Creative Business Masterclass

Richard Oh: Memahami Arti, Peluang, dan Keuntungan Jadi Penulis

Bagi sebagian orang, menulis adalah cara mereka mengekspresikan keresahan. Bagi yang lainnya, menulis merupakan sebuah langkah menata kembali pikiran hingga menghasilkan solusi. Apa pun bentuk tulisan yang dihasilkan dari kegiatan menulis, baik itu artikel, cerita pendek, naskah drama, hingga tulisan pendek yang menyertai aset visual untuk kepentingan promosi produk, bidang penulisan yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh tak hanya menguntungkan dari segi pemuasan kreativitas tapi juga berpeluang menghasilkan profit tinggi. Sudah banyak tokoh yang menjadi ahli di bidang penulisan dan mampu mengolah kemampuan mereka sehingga berhasil. Salah satu contoh paling nyatanya adalah Richard Oh.

Richard Oh merupakan seorang penulis & sutradara film. Setelah menyelesaikan pendidikannya di University of Wisconsin, Madison, USA, Richard Oh menekuni bidang periklanan selama 15 tahun, sebagai seorang Creative Director. Pada 1999, Richard menerbitkan novel pertamanya, “The Pathfinders of Love”, lalu “Heart of the Night” (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, dengan judul “Labirin Malam”) yang diterbitkan pada tahun 2000; dan “The Rainmaker’s Daughter” yang terbit pada 2004.

Dari penulisan novel ia kemudian mengeksplorasi kreativitas penulisannya ke dalam dunia film; karya film pertama yang ia tulis, sekaligus menjadi sutradaranya, berjudul “Koper” (2007), yang kemudian disusul “Description Without Place” (2011), “Melancholy Is A Movement” (2014), “Terpana” (2016), “Perburuan” (2019), dan yang akan segera tayang juga tahun ini, “Love Is A Bird”.

Pada 2001, Richard Oh bersama Takeshi Ichiki dari Plaza Senayan menginisiasi dan mendirikan anugerah sastra, Kusala Sastra Khatulistiwa, yang kini memasuki tahun ke-19 pelaksanaannya; dan telah mengapresiasi berbagai karya tulis kreatif, puisi, dan prosa terbaik tanah air.

Demi mengetahui mengenai pandangannya terhadap arti menulis dan peluang menjadi seorang penulis di era digital, Crafters berkesempatan mewawancarai Richard Oh.

Baca Juga: Berapa Sih Rate Penulis Lepas di Indonesia?

Dapatkah kamu menceritakan awal mula memutuskan untuk menulis?

Saya awalnya adalah seorang pembaca. Waktu kecil saya nakal dan suka berantem, oleh karena itu saya dikirim ke rumah paman saya di Palmerah, Jakarta Barat. Di rumah paman saya, setiap jam 9 malam pintu gerbang sudah ditutup. Mau tidak mau, saya tidak bisa ke mana-mana, dan akhirnya bergaul dengan buku. Karena kondisi tersebut serta perasaan kangen dengan rumah, saya akhirnya menemukan sastra.

Pada saat itu paman saya memiliki bengkel bubut dan bengkel buat penggilingan cabai. Setiap hari Minggu saya diminta bantu kerja di sana dan saya mendapatkan duit di sana. Duit itu saya habiskan untuk membeli buku di Gramedia Gajahmada. Waktu itu, toko buku sebagian besar rak-rak buku Gramedia Gajahmada dipenuhi dengan buku-buku bahasa Inggris. Perkenalan saya dengan sastra dimulai dari kebiasaan membaca buku-buku berbahasa Inggris yang menghiasi rak buku tersebut. Saya menyadari saya jatuh cinta pada bahasa Inggris.

Awalnya saya tidak bisa membaca buku yang panjang, tetapi di zaman itu ada namanya Abbreviated Stories, keluaran dari Oxford kalau tidak salah. Dan itu memuat cerita-cerita klasik yang dibikin pendek dengan tulisan yang gampang dibaca. Dari situ, saya mulai mendalami sastra. Pada saat itu saya tidak terpikir belajar sastra sebenarnya, tetapi karena merasa kesepian dan timbul keinginan untuk berkhayal, akhirnya saya lari ke dunia sastra.

Karena merasa sangat cintanya dan ingin menuangkannya, akhirnya saya menulis. Pada saat itu, saya pernah mengirimkan salah satu cerpen saya ke majalah Asia Week yang tengah mengadakan kompetisi cerita pendek. Cerita saya terpilih walau tidak memenangkan kompetisi itu. Saya pikir menulis itu asyik. Makanya, saya memutuskan untuk keluar negeri dan saya mengambil jurusan sastra dan fokus mengambil kepengarangan atau Creative Writing yang pada zaman itu sedang hot di Amerika.

Apa arti menulis untukmu?

Setiap orang masuk ke bidang kesenian itu masing-masing punya satu kelebihan atau kekuatan, yaitu sebagai instrumen dari pengrajinnya. Kalau saya, dari awal sangat peka terhadap sastra. Saya selalu tertarik dengan penulisan dan akhirnya ingin menguasai. Semua dorongan pergi ke sekolah dan mau menulis datang dari kecintaan saya terhadap bahasa.

Tetapi setelah kamu menguasai bahasa, arti tulisan itu tergantung tujuannya apa. Kalau kamu memakai bahasa untuk menulis sastra harus hati-hati, bukan berarti hanya bahasa terus yang kamu mainkan. Menulis sastra itu berarti membuat para pembaca masuk ke dalam dunia kita. Hal tersebut membutuhkan kiat-kiat lebih daripada hanya penguasaan bahasa. Semisalnya orang berhasil menguasai bahasa, bukan berarti orang tersebut dapat menghasilkan tulisan bagus.

Menulis bagus itu perlu banyak pengalaman mempelajari karya orang lain supaya kita tahu bagaimana sebenarnya apa tujuannya. Entah itu bahasa tulis, atau pun bahasa visual, musik, lukisan, dll. Itu semua ada satu keunikan perspektif yang akhirnya seseorang itu dianggap pengrajin yang unik atau menguasai medium yang digunakan.

Siapa sosok yang mempengaruhimu dalam berkarya dan bagaimana pengaruh mereka terhadap jalan karier serta cara berpikirmu?

Saya itu kalau mempelajari satu bidang, contoh soalnya saat memulai nulis novel dan yang lain, saya otomatis tahu saya memiliki kecenderungan membaca karya-karya penulis yang seperti apa. Pada dasarnya saya menyukai karya dengan lapisan permukaannya yang gampang, tetapi memiliki sebuah kedalaman. Oleh karenanya, orang-orang seperti Graham Greene, V. S. Naipul, Joseph Conrad adalah beberapa penulis yang saya sukai. Menurut saya, bahasa mereka susah, tetapi punya keseriusan dalam prosa yang mereka hasilkan.

Kemudian untuk yang karya tulis kontemporer, saya suka tulisan Milan Kundera, karena di dalam karya-karyanya sarat dengan filsafat. Secara keseluruhan, saya kebanyakan menyukai karya-karya penulis Prancis karena cara berpikir mereka unik dan bahasa yang mereka gunakan tidak muluk-muluk.

Kebanyakan orang awam berpendapat jika sastra adalah produk budaya yang belum tentu menguntungkan para pegiatnya sehingga jumlah penggemar literasi masih sedikit dibanding musik atau film. Bagaimana tanggapanmu terhadap pandangan tersebut?

Mereka menyepelekan bahasa. Mereka menganggap menulis bisa dilakukan semua orang. Bahasa itu bidang yang paling sedikit dikuasai orang, bagaimana membuat bahasa, membuat bahasa tersebut benar-benar bekerja yang baik di dalam satu kalimat. Itu semua sama seumpama kalau ingin jadi pemusik. Paling tidak kamu harus melatih diri di bidang masing-masing. Bagaimana membaca not balok pada musik seperti piano atau instrumen alat musik lain. Jadi kalau kamu bilang menulis itu bidang yang paling tidak menguntungkan, ya itu kamu terlalu terburu tergiur dengan bidang yang lain.

Namun setiap manusia itu punya kelebihan masing-masing. Ada orang yang mendengar bahasa dua patah kata itu langsung pusing. Ada orang yang mendengar satu not saja dia langsung tahu lanjutannya apa. Ada satu orang sejak dia bangun pagi, dia sudah bisa melukis. Iya kan? Saya bilang ini bukan masalah pilihan juga, tetapi apa kelebihan tertentu yang kamu bawa semenjak lahir yang mestinya kamu cari tahu dan telusuri.

Jadi, jangan katakan itu sesuatu yang tidak menguntungkan, banyak penulis yang karyanya tinggi sekali, bukan karena hanya di pengarangan tetapi karena mereka bisa menulis, bisa merunutkan persoalan dengan baik, dan mereka juga bisa membangun argumentasi yang memaksa mereka mencari solusi.

Orang yang bisa menulis bagi saya adalah orang yang beruntung. Beruntung karena mereka bisa melihat dunia yang kacrut, kacau, antah-berantah segala macam itu, dia bisa susun kembali. Bahasa itu logika. Ketika seseorang menulis dengan sembarangan tanpa peduli bahasa yang ia gunakan, kita akan dengan mudah tahu bahwa pikiran orang ini kacau.

Apakah menjadi penulis sudah menjadi profesi yang menjanjikan di Indonesia?

Kalau di kepenulisan, menjanjikan atau tidak, kita bisa lihat Eka Kurniawan itu novelnya dibeli 40 negara. Tak hanya Eka, beberapa tahun belakangan penulis-penulis terbit seperti Intan Paramaditha, dan sekelompok penyair Aan Mansyur dan Norman Erikson Pasaribu sudah banyak menerbitkan buku hingga di luar negeri. Mereka sampai diundang ke mana-mana.

Saya pikir tidak ada orang yang masuk ke kesenian itu pikirannya besok dia langsung kaya. Tidak ada itu. Mau di musik, seni rupa, mau di penulisan, di film, atau bidang apa pun. Dan orang-orang yang hari ini kamu anggap tenar adalah mereka yang hampir 10-15 tahunan menekuni bidangnya secara serius seperti Eka Kurniawan, Joko Anwar, dan lain sebagainya. Karya mereka sekarang ada di mana-mana. Sebelum-sebelumnya, ada tidak orang melihat, betapa susahnya hidup masing-masing? Apakah ketika saat itu mereka sengsara? Tidak! Kenapa? Karena mereka punya passion. Punya sebuah dorongan yang kuat untuk meneruskan apa yang membuat mereka bangun pagi, ingin berkarya lagi. Jadi tidak ada orang yang masuk ke kesenian itu tiba-tiba jadi orang kaya.

Menurutmu, apa tantangan yang dihadapi oleh para penulis Indonesia sekarang ini? 

Tantangan yang paling besar itu, ya: jangan latah. Seakan-akan orang tulis apa, kamu tulis hal yang sama. Tetapi kamu harus berani memproyeksikan suara kamu ada di mana. Kelebihan kamu memandang sesuatu itu ada di mana. Jadi, kamu itu harus merangkul diri kamu, perspektif kamu yang unik itu sampai orang membaca itu, kamu beda dari yang lain. Sama seperti di bidang yang lain juga. Seperti itu. Keunikan itu bukan karena bahasa kamu enak, nggak! Tetapi suara kamu. Itu perbedaan yang sangat ciri khas dari si penulis.

Tantangannya sejak awal kamu harus punya visi. Kamu ingin menjadi penulis yang seperti apa. Dan kamu pun harus menekuni kamu ingin menjadi penulis yang seperti apa. Cari tahu juga siapa yang menguasai bidang yang ingin kamu jalankan. Setiap jurusan yang mau kita mulai, sudah ada para ahli yang lebih duluan menguasai bidang tersebut. Meski kita mengikuti jejak-jejak mereka, pada akhirnya kita akan menemukan jalan kita sendiri. Awalnya mengikut, akhirnya kamu pembuka jalan. Di situ!

Baca Juga: Beni Satryo: Puisi yang Baik, Puisi yang Berterima

Bagaimana sih seharusnya seorang penulis merepresentasikan dirinya? 

Penulis harus benar-benar memiliki karakter yang saya pikir kontemplatif ya. Orang yang suka memikirkan banyak hal yang dianggap banyak orang remeh-temeh, hal-hal yang tidak mengganggu tetapi dia bisa melihat bahwa di bawah radar, hal kecil ini justru ini yang banyak memberi pengaruh dan materi-materi untuk dia tulis. Bukan hal-hal besar ya. Hal-hal mikrolah yang justru memberikan kita banyak hal untuk berkarya.

Jadi dia bisa memantau, dia punya wawasan yang luas terhadap hal-hal yang dianggap kecil oleh orang lain. Itu semua bisa dia kulik. Ya karena dia ngulik akhirnya jadi unik. Seperti contoh misalnya, kopi avokad, buat orang Indonesia itu biasa. Tetapi kalau dibawa ke luar negeri, avokad dicampur kopi, kok aneh ya? Nah, yang seperti inilah yang dituju, semacam perspektif komparasi serta cara memandang sesuatu. Jangan cuma melihat di sekitar kita tetapi lihat juga nanti orang melihat di luarnya bagaimana.

Dan perbandingan-perbandingan di situlah kita menemukan hal-hal yang lucu. Hal -hal yang miris, hal-hal yang menyampaikan sesuatu baru tentang hubungan, tentang komunikasi, tentang pertemanan, tentang permusuhan.

Dapatkah Anda memberikan 3 kunci mengubah kemampuan menulis menjadi bisnis yang menguntungkan?

Seperti yang saya bilang sebelumnya, pertama kamu harus tahu kamu akan menjadi penulis yang seperti apa. Kemudian terus memoles kemampuan menulis dengan belajar. Lalu tetap fokus pada apa yang kamu tulis. Konsisten. Jangan memutar jalanmu terus-terusan. Misalnya kamu tidak suka menulis novel terus kamu memutuskan untuk menulis konten. Terus kalau kamu menulis konten dan kamu tidak suka di pertengahan jalan, kamu akan menulis yang lain lagi. Jalan itu tidak bisa diputar. Kamu harus selangkah demi selangkah untuk menguasai sebuah bidang. Dan siapa pun yang ingin menguasai bidang tersebut jika melakukannya selangkah demi selangkah, pasti akan bisa. Bukan dengan jalan memutar.

Apakah kamu ingin belajar bagaimana mengembangkan bisnis kreatif sebagai penulis dari Richard Oh? Kamu bisa mengikuti acara Creative Business Masterclass yang akan diadakan oleh GetCraft.

Lewat acara Creative Business Masterclass yang akan diadakan pada hari Rabu, 6 November 2019, GetCraft bersama Richard Oh, Penulis dan Sutradara Film akan memberikan kelas mendalam soal membangun dan mengembangkan bisnis kreatif kamu sebagai penulis melalui bahasan topik seperti:

  • Memahami bisnis di dunia penulisan kreatif dan kesusastraan;
  • Personal branding dan pemasaran karya sebagai penulis;
  • IP (intellectual property) di dunia penulisan Indonesia;
  • Peluang diversifikasi bisnis di dunia penulisan (misal, dari penulis di media massa, menjadi penulis buku, juga penulis skenario film, dsb.

Info dan pendaftaran, klik di sini!