Endi Feng: Make up Tak Melulu Milik Wanita

Ketika Manuel Gutierrez menjadi wajah untuk sebuah campaign brand Maybelline di tahun 2017; Patrick Starr berkolaborasi dengan brand MAC mengeluarkan serangkaian produk kecantikan; dan James Charles dinobatkan sebagai wajah terbaru CoverGirl, banyak orang bilang langkah-langkah tersebut merupakan keputusan inovatif.

Ketiga sosok tersebut masing-masing menjadi wajah bagi brand besar yang cenderung hanya menampilkan wajah wanita bagi campaign mereka. Ketiga sosok tersebut merupakan segelintir lelaki yang muncul dalam iklan makeup dan pemasaran setelah sukses menjalani karier sebagai makeup blogger di usia muda. Meski demikian, jika kita bertolak melihat sejarahnya, harmonisasi tata rias dan laki-laki bukanlah hal yang baru.

Dulu sekali, makeup pernah menjadi pilihan kaum laki-laki di Mesir zaman kuno. Bukti yang jelas terpampang pada artefak dari waktu ke waktu, dengan kedua gender tampak mengenakan riasan, utamanya eyeliner yang ekspresif. Pada zaman itu, makeup menjadi sarana praktik menyelami alam spiritual. Ambil contoh eyeliner Kohl yang terbuat dari gerusan mineral seperti malahit dan galena serta mencuri perhatian dunia tata rias semenjak abad ke-20. Eyeliner tersebut berperan sebagai perangkat menyelami dunia spiritual, dipercaya menghalau lalat, infeksi, serta paparan sinar matahari yang berbahaya.

Popularitas makeup di kalangan kaum lelaki tak berhenti pada zaman itu saja. Alexander Agung, kaum Pict (orang Skotlandia kuno), lelaki yang wara-wiri di istana Louis XIII, dan para dandies pun turut membuka tangan lebar-lebar menerima make up sebagai bagian rutinitas mereka. Pada zaman yang lebih baru, sekitar dua sampai tiga puluh tahun sebelum Manuel Gutierrez dan kawan-kawan muncul sebagai man in makeup, kita mengenal pula David Bowie, Prince, dan Johnny Depp yang berhasil membuat diri mereka tampak luar biasa dengan make up sekaligus menantang stigma gender dalam masyarakat.

Bagaimana dengan di Indonesia sendiri? Cerminan yang sama pun berjalan selaras di negara kita. Masyarakat metropolis Indonesia pun sekarang mengenal banyak sosok lokal dengan semangat mengekspresikan diri yang sama seperti Manuel Gutierrez, James Charles, Patrick Starr dan kawan-kawan man in makeup lainnya, berprofesi sebagai beauty influencer.

Tak hanya itu, sosok-sosok makeup artist lelaki berbakat dengan tangan terampil pun sudah lama berkarya di negara ini seperti Barry Ritonga, Rama Jee, Anpa Suha dan Endi Feng.

Baca Juga: Sasyachi: Si Beauty Influencer yang Juga Mengelola Facetofeet

Endi Feng: Make up Tak Melulu Milik Wanita
(Dok. Instagram @endi_feng)

Endi Feng sendiri merupakan salah MUA yang sungguh berbakat. Berawal dari keinginannya agar orang lain memiliki akses ke dunia makeup tanpa membayar mahal ke sekolah tata rias seperti yang ia lakukan, Endi Feng membagikan segala jenis pengetahuan di media sosial.

Beruntung, Crafters mendapatkan kesempatan untuk mewawancari sosok MUA ini. Dari perbincangan kami, Endi Feng menunjukkan jalan bahwa makeup adalah sebuah jalan untuk mengekspresikan diri; sebuah seni. Keberadaan makeup bukan lagi terpatok pada gender, sebab dari dulu makeup memang bukan milik gender tertentu. Dan bukankah sudah semestinya keberadaan para pelaku yang menggeluti bidang seni tata rias patut untuk dirayakan, terlepas apakah mereka lelaki atau perempuan?

Berikut wawancara Crafters bersama Endi Feng.

Boleh kah kamu menceritakan kapan dan bagaimana awalnya kamu jatuh hati dengan dunia makeup?

Pertama kali jatuh hati dengan dunia makeup waktu SMA kelas XI. Waktu itu saya tergabung dalam grup teater sekolah, dan saat pentas, saya lihat teman-teman dandan hasilnya berbeda sekali dengan watak wajah mereka sehari-hari. Mulai saat itu saya jadi ingin bereksperimen dengan makeup lebih dalam. Lalu saya ikut teman jualan kosmetik MLM (Multi Level Marketing) biar bisa beli makeup dengan harga murah atau gratis untuk modal eksperimen.

Apa alasan kamu menekuni dunia makeup, mengembangkan kontennya dan pada akhirnya menjadi seorang sosok beauty influencer?

Dulu saya tidak mengerti alasan seseorang dandan untuk apa, ternyata makeup bisa membuat seseorang lebih percaya diri, dan memberi kesan ke orang lain bahwa kita take care of ourselves. Saya menganggap makeup itu sebagai seni dengan wajah sebagai kanvasnya. Dulu saat saya mulai makeup, tidak ada istilah beauty influencer. Tujuan pertama saya bikin konten karena saya mau orang lain punya akses ke dunia makeup tanpa bayar mahal ke sekolah tata rias seperti yang saya lakukan. I know makeup school’s tuition is very expensive at that time, I want to share a portion of my makeup knowledge on a more accessible platform, social media.

Dari manakah kamu menemukan inspirasi dalam membuat looks yang ada dalam video Youtube dan postingan Instagram?

Saya dulu suka nonton ANTM(America’s Next Top Model), jadi saya selalu suka makeup runway/photoshoot fashion. Mulai dari kesukaan saya dengan fashion makeup, saya selalu menonton fashion show dari brand besar agar bisa mengikuti trend and draw inspirations from the shows. Dan tidak bisa dipungkiri di dunia media sosial kita harus mengikuti trend supaya tidak ketinggalan.

Siapa sajakah sosok dalam dunia tata rias yang mempengaruhi kamu dalam melahirkan karya? Bagaimanakah pengaruh mereka terhadap cara kamu menghasilkan konten dan cara berpikir kamu?

Sutan Amrull, makeup artist dalam show ANTM season 4-12. Riasan yang dihasilkan Sutan sangat colourful, dan berani. Setelah Sutan menang RuPaul’s Drag Race season 3, saya makin kagum dengan talenta Sutan.

Rae Morris, makeup artist dari Melbourne. Saya banyak belajar dari buku beliau yang berjudul The Ultimate Guide yang membantu saya untuk mengerti makeup tidak harus tebal seperti yang ada di media lokal.

Kevyn Aucoin, salah satu makeup artist legendaris. Buku-buku makeup dari Kevyn ini juga banyak membantu saya mengerti tata rias dasar. Apalagi trend makeup selalu berputar, buku-buku Kevyn banyak inspirasi dan referensi makeup era 80’s-90’s.

Hal-hal apa saja sih yang menjadi tantanganmu dalam proses pembuatan konten makeup?

Kebanyakan adalah halangan dari diri sendiri. Saya lumayan perfeksionis, dan mood swing. Tapi dulu halangan terbesar adalah fasilitas, seperti kamera, pencahayaan, dan lain-lain. Kalau sekarang ini lebih capek mengikuti trend karena dunia beauty sudah semakin cepat berkembangnya. Seminggu bisa dapat PR kits dari brand berbeda-beda, dengan produk yang hampir mirip, tantangan buat saya untuk mengumpulkan niat membuat konten yang tidak yang membosankan penonton karena produknya mirip.

Apalagi kalau saya harus review, terkadang tekanan batin sekali untuk menjaga integritas tanpa melukai perasaan orang lain dengan review negatif. Namanya juga produk makeup, there will always be positive & negative aspects of the product.

 

Endi Feng: Make up Tak Melulu Milik Wanita
(Dok. Instagram @endi_feng)
Saya tidak pernah melihat kesuksesan atau peluang sukses seseorang influencer dari jenis kelamin. Dan saya rasa masyarakat metropolis sekarang juga sudah open minded dengan hal ini. Jadi menurut saya peluang suksesnya seorang influencer tergantung dengan isi konten dan influences-nya.
Endi Feng: Make up Tak Melulu Milik Wanita
Endi Feng bersama Manny MUA (Dok. Instagram @endi_feng)
Apa sih yang ingin Endi sampaikan melalui makeup? Bagaimana cara makeup berhasil menjadi sarana yang tepat untuk membagikan ceritamu?

Pertama kali saya dandan itu karena ingin eksperimen dengan makeup panggung. Lalu ternyata yang banyak minta untuk makeup cantik, jadi saya masuk sekolah tata rias, lulus, bikin konten yang mengajarkan cara berdandan. Melalui konten saya, ada beberapa yang bilang bahwa saya membantu mereka untuk tampil lebih percaya diri, dan lebih berani mengekspresikan dirinya. Dengan pengalaman pribadi dengan followers saya ini yang membuat saya merasa bahwa makeup is not so vain after all if the impact is significant in someone’s life.

Jadi pesan yang mau saya sampaikan, kalau makeup bisa mambantu kamu lebih percaya diri, lebih bebas mengekspresikan dirimu, DO IT!

Bagi sebagian masyarakat Indonesia, makeup identik dengan gender perempuan. Sebagai seorang beauty vlogger dan influencer lelaki, tantangan apa saja yang kamu hadapi? Boleh diceritakan?

Beruntungnya saya mulai beredar di media sosial, di era mana kita lebih bebas untuk mengekspresikan diri. Tahun 2008-2009 adalah tahun para milenial rebel bermunculan. Pop icon seperti Lady Gaga lagi booming, jadi di waktu itu tidak banyak feedback negatif. Dan saya mulai di dunia makeup sebagai makeup artist, jadi lebih mudah diterima masyarakat, terutama keluarga.

Komen terbanyak yang saya dapat di kolom komentar media sosial adalah “sebagai cewek, gw kalah”. Just so you know, makeup knows no gender. Jadi harapan saya untuk masa mendatang, masyarakat tidak lagi asing melihat lelaki maupun perempuan memakai makeup sebagai self-expression.

Saat menghadapi tantangan-tantangan itu, hal-hal apa saja yang membuatmu termotivasi untuk tetap berkarya lewat makeup?

Pertama, profesi saya adalah makeup artist, tidak kerja atau bikin konten, tidak mendapat uang. Klise, tapi memang makeup is my job and joy.

Kedua, ternyata konten review makeup saya membantu followers mengambil keputusan untuk membeli atau tidak suatu produk, dan bagi brands sebagai brand awareness ke masyarakat dan memberi feedback untuk produk mereka. Tutorial juga banyak membantu orang untuk mengerti cara-cara tata rias, apalagi yang sedang trending.

Untukmu sendiri, kalau bisa merumuskan 3 hal penting untuk memulai karier sebagai beauty influencer, apa saja?

Uniqueness, Creativity, Personality

 

Endi Feng: Make up Tak Melulu Milik Wanita
(Dok. Instagram @endi_feng)
Menurutmu, bagaimana perkembangan industri makeup Indonesia di masa mendatang? Seberapa besar peluang menjadi beauty vlogger atau influencer lelaki (man in makeup) di Indonesia?

I think beauty industry in Indonesia will be more saturated dengan berdatangannya brand dari luar negeri, dan bermunculannya brand lokal.

Saya tidak pernah melihat kesuksesan atau peluang sukses seseorang influencer dari jenis kelamin. Dan saya rasa masyarakat metropolis sekarang juga sudah open minded dengan hal ini. Jadi menurut saya peluang suksesnya seorang influencer tergantung dengan isi konten dan influences-nya.

Baca Juga: Kunci Menjadi Beauty Influencer yang Dilirik Brand

Terakhir, adakah saran yang ingin kamu bagi kepada para beauty vlogger lain yang baru memulai, khususnya beauty vlogger lelaki?

Be who you are, create what you love. Tanpa memandang gender, akan ada yang suka dan tidak suka dengan kreasi kamu. Kalau tujuanmu mengejar uang, jangan sampai melakukan hal-hal yang membuat masyarakat memandang sebelah mata influencer lain yang kerjaannya mirip seperti kamu. Kejar prestasi, bukan sensasi.

 

Kamu seorang beauty influencer yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?