Crafters

Portal konten yang fokus mengangkat beragam hal seputar industri kreatif. Mulai dari wawancara, laporan khusus, sampai tips dari para kreator yang berkarya di bidang seni, kebudayaan, bisnis kreatif, dan teknologi.

Melalui Crafters, kami ingin memberikan kontribusi untuk perkembangan industri kreatif di Asia Tenggara.

Dikelola oleh

Sign up to receive bi-weekly creative inspiration, delivered directly to your inbox!

Boy Candra: “Saya yang Membuat Peta. Bukan Ikut Peta yang Ada”

Catatan Pendek untuk Cinta yang Panjang; Sebuah Usaha Melupakan; Senja, Hujan, & Cerita yang Telah Usai; Cinta Paling Rumit; Jatuh dan Cinta; Dongeng-dongeng yang Tak Utuh.

Hampir setiap kali berjalan-jalan melewati koridor kecil yang terbentuk oleh rak-rak buku Gramedia, saya terngiang frasa-frasa tersebut. Awalnya saya pikir frasa itu hanya sekelebat lirik lagu populer atau sepotong kesimpulan dari obrolan saya dengan seorang kawan dekat. Tapi setelah kunjungan terakhir ke toko buku, barulah saya paham kalau frasa-frasa yang diam-diam menyelinap dan mengendap dalam kepala tersebut adalah serangkaian judul beberapa buku karangan seorang penulis.

Pengarang buku tersebut tak lain adalah Boy Candra, seorang penulis yang karyanya laris manis menarik banyak minat pembaca Indonesia. Lahir pada tanggal 21 November 1989, Boy Candra besar di Sumatera Barat dan pernah mengenyam pendidikan di Universitas Negeri Padang, jurusan Administrasi Pendidikan. Ia aktif menulis semenjak 2011 dan telah melahirkan sejumlah lima belas buku novel. Hampir sebagian besar karyanya termasuk buku best seller; laris diborong banyak orang yang terkesima dengan rangkaian cerita di dalamnya.

Baca Juga: Fiersa Besari: Pentingnya Keseimbangan Dunia Nyata dan Maya

 

Boy Candra: “Saya yang Membuat Peta. Bukan Ikut Peta yang Ada”
(Dok. Instagram @boycandra)

Pengaruh Boy Candra sebagai penulis tak lantas berhenti di wujud buku fisik. Di era digital ini, pengaruh karya-karya Boy Candra juga sukses merambah jejaring sosial. Tak jarang kutipan-kutipan yang dinukil dari buku-buku karangan Boy Candra bertebaran di berbagai kanal social media populer. Rangkaian katanya menjadi penghias status Facebook, caption IG, saduran status terbaru Twitter, hingga dijadikan konten kartu ucapan dan lain sebagainya.

Lebih jauh lagi, bahkan eksistensi Boy Candra di dunia digital sendiri pun turut melahirkan karya-karya menarik. Penulis yang satu ini seolah tak kehabisan bahan untuk dibagikan lewat halaman InstagramTwitter, hingga YouTube miliknya. Dalam proses melahirkan sebuah karya, utamanya di dunia digital, Boy Candra bak seorang penembak jitu yang selalu punya sasaran lain untuk dituju tanpa pernah kehabisan amunisi.

Penasaran dengan bagaimana proses kreatif di balik karya-karya, filosofi kepenulisannya, dan pandangannya terhadap karya tulis digital yang menuai pro-kontra dari sejumlah sastrawan besar, saya berhasil menghubungi Boy Candra untuk wawancara melalui Crafters. Simak hasil wawancaranya berikut ini.

Ceritakan awal mula kertertarikanmu hingga memutuskan untuk menekuni bidang kepenulisan?

Mungkin, saya akhirnya menjadi penulis seperti sekarang karena dulu, sewaktu kecil, saya selalu diberi ‘uang jatah’ untuk beli buku (komik Petruk) oleh ayah saya. Itu barangkali awal mengapa saya suka dunia bercerita. Dan, setelah kuliah, di akhir masa kuliah, saya sampai pada titik; memutuskan menjadi penulis karena saya tidak bisa bekerja rutin seperti orang pada umumnya. Harus ke kantor pukul 7 pagi dan pulang pukul 4 sore. Waktu itu, saya pikir pekerjaan yang tidak mengingat saya adalah penulis. Sebab, profesi pekerja seni kreatif lain, seperti penyanyi, saya tidak bisa.

Siapa penulis dan buku yang paling berpengaruh terhadap karya-karya Boy? Dan boleh jelaskan bagaimana mereka membuat Roy berkembang menjadi seorang penulis seperti sekarang?

Barangkali Tatang S, penulis komik Petruk. Komik-komik dia yang membuat saya ketagihan membaca waktu itu. Soal, perkembangan sampai sekarang. Saya belajar dari banyak buku dan penulis lain. Penulis Indonesia dan luar Indonesia.

Apakah kegiatan menulis secara digital (melalui media sosial) dan konvensional, membuatmu bersemangat atau justru kelelahan?

Media digital (media sosial) bagiku adalah pendukung pekerjaan. Sebab, sekarang sebagai anak daerah (yang menetap bukan di kota besar), satu-satunya yang bisa ‘memperpanjang sayapku’ ya media sosial. Kalau lelah sih, tergantung cara pandang. Namun bagiku, ini membantuku dalam banyak hal. Terutama promo dan interaksi dengan kawan-kawan pembaca. Sebab, tidak semua tulisan cocok jadi buku. Beberapa hanya ditulis di media sosial.

 

Boy Candra: “Saya yang Membuat Peta. Bukan Ikut Peta yang Ada”
Salah satu buku karya Boy Candra (Dok. Instagram @boycandra)
Setiap generasi ada zamannya. Dan yang paling paham dengan zamannya adalah generasi yang berada di era itu.
Boy Candra: “Saya yang Membuat Peta. Bukan Ikut Peta yang Ada”
(Dok. Istimewa)
Apa yang Boy lakukan untuk terus-menerus mengasah imajinasi hingga kemudian menghasilkan sebuah karya baru?

Dalam konteks ini, saya selalu merasa kurang banyak tahu. Jadi, saya berusaha mencari tahu banyak hal. Caranya, banyak sih. Mulai dari merenung, baca buku, ngobrol sama kawan, mengamati perilaku orang-orang di media sosial, sampai menjaga pola makan. Ya, menjaga  makanan ini baru saya terapkan satu tahun lebih. Sebab, jika tidak menjaga makanan, bisa jadi sakit dan itu merusak konsentrasi dan imajinasi.

Adakah tema lain yang menjadi inspirasi Boy dalam menulis karya selain romansa?

Sebetulnya, saya menulis macam-macam. Saya juga nulis isu politik lho. Ada di buku ‘Cinta Paling Rumit’, nulis isu budaya lokal di buku yang lain. Dan isu lainnya. Cuma, memang sengaja dikemas dalam bentuk kisah romansa. Lebih dominan romansa.

Menurut pendapatmu, bisakah seseorang menulis kisah romansa ketika mereka tidak benar-benar merasakan emosi cinta yang kuat?

Bisa saja, asal mau mempelajari apa yang orang lain rasakan dan alami. Tapi, memang menulis kisah romansa butuh kepekaan dan perasaan yang kuat.

Sebagai seorang penulis yang aktif di beberapa jejaring sosial seperti Twitter, Instagram dan YouTube, hal-hal apa saja yang Boy dapatkan dari pengalaman mencoba kepenulisan di dunia digital tersebut?

Yang pasti sih, dunia digital menembus ruang pembatas antara kota dan desa. Juga membuat saya yakin, semua orang punya kesempatan yang sama. Selama mereka mau menciptakan panggung mereka sendiri. Dan, panggung itu bisa diciptakan di internet.

Bagaimana cara Boy menyeimbangkan permintaan pembaca dengan idealisme dalam menulis?

Saya selalu berusaha menulis apa yang saya kuasai dengan baik. Sejujurnya, saya belum pernah menulis buku sesuai permintaan pembaca. Saya selalu menulis yang saya ingin dan sukai untuk ditulis. Tapi saya tetap memikirkan, kira-kira ini bisa dinikmati atau tidak oleh pembaca saya. Jadi, saya yang membuat petanya. Bukan ikut peta yang ada.

Baca Juga: Bernard Batubara: Industri Buku, Media Sosial dan Konsistensi

 

Boy Candra: “Saya yang Membuat Peta. Bukan Ikut Peta yang Ada”
(Dok. Goodreads)
Jika Boy dapat mengatakan sesuatu kepada diri Boy versi muda yang tengah meniti langkah di dunia menulis, apa yang akan kamu katakan?

Jalan masih sangat panjang. Masih banyak hal yang bisa diciptakan. Tetap tekun dan konsisten.

Adakah bentuk karya lain yang ingin Boy coba hadirkan selain novel?

Kebetulan saya menulis macam-macam jenis buku. Selain novel, saya menulis buku prosa/pengembangan diri, buku kumpulan cerita, buku puisi. Semuanya sudah 15 judul, sebentar lagi buku ke-16. Semuanya fokus pada bacaan remaja-dewasa muda.

Media sosial melahirkan banyak karya tulis baru lewat bentuk baru. Namun tentunya, ini menuai pro dan kontra tersendiri. Seperti yang pernah diutarakan beberapa sastrawan besar, bahwa salah satu ketakutannya adalah para penulis ini tidak melewati proses kepenulisan yang baik dan kemudian cenderung menulis dengan “ceroboh”. Untuk Boy, bagaimana sih pandangan Boy akan hal ini? Adakah yang bisa dilakukan para calon penulis digital ini untuk memperkaya ilmu dan pada akhirnya melahirkan karya-karya apik seperti Boy?

Setiap generasi ada zamannya. Dan yang paling paham dengan zamannya adalah generasi yang berada di era itu.

Apakah Boy percaya akan writer’s block? Dapatkah Boy menyebutkan lima cara menghadapi writer’s block versi Boy sendiri?

Sebenarnya, menurut saya writer’s block itu cuma diada-adakan saja. Mungkin karena malas. Saya cuma punya solusi ini: Nulis lagi. Nulis lagi. Nulis lagi. Nulis lagi. Nulis lagi.

 

Kamu seorang penulis yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?

May 22, 2019
Ingin Jadi Selebtwit? Begini Caranya!
Ingin meniti karier sebagai influencer Twitter yang sukses? Lewat diskusi di Jakarta Creators Meetup,...
May 27, 2019
Pratiwi Juliani: “Tidak Tertarik dengan Satu Tema Menulis”
Pratiwi Juliani, seorang penulis asal Kalimantan Selatan bicara dengan Crafters soal kepenulisan dan inspirasinya.