Dear Jane: Takdir Novel Pertama Pratiwi Juliani

Antusiasme para pembaca buku yang selalu meningkat dan menggebu membuat industri penerbitan semakin beragam, diisi dengan individu/kelompok dengan fokus genre/bentuk yang berbeda-beda. Tentu hal ini baik untuk para penulis, karena karya sastra sendiri tidak bisa hanya dikotak-kotakkan menjadi satu, dua atau tiga genre saja. Semakin banyaknya penerbit yang ambil andil dalam industri buku, semakin banyak juga kesempatan para penulis ini untuk menerbitkan karya tulis mereka. Itu semua penting dan menjadi penyokong utama minat baca yang belakangan jadi perhatian para ahli semenjak munculnya internet dan segala kemudahannya. Tapi, apakah kedua hal itu mesti berseberangan?

Mencari potensi para penulis baru, menerbitkan buku, hingga memanfaatkan distribusi internet telah dilakukan dengan baik oleh Comma Books. Penerbitan yang didirikan oleh Rain Chudori dan Aditya Putra di bawah KPG ini menonjolkan penulis-penulis muda kontemporer berbakat lewat tampilan visual yang fresh. Genap 20 buku telah diterbitkan oleh Comma Books selama mereka berdiri. “Dear Jane” karya Pratiwi Juliani, menjadi buku terbaru yang diluncurkan oleh Comma Books lewat sebuah rangkaian acara yang diadakan di Kinosaurus, Kemang 12 Mei 2019 lalu.

 

Dear Jane: Takdir Novel Pertama Pratiwi Juliani
Rain Chudori sebagai Co-Founder Comma Books memimpin acara peluncuran buku Dear Jane

Di hari itu, acara puncak yang ditunggu-tunggu oleh para pendatang adalah penjelasan singkat Pratiwi Juliani soal Dear Janedramatic reading novel Dear Jane oleh Tio Pakusadewo, Alex Abba,d dan Faradina Mufti serta penampilan musik dari Alvin Baskoro. Namun sebelumnya, Pratiwi sebagai penulis yang meluncurkan buku terbaru itu mengadakan workshop kepenulisan yang dihadiri oleh orang-orang yang ingin mempelajari teknik penulisan ala Pratiwi Juliani.

Baca Juga: Rain Chudori: Terjun Langsung Mengembangkan Industri Sastra

Lahirnya Dear Jane

Dalam kata sambutannya, Pratiwi menjelaskan kisi-kisi dari kisah novel hingga perjalanan naskah Dear Jane tersebut. Ia bercerita bahwa novel ini lahir dari sebuah kelas menulis yang ia hadiri. Di dalam kelas menulis tersebut, ia menjadi salah satu dari 20 murid yang pada akhirnya berhasil menyelesaikan tugas menulisnya. “Dari 20 murid itu, hanya 3 yang ikut sampai selesai dan hanya saya yang menyelesaikan tugas dari kelas tersebut,” ujar Pratiwi Juliani.

Naskah Dear Jane ini tidak langsung menemukan takdirnya. Tapi yang jelas, pada akhirnya naskah ini terpilih menjadi salah satu tulisan terpilih dalam program sastra bergengsi Emerging Writers Ubud Writers and Readers Festival 2018 dan kemudian diterbitkan oleh Comma Books.

Sebelumnya, Pratiwi Juliani pernah menerbitkan kumpulan cerpennya yang berjudul Atraksi Lumba-Lumba dan Kisah-Kisah Lainnya yang juga diterbitkan oleh Comma Books.

Bagaimana pada akhirnya naskah Dear Jane bisa menemukan takdirnya? Tidak sengaja, menurut Pratiwi Juliani. Ia sendiri bercerita sembari masih kebingungan karena waktu ia men-submit karya ke Ubud Writers and Readers Festival, ia berniat memberikan karya cerpennya, bukan naskah novel Dear Jane. Namun karena kecerobohan, ia pada akhirnya memberikan naskah Dear Jane dan berhasil memenangkan penghargaan pada kategori Emerging Writers.

Baca Juga: Comma Books: Harapan Membawa Literatur ke Pelosok Indonesia

 

Dear Jane: Takdir Novel Pertama Pratiwi Juliani
Pratiwi Juliani menceritakan kisi-kisi dari novel Dear Jane
Dear Jane: Takdir Novel Pertama Pratiwi Juliani
Dramatic reading dari naskah Dear Jane oleh Tio Pakusadewo yang berperan sebagai Andri

Menurut Pratiwi, novel ini bercerita tentang percintaan, sejarah seni, perjalanan indah, makanan, referensi musik, hingga mesin mobil. Sebagai penulis, Pratiwi menjelaskan bahwa alur cerita di dalam novel itu hanyalah menjadi sebuah alat yang ia tunggangi agar buku tersebut dapat menyampaikan sesuatu yang lebih dalam. Lewat ketiga tokoh utama yaitu Andri, Jane dan Alex, Pratiwi Juliani sebagai penulis menggambarkan tiga karakter dengan keunikan masing-masing yang terikat karena satu kesamaan: orang yang tidak dapat dipercaya.

Setelah kata sambutan dan perkenalan novel Dear Jane yang dijelaskan oleh Pratiwi Juliani, acara selanjutnya adalah dramatic reading dari penggalan novel itu oleh para aktor besar. Tio Pakusadewo membacakan sesuatu yang terdengar sebagai narasi atau solilokui dari karakter Andri. Selanjutnya, Faradina Mufti dan Alex Abbad maju berpasangan melambangkan karakter Jane dan Alexander dalam novel. Setelah penonton dibuat kagum dengan akting para aktor, Alvin Baskoro mendendangkan  lagu-lagu akustiknya yang membuat para hadirin semakin merasa masuk ke dunia Dear Jane hingga larut.

 

Kamu seorang penulis yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?