Dea Anugrah: “Jangan Mati Dulu. Jangan Hari Ini”

Beberapa tahun yang lalu, saya membeli buku Bakat Menggonggong. Semalaman saya habiskan untuk membaca 14 kisah dalam buku kumpulan cerita pendek itu. Perasaan saya janggal, persis seperti habis mendengarkan kisah seorang cerewet yang ngelindur. Biasanya saya langsung sebal bukan kepalang mendapati buku seperti itu dan menolak untuk membacanya lagi, tapi tidak dengan Bakat Menggonggong.

Buku itu masih saya simpan sampai sekarang. Sesekali saya kembali mengunjungi kisah-kisah dalam buku itu. Walau saya masih saja merasakan sesuatu yang janggal, harus diakui kisah-kisahnya memiliki sebuah daya pikat yang selalu mengundang para pembacanya kembali menyusuri setiap lembar halamannya.

Dea Anugrah: “Jangan Mati Dulu. Jangan Hari Ini”
Dea Anugrah (Dok. Nadya Noor)

Penulis buku itu tak lain adalah Dea Anugrah. Sebuah media lokal menyebutnya sebagai “sastrawan lokal masa depan yang mumpuni” dan ungkapan itu rasanya tak berlebihan melihat riwayat kepenulisan Dea. Kumpulan puisinya, Misa Arwah, yang terbit pada tahun 2015, menjadi salah satu kandidat dalam daftar panjang Kusala Sastra Khatulistiwa 2016. Bakat Menggonggong sendiri berhasil menembus daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 dan termasuk ke dalam buku Indonesia terbaik versi majalah Rolling Stone.

Baru-baru ini, Dea kembali menerbitkan sebuah buku berbentuk bunga rampai nonfiksi berjudul Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya. Saya lantas segera membeli bukunya dan membaca dalam hitungan semalam. Selesai membaca buku itu, saya terkesan. Beberapa pertanyaan muncul begitu saja dalam kepala saya soal Dea dan kepenulisannya. Lewat seorang teman, saya akhirnya berhasil mewawancari Dea Anugrah. Berikut hasil wawancara Crafters.

Bagaimana sih cerita awalnya kamu tertarik menulis?

Suatu hari, waktu kelas 2 SMA, aku enggak sengaja ketemu guruku di warnet. Dia bilang mau kirim tulisan, tapi email-nya bermasalah. Aku dan teman-teman membantunya. Selang beberapa minggu, dia mentraktir kami di kantin sekolah. Katanya, honor tulisannya cair.  Kejadian itu membuatku berpikir, oh, ternyata menulis itu urusan biasa saja dan penulis bukan makhluk asing yang tak tergapai. Aku jadi berani mencoba. Tapi tentu sebelumnya aku sudah punya minat terhadap buku-buku.

Salah satunya, yang sering kubicarakan, adalah The Old Man and The Sea. Aku membacanya pertama kali waktu SMP. Buku itu menyentuhku dengan cara yang asing, yang tak sepenuhnya kupahami, tapi meninggalkan kesan mendalam. Kenapa Santiago bersikeras melawan, bertahan, meski tahu pada akhirnya akan kalah? Kenapa kesetiaan Manolin, yang begitu teguh dan rasa-rasanya agak tolol, membuat dadaku berdesir?

Baca Juga: Sabda Armandio: Pentingnya Cara Penyampaian dalam Karya

“They beat me, Manolin. They truly beat me,” kata Santiago. Saat membaca lagi percakapan itu dua atau tiga tahun lalu, aku menangis karena tiba-tiba ingat bagaimana wali kelasku di SD, juga ayahku, menyalahkan aku yang protes karena dicontek teman pas ulangan. Rasanya patah hati betul.

Pengalaman membaca yang seperti itu membuatku merasa berutang. Kuharap suatu hari nanti, aku bisa membayarnya dengan menyentuh orang lain lewat buku-bukuku. Tidak usah banyak-banyak. Satu pembaca saja cukup, tapi yang bisa menulis lebih baik dariku.

Proses kepenulisan seperti apa yang telah kamu lalui?

Aku beruntung karena bisa kuliah di Jogja. Artinya, aku punya akses yang luas kepada buku-buku bagus dan bisa bertemu kawan-kawan dengan semangat yang sama. Seandainya terus bercokol di Bangka, jadinya pasti nggak begini. Hahaha. Belum tentu lebih buruk, sih, cuma tidak sama.

Ada banyak sekali penulis yang mempengaruhiku, baik yang hanya bisa kubaca buku-bukunya maupun yang bergaul denganku. Soal yang terakhir ini: kami berbagi bacaan, keterampilan, trik… apa saja. Teman baikku Rozi Kembara, misalnya, sering memotong satu-satunya rokok yang dia punya buat diberikan kepadaku. Itu, kan, ekstrem buat orang-orang yang jarang punya duit. Saling pinjam buku dan mengomentari tulisan tentu jauh lebih gampang.

Lihat penulis yang tergabung dalam jejaring GetCraft!

Kami bikin grup-grup diskusi, menerbitkan zine, menulis di media-media—terutama koran-koran gurem yang tintanya nempel di jari kalau dibaca dan rubrik sastranya diapit iklan-iklan black mamba, membacakan puisi dan ditepuktangani teman-teman sendiri, dan seterusnya.

Keriaan komunal itu tentu ada ujungnya. Mentor dan protege bisa bermusuhan karena perkara goblok, kawan seatap-sepiring-segelas bisa tiba-tiba jadi penjahat. Beberapa bertahan, karena yang terbaik memang selalu bertahan, seperti buku-buku bagus, seperti perasaan berutang karena telah membacanya.

 

Dea Anugrah: “Jangan Mati Dulu. Jangan Hari Ini”
Buku terbaru Dea Anugrah (Dok. Mojok)
Menurut kamu, apa sih jebakan–jebakan teknis bagi para penulis pemula?

Aku nggak percaya dengan kategorisasi senior-pemula. Cuma ada dua kelas: penulis bagus dan penulis buruk. Macam-macamlah persoalan penulis buruk, mulai dari inefisiensi (“kopi pahit tanpa gula,” misalnya. Ya kalau pakai gula namanya kopi manis, dong!), ungkapan-ungkapan basi, dialog yang nggak menambahkan apa-apa, obsesi mengindah-indahkan (seringnya berarti mendayu-dayukan) kalimat, ritme yang berantakan, dan seterusnya.

Selain puisi, kumpulan cerpen, dan bunga rampai nonfiksi, pernah berkeinginan untuk menulis dalam bentuk lain? Novel, naskah film atau naskah teater, mungkin?

Aku sedang mengerjakan novel dan berencana bikin buku-buku cerita anak bergambar. Aku juga pengin belajar menulis skenario film. Pengin saja, karena aku suka membaca bermacam-macam buku dan menonton film. Naskah drama mungkin nggak, karena nggak begitu senang membacanya, juga enggak doyan nonton teater.

Pernah berpikir buat menulis di bawah pseudonim? Mengapa?

Enggak. Aku suka namaku. Dulu, karena malu, aku protes ke ayahku kenapa namaku kayak nama perempuan. Jawabannya lumayan, ternyata. Hahaha. Dia bilang, salah satunya, “supaya kamu menghormati perempuan seperti kamu menghormati dirimu sendiri.”

Baca Juga: Bernard Batubara: Industri Buku, Media Sosial dan Konsistensi

Soal buku terbarumu, “Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya”, mengapa kamu memutuskan untuk menulis buku berbentuk bunga rampai nonfiksi? Berapa lamakah proses pembuatannya?

Sejak awal aku memang belajar mengerjakan berbagai jenis tulisan, tapi karena Bakat Menggonggong banyak dibicarakan, sebagian pembaca mengira aku cuma menulis cerpen. Padahal, tahun 2013 aku diundang ke Ubud Writers and Readers Festival justru sebagai esais.

Kemudian, pada 2016, aku mulai bekerja sebagai staff writer di Tirto.id, dengan tanggung jawab menulis laporan jurnalistik dan esai secara rutin. Dalam dua tahun bekerja di redaksi, terkumpullah hampir 200 tulisan. Dari 200 itu, kupilih 20 tulisan buat dibukukan.

Ada satu tulisan dalam bukumu membahas perang kritik antar para penulis di luar dan dalam negeri. Sebagai penulis, pernahkah kamu berada dalam kondisi tersebut? Apa kritik yang paling membuatmu bertumbuh sebagai penulis?

Sering. Aku senang berantam dan mengejek orang, soalnya.

Banyak, sih, omongan teman-teman atau pembaca yang kupertimbangkan. Salah satu yang paling kuingat adalah pesan AS Laksana bahwa cerita semestinya tak mengancam, juga tak meremehkan pembaca. Pengarang harus mulai dengan pikiran bahwa pembaca sama pintar dengan dia.

Adakah perbedaan proses dari menulis fiksi dan nonfiksi buat kamu?

Sama saja. Sama-sama kukerjakan sambil tengkurap.

 

Dea Anugrah: “Jangan Mati Dulu. Jangan Hari Ini”
Buku kumpulan cerita pendek Dea Anugrah (Dok. Mojok)
Untuk selanjutnya, apakah kamu berkeinginan untuk membuat karya fiksi lagi atau akan terus memproduksi karya nonfiksi? Boleh dijelaskan alasannya?

Semoga novel pertamaku bisa terbit tahun ini. Juga satu kumpulan puisi baru. Tahun depan aku belum tahu. Aku bahkan nggak yakin akan menulis selamanya. Kalau suatu hari aku tidak ingin menyampaikan apa-apa lagi, ya sudah, berhenti saja.

Tantangan apa yang kamu hadapi saat proses kepenulisan karya terbarumu?

Terlalu banyak urusan yang lebih asyik daripada kerja kerja kerja.

Karya-karya terbarumu banyak melibatkan kolaborasi. Kalau bisa berkolaborasi dan menghasilkan karya lagi, apa yang akan kamu buat dan dengan siapa kamu akan berkolaborasi?

Seperti komik pendek pada Vice Comic Week kemarin, buku cerita anak yang kurencanakan adalah karya kolaborasi dengan Nadya Noor. Selain mengagumi karya-karyanya, aku senang bekerja sama dengan dia karena etosnya bagus. Dia getol menantang diri, mencari cara-cara terbaik untuk menampilkan gagasannya.

Apa pun bentuk karyanya, aku hanya mau berkolaborasi dengan orang-orang seperti itu—yang terbaik.

Lewat karya terbarumu ini, gagasan atau harapan apa yang ingin kamu sampaikan kepada para pembacamu?

Jangan mati dulu. Jangan hari ini.

 

Kamu seorang penulis yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?

Foto feature oleh Nadya Noor