Crafters

Portal konten yang fokus mengangkat beragam hal seputar industri kreatif. Mulai dari wawancara, laporan khusus, sampai tips dari para kreator yang berkarya di bidang seni, kebudayaan, bisnis kreatif, dan teknologi.

Melalui Crafters, kami ingin memberikan kontribusi untuk perkembangan industri kreatif di Asia Tenggara.

Dikelola oleh

Sign up to receive bi-weekly creative inspiration, delivered directly to your inbox!

Edward Suhadi: Kreativitas Itu Soal Disiplin dan Kerja Keras

Nama Edward Suhadi sudah lama mondar-mandir di media sosial. Ia orang yang cukup aktif membuat utas-utas inspiratif di linimasa Twitter, dan membagikan cerita di blog pribadinya. Meski demikian, Edward Suhadi lebih dari itu. Ia adalah sosok yang memprakarsai gerakan #TumpukDiTengah, pernah beberapa kali tampil dalam film layar lebar, terjun ke bidang fotografi wedding, dan sekarang menggeluti industri videografi (utamanya iklan), serta filmmaking.

Dari semua hal yang disebutkan di atas, menakjubkannya, hingga kini ia masih menggeluti semua ketertarikannya (yang sekarang dijadikan profesi serius) itu. Yang kita tahu, Edward Suhadi adalah orang yang senang bercerita dan membagikannya dengan gratis, seperti orang yang membagikan kebahagiaan. Banyak orang yang kagum dengan caranya menggeluti beragam macam kegiatan tersebut. Dari sosok Edward Suhadi, apa saja insights untuk para videografer atau kreator konten lain yang dapat dipelajari?

Crafters pun berkesempatan mewawancarai Edward Suhadi mengenai perjalanan kariernya, proses kreatif, idealisme serta industri video kreatif (iklan) di Indonesia.

Baca Juga: Bhagavad Sambadha: “Fotografi Adalah Milik Semua Orang”

Edward Suhadi: Kreativitas Itu Soal Disiplin dan Kerja Keras
(Dok. Edward Suhadi)
Apa yang membuat Mas Edward mengambil keputusan untuk awalnya menekuni bidang videografi dan kemudian menjadi videografer sekarang ini? 

Saya salah satu dari orang beruntung yang dari muda sudah tahu sukanya apa, karena hal itu biasa jadi kompas seumur hidup, untuk mau berjalan ke arah mana. Dan dari kecil saya sudah suka iklan. Enggak tahu kenapa.

Saya juga suka fotografi dari SMP atau SMA, dan ikut ekstrakulikuler fotografi. Kemudian dari sejak kuliah desain grafis di FSRD di Trisakti, makin kecemplung di fotografi. Berawal dari fotografi wedding, lalu tiba-tiba sekitar periode 2012 sampai 2013, one thing led to another, saya akhirnya memutuskan untuk berhenti motret wedding, dan masuk ke dunia production.

Dari sederet proses itu saya sadar, bahwa semuanya punya satu kesamaan; yaitu storytelling. Dan kata dasarnya, yang sering kita sepelekan, adalah komunikasi. Saya juga suka komunikasi. I like to have an idea in my head and then try to prepare it the best I can, and then present it the best I can; so, the same idea that is in my head goes to other people’s head. 

Bagian mana yang paling Mas Edward nikmati ketika membuat karya? Apa alasannya?

Yang paling saya suka sebetulnya, if you work in a team. It’s always nice to work in a healthy team. Tim sehat dalam pengertian tidak ada politik, tidak ada backstabbing, tidak ada orang-orang yang berusaha menjatuhkan orang lain. It feels really good to enjoy the process.

Kedua, ketika karyanya dinikmati orang. Semua manusia tepuk tangan. Saya suka tepuk tangannya, tapi saya juga suka ketika mereka mengerti (arti di baliknya). Ya, ini mungkin efek dari talenta yang saya latih bertahun-tahun.

Terakhir, apa yang kita komunikasikan bisa diterima orang dengan baik. Wah, rasanya sih luar biasa banget. Awal tahun lalu bikin video untuk mitra Bukalapak, diputarnya di depan Presiden, dan di depan karyawan Bukalapak. It’s a special screening and people got it. Keliatan dari reaksi mereka tepuk tangannya. It felt like a million bucks.

Itu kan yang paling dinikmati, kalau bicara soal bagian yang paling menantang?

Yang paling menantang buat saya adalah disiplin diri. Kalau soal masalah klien rese —by the way, klien itu enggak pernah rese ya, kitanya aja yang enggak becus— seberapa sulitnya klien kamu, if you’re smarter than your client, then things should have gone better. Yang kebanyakan terjadi adalah kita yang tidak siap, atau kita tidak becus memahami kebutuhan klien.

Jadi kalau kalian merasa kliennya sulit, shoot enggak dapat, whatever it is, setahuku itu semua seharusnya bisa dikerjakan dengan baik. Those are part of the job. That’s why they pay you with money. Project should be loaded with obstaclesproblems in the project are inevitable.

Nah, maka itu, kembali lagi ke disiplin diri, yang berat itu adalah getting up in the morning and then tell yourself to get up. Apalagi kita model orang kreatif yang biasanya belum tentu satu paket antara self-discipline dengan kemampuan berkarya.

Self-discipline, ya. Kalau soal orang-orang yang terlahir dengan talenta? Apa pandanganmu soal itu?

I believe that talent is overrated. I always believe that discipline is the key. Ada saja orang yang berkata, “Ya lo gak bisa gitu dong. Semua orang kan hidupnya beda-beda.” True, but if you have the will, and you want it to happen, the key is self-discipline. 

You can be mediocre. But if you want to get better, then wake up in the morning and hustle! I think in a time, especially now; dengan portal seperti GetCraft, dengan YouTube yang free for all, dengan Twitter yang gratis, Instagram yang gratis —if you wake up in the morning, I think you can make it. It’s less of an excuse right now, karena at the same time, ada tantangan yang lebih besar dengan munculnya sosial media; mental yang maunya serba cepat.

Edward Suhadi: Kreativitas Itu Soal Disiplin dan Kerja Keras
(Dok. Edward Suhadi)
Mas Edward adalah seseorang yang gemar menulis, menekuni dunia fotografi, videografi, dan memiliki bisnis sendiri. Bagaimana aktivitas-aktivitas tersebut saling terkait dan membantu proses kreatifmu sekarang ini?

Pertama orang kreatif yang berhasil itu harusnya menjalani hidup yang menarik. Lupa siapa yang menulis, kalau enggak salah Ernest Hemingway atau seorang pujangga Amerika, bilang; kalau lo penulis, you should have a good life, so you have something to write about. Sama juga seperti orang kreatif, aku rasa. It is a professional paradox. It means that, the better you are, the more people wants your time and the less time you actually do interesting stuff. 

I’m not saying that we all have to leave our professional life behind. Enggak. Cuma kalau kita bisa convert kegiatan doing-nothing-but-social-media untuk lari atau ikut club, I think you can do itAlso, what do you do on your weekends? Sesibuk-sibuknya orang kerja juga enggak Monday to Sunday. Bekerja is not about just looking at YouTube videos for reference, but actually going out there and living your life, because your daily life contributes your professional life.

I’m not saying that, “I have a very interesting life and then the idea will come”. No that doesn’t happen that way. You still have to sit at your desk and get up in the morning. But in between, you need to find something new and excitement to your life.

Apa yang sebenarnya ingin Mas Edward bagikan melalui fotografi atau videografi? Bagaimana keduanya mampu menjadi medium untuk menyampaikan pesan?

I like to contribute to something. Semoga saat saya terbaring dalam ranjang kematian, saya bisa bilang bahwa sumbangsih saya lebih besar daripada nyinyirnya saya.

Saya tahu bahwa komunikasi —baik dalam tulisan, video atau foto, it helps and could lift someone up. It can show someone a way; that it can lift a burden from someone’s shoulder, it can inspires people to do bigger things. Itu yang akan kulakukan, karena dunia sudah banyak sisi jahatnya, sisi pahitnya, sisi benci-bencinya, sisi keputusasaannya, dan banyak sisi kesepiannya… So if my videos and films can at least help someone get up and get through the day, itu saja sudah cukup.

Bagaimana cara Mas Edward mengimbangi permintaan brand yang bekerja sama dengan Mas Edward dengan idealisme dalam pembuatan karya?

Advertise yourself clearly so the customer that come is in sync with what you want to make. Advertise yourself whether you’re pempek, bakmi keriting atau gado-gado, atau nasi goreng kambing. Thus, the people who are looking for that particular thing, they can go to your shop and they can order the things that you love making and doing. Itu nomor satu. Kalau sudah begitu, sisanya adalah a walk in the park. 

Also, always remember that you don’t have all the answers. Seringkali orang kreatif apalagi anak muda kreatif itu ber-“darah panas”. Sebagai seorang  kreatif, begitu ketemu klien, biasanya dalam hati berpikir, “Ini klien goblok. Dia enggak ngerti maksud gua apa nih.” As I grow older, saya ngomong ke diri saya sendiri dalam hati. Kalau klien menyanggah saya, saya akan bilang begini dalam hati, “Stop. Coba dengerin dulu. Jangan-jangan gue yang goblok.” 

And it changed the whole game. I’m there with my mind open, my ears open, dan seringkali walaupun saya punya idealisme, idealisme saya membangun di atas kritikan dia. It’s not like blind idealism yang enggak bisa diomongin sama sekali.

It’s not a compromise of an idealism. I think smart person can shape his or her idealism into another form. Dia tidak akan mengkompromikan idealismenya, tetapi dia bisa mencari bentuk yang lain. Dia tidak menyerahkan value dia, tapi dia akan bertanya, “Is there any other way?” And a smart person will definitely find another way. Bukan mengkompromikan idealisme-nya.

Don’t mind being stupid. Be like a little kid. Curious. Being stupid is ok, definitely.
Apa pandangan Mas Edward melihat fenomena videografi periklanan dan film di Indonesia saat ini?

Jawaban saya sama seperti kebanyakan orang, kita masih dalam fase infancy, kalau bicara film layar lebar. Masih bayi. We’re in the beginning of beginning. Masih di fase beginning of startthe early phase of the beginning of the start. Jadi masih awal banget. Kalau trennya masih bisa berlanjut dan saya sih optimis akan berlanjut. We’re still on the right track and in good hands. Banyak anak muda yang idealis, masih banyak anak muda yang talented. Makin seru harusnya sih dunia produksi.

However, the same with every industry and every era, you cannot microwave time. Waktu tak bisa dimasukkan ke dalam microwave terus lantas jadi. You still need to get that years of fine polishing. Menurutku, mimpi menjadi YouTuber, atau menjadi videografer dengan banyak nonton film terus tiba-tiba sudah bisa produksi suatu film pendek won’t make you someone who is already established. It always needs time, you need to have your mentors, you need to have your face on the asphalt.

Baca Juga: Boy Candra: “Saya yang Membuat Peta. Bukan Ikut Peta yang Ada”

Apakah menjadi seorang fotografer atau videografer sudah jadi profesi yang menjanjikan di Indonesia? Apa pandangan Mas Edward soal ini?

You can build two things, either building a business or building a profession. Yang saya lakukan sekarang ini adalah bisnis. I have a team, I have a payroll… But building a profession is just like what Davy Linggar does. Ambil contoh saja Davy ya. Aku suka kerjaannya Davy. As far as I know, dia kerjain proyek satu-satu. I think he is paid really well. He deserved to be paid really well. You need to be on that class to be able to have a good life and support yourself. 

Jadi videografer sekarang ada market-nya, ada demand-nya, dan itu udah jadi titik awal yang baik untuk kamu bisa membangun masa depan di situ.

Apa pesan yang ingin Mas Edward sampaikan terhadap mereka ingin menjadi fotografer atau videografer?

Jangan kebanyakan gaya, Tong!  Nobody gives a crap about what you made. I’m sorry to say. If you’re just starting out, nobody gives a crap. Sorry. I’ve been there so I can say this. Kebanyakan anak muda merasa the more I spend time on that, the more people care about it. That’s not the case. Do a lot of projects and fight your inner demons. Inner demons itu bisa kemalasan, bisa ego, enggak bisa dikasih kritik, cuma mau ngerjain yang enak, mau shooting di tempat yang enggak panas, mau syuting kalau artisnya beken, dan lain-lain.

Fight your inner demons, lalu bilang, “Oke, selama 3 tahun, I’ll shut my mouth and I’ll open my work to people I admire and have them criticize me and I would not be offended for three years.” Cobain itu, deh. Kalau kamu benar-benar baru, tidak berpengalaman, bilang, “I’m new and I need to learn. Please teach me.” 

Don’t mind being stupid. Be like a little kid. Curious. Being stupid is ok, definitely.

 

Apakah kamu seorang content creator yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?

June 25, 2019
Yusi Avianto Pareanom: Menulis Itu Butuh Ketekunan dan Kekeraskepalaan dalam Derajat Tertentu
Perbincangan Crafters bersama Yusi Avianto Pareanom tentang perjalanan kepenulisannya, dan peranan festival dalam lanskap...
June 28, 2019
Edward Suhadi Berbagi Tips Panduan Produksi Konten Video
Simak penjelasan tahapan produksi video secara umum dan tipsnya dari Edward Suhadi berikut ini.