Pop Up Class

Banggaber: Berkomunikasi dan Merespon Isu Sosial Lewat Kartun

Sudah cukup lama kita terlena dengan konten di media sosial. Mungkin bisa dikatakan, lebih dari separuh hari kita ketika ditotal, kita berada di dunia maya yang amat luas terbentang–bahkan rasanya tidak ada habisnya. Sebagai insan kreatif, hal ini bisa jadi menguntungkan, bisa jadi tidak. Kerugiannya, tentu yang dirasakan oleh banyak orang, adalah minimnya saringan yang ada. Segala informasi mudah masuk dan keluar tanpa bisa kita kontrol sepenuhnya.

Tinggal di Indonesia yang tiap harinya selalu diterpa sebuah isu baru, terkadang konten yang hadir di layar kita berbentuk provokatif dan negatif. Namun, bukan konten macam ini yang kita lihat di akun Instagram Rizal Fahmi, atau yang lebih dikenal dengan nama Banggaber. Gaber, panggilannya, membuat respon akan isu yang beredar di sekitarnya melalui medium komik dan ilustrasi. Menurutnya, sebagai orang yang socially awkward, ia lebih bebas dan lega saat menyampaikan pandangan/opininya melalui medium tersebut.

Lewat konten yang disampaikan oleh Gaber, kita bisa melihat dan merasakan energi positif dari respon yang ia tawarkan pada audiensnya. “Ademin saja, deh,” ucapnya saat Crafters mewawancarainya. Keunikan Gaber saat merangkai konten adalah pesan positif dan rangkaian karakter yang khas. Tidak heran, Gaber di Instagram saat ini memiliki ratusan ribu followers dan baru saja meluncurkan buku yang berjudul Menjelang Petang yang bisa kamu beli di Gramedia.

Baca Juga: Komikazer: Kartunis yang Berani Kritis Akan Isu Sosial dan Politik

 

Banggaber: Berkomunikasi dan Merespon Isu Sosial Lewat Kartun

(Dok. Banggaber)

 

Dalam wawancara, Crafters bertanya soal profil, inspirasi dan Intellectual Property (IP) serta pentingnya hal tersebut bagi seorang kartunis sepertinya. Berikut wawancaranya.

Sudah berapa lama kamu menjadi seorang kartunis?

Enggak ingat sih berapa lamanya, cuma saya benar-benar fokus gambar itu dari tahun 2014 atau 2015.

Apa yang pertama kali menginspirasimu untuk menjadi seorang kartunis?

Bukan terinspirasi sih, tapi karena saya punya masalah untuk berkomunikasi dengan orang, terus saya merasa bisanya hanya menggambar. Jadi, saya ingin menyampaikan apa yang saya ingin sampaikan itu melalui gambar.

Baru setelah itu belajar dan bisa menggambar, akhirnya saya suka membuat komik, membuat kartun. Inspirasi saya dari Mice Cartoon, Doyok dan komik-komik strip yang ada di koran.

Kapan dan kejadian apa yang membuatmu akhirnya menekuni pekerjaan sebagai kartunis?

Di tahun 2014 atau 2015 saat saya bergabung dengan komunitas komik di Indonesia.

Saat kamu berkarya, membuat suatu kartun/ilustrasi, apa yang paling kamu pertimbangkan?

Tentu saja isi pesannya. Karena, style gambar akan berubah-berubah, namun poin besarnya yang ingin saya sampaikan adalah pesan tersebut. Pesan apa? Pesan yang ada dalam sudut pandang saya mengenai hidup.

Apa sih sebuah Intellectual Property (IP) itu?

IP itu seperti pemikiran kamu yang nantinya bisa jadi bermanfaat untuk orang banyak dan bisa dikonsumsi oleh orang banyak. Dan kamu berhak mendapat pendapatan dari situ.

Jadi IP adalah buah dari pemikiran kamu yang bisa bermanfaat untuk orang lain dan kamu bisa mendapatkan uang dari situ.

Apa pentingnya IP bagai seorang kartunis, terutama untukmu?

Buat saya, yang penting karya saya bermanfaat dulu untuk orang lain. Nah, saya mendapat income-nya atau tidak, itu tidak terlalu saya pikirkan. Saya adalah tipe orang yang memang tulus membuat karya yang bermanfaat untuk orang lain.

Nah, mungkin saya akhirnya mendapatkan royalti IP saya itu ya karena rezeki saja. Karena saya rasa karya saya sudah bermanfaat untuk orang lain, jadi saya nagihnya ke Tuhan.

Menurutmu, apa lima hal penting untuk menjadi seorang kartunis?

Berbakti pada orang tua, berbuat baik terhadap lingkungan sosial, bertetangga, bisa menggambar, peka terhadap isu-isu di sekitar.

Dari semua itu, akhirnya kita bisa membuat konten untuk karya kita, sesuai dengan apa yang kita rasakan.

 

Banggaber: Berkomunikasi dan Merespon Isu Sosial Lewat Kartun

(Dok. Banggaber)

Sebagai kartunis, isu apa sih yang biasa kamu angkat dan apa alasannya?

Isu keseharian. Karena saya tidak bisa berimajinasi membuat cerita fiksi yang megah seperti Walt Disney. Saya malas mikir, jadi apa yang saya lihat dan apa yang saya rasakan saya jadikan cerita di komik atau karya saya.

Di era digital dan serba sharing ini, menjadi responsif dengan isu terkini rasanya amat penting. Apa pandanganmu soal ini? Dan sebagai kartunis, apa kontribusimu dalam menanggapi isu-isu tersebut?

Penting untuk menjadi responsif pada isu-isu terkini. Itu didukung dengan fakta kita sebagai makhluk sosial, tentu kita akan ngobrol dengan orang-orang, kan, di saat diajak ngobrol soal isu terkini terus kamu enggak nyambung, kayaknya gimana banget, gitu.

Nah, saya menyikapi itu dengan karya saya juga, misalnya ada isu soal perpecahan dua belah pihak, saya berusaha masuk dan melihat perspektifnya dari tengah. Ademin aja, deh. Saya enggak mau memperkeruh pihak manapun. Ya, mendingan kita damai, kalau persoalannya adalah perseteruan. Lebih seperti ‘ayo, kita benahi diri sendiri daripada kita memikirkan orang lain!’

Apa pesan yang ingin kamu sampaikan pada kreator lain yang ingin memulai kariernya sebagai kartunis?

Kalau memang ingin, ya lakukan. Kalau ragu-ragu, coba cari informasi lebih dalam soal itu. Kalau sudah yakin, sudah ingin sekali, tinggal lakukan. Enggak akan bisa kalau tidak dilakukan. Entah rintangannya apa, resikonya apa, apa kata orang, jangan didengarkan, jadi kamu bisa belajar dari pengalamanmu sendiri, bukan pengalaman orang lain.

Baca Juga: Rukii Naraya: Pentingnya Mengenali Diri Sendiri dan Berkarya untuk Masyarakat

Dari pengalaman Banggaber selama kurang lebih lima tahun sebagai kreator komik, kita dapat mempelajari banyak hal mulai dari teknik hingga insight soal industri ilustrasi di Indonesia. Untuk kamu yang tertarik untuk belajar lebih dari Banggaber, GetCraft mengadakan acara PopUpClass: How to Have Your Own Intellectual Property Asset pada tanggal 19 September 2019, di Connectinc, JI. Palem No. 28, Cipete Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan 12410.

Cek posternya di bawah ini dan daftar di sini.

 

Banggaber: Berkomunikasi dan Merespon Isu Sosial Lewat Kartun

Banggaber: Berkomunikasi dan Merespon Isu Sosial Lewat Kartun