Conception Works, Kuda Hitam di Tengah Persaingan

conception works 4

“Ada seorang pengusaha kaya baru usai bermain golf, ia menuju locker room. Ketika hendak mencuci muka, pengusaha kaget dan berteriak histeris karena wajahnya berubah seperti karakter Two Face di film Batman, setengah mukanya tampan, setengahnya lagi mirip Gayus Tambunan. Sampai akhirnya ada seorang pengusaha lain memberikan kotak tisu seperti kotak alat kontrasepsi yang bertuliskan TAX AMNESTY.”

Bagaimana menurut Anda jalan cerita di atas? Absurd? Atau sukses menyampaikan pesan lewat analogi? Semua tergantung interpretasi Anda. Yang jelas, sekilas cerita di atas merupakan ide kreatif yang tercetus dari Hardian Trisaputra, Executive Producer dari rumah produksi Conception Works ketika ditantang untuk membuat sebuah storyline yang ringan dan bisa diterima anak muda, untuk sebuah topik yang cukup berat.

Untuk sebuah production house (PH) yang baru berusia enam tahun, Conception Works bisa dibilang bagaikan kuda hitam di antara ketatnya persaingan “para pemain lama” di industri ini; berbagai brand besar seperti Samsung, Listerine, Garnier, hingga Adira Finance memenuhi portofolio PH yang bergerak di area TVC, video klip, motion graphic, iklan TV, digital, online post, hingga penyewaan alat ini.

Sesuai namanya, ‘conception‘ atau dalam bahasa Indonesia berarti konsepsi yang artinya rancangan, Conception Works selalu mengawali proses kerja dengan desain produksi matang, agar cukup solid untuk jadi pondasi karya yang baik. Untuk mengenal mereka lebih dalam, simak rangkuman perbincangan The Crafters dengan mereka, berikut ini:

Conception Works ingin dikenal sebagai rumah produksi yang seperti apa?

Kami sadar kalau PH yang lebih besar dan lebih dulu ada ketimbang kita itu banyak. Tapi di sisi lain, kami percaya bahwa perusahaan yang masih berkembang ataupun sudah besar, user pasti akan melihat kualitas tinggi yang masih cocok dengan budget produksi mereka. Begitulah cara Conception Works memperkenalkan diri, membangun jaringan, serta kepercayaan dari klien.

Apakah soal video berkualitas yang ramah budget ini tidak banyak dimiliki PH lainnya?

Rasanya iya, karena (mungkin) kami punya peralatan produksi sendiri, sehingga bisa menekan biaya karena tidak perlu menyewa kamera, lighting, sound, dan lain-lain.

Selain itu, menurut kalian, apa lagi yang diperlukan untuk bisa bertahan di industri ini?

Kalau untuk sekadar bertahan, di Jakarta aja cukup banyak kok warung rokok yang bersebelahan dengan jarak tak seberapa jauh, and they still survive!

Tapi, berada di dunia bisnis service juga artinya harus cepat keep up dan improving; seperti misalnya saat ini, ke dunia digital yang cepat sekali pergerakan trennya tiap tahun. Selain itu juga, skill sumber daya manusia mesti ditingkatkan secara bersamaan.

Kalau masalah teknis dan peralatan produksi standar, semua PH mungkin bisa saja punya, tapi full service pada user dari tiap PH pasti berbeda-beda. Maka itu kami menawarkan opsi full service; mulai dari konsep kreatif, penulisan naskah, shooting, sampai post production. Elemen-elemen itu yang kami usahakan terkelola dengan baik untuk menjaga kepercayaan klien.

OK, menurut kalian apa yang bisa jadi ukuran kesuksesan sebuah karya video?

Salah satu ukuran yang jelas menurut kami adalah kalau klien atau agency yang menggunakan jasa kami puas dengan hasilnya. Hal itu jadi ukuran penting buat kami, karena mempengaruhi kepercayaan untuk kerja sama jangka panjang.

Bagaimana kalian memandang dan menyampaikan estetika dalam karya video, terlepas dari kepuasan user?

Bagi kami, estetika itu ‘piece of art‘ dan bisa jadi sangat subjektif; dan sangat bergantung pada siapa yang menikmatinya. Apabila PH (dalam hal ini, sutradara), agency, dan klien satu frekuensi terhadap konsep kreatifnya, that’s when the ‘conception’ works happened.

Kami punya peralatan produksi sendiri, sehingga bisa menekan biaya karena tidak perlu menyewa kamera, lighting, sound, dan lain-lain.
conception works 3
Sejauh ini, video macam apa yang kalian anggap paling sulit digarap?

Video dengan budget Kijang, tapi mengharapkan hasilnya Mercy S Class, hehehe.

Jika berandai-andai, iklan apa yang ingin kalian remake?

Difficult question! Ok, yang ingin kira remake itu iklan Dji Sam Soe mahakarya 2016. Sutradaranya pakai Mark Toia, yang adalah salah satu sutradara paling dicari di industri periklanan dunia.