Jakarta Creators Meetup

Memahami Peran “Suara” dalam Karakter Penulisan

Berkembangnya dunia digital membuat seorang penulis tak perlu susah-susah lagi pergi menjual tulisannya ke media cetak. Para penulis pun tak perlu lagi harus menembus berlapis-lapis garda editor yang menyeleksi tulisan hingga jadi sebuah buku. Sudah banyak media yang mempermudah kita untuk menulis sekarang ini; mulai dari blog personal, artikel untuk majalah, media daring, buku, hingga caption di unggahan media sosial seperti Instagram. Para penulis mampu bergerak lebih leluasa berkespresi melalui medium yang telah disebutkan dan dunia kepenulisan saat ini terasa lebih ramai dengan karakter penulisan yang semakin berkembang juga.

Semaraknya dunia kepenulisan dengan munculnya banyak penulis menghadirkan sebuah pertanyaan penting. Ketika kamu menggemari kegiatan menulis dan ingin tampil berbeda, lebih menonjol daripada para penulis lainnya di luar sana, apa yang harus kamu lakukan untuk membuat tulisanmu memiliki ciri khas? Apakah membaca dan berkesperimen mengganti bentuk tulisanmu saja cukup? Belum tentu.

Salah satu alasan mengapa para penulis dunia begitu terkenal lewat karya-karya tulisannya adalah berkat karakter atau gaya penulisan yang tak biasa. Tak hanya pada dunia cetak, pada dunia digital pun, penulis yang memiliki karakter tertentu akan lebih cepat dikenali dan populer di kalangan sesama penulis hingga para penggemarnya. Karakter penulisan tersebut dapat ditentukan dari beberapa elemen dan salah satu yang mudah dikenali adalah “suara” dalam penulisan.

Baca Juga: Tips Menulis Artikel Opini Agar Menarik Saat Dibaca!

Apa itu suara dalam penulisan?

Dikutip dari Literary Devices, suara dalam sebuah karya sastra atau tulisan merupakan sebuah cara seorang narator dalam menyampaikan ceritanya. Suara dalam sebuah karya tulis adalah apa yang Simon Cowell bicarakan ketika ia menjelaskan jika para kontestan American Idol harus membuat lagu yang mereka banget dan bukannya nada per nada lagu karaoke yang coba mereka nyanyikan. Ibaratnya, ada banyak penyanyi yang bisa menyanyikan lagu The Star-Spangled Banner, tapi ada perbedaan antara versi yang ditampilkan Boston Pops dan Jimi Hendrix meskipun melodi lagu tersebut sama.

Biasanya suara dalam penulisan mudah sekali dibedakan sehingga mudah saja seseorang mengenali penulisnya hanya dengan membaca beberapa karya mereka. Salah satu contoh terbaiknya untuk hal ini adalah Hunter S. Thompson yang telah menulis menggunakan gaya “gonzo” dan karyanya menjadi sangat berpengaruh serta dicontoh oleh banyak penulis lainnya selama bertahun-tahun kemudian.

Suara dalam penulisan terdiri dari pilihan kata-kata, pemilihan topik, sampai pilihan tanda baca yang penulis pilih dalam karyanya. Dari sanalah seorang pembaca dapat mengerti bagaimana penulis menampilkan kepribadiannya, karakternya, dan sikapnya terhadap masalah yang dibahas.

Dengan kata lain, suara dalam penulisan merupakan salah satu elemen yang membangun karakter penulisanmu dan dapat membantu karyamu, entah karya tulisan, konten, email dan sebagainya, menonjol di antara sejumlah tulisan-tulisan lain.

Memahami Peran "Suara" dalam Karakter Penulisan

(Dok. OpenCulture)

Kenapa suara dalam penulisan penting?

Suara dalam penulisan sangat penting karena sudah sepantasnya karya tulismu memiliki kepribadian, sama seperti seorang penulis itu sendiri. Suara dalam penulisan yang kuat mampu membantumu memilah kata demi kata dengan tepat, membangun konsistensi di seluruh karyamu, dan yang paling penting membantumu menarik perhatian pembaca dan membangun hubungan dengan mereka.

Kamu mungkin punya sederet daftar penulis favorit yang akan kamu baca apapun jenis karya tulisannya karena kamu sangat menyukai tulisan mereka. Begitupun sebaliknya, pasti ada beberapa penulis yang kamu enggak mau baca karena suara dalam penulisan karya mereka terdengar merendahkan, terlalu tajam, atau tidak menarik bagimu.

Baca Juga: Langkah Menulis Puisi Menurut Joko Pinurbo

Cara menemukan suara dalam penulisan

Jadi pertanyaannya, bagaimana kamu menemukan suara dalam penulisan dan mengembangkannya sehingga menjadi karakter yang kuat? Mulailah memikirkan tiga hal ini:

  • Apa yang ingin kamu sampaikan mengenai dirimu sendiri? Jika kamu bertanya pada pembaca kata yang tepat untuk menjelaskan karya tulismu dengan beberapa kata sifat, kata apa yang kamu ingin mereka pilih?
  • Tujuan kamu menulis. Apakah kamu ingin suaramu terdengar lebih mirip ulasan film atau berita kematian? Apa kamu ingin menyampaikan informasi, menghibur, atau memotivasi pembacamu?
  • Pembacamu secara keseluruhan. Apakah kamu menulis untuk anak kecil, penggemar bola, atau yang lainnya?

Selagi kamu memikirkan ketiga faktor yang disebutkan di atas, tuliskan beberapa kata sifat yang dapat kamu implementasikan di suara dalam penulisanmu. Jika kamu merasa mentok, pilih beberapa hal yang enggak kamu inginkan, seperti “menyeret-nyeret” atau “terdengar sombong”. Cek kembali karya teman-teman penulismu yang lain untuk menentukan bagaimana suaramu tampak berbeda dari karya mereka.

Setelah kamu mampu menjawab tiga faktor tersebut, selamat! Kamu sudah separuh jalan menemukan tulisan yang berkarakter. Perjalananmu masih panjang dan berliku. Yang kamu butuhkan adalah sebuah kesabaran, ketekunan, serta sedikit kekeraskepalaan dalam derajat tertentu.

Mau tahu kunci lainnya menemukan gaya penulisan berkarakter lain selain suara dalam menulis? Yuk ikutan Jakarta Creators Meet Up yang bertajuk Finding and Exploring Your Own Writing Style!

Lewat acara Jakarta Creators Meetup yang akan diadakan pada hari Kamis, 17 Oktober 2019, GetCraft bersama Sabda Armandio Alif (Writer & Manager Multimedia, tirto.id), Pratiwi Juliani (Writer & Literacy Volunteer), dan Teddy W Kusuma (Writer & Co-Founder POST Bookshop) mengajak kamu untuk membahas bagaimana cara mengeksplorasi gaya penulisan.

Info dan pendaftaran, klik di sini!

 

Finding and Exploring Your Own Writing Style - New Feat

Finding and Exploring Your Own Writing Style – New Feat