Catatan Penting Menyambut Ekonomi Kreatif Indonesia 2019

Ekonomi kreatif di Indonesia semakin tertata saat BEKRAF resmi dibentuk di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo pada 2015. Dalam rangka memajukan dan mengembangkan Ekonomi Kreatif (Ekraf) di Indonesia, Pak Presiden memberikan mandat langsung ke BEKRAF untuk melakukan penetrasi ke berbagai daerah di Indonesia demi menciptakan ekosistem Ekraf yang efisien dan kondusif merata.

Pelaku di industri kreatif saat ini terus berkembang. Mungkin, karena semakin banyak anak muda yang memiliki inisiatif tinggi untuk mengambil langkah konkret selanjutnya dengan karya kreatif mereka. Dalam buku Opus Ekonomi Kreatif Outlook 2019 yang dikeluarkan oleh BEKRAF, penjabaran sederhana dari Bapak Ekonomi Kreatif, John Howkins adalah: “Ekonomi Kreatif berhubungan dengan ide dan uang. Ini adalah jenis ekonomi pertama di mana imajinasi dan kreativitas menentukan apa yang orang-orang ingin lakukan dan hasilkan”.

Ada tiga elemen penting dari terbentuknya sebuah Ekonomi Kreatif. Yang pertama yaitu faktor produksi utama dari kegiatan Ekraf sendiri adalah Sumber Daya Manusia (SDM) nya. Lebih lanjut, sumber daya utamanya adalah kreativitas si pelakunya. Yang terakhir dan tidak kalah penting jika bicara soal Ekraf adalah nilai tambah dari segi nilai dan ekonomi. Jadi, kegiatan kreatif yang diadakan secara cuma-cuma belum termasuk sebagai Ekraf.

Setiap tahunnya, kontribusi Ekraf terhadap perekonomian nasional terus meningkat. Selain jumlah angka, peningkatan pada aspek tenaga kerja di bidang Ekraf juga meningkat beriringan. Di tahun 2017, tercatat 17,43 juta individu menggeluti karier Ekonomi Kreatif di Indonesia. Angka ini meningkat sebesar 4,13% dari tahun sebelumnya.

Pada tahun 2019 mendatang, BEKRAF memiliki target dan berbagai tantangan yang harus mereka emban. Seperti pemerataan jumlah usaha di keseluruhan Sub-sektor, kemudahan akses pembiayaan, penetrasi pasar untuk ekspor hingga penegakan hukum terkait pembajakan. BEKRAF juga meyakini, bahwa di tahun 2019 mendatang, jumlah tenaga kerja di sektor Ekraf akan mencapai 19 juta jiwa.

Dari banyaknya ketertarikan kreatif yang ada, BEKRAF membaginya menjadi 16 Sub-sektor. Dari keseluruhan Sub-sektor yang ada, Crafters akan membedah empat yaitu desain, fotografi, film/video dan penerbitan berdasarkan buku Opus kedua rilisan BEKRAF. Bahasan dari empat Sub-sektor ini akan berisi seputar data dan langkah-langkah yang akan diambil BEKRAF untuk mendampingi pelakunya, masih dalam rangka meningkatkan angka dari Ekonomi Kreatif Indonesia (sumber data: Opus Ekonomi Kreatif Outlook 2019).

 

Catatan Penting Menyambut Ekonomi Kreatif Indonesia 2019
(Dok. Giphy)
Desain

Bicara soal desain, berarti kita bicara tentang bidang-bidang desain visual yang jadi ketertarikan banyak kreator di Indonesia. Terbukti, dalam Opus Ekonomi Kreatif Outlook 2019, dijabarkan bahwa ranah desain seperti Desain Komunikasi Visual (DKV) dan desain produk memiliki nilai PBD (Produk Domestik Bruto) yang amat menonjol.

Tertulis bahwa DKV sendiri memiliki potensi besar karena semakin berkembangnya teknologi dalam mempermudah penciptaan kreativitas dan terus bertambahnya kebutuhan manusia akan visualisasi produk dalam kehidupan sehari-hari.

Dari data BEKRAF yang dikumpulkan selama periode 2011-2016, kontribusi PBD Laju pertumbuhan Sub-sektor DKV tercatat yang tertinggi keempat di dalam Ekraf. Para desainer ini kebanyakan tergabung dalam 616 usaha yang telah tercatat. Namun, seperti yang sudah bisa diperkirakan bahwa 88,80% usaha DKV tersebut tidak berbadan usaha (personal).

Nah, jika bicara tentang Sub-sektor desain produk sendiri, ternyata Sub-sektor satu ini memiliki jumlah usaha tercatat dengan jumlah yang amat tinggi. Sebanyak 3.367 pada tahun 2016 mendalami bidang desain yang satu ini. Desain produk sendiri dikatakan tengah memiliki tren yang positif. Menurut BEKRAF, ketertarikan demand dalam Sub-sektor ini didukung oleh kecenderungan masyarakat dan pasar yang mengapresiasi produk berkualitas.

Pada Sub-sektor DKV dan desain produk sendiri, BEKRAF telah melakukan beberapa program untuk mendampingi para pelaku kreatifnya. Ke depannya, untuk Sub-sektor DKV, BEKRAF berharap mampu meningkatkan minat permintaan dan angka PBD yang dihasilkan. Untuk Sub-sektor desain produk, BEKRAF bekerja sama dengan berbagai asosiasi demi meningkatkan penggunaan desain produk lokal.

Baca Juga: Fandy Susanto: Membangun Studio Desain dari Nol

Fotografi

Bicara soal salah satu Sub-sektor industri kreatif yang satu ini, sepertinya kita semua sudah cukup familiar dengan perkembangannya. Rasanya saat ini semakin banyak fotografer yang karyanya bahkan diakui oleh dunia. Apalagi dibantu dengan perkembangan teknologi yang semakin ringkas setiap harinya. Bahkan lewat smartphone saja, kita bisa menghasilkan karya fotografi yang baik.

Dekatnya fotografi dengan masyarakat dirasa BEKRAF dapat menjadi peluang besar bagi Sub-sektor ini untuk terus tumbuh dan berkembang. Di tahun 2016, BEKRAF mencatat presentase pertumbuhan di Sub-sektor ini sebesar 6,89%. Pula tercatat bahwa 69.826 jumlah angka tenaga kerja di Sub-sektor fotografi ini.

Dekatnya fotografi dengan masyarakat, seperti yang sudah disebutkan, untuk berkarya fotografi lewat kamera digital dan smartphone membuat Sub-sektor ini cukup populer di kalangan industri kreatif.

Baca Juga: Andy Fanfani: Ekspresikan Emosi Lewat Foto Hitam Putih

Film, Animasi & Video

Dalam Opus Ekonomi Kreatif Outlook 2019, dikatakan bahwa sepanjang tahun 2005 hingga 2007 produksi film telah tumbuh secara signifikan yaitu 64% (data: UNESCO Institute for Statistics). Nah, di Indonesia sendiri, Sub-sektor Film, Animasi & Video berkontibusi masif bagi perekonomian nasional. Laju pertumbuhan PBD ini meningkat seiring meningkat pesatnya produksi dan penonton film nasional.

Ditambah lagi, saat ini marak beberapa aplikasi dan layanan video streaming yang berkembang. Para penonton yang diberikan pilihan untuk menikmati film ini juga dianggap sebagai salah satu penyokong utama melonjaknya Sub-sektor ini.

Sebesar 10,96% pengusaha di Sub-sektor Film, Animasi & Video sendiri memiliki pendapatan sebesar 2,5 M-50 M per tahunnya. Pada masa mendatang, BEKRAF tentu memiliki gerakan untuk terus mengembangkan industri kreatif ini. Lewat (target) rencananya, 4.000 layar bioskop akan dicanangkan BEKRAF pada tahun 2019 mendatang. Untuk kamu yang selalu tertarik untuk menggarap sebuah film/animasi/video, jangan takut karena peluangnya untuk sukses sangat besar!

Baca Juga: Inkonsistensi Seni Jordan Marzuki

Penerbitan

Di tahun ini, rasanya tidak jarang kita menemukan sebuah acara yang dikhususkan untuk memberikan apresiasinya terhadap buku. Seiring berkembangnya era digital pun muncul berbagai alternatif digital lain untuk membaca sesuatu. Sebut saja e-book, blog atau media sosial. Namun, menurut data BEKRAF, hal ini tidak membuat industri buku cetak mati.

Bahkan, Sub-sektor penerbitan tercatat memiliki kontribusi yang cukup signifikan untuk Ekonomi Kreatif pada tahun 2016. Dunia digital dirasa bukanlah penghambat kuat untuk industri ini. Minat baca punya peran sangat penting tentunya dalam penerbitan buku. Salah satu cara kita membantu Sub-sektor ini terus bertahan? Tentu saja dengan terus membaca buku dan menularkannya kepada orang lain.

Faktor penting lainnya yang disebutkan di dalam Opus adalah kebebasan untuk penulis melahirkan sebuah ide agar menjadi karya tulis yang memikat. Di tahun 2016, Sub-sektor penerbitan berhasil memberikan kontribusi PBD sebesar 6,32%. Sebagai masyarakat yang punya andil untuk terus meningkatkan minat baca, kita masing-masing punya peran penting di sini!

Baca Juga: Sukutangan: Pentingnya Memahami Naskah dalam Menjadi Book Cover Designer

 

Catatan Penting Menyambut Ekonomi Kreatif Indonesia 2019
(Dok. Giphy)