David Tarigan: Merawat Irama Nusantara

Musik dan David Tarigan ibarat dua entitas yang tidak bisa dipisahkan. Tumbuh dalam lingkungan yang mengapresiasi seni dan musik, lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain di Institut Teknologi Bandung ini menganggap musik sebagai kebutuhan hidup yang harus dipenuhinya setiap hari.

Dari rasa cintanya terhadap musik itulah ia bersama rekan-rekannya yang lain; Christoforus Priyonugroho, Toma Avianda, Alvin Yunata, Norman Illyas, dan Dian Wulandari, mendirikan Irama Nusantara pada 2013. Irama Nusantara adalah usaha David dan rekan-rekannya untuk mengarsipkan musik rilisan perusahaan rekaman Indonesia di era 1950 sampai 1960-an, ke dalam format digital.

david tarigan irama nusantara 1
David Tarigan duduk di posisi paling kiri. (Sumber foto: freemagz.com)

Hingga kini, Irama Nusantara telah mengumpulkan setidaknya 1200 rilisan yang dapat diputar secara streaming, lengkap dengan sampul album dan informasi dari album. Simak percakapan The Crafters dengan David Tarigan tentang Irama Nusantara, musik, dan proses kreatif dalam pekerjaannya.

Apa rencana Anda ke depan, untuk Irama Nusantara?

Kami menganggap Irama Nusantara sebagai back bone dari banyak hal. Untuk saat ini memang kami masih berusaha menjadikan hal ini (pengumpulan dan penyimpanan data) sebagai kebiasaan. Sebab di negara yang belum melakukan hal ini sebagai kebiasaan, hal ini masih jadi tantangan.

Dari back bone ini kami berencana membuat berbagai macam proyek dan kajian, atau bahkan pencapaian-pencapaian lain. Misalnya membuat aplikasi, buku, bahkan sentra fisik yang memudahkan kalangan umum untuk mengakses data yang kita miliki.

Yang terbayang di benak saya, mungkin nantinya kita bisa bikin semacam booth multimedia yang bentuknya seperti ATM yang ditempatkan di pusat-pusat budaya, kampus, atau perpustakaan.

tampilan situs irama nusantara
Tampilan situs iramanusantara.org garapan David Tarigan.
Tantangan yang dirasakan saat membuat Irama Nusantara?

Datanya itu sendiri sih. Sebagai contoh, di Indonesia dan mungkin di dunia, rekaman yang dirilis sampai era 1960-an itu wujudnya piringan hitam, yang dibuat dari bahan shellac—bukan vinylberukuran 10 inci. Bahan ini terbuat dari air liur serangga dan gampang pecah. Kualitas audio juga jauh di bawah piringan hitam dari bahan vinyl.

Materi fisik hasil rekaman di Indonesia pun berwujud begitu, dan benda tersebut punya kesempatan kecil untuk bertahan di negeri seperti Indonesia. Negeri ini enggak punya tradisi pengarsipan, dan iklimnya kurang bersahabat untuk menyimpan benda-benda itu secara kasual. Belum lagi, piringan hitam itu masih dianggap benda mewah.

Anda sudah lama terlibat dalam industri musik. Arti musik itu sendiri bagi Anda?

Gila! Saking berartinya, barangkali saya sampai sudah enggak bisa berkata-kata lagi. Klise sih jawabannya. Tapi artinya buat saya sudah kayak napas kali ya. Setiap saat, saya enggak bisa lepas dari memainkan, membuat, dan mendengarkan musik. Singkatnya sudah jadi kebutuhan.

Musik buat saya menjadi medium bagi banyak hal. Dia bisa jadi tong sampah, juga jadi medium berekspresi. Bagi saya juga, ini channel yang amat sangat fleksibel dan kasual, sehingga enggak butuh apa-apa untuk menikmatinya.

Beda misalnya, saya kan dari seni murni ya, untuk menggambar saja kita butuh alat. Kalau musik enggak, kita tinggal nyanyi aja, bikin beat sendiri. Dengan tepukan tangan pun bisa.

 Menurut Anda, apa yang penting diingat saat seseorang berkarya?

Satu hal yang pasti, dalam bidang kreatif, prosesnya harus fun. Memelihara hal itu penting, karena misalnya di musik, bisa menjaga kualitas karya yang dihasilkan.

Kalau sudah enggak fun, hasilnya pun jadi kurang seru; ya mending dibubarin aja kalau udah enggak asyik lagi. Karena karya elu juga udah pasti enggak akan bagus.

Bagaimana mengelolanya?

Manajemen kreatif itu penting untuk kondisi ideal, yang mana seharusnya seniman itu berkarya aja terus. Ibaratnya mereka enggak harus mikirin apa-apa. Manajemen lah yang harus berusaha mengakomodasi hal-hal lainnya. Memang sulit, tapi hasilnya akan terlihat.

Seniman itu fokus saja berkarya terus. Mereka enggak harus mikirin apa-apa. Manajemen lah yang harus berusaha mengakomodasi hal-hal lainnya.
david tarigan 2
Menurut Anda, bagaimana dampak musik terhadap kreativitas?

Ada biblitical quote yang berbunyi, “Iman itu timbul dari pendengaran.” Pendengaran itu paling powerful. Pelaku bom bunuh diri misalnya, mereka ngelakuin apa yang mereka percaya karena bisikan yang mereka dengar; itu gue yakin banget.

Oleh sebab itu, iya musik membantu seseorang untuk berekspresi, tapi di sisi lain juga, musik punya efek yang lebih dalam lagi. Karena, apa yang kita dengar bisa mempengaruhi kepercayaan kita; menggerakkan kita.

Apa pendapat Anda soal kreativitas di dunia digital?

Kebetulan saya adalah generasi yang mengalami keduanya (analog dan digital). Begitu pun dalam hal grafis. Gue dulu sekolah seni grafis, belajar membuat etsa, sablon, litografi, tapi di saat bersamaan menggunakan komputer untuk proses desain.

Menurut saya, bagus-bagus aja. Teknologi digital membantu memudahkan hal teknis, sekaligus memudahkan mencari referensi. Semua sudah dimudahkan, jadi zaman sekarang ini ibaratnya kalau bikin karya jelek, itu gila banget! Mendingan enggak usah bikin apa-apa.

Dulu zaman kaset masih pakai pita, selain mahal, kita enggak bisa langsung dengar hasilnya. Sekarang kita bisa ngulik efek suara seperti The Beatles atau studio Abbey Road, semua sudah ada plugin-nya. Setidaknya kita bisa mendesain dari kamar, walaupun tidak membuat barang jadi. Intinya buat proses kreasi ini gila banget! Jadi kalau buat jelek, ya gila banget. Ngapain juga?

Referensi banyak tersedia, lalu bagaimana dengan orisinalitas?

Pertanyaan ini bisa menjebak sih. Orisinalitas apa? Kita tinggal di Indonesia, di mana tersedia banyak ruang untuk segala sesuatu menjadi terkesan baru. Walaupun kalau dilihat secara umum, sebenarnya enggak ada yang benar-benar baru. Karena semua tinggal soal pilihan dan kemampuan memadupadankan referensi.

Kayak kita berpakaian aja; kita bisa pakai benda-benda yang lazim dipakai orang, tapi ketika dipadukan dengan sesuatu yang enggak biasa, maka menjadi sesuatu yang unik, gaya kita sendiri. Semua juga begitu. Tinggal lu pilih aja, lagi mau seperti apa.

Begitu pun dalam rekaman musik. Proses jadi lebih mudah berkat teknologi digital, apalagi di negara seperti Indonesia, software bajakan masih banyak, sehingga elu mau bikin suara seperti apapun ya bisa banget.

Apakah menurut Anda pemerintah sekarang sudah lebih mendukung industri kreatif?

Menurut saya, sekarang pemerintah lebih akomodatif. Setidaknya mereka berusaha untuk lebih mengerti. Karena untuk mengerti saja itu butuh effort.

Seperti sekarang ini, kami bekerja sama dengan Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif). Kami pun menyambut ajakan ini dengan perasaan lega, karena sejak awal dulu membangun Irama Nusantara, kami sadar bahwa pada akhirnya ini pekerjaan negara. Akhirnya di-support juga.

Tahun lalu, akhirnya Bekraf support kita dan salah satu yang kita minta ke mereka adalah akses ke arsip RRI, radio paling tua dan milik negara.

 

Sumber foto utama: magdalene.co