Exposure dan Etika Influencer, Pentingkah di Mata Brand?

Di era digital kini, tidak sedikit pemilik bisnis yang memanfaatkan kekuatan media sosial untuk berkomunikasi dengan sesama pelaku bisnis dan dengan para pelanggannya. Selain bisa melakukan promosi secara mandiri, pemilik bisnis juga banyak menggunakan jasa influencer untuk menjangkau pasar yang lebih luas demi menunjang penghasilan bisnis yang mereka jalani. Lantas, apakah etika influencer dan exposure mereka sangat penting di mata brand?

Salah satu pertimbangan para pemilik bisnis menggunakan jasa influencer adalah karena faktor ketenaran (popularitas) atau daya tarik, serta jumlah pengikut yang dimiliki seorang influencer.

Ada tiga faktor relasi antara audiens dan influencer:

  • Engaged followers atau pengikut setia, yang gemar berinteraksi dengan influencer. Seperti melempar komentar, saved postlike, dan lainnya. Perlu diingat bahwa audiens juga tidak suka konten-konten iklan yang berlebihan, yang kesannya tipu-tipu.
  • Relevansi dan kualitas konten dari influencer. Bisa mendidik, menghibur, menginspirasi, atau bahkan sekadar memberi informasi. Dengan begitu, bentuk relasi antara brand dan influencer terasa alami dan kredibel.
  • Rasio konten organik dan berbayar dari influencer seyogianya seimbang, Sehingga audiens tidak sampai kebanjiran iklan.

Baca Juga: 10 Influencer Top Indonesia Lintas Industri

Influencer: Antara Etika dan Exposure
(Dok. Unsplash)

Perihal Exposure dan Etika Influencer

Influencer boleh jadi punya basis massa tersendiri di media sosial. Walau demikian, kreativitas influencer tidak selalu disambut hangat dari para pemilik usaha, brand, atau pengiklan lain. Cara influencer menyampaikan pesan atau konten kadang dianggap “tidak beretika”. Salah satu kasus yang sempat hangat belakangan ini adalah hubungan timbal balik berupa exposure yang ditawarkan para influencer kepada pemilik bisnis produk dan brand.

Menurut kamus Cambridge, exposure adalah sorotan terhadap seseorang atau sesuatu oleh media massa. Tapi seiring perubahan zaman, sorotan ini akhirnya bisa diakomodir lewat penggunaan media sosial. Inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh influencer. Mereka dapat memberikan sorotan terhadap jasa atau barang yang mereka terima dari pemilik usaha atau brand.

Meski begitu, exposure bukanlah medium transaksi yang serta merta lazim. Exposure bisa menjadi sebuah imbalan kerjasama yang sepadan apabila pemilik bisnis dan influencer mencapai kesepakatan di awal. Hubungan antara influencer dengan pelaku bisnis atau pemilik brand mirip dengan hubungan antara stasiun televisi dengan pelaku bisnis dalam hal iklan. Skemanya enggak jauh beda. Para pelaku bisnis mau produknya populer di mata masyarakat. Mereka lalu bekerjasama dengan seorang influencer ngetop. Lalu si influencer akan menggunakan popularitasnya untuk merekomendasikan produk tersebut kepada para pengikutnya.

Influencer: Antara Etika dan Exposure
(Dok. Diggity Marketing)

Pertanyaannya kemudian adalah apakah influencer menyampaikan penawaran jasanya dengan benar, atau setidaknya penawarannya masuk akal bagi pelaku bisnis?

Alexander Thian dalam video di kanal YouTube pribadinya, In Exchange for Exposure, mengatakan bahwa tidak masalah dan sangat wajar jika influencer menawarkan timbal balik berupa exposure. Yang justru perlu diperhatikan adalah bagaimana kamu menyampaikan timbal balik exposure tersebut.

Penawaran resmi yang dikirim via surel adalah sebuah langkah yang tepat. Yang penting, influencer tidak lupa memperkenalkan diri, karena bagaimanapun tidak semua orang mengenal influencer. Sebelum akhirnya memberikan penjelasan tentang value apa yang bisa dipertukarkan. Jika memang nilai-nilai kerjasamanya disepakati oleh kedua pihak, beres!

Baca Juga: Peran Storytelling dalam Menyampaikan Value bagi Influencer Parenting

Memilih Influencer Berdasarkan Metriks

Penting bagi pelaku bisnis atau pemilik brand untuk memilih jasa influencer yang tepat supaya pesan bisa lebih efektif diterima target audiens. Mengutip situs Sirclo, ada 3 hal penting yang perlu diperhatikan:

1. Relevansi

Untuk mengetahui apakah seorang influencer relevan dengan bisnis atau brand, jangan hanya memperhatikan jumlah follower dan niche saja, tapi perhatikan juga apakah konten yang biasa mereka unggah sesuai dengan pesan bisnis atau brand yang ingin disampaikan.

Kenapa? Karena influencer yang sering posting soal makanan belum tentu sesuai dengan brand atau produk bahan makanan organik. Dan influencer dalam bidang musik belum tentu sesuai dengan brand yang menawarkan produk skincare.

Untuk itu, perlu melihat secara spesifik value dan interest yang ditawarkan influencer melalui posting-an mereka.

2. Interaksi dengan audiens

Kedekatan relasi antara influencer dan audiens sangat penting karena audiens akan melihat dan menilai mereka sebagai sosok yang ramah dan tidak sombong. Semakin dinamis hubungan keduanya, maka penyampaian pesan brand akan semakin efektif.

Caranya? Perhatikan bagaimana reaksi followers terhadap konten yang di-post oleh influencer. Apakah mereka banyak memberikan respon, likecomment, atau share? Perlu dipertanyakan juga, apakah influencer sering menanggapi reaksi dari followers.

3. Loyalitas audience

Kemampuan influencer untuk mendorong para pengikutnya melakukan action menjadi faktor yang penting. Biasanya followers yang loyal akan jauh lebih mudah menerima rekomendasi dari influencer.

Exposure bisa menjadi sebuah imbalan kerjasama yang sepadan apabila pemilik bisnis dan influencer mencapai kesepakatan di awal.

Bagaimana? Apakah kamu sudah merasa tertarik untuk memulai fotografi analog?

Apa kamu seorang influencer yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?