Crafters

Portal konten yang fokus mengangkat beragam hal seputar industri kreatif. Mulai dari wawancara, laporan khusus, sampai tips dari para kreator yang berkarya di bidang seni, kebudayaan, bisnis kreatif, dan teknologi.

Melalui Crafters, kami ingin memberikan kontribusi untuk perkembangan industri kreatif di Asia Tenggara.

Dikelola oleh

Sign up to receive bi-weekly creative inspiration, delivered directly to your inbox!

Calvin Jeremy: Serius Tekuni Fotografi Analog

Menjalani hobi di luar pekerjaan tetap menjadi salah satu sarana untuk melewati penat dan kebosanan rutinitas harian. Apalagi, jika kita mengambil waktu dan usaha lebih untuk membuat hobi kita menjadi sebuah hal serius yang dapat menjadikannya sebagai pelarian yang menghasilkan.

Hasil itu tidak selalu berbentuk uang, bisa jadi sebuah pengakuan masyarakat akan karya yang kita hasilkan dari hobi tersebut. Calvin Jeremy, seorang musisi dan aktor melakoni fotografi–lebih tepatnya fotografi analog sebagai hobi yang ia jalani dengan serius.

Seberapa serius? Ya, sampai namanya menjadi salah satu top of mind para fotografer yang gemar memotret menggunakan kamera analog untuk ngobrol dengan Calvin soal teknis atau pun hal-hal lain yang bersangkutan dengan itu. Hasil fotografi tersebut, diabadikan Calvin lewat sebuah akun Instagram yang bernama Frame’s Stories.

Crafters berkesempatan ngobrol dengan Calvin Jeremy soal hobinya dalam fotografi analog.

Baca Juga: Andi Fanfani: Ekspresikan Emosi Lewat Foto Hitam Putih

Calvin Jeremy: Serius Tekuni Fotografi Analog
(Dok. Instagram @calvinjeremy)
Gimana sih pertama kalinya kamu jatuh hati pada fotografi, utamanya fotografi analog?

Rasa penasaran gue muncul waktu pertama kali gue coba memotret pake kamera digital, tapi lensanya lensa jadul dengan bantuan converter. Dari situ gue mikir, susah juga ya motret pake analog, fokusnya manual, enggak asal jepret. Dari pengalaman itu, menyisakan pertanyaan: “gimana motret pake film ya? Yang hasilnya enggak bisa dilihat, enggak ada preview-nya kayak memotret pakai kamera mirrorless, yang dengan gampangnya tinggal dihapus kalau jelek, kelihatan gendut hapus, jepret terus tanpa batas”.

Sampai akhirnya gue mencoba kamera analog pertama gue yaitu Rolleiflex TLR 75mm f3.5, kamera vintage punya Opung gue. Gue sendiri enggak sempet ketemu sama Opung gue, karena dia udah passed away sebelum gue lahir. Makanya pertama kali akhirnya memberanikan diri motret dengan kamera peninggalannya, hasilnya jadi semakin sentimentil, apalagi warna yang dihasilkan kamera analog itu beda dari kamera mirrorless, jadi makin ‘berasa’ deh sensasinya.

Selain terus memotret, apa yang kamu lakukan untuk mengasah kemampuan analog fotografimu?

Yang biasa gue lakukan adalah banyak-banyak melihat foto hasil karya orang, enggak hanya foto, tapi gue juga banyak cari referensi dari lukisan-lukisan zaman dulu. Selain itu gue banyak ngobrol sama orang, entah itu di kehidupan nyata atau dunia maya (Instagram). Bisa dibilang setahun gue motret, temennya lebih banyak daripada setahun gue bermusik belakangan ini. Somehow gue menyadari satu hal di mana kemampuan fotografi itu saling berkesinambungan dengan aktivitas bersosialisasi lo. Semakin banyak melihat referensi, semakin banyak bergaul, semakin terbuka juga pikirannya dan memunculkan ide-ide baru.

Siapa yang menginspirasi kamu untuk terus memotret analog fotografi?

Gue suka karya-karya dari Vivian Maier, Linda McCartney, kalau yang sekarang-sekarang ini gue suka karyanya Hideaki Hamada dan Jose Villa. Tapi kalau soal siapa atau apa yang menginspirasi gue saat memotret adalah sensasi, proses, dan hasilnya.

Gue pribadi lebih suka memotret orang dan sensasi saat memotret human portrait, somehow gue seperti mengintip jiwa orang yang gue potret melalui viewfinder kamera. Pada prosesnya, karena terbiasa motret pake film, saat gue motret digital pun, I like to slow it down, jadi gue menikmati prosesnya, cari angle, cahaya, momen, mood, baru jepret, bukan tipe yang asal jepret aja nanti dari ribuan foto baru dipilih mana yang bagus. Setelah semua itu, hasil dari foto gue, terlepas itu digital atau analog, rasanya seperti cherry on top, terasa manis setelah proses yang gue lalui. Di tengah perkembangan era digital kayak sekarang, proses motret pake film itu sendirilah yang akhirnya terus menginspirasi gue lagi, buat menghasilkan foto-foto yang bermakna.

Secara teknis, apa saja sih yang diperlukan seseorang untuk menghasilkan fotografi analog dengan baik?

Ada yang bilang kemampuan menghitung cahaya (Iso, Aperture, Shutter Speed), ada juga yang rely heavily on tools, canggih-canggihan kamera, mahal-mahalan lensa. Tapi kalau gue pribadi gue selalu mengandalkan tools yang sebenarnya semua orang yang mau mulai memotret sampai professional photographers punya, tools yang buat gue paling mahal, lensa yang paling unique: yaitu mata kita sendiri.

Kedua, adalah ‘agama’ lo sebagai seniman, dalam hal fotografer, yaitu taste. Gue menyebut taste itu seperti agama karena taste tiap -tiap orang beda, dan satu orang enggak bisa nge-judge taste orang lain, tapi kalau memang mau jadi seniman ya lo harus punya taste.

Tapi kalau mau tips yang lebih technical sih banyak, di antaranya sabar saat proses motret, jangan buru-buru pengen jadi, jangan maksain memotret di kondisi yang minim cahaya, banyak-banyak membaca dan belajar mengenai karakteristik roll film, kamera, lensa, dan trik-triknya, sama satu lagi: pilihlah lab (cetak) yang menurut lo paling baik buat memproses film lo.

 

Calvin Jeremy: Serius Tekuni Fotografi Analog
(Dok. Instagram @framesstories)
Gue pribadi lebih suka memotret orang dan sensasi saat memotret human portrait, somehow gue seperti mengintip jiwa orang yang gue potret melalui viewfinder kamera.
5 tips versi Calvin Jeremy dalam fotografi analog yang selalu kamu praktikan setiap kali memotret?

– Pastikan kamera yang gue pake sehat, light meter berfungsi, baterai aman, nggak ada light leak atau kerusakan-kerusakan yang lain.

– Pilih lensa yang sesuai kebutuhan, apakah lagi mau memotret portrait atau landscape, atau street, karena setiap ukuran lensa itu ada artinya.

– Sabar. Sabar saat pasang roll biar terpasang dengan baik, jangan sampe blank roll, sabar saat pasang lensa, jangan grasak-grusuk kalau rusak suku cadangnya, belum tentu ada di pasaran, sabar saat motret, kalau memang cahayanya enggak cukup, scenery lagi nggak oke, ya enggak usah dipotret, dinikmati pake mata telanjang aja.

– Enjoy every second of it. Karena udah belajar sabar, jadi lebih bisa menghargai waktu, saat memotret rasain dulu fokusnya, komposisinya, cahayanya. Kalau sudah yakin baru jepret dan saat lagi proses menjepret itu dirasain, supaya saat menerjemahkan di fase post production, jadi tahu mau dibawa ke arah mana.

– Terus belajar, jangan pernah puas sama hasil yang kita hasilkan, terus berinovasi, terus berimajinasi.

Baca Juga: Raja Siregar: Pentingnya Membangun Cerita di Balik Foto Fashion

Untuk pemula, menurutmu mereka bisa memulai dengan kamera apa?

– Disposable camera: Enggak perlu repot-repot memasang film atau setting ini itu. Kamera ini buat lo belajar komposisi dan mengenal proses memotret pakai film.

– Point and Shot Film Camera (Contohnya: Olympus Mju ii, Canon AF35ML, Contax G2): Dengan kamera ini lo mulai belajar memasang roll film ke dalam kamera, mulai memikirkan setting Iso, Shutter Speed dan Aperture meskipun itu semua masih auto, tapi ada juga point and shot yang detail. Intinya, ini udah selangkah lebih maju dari disposable camera, meskipun masih auto.

– SLR with Auto Mode: contohnya seperti kamera Nikon F3. Di kamera itu ada mode manualnya tapi ada auto juga, jadi ibaratnya lo udah bisa melangkah untuk memotret dengan mode manual di mana lo harus mengatur semuanya sendiri.

May 27, 2019
Jurnalis Komik: Berangkat dari Kekosongan Dunia Jurnalisme
Jurnalisme Komik terbentuk dan berangkat dari keresahan Hasbi terhadap kekosongan dunia Jurnalisme. Berikut wawancara...
June 3, 2019
Pentingnya Belajar Komposisi Golden Ratio Bagi Desainer
Persamaan lukisan Mona Lisa dan logo Apple terletak pada Golden Ratio. Simak pentingnya mempelajari...