Design Thinking: Idealisme Kreator VS Kepentingan Bisnis?

“What I’ve learned is that life is a balance between idealism and realism” (Peter Hook)

Sebagai desainer di zaman yang serba canggih ini, kerap terjadi dilema yang ditemui para pegiat desain yang kira-kira berbunyi: mana yang harus didahulukan? Idealisme atau bisnis? Artinya, kurang lebih, sama dengan pilihan antara mengikuti kebebasan dalam berkarya atau menuruti brief klien yang berbeda dengan selera sang desainer itu sendiri.

Pada 8 Maret 2018, GetCRAFT berkesempatan untuk mengadakan panel diskusi dengan para pelaku desain berpengalaman untuk memberikan insights dan inspirasi bagi para kreator desain yang sedang merintis karier, maupun yang sudah terjun dalam bisnis kreatif. Indonesia Creative MeetUp vol.2 yang bertema “Design Thinking: Idealism or Business” ini diharapkan dapat menjawab pertanyaan tersebut. Untuk itu, kami mengundang dua pembicara yaitu Christian Kustedi, seorang desainer dan salah satu Co-Founder Kamarupa Desain Group dan Fandy Susanto, Founderdan Art Director di Table Six untuk hadir di Rework FX Sudirman.

ID Creative MeetUp GetCCRAFT

Andhini Puteri, Content Manager GetCRAFT Indonesia hadir sebagai moderator untuk membahas hal-hal yang berkaitan dengan bahasan seputar dunia desain bersama kedua pembicara. Sebelumnya, untuk mempermudah dan memperluas jaringan para peserta yang hadir, dijelaskan pula tentang platform GetCRAFT yang dapat membantu para desainer dan kreator lainnya mendapatkan klien yang tepat. Jika Anda belum mendaftarkan diri sebagai kreator di GetCRAFT, Anda bisa langsung melakukannya dengan mengakses tautan ini: getcraft.com/signup

Idealisme atau Bisnis?

Setelah Christian dan Fandy menceritakan tentang karya dan perjalanan studio mereka, pembicaraan mulai masuk lebih dalam ke topik utama. Christian, sebagai Co-Founder Kamarupa Design Group menyatakan bahwa ia menganggap desain sebagai bisnis. “Saya selalu menganggap desain adalah bisnis. Jika kalian sepakat, jangan pernah menganggap itu salah. Tidak ada yang salah di kedua pilihan itu,” lanjutnya. Menurutnya, kemampuannya dalam mendesain adalah hal yang dapat ia jual dan jadikan bisnis. Bersama dengan founder lainnya, Christian mampu menangani puluhan klien dengan permintaan dan brief yang bermacam-macam, serta dapat menjalani seluruh project-nya dengan baik. Dalam beberapa tahun, Kamarupa yang awalnya hanya terdiri dari tiga orang menjadi besar, dengan klien-klien yang besar pula.

Baca juga: 5 Tips Penting Membangun Bisnis sebagai Freelancer

Di sisi lain, Fandy Susanto merasa sangat tergugah dengan pertanyaan tersebut. Ia sangat tertarik membahas topik ini dalam diskusi panel yang diadakan kali ini. “Untuk saya, desain lebih seperti kepercayaan yang saya anut. Yes, design is my religion,” katanya. Selebihnya, Fandy juga mengutarakan bahwa kariernya dalam desain telah menuntunnya ke idealisme yang lebih kuat. “Menurut saya, desain sangat berhubungan dengan kemanusiaan,” lanjutnya. Kebebasan sebagai desainer dan memberi batasan yang jelas terhadap brief klien dapat diterapkan sejak awal Anda memulai bisnis dalam bidang desain.

Kolaborasi

Setelah beberapa penjelasan lebih lanjut dari kedua pembicara, ada banyak pertanyaan yang masuk dari para peserta yang hadir. Pertanyaan menyangkut seputar portofolio, kolaborasi dan bisnis dalam bidang desain.

Baca juga: Cara Membuat Portofolio Desain yang Menarik Minat Klien

“Apa yang biasa Anda lakukan saat tidak mendapatkan ‘credit’ yang sepantasnya saat berkolaborasi bersama teman?” tanya salah satu peserta. Permasalahan macam ini kerap ditemui saat berpartner bersama teman. Christian menjawab dengan tegas, “Pertemanan adalah bonus. Klien seharusnya menjadi klien. Hospitality yang kita berikan kepada mereka harus dibatasi sejak awal. Jangan karena mereka adalah ‘teman’ kita, maka mereka dapat seenaknya menentukan ini-itu. ‘Credit’ yang kita dapat adalah suatu idealisme yang harusnya saklek dan tidak dapat diubah. Maka itu, jika berniat berpartner bisnis bersama teman, sebaiknya tegaskan di awal, dengan kontrak yang jelas bahwa ini adalah profesional, jika ternyata cocok bekerja sama, itu bagus.”

Pertanyaan menarik yang disampaikan oleh peserta lainnya adalah “Apa yang Anda lakukan jika klien memaksa untuk mengeksekusi brief yang menurut Anda kurang bagus?” kedua pembicara sepakat bahwa cara terbaik yang dapat dilakukan adalah dengan tidak meletakkan hasil akhirnya dalam portofolio. Jika sebagai desainer Anda dihadapkan dengan pilihan ini, maka ingatlah: portofolio Anda adalah kuncinya. Yang berhak mengatur portofolio adalah Anda seorang.

Lebih lanjut, tentang idealisme dan bisnis, Christian menambahkan “Anda dapat selalu mengkolaborasikan kedua aspek tersebut. Idealisme dan bisnis dapat berjalan beriringan seiring dengan pengalaman dan jam terbang Anda sebagai desainer,” ungkapnya.