacamata kamu sebagai seorang penulis, adakah perbedaan karya kepenulisan kreatif dengan tulisan yang dianggap karya sastra?

Penulisan kreatif merupakan proses yang hasilnya beragam, salah satunya, karya sastra.

Sering terdengar jika seorang penulis mengungkapkan kegelisahannya lewat karya yang ia hadirkan. Kegelisahan apa yang ingin Faisal hadirkan di setiap tulisanmu? Mengapa hal itu menjadi sangat penting untuk dipikirkan oleh khalayak ramai?

Saya juga sering mendengar istilah ini: tetapi kadang saya ragu apakah yang selama ini saya tulis merupakan kegelisahan—entah iya atau tidak, pada dasarnya, yang selama ini saya lakukan ialah usaha merespons peristiwa-peristiwa yang saya alami baik secara langsung maupun tidak—mungkin ada protes di dalamnya, bisa saja berupa gugatan-gugatan, dan tak menutup kemungkinan hanya sebagai upaya menyampaikan cerita, upaya menghibur atau menertawai diri, atau apa pun tujuan saya menulis, ada sikap di dalamnya—apakah khalayak ramai akan bersikap sama atau menolak, itu perkara lain—jadi sebaiknya saya tidak menggunakan istilah “sangat penting” bagi sikap atau karya saya untuk dipikirkan khalayak ramai karena saya menulis bukan untuk mendikte.

Sampai pada derajat apa seorang penulis membawa identitas kebudayaan dalam sebuah karya tulisnya?

Saya pikir, penulis menuliskan segala sesuatu dengan tidak bisa lepas dari pemikiran dan pengalaman kolektifnya, soal sejauh apa, itu akan kembali ke masing-masing diri mereka.

 

Faisal Oddang: Menulis Ialah Usaha Merespons Peristiwa-Peristiwa
(Dok. British Council)
Pernahkah kamu punya dorongan untuk menulis sebuah kebudayaan yang tak kamu pahami? Boleh ceritakan kira-kira apa yang ingin kamu tulis jika diberi kesempatan menulis mengenai kebudayaan lain?

Puya ke Puya saya tulis karena dorongan ini—sebagai orang Bugis, kebudayaan Toraja sangat berjarak dengan saya, tetapi saya tertarik mengetahuinya. Ketika keinginan ini muncul, saya putuskan untuk menulis buku, karena saya tahu, dengan keputusan itu saya akan membuat diri saya belajar, membaca, melakukan riset sedalam yang saya mampu—saya menghabiskan kurang lebih tiga tahun untuk semua prosesnya, dan begitulah upaya belajar kebudayaan yang sebelumnya tidak saya pahami.

Bicara masalah dunia kepenulisan tanah air,  dengan latar belakang Faisal yang berdiam di luar pulau Jawa, setujukah Faisal dengan anggapan adanya ketimpangan kondisi dunia menulis antara Jakarta sebagai sentral kepenulisan dan daerah-daerah lainnya di Indonesia?

Di dalam pertanyaan ini, ada dua hal yang ingin saya komentari, pertama soal “ketimpangan kondisi” yang kedua “Jakarta sebagai sentral kepenulisan”. Untuk hal yang pertama, barangkali akan mudah untuk sepakat bahwa antara Jakarta dan tempat saya tinggal, Makassar, jelas ada ketimpangan akses bacaan, harga buku yang jauh berbeda dan alternatif acara sastra. Untuk hal kedua, tentu pernyataan atau klaim “Jakarta sebagai sentral kepenulisan” perlu diperiksa lebih cermat lagi, atau bisa dipertanyakan kembali, istilah sentral mengacu pada apa?

Apakah karena ia menghasilkan pemikiran dan karya yang lebih penting dan berpengaruh dibanding daerah lain, atau secara kuantitas penulis, acara sastra, dan toko bukunya lebih banyak? Secara pribadi saya percaya bahwa setiap wilayah di Indonesia memiliki dinamika kesusastraan yang menyumbang karya dan gagasan yang saling melengkapi untuk membentuk apa yang kemudian disebut “kesusastraan Indonesia”, sehingga istilah sentral dan bukan sentral tidak penting digunakan.

 

Faisal Oddang: Menulis Ialah Usaha Merespons Peristiwa-Peristiwa
(Dok. Faisal Oddang)
Sebagai seorang penulis, bagaimana Faisal melihat perkembangan industri buku di Indonesia?

Menyenangkan! Buku cetak dan digital lebih mudah diakses dan tentu itu salah satu bagian penting yang diharapkan para penulis dan pembaca.

Di Indonesia, buku tak hanya mencakup kemasan fisik. Ada pula e-book yang belakangan mendulang popularitas sebagai alternatif bentuk bacaan seiring tingginya kesadaran akan  lingkungan. Tak hanya itu, aplikasi buku berlangganan juga muncul. Menurut Faisal, apa saja dampak positif dan negatif yang bisa dirasakan oleh penulis di era transisi media baca dari konvensional (buku fisik) menuju digital (e-book, aplikasi baca)?

Dampak baiknya tentu saja kemudahan akses kepada bahan-bahan bacaan dan ketersebarannya yang lebih cepat—ini satu kabar baik bagi mereka yang tinggal di tempat yang harus menunggu waktu distribusi yang tidak sebentar bagi buku yang terbit di Jawa.

Seperti misalnya saya yang menetap di Makassar. Soal dampak buruk, mudahnya bacaan dikonversi dari cetak ke digital di sisi lain semakin memudahkan pembajakan dan pelanggaran hak cipta. Ini yang perlu dihindari dan dilawan bersama-sama!

Baik itu media baca konvensional atau digital, literasi Indonesia masih berusaha melawan musuh utamanya yakni pembajakan buku. Dikutip dari Beritagar, Syarikat Buku Yogya menemukan fakta pembajakan buku telah menjadi industri yang perputaran uangnya mencapai ratusan juta rupiah per tahun. Ini dikatakan merugikan masa depan dunia perbukuan sendiri dan memperkaya si pembajak. Seruan untuk membuat serikat baca dan melaporkan kegiatan pembajakan kemudian muncul di berbagai kota mulai dari Yogyakarta.
Di tengah seruan ini, ada pula yang beranggapan jika pembajakan terjadi karena harga buku mahal dan sudah jadi hak pembaca mendapatkan bacaan dari sumber manapun, termasuk bajakan. Bagaimana tanggapan Faisal sebagai seorang pembaca sekaligus penulis akan isu pembajakan yang santer terdengar belakangan ini?

Sikap saya jelas untuk ini: pembajakan harus dilawan! Dalam kasus pembajakan buku, kita tidak boleh  menganggap hanya penulis satu-satunya yang dirugikan, pada proses terbitnya sebuah buku yang meliputi pra produksi sampai distribusi, banyak pihak yang bekerja dan terlibat, mereka semua akan terkena imbas pembajakan tentu saja, mereka semua harus dipikirkan sebagai pihak yang dirugikan.

Baca Juga: Avianti Armand: “Dengan Menulis, Saya Menemukan Suara Saya yang Paling Jujur”

Proyek menulis apa yang tengah Faisal garap untuk masa mendatang?

Setahun belakangan, saya lebih banyak membaca dan bahkan sepertinya tidak akan menyelesaikan buku apa-apa tahun ini. Tetapi saya merencanakan menulis sesuatu dan sedang mengumpulkan data dan belajar soal itu, hanya saja saya belum berani cerita sekarang, takutnya tidak jadi dan tidak berhasil saya selesaikan, hehehehe.

Menulis adalah sebuah kegiatan yang menekan dan menguras emosi. Bukan tak mungkin dalam prosesnya, seorang penulis yang sudah memulai tiba-tiba berhenti. Apa yang sekiranya ingin Faisal sampaikan kepada para penulis pemula yang berhenti menulis?

Tiba-tiba berhenti menulis atau yang biasa didengar sebagai writer’s block, merupakan sesuatu yang sangat wajar—dan itu bisa terjadi di semua orang yang menulis, saya mengalaminya berkali-kali dan yang saya lakukan ialah membiarkannya terjadi sambil melakukan hal-hal lain di luar menulis, mungkin membaca, menonton, mendengar musik, mengobrol dengan kawan atau apa pun yang menyenangkan dan bisa saja memiliki hubungan dengan apa yang saya tulis—sehingga ketika nanti kembali menghadapi tulisan, bisa saja ada hal baru di kepala saya yang bisa dituliskan. Saya tidak yakin cara ini akan berguna bagi orang lain atau tidak, lagian saya  tidak begitu pandai memberi tips atau saran.

 

Apakah kamu seorang influencer yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?