Crafters

Portal konten yang fokus mengangkat beragam hal seputar industri kreatif. Mulai dari wawancara, laporan khusus, sampai tips dari para kreator yang berkarya di bidang seni, kebudayaan, bisnis kreatif, dan teknologi.

Melalui Crafters, kami ingin memberikan kontribusi untuk perkembangan industri kreatif di Asia Tenggara.

Dikelola oleh

Sign up to receive bi-weekly creative inspiration, delivered directly to your inbox!

Edward Suhadi Berbagi Tips Panduan Produksi Konten Video

Dewasa ini, video telah menjelma menjadi jenis konten yang sangat populer di dunia digital. Meningkatnya kepopuleran video di kalangan pemirsa digital pun membuat permintaan akan jenis konten ini semakin besar.

Kepopuleran konten video ini didukung oleh banyak data, salah satunya data dari Hubspot. Di tahun 2019, Hubspot mencatat 54% audiens lebih tertarik dan ingin mencari tahu lebih banyak soal suatu produk lewat konten berbentuk video (utamanya video advertising).

Dengan kondisi ini, jelas, para kreator konten video atau videografer berkesempatan memperoleh lebih banyak demand dari klien mereka. Imbasnya, tentu saja jumlah produksi video akan selaras meningkat.

Bagi kamu yang tertarik menggarap konten video, mengulik berbagai ilmu tentang tahapan produksi video ibarat wajib hukumnya. Dan kali ini, Crafters akan berbagi ilmu tahapan produksi video dari Edward Suhadi, videografer senior yang telah memiliki storytelling agency bernama Ceritera.

Baca Juga: Edward Suhadi: Kreativitas Itu Soal Disiplin dan Kerja Keras

 

Edward Suhadi Berbagi Tips Panduan Produksi Konten Video
(Dok. Unsplash)
Pra-produksi 

Tahapan pertama produksi video dimulai dengan proses pra-produksi. Di tahapan ini, seorang pembuat video harus menentukan masalah yang coba diselesaikan, apa solusinya, dan bagaimana cara terbaik untuk menyampaikan sebuah pesan.

“Misalnya kamu ingin memproduksi film layar lebar,” kata Edward Suhadi. “Selain menyampaikan kegelisahan kamu tentang sebuah masalah – entah itu ekonomi, toleransi, kehidupan keluarga atau sekadar menghadirkan tontonan komedi – kamu harus tahu masalah apa yang ingin diselesaikan.”

Dalam tahapan ini pula mulailah mempersiapkan bujet produksi konten video. Untuk bujet ini, Edward Suhadi menekankan tiga kategori budgeting yang perlu kamu siapkan:

  • ATL (Above-the-line)

Kategori budgeting ini termasuk biaya talent atau aktris dan kru yang terlibat dalam produksi video, seperti penulis, produser, juga sutradara. Semua biaya pra-produksi dan akomodasi pihak yang terlibat termasuk dalam kategori budget ini.

  • Production budget (Below-the-Line)

Yang termasuk dalam kategori budgeting ini adalah perlengkapan syuting dan penunjangnya seperti: lokasi, truk, kamera, grip, listrik, dan segala izin yang berkaitan dengan proses pengambilan gambar.

  • Post-production

Sementara biaya post-production meliputi bujet sarana dan perlengkapan untuk melakukan proses penyuntingan.

“Rencanakan budget kamu dengan sebaik-baiknya agar tujuan atau obyektif pembuatan video tepat sasaran,” kata Edward Suhadi. “Pesan saya, make sure ide yang kamu hadirkan itu berguna untuk orang lain.”

 

Edward Suhadi Berbagi Tips Panduan Produksi Konten Video
(Dok. Giphy)
Produksi 

Setelah ide diterima oleh klien atau produser, tahapan selanjutnya adalah produksi. Dalam tahapan ini, kamu perlu mencacah ide besar yang sebelumnya sudah ditentukan.

Every single thing dalam produksi video ini perlu di-break down. Meski ide pembuatan video kamu masih kasar, kamu sudah bisa mulai menulis frame by frame dan line by line,” kata Edward Suhadi. “Kurang lebih sebesar 50% proses pengerjaan sebuah video telah selesai di tahap ini.”

Berikutnya adalah proses memvisualkan rancangan secara frame by frame dan perekaman gambar. Pada tahapan ini, kamu perlu menentukan lokasi syuting, baju aktris, aksesori, properti, dan berbagai hal hingga detail terkecil. Yang harus diingat, jadikan pilihan lokasi dan berbagai properti tersebut sebagai jawaban dari masalah yang coba dipecahkan di tahapan pra-produksi.

“Pastikan kamu memiliki aktris atau talent yang kemampuannya mumpuni, karena merekam adegan berulang kali akan sangat menghabiskan moral dan waktu,” kata dia.

Baca Juga: Tren Online Video Advertising dan Proses di Baliknya

Editing/Penyuntingan 

Setelah pengambilan gambar selesai dilakukan, masuklah ke fase pengeditan. Edward Suhadi menjelaskan jika dalam fase ini ada dua jenis proses pengeditan: offline dan online.

Dalam pengeditan offline, video mentah akan dipotong dan disusun untuk mendapatkan mood serta atmosfer yang dicari. Di tahapan ini, editor video belum memberikan warna dan supers (tulisan pendukung video), namun baru mencari musik yang tepat dan selaras dengan konten videonya.

Hasil dari pemotongan dan penyusunan adegan ini dinamakan first cut. “Produk jadi dari proses offline editing atau first cut inilah yang pertama kali ditunjukkan ke klien,” kata Edward Suhadi. “Biasanya, kalau klien enggak cocok atau merasa hasilnya jelek, ada kemungkinan konten video akan dirombak besar-besaran.”

Ketika klien menyetujui adegan per adegan dari rekaman first cut, maka video tersebut dinyatakan sudah picture lock alias lulus tahap offline editing. Berikutnya, video masuk ke tahapan pengeditan online. Dalam proses ini, video editor akan memberikan warna, suara, musik pendukung, dan supers. Di sini, video editor juga bisa memperhalus transisi antar adegan dalam video.

Tips Edward Suhadi untuk setiap tahapan produksi video ini adalah be very clear in what you’re trying to make. “Ini penting untuk menentukan banyak hal, mulai dari musiknya seperti apa, cut-nya secepat apa, dan lain sebagainya,” kata dia. “Kalau maksudmu jelas, karyamu pun akan mudah dipahami audiens.”

 

Apa kamu seorang videografer yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?

June 26, 2019
Edward Suhadi: Kreativitas Itu Soal Disiplin dan Kerja Keras
Simak wawancara Crafters bersama Edward Suhadi tentang perjalanan kreatifnya, dan apa yang ia pelajari...
June 28, 2019
Banana Publisher: Serunya Dunia Penerbitan dan Masa Depan Peminat Buku
Crafters bersama Yusi Avianto Pareanom, pendiri Banana Publisher, membahas tren buku, perkembangan penerbitan buku...