Crafters

Portal konten yang fokus mengangkat beragam hal seputar industri kreatif. Mulai dari wawancara, laporan khusus, sampai tips dari para kreator yang berkarya di bidang seni, kebudayaan, bisnis kreatif, dan teknologi.

Melalui Crafters, kami ingin memberikan kontribusi untuk perkembangan industri kreatif di Asia Tenggara.

Dikelola oleh

Sign up to receive bi-weekly creative inspiration, delivered directly to your inbox!

Comma Books: Harapan Membawa Literatur ke Pelosok Indonesia

Buku selalu memiliki satu kekuatan magis yang bisa memberikan satu petualangan yang menyenangkan. Tak salah memang jika Efek Rumah Kaca pernah membuat sebuah lirik yang menyebutkan, “Kata demi kata mengantarkan fantasi. Bait demi bait pemicu anestesi.”

Bagaimana tidak, melalui sebuah buku, kita bisa menjadi seorang penyihir yang bersekolah di Hogwarts. Atau bisa juga memahami berbagai teori yang mungkin belum pernah kita ketahui sebelumnya. Dan ini juga yang menyebabkan buku sering dibilang sebagai jendela dunia.

Namun “keajaiban” yang dihadirkan oleh sebuah buku tentu akan menjadi redam kalau tidak ada sebuah penerbit yang bisa menyalurkannya. Karena akan menjadi percuma kemampuannya kalau tidak ada yang mengetahui dan membaca buku tersebut. Jadinya, “jendela itu tidak pernah memperlihatkan dunia, dan cahayanya hanya akan menerangi sudut rak pengarangnya saja.”

Banyak peran penting yang dipegang oleh sebuah publisher. Bukan hanya dari segi penerbitannya saja, lebih dari itu, sebuah publisher bisa membuat banyak penulis memiliki media untuk ikut mencipta sejarah, atau membuat dunia lebih berwarna melalui cerita dan pengetahuan yang berharga.

Dan salah satu penerbit Indonesia yang kini ikut memegang peran penting tersebut adalah Comma Books. Sebuah penerbit muda yang mempunyai semangat untuk terus menggali talenta muda untuk membuat tulisan bermakna yang dapat melewati setiap batasan dan menyalurkan karya yang melawan zaman menuju keabadian.

Dan Crafters sempat berbincang dengan Rain Chudori dan Aditya Putra atau yang akrab disapa Ditchy, para founder dari Comma Books mengenai peran dan harapannya terhadap dunia sastra Indonesia.

Baca Juga: Rain Chudori: Terjun Langsung Mengembangkan Industri Sastra

Comma Books: Harapan Membawa Literatur ke Pelosok Indonesia
Salah satu buku-buku keluaran Comma Books (Dok. Instagram @thecommabooks)
Seperti apa konsep dari Comma Books sendiri?

Ditchy (D): Kalau dari konsepnya, kami melihat literatur-literatur di beberapa daerah sedang booming, enggak hanya di Indonesia, dan kami merasa ada beberapa area yang belum disentuh sama anak-anak muda yang suka sama literatur yang lebih intim tapi enggak terlalu banyak ada di penulis-penulis lokal. Jadi mereka mencari tipe tulisan kayak gitu ke penulis luar.

Dari sisi sana, Rain mulai dari bagian mengkurasi tipe-tipe tulisan yang cocok seperti itu dan aku coba nge-package itu di visual yang sebaik mungkin.

Apa ciri khas dari karya Comma Books?

D: Buku-buku kita itu intimate. Kalau ciri khas visual, yang memang ingin kita munculkan adalah identitas kekeluargaan. Jadi semua koleksi buku kita itu kelihatan kalau mereka belong together, mulai dari ukuran dan visual warna.

Seberapa penting peran visual di dalam sebuah karya?

Rain (R): Super super penting banget.

D: First impression is very important. Tugas paling pentingku mungkin adalah bikin calon pembeli itu ngambi buku dari rak. Dan menurut aku, sebelum orang itu mengangkat bukunya dan melihat bagian belakang untuk baca rangkumannya, perkenalannya itu dari cover paling depan buku. Makanya menurut aku, sepenting itu untuk bikin perkenalan yang baik

Mayoritas cover buku dari Comma Books itu terlihat sederhana, apa alasannya?

D: Menurut aku personally, sama seperti buku yang kita keluarkan yaitu bersifat intimate, kita ingin juga ngasih visual yang intimate. Jadi daripada terlalu banyak visual, warna dan desain yang enggak penting, i just want to strip it down to it’s core.

Bagaimana cara mencari talenta-talenta muda di luar sana?

R: Saya bikin dua, open submission itu semua orang boleh mengirim, dan saya akan baca, itu banyak banget, jadi agak lama bacanya. Kalau close submission itu biasanya untuk penulis yang sudah membuat beberapa tulisan atau buku.

Lalu saya kurasi, saya pilih per season (6 bulan) itu mungkin 8 sampai 12 buku. Nah dari situ saya sama Ditchy membicarakan nanti buku ini konsep desainnya bagaimana, misalnya buku “Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya”, ceritanya dongeng, kesannya intim dan klasik tapi juga hangat. Nanti dari situ diintepretasi oleh Ditchy.

Seperti apa kriteria karya yang akan diterbitkan oleh Comma Books?

R: Kami tuh ingin menerbitkan buku macam-macam, namun untuk saat ini kami familiarnya dengan cerpen, puisi dan essay, kami baru menerbitkannya yang seperti itu. Tapi kami ingin juga bikin buku memasak, buku anak-anak dan itu ke depannya akan kita coba. Tapi yang penting, buku ini menjadi teman. Makanya kita juga bikinnya kecil.

D: Kita juga ada traveling books judulnya Kelana. Dan dilihat dari buku-buku yang kita keluarkan per season, biasanya ada satu benang merah, misalnya di season ini kita ada dua tema, yang pertama Poetry Series, ada 4 penulis puisi yang dikeluarin bersamaan dan identitas bukunya mirip.

Satu lagi imaging writers, penulis-penulis yang memang pilihan dari Ubud Writer Fest kemarin. Dari sana kita bisa ngerasain ada benang merah, kalau sesama literatur yang kita keluarkan itu berteman, karena mereka akan menjadi teman pembaca kita.

Lihat penulis inspiratif yang bergabung di GetCraft

Sejauh mana peran penerbit dalam mendukung perkembangan industri kreatif khususnya dunia sastra Indonesia saat ini?

R: It’s the core sih. I would say it the core of the industry.

D: Mungkin eksistensi Comma Books juga salah satu bukti kalau mereka peduli sama ada satu segmen yang belum tersentuh sama sekali sebelum ini. Dan dengan penerbit KPG mempercayakan tim kami yang sebenarnya masih umur 20-an, untuk punya small publishing house sendiri, itu sudah ngasih lihat, kalau there’s starting to move to right directions.

Comma Books: Harapan Membawa Literatur ke Pelosok Indonesia
Rain Chudori (Dok. Instagram @rainchudori)
Comma Books: Harapan Membawa Literatur ke Pelosok Indonesia
Aditya Putra atau Ditchy (Dok. Instagram @theditchy)
Seberapa besar antusiasme anak muda dalam membuat buku?

R: Dari dulu sastra adalah medium yang sering dipakai oleh orang Indonesia, itu salah satu akar seni kita sebagai orang Indonesia. Mungkin sekarang, konteksnya sudah berubah tapi it is a way for us to explore. Memang industri kita, it’s not as develop as the industry di luar, tapi aku melihat bahwa sekarang banyak perkembangan, dari sisi ekonomi, sosial dan budaya, sebetulnya banyak banget yang nanya, gimana sih caranya nulis, gimana sih cara jadi penulis dan sebagainya.

Dan yang aku lihat penulis yang paling sukses adalah penulis yang disiplin dan rendah hati.

Kalau menurut kalian, bagaimana cara meningkatkan minat baca anak muda di Indonesia saat ini?

R: Itu harus mulai dari edukasi sih, karena literasi level kita masih sangat rendah, dan kita harus lebih ngasih edukasi yang lebih meluas apalagi di area daerah-daerah. Kita harus lebih ngirim, ngasih akses dan kalau bisa gratis, buku-buku edukasi, buku yang menarik dan imajinatif.

D: Sebenarnya akses-akses ke informasi itu sebuah privilege yang banyak orang dapatkan. Makanya di season ini, juga ada beberapa penulis dari daerah, ada yang dari Bangka, Padang, dan Cilacap. Itu salah satu cara kita untuk membantu, kalau kita menerbitkan penulis dari daerah, kemungkinan orang-orang yang akan membaca karya mereka pasti lebih tinggi. Dan itu cara kita untuk ngasih diversity dari buku-buku yang dihasilkan.

Apa harapan dan tujuan dalam membangun Comma Books ini?

R: Kami ingin membantu mengembangkan dunia sastra. Kami ingin mencipta buku in general yang bisa accessible untuk semua orang, makanya kami juga tidak ingin terlalu Jakarta-sentris atau Jawa-sentris, itu sangat penting bagi buku kami sampai ke pelosok-pelosok mana pun. Dan kami ingin ada hubungan antara penulis, pembaca dan orang-orang lain di industri sastra. Karena ini adalah satu ekosistem.

D: Mungkin tambahannya kami enggak ingin ada literatur yang baik jadi rusak karena visual yang kurang (bagus).

Rencana Comma Books ke depannya dan apa yang dipersiapkan?

R: Banyak banget, kita sudah mau season 3, Januari (2019), sudah banyak buku yang dipersiapkan. Jadi sekarang saya masih bagian seleksi, nanti mau dikirim ke editor untuk diedit.

D: Salah satu yang mau kita highlight mungkin diversity, mulai dari penulis-penulis perempuan dan penulis daerah, kalau dari segi ilustrasi, di season 3 kita mulai banyak kolaborasi sama ilustrator-ilustrator yang masih mahasiswa.

Baca Juga: “A Little Pause,”Selebrasi Penulis dari Comma Books

 

Comma Books: Harapan Membawa Literatur ke Pelosok Indonesia
Comma Books: Harapan Membawa Literatur ke Pelosok Indonesia (Dok. Instagram @thecommabooks)
December 10, 2018
“A Little Pause,” Selebrasi Penulis dari Comma Books
Comma Books baru saja merayakan ulang tahun pertamanya dengan acara berjudul "A Little Pause,"...
December 12, 2018
Juxtaposisi, Narasi dan Realita versi Agan Harahap
Agan Harahap adalah seniman besar yang terkenal dengan karya digital imaging atau manipulasi fotonya....