Bicara Buku Anak Sembari Nyore Bersama Reda Gaudiamo

Kami janjian di sebuah kedai kopi yang nyaman di daerah Cikini. Saya sempat deg-degan karena mulanya saya kira Mbak Reda Gaudiamo sedang sibuk berkarya atau ruling the world somewhere, mengingat namanya cukup berpengaruh di industri media di Indonesia. Ya, karena saya segitu nge-fans-nya dengan karya-karya beliau sebagai penulis maupun sebagai musisi. Saya ingat pertama kali saat penerbit Post Santa menerbitkan buku warna oranye dengan sampul yang minimalis tapi memancing perhatian. Buku itu berjudul Aku, Meps dan Beps. Buku tersebut ditulis oleh seorang anak dan ibunya–ya, Soca Sobhita dan Mbak Reda Gaudiamo-lah yang menulis buku ini bersama- sama.

Bicara Buku Anak Sembari Nyore Bersama Reda Gaudiamo
Reda Gaudiamo menandatangani buku Na Willa dan Rumah Dalam Gang

Saya langsung menemukan Mbak Reda dengan cepat, karena beliau duduk di dekat jendela besar sebelah pintu masuk. Setelah berkenalan, kami duduk sembari menunggu kopi pesanan saya. Saya bertanya, “Mbak Reda habis dari mana sebelum datang ke sini?” lalu ia menjawab “Iya, aku habis ke Plaza Indonesia dan nemu buku bagus. Terus iseng aja, karena bajaj-nya enggak ada, aku jalan kaki aja ke sini,” katanya santai.

Setelah berhenti bekerja kantoran awal tahun lalu, Mbak Reda mengaku sering punya waktu luang–dan tidak bengong di waktu luang seperti saya, ia sembari menyelesaikan album musik dan buku yang akan ia luncurkan berikutnya.

Baca Juga: Leila S. Chudori: Sastra, Isu Politik dan Generasi Z

Kami memulai perbincangan seputar inspirasi yang membuat seorang Reda Gaudiamo, mantan Deputy Editor in Chief Cosmopolitan Indonesia, juga mantan publisher di Kompas Gramedia ini memutuskan untuk meluncurkan buku anak, atau yang lebih pantas disebut dengan buku yang cocok dan ramah untuk semua usia ini. Memang, Na Willa pertama terbit tahun 2012, setelah awalnya hanya iseng ditulis Mbak Reda lewat notes di laman Facebook-nya. Setelah banyak yang tertarik dengan cerita si Na Willa cilik, akhirnya cerita-cerita ini dibukukan.

Inspirasi dan pencapaian

“Sebetulnya lebih pada kegelisahan saya melihat orang tua di zaman sekarang. Bagaimana mereka berharap besar supaya anak mereka mengerti banyak hal, anak mereka harus tahu tentang perilaku baik, sopan santun, bahaya yang mengancam, dan ilmu pengetahuan. Menurut saya, itu tidak fair. Karena menurut saya, anak pasti mengalami hal-hal itu untuk pertama kali. Semuanya serba pertama kali. Dan yang paling bertanggung jawab dalam hal itu memang mungkin, guru, tapi itu kemudian. Yang pertama, jelas orang tua. Dan ketika kita punya anak, di satu sisi saya melihat banyak orang tua yang merasa anak adalah sebuah trophy; ketika kamu sudah dewasa, kamu selesai kuliah kamu harus kawin, setelah kawin, pencapaian berikutnya adalah punya anak. Nah, tetapi seorang manusia memiliki anak atau tidak, itu kan sebuah pilihan. Dan begitu sudah memilih punya anak, kita harus bertanggung jawab.”

Keresahan Mbak Reda dilanjutkan dengan keluhan tentang anak yang sulit terbiasa membaca buku. Menurutnya, di zaman yang apa-apa gadget ini, orang tua kurang memberi contoh pada anaknya soal betapa asyiknya membaca dan mencerna sebuah buku. “Kalau orang tuanya sibuk mainan gadget, mereka enggak bisa dong mengeluh kalau anak mereka enggak suka baca.” keluhnya.

“Dengan Na Willa, saya mencoba menceritakan bahwa pada zaman saya kecil, orang tua saya melakukan ini, lho. Sebenarnya itu cita-cita besarnya.” jelas Mbak Reda yang setuju dengan saya yang menyebut Na Willa ini bisa dibilang adalah sebuah arsip masa kecilnya. “Ya, walaupun bagian fiksinya pasti ada.” tambahnya.

Lihat juga: Para penulis yang sudah bergabung di marketplace GetCraft

Selebihnya, ia mengaku bahwa ia kira semuanya akan berhenti di buku Na Willa pertama. Namun, suatu hari, ia menemukan draft tulisan anaknya, Soca, saat ia masih kecil. Baru kemudian ia menemui teman-temannya yang kebetulan juga pendiri Post Santa, sebuah toko buku independen yang saat itu baru mau memulai rencana penerbitan buku. Lalu, lahirlah sebuah buku lagi yang berjudul Aku, Meps dan Beps yang ditulis oleh Soca dan Reda Gaudiamo sendiri.

“Tapi memang, saya senang karena buku itu sekarang sudah menjadi buku yang dianggap mengingatkan anak-anak di sekolah untuk bersikap ramah, contohnya. Na Willa kemudian menjadi buku bacaan wajib di Sekolah Kembang untuk anak kelas 4, kalau Aku, Meps dan Beps itu bacaan untuk anak kelas 2 dan lalu menjadi buku pegangan para guru TK. Sekolah Pelita Harapan juga menggunakan buku-buku tersebut,” tutur Mbak Reda sembari tersenyum. Mungkin, pencapaian ini adalah hal emas yang dicita-citakannya.

Bicara Buku Anak Sembari Nyore Bersama Reda Gaudiamo
Reda Gaudiamo dan Soca Sobhita (Dok. POST Bookshop)
Saya merasa menulis buku anak membuat saya harus belajar banyaaaaak banget. Menulis buku cerpen untuk orang dewasa jauh lebih mudah.
Bicara penulisan

Obrolan kami lanjutkan ke ranah yang lebih teknis, yaitu penulisan buku cerita anak. Mbak Reda terdengar antusias namun juga berhati-hati karena ternyata menulis buku anak adalah sebuah tantangan besar baginya.

“Saya merasa menulis buku anak membuat saya harus belajar banyaaaaak banget. Menulis buku cerpen untuk orang dewasa jauh lebih mudah. Dulu, waktu saya kuliah, menulis untuk pembaca young adult ya mudah saja, karena itu pengalaman sendiri. Sekarang, setelah menjadi emak-emak dan setelah semua hal yang saya baca, saya pelajari, rasanya bertumpuk di dalam, membuat sesuatu yang “sederhana” itu sulitnya bukan main.” jelas Mbak Reda sambil tertawa.

Ia juga menjelaskan bahwa “Pilihan kata, cara menjelaskan sesuatu dan menerangkan rasa yang ada di anak (tokoh) itu juga penting karena anak-anak kan enggak bisa tahu misalnya, “aku kecewa, lho”, mereka kanbelum tahu bahwa itu konsep kecewa. Tapi mereka sadar betapa sakitnya, misalnya. Jadi bagaimana kita bisa menceritakan dan menulis dari sesuatu yang sederhana dengan tidak basi atau flat biar anak-anak tidak cepat bosan.”

Kemudian ia menambahkan satu rumus yang penting sekali dalam penulisan buku anak (selain banyak membaca, banyak membaca, banyak membaca, dan terus latihan menulis), yaitu untuk menerapkan cara “show, don’t tell”. Menurutnya, sebagai orang dewasa, kita terbiasa menulis dengan menggunakan adjective (kata sifat), padahal untuk buku anak, kata sifat itu harus dijelaskan dengan baik dengan kalimat-kalimat pendek yang mudah dimengerti.

Baca Juga: Alexander Thian: Kegelisahan untuk Bercerita

Di akhir wawancara, kami sedikit bicara soal musik. Sebelumnya, saya menyampaikan duka cita yang dalam atas wafatnya Mas Ari Malibu, partner musik Mbak Reda. Duo yang dikenal dengan nama AriReda ini dikenal dengan musikalisasi puisinya yang selalu menyentuh hati para pendengarnya. “Iya, terima kasih. Saya juga enggak menyangka kalau akan seperti ini. Ari dan saya itu seperti kucing dan anjing. Tapi ternyata saat dia sudah tidak ada, kangen banget, ya,” kata Mbak Reda sambil menatap kopi hitamnya yang sudah dingin.

“Saya lagi garap album solo dan Ari juga. Setelah bermusik bersama selama 36 tahun, ya. Akhirnya dia duluan yang memutuskan untuk udahan. Padahal album saya yang belum selesai.” tambahnya. Sontak saya ikut merasakan kesedihan Mbak Reda. Setelah ngobrol ngalor-ngidul sebentar di sore itu, saya harus pamit karena harus segera kembali ke kantor. Pamit dengan berpelukan, saya merasa sore hari itu hati saya penuh kehangatan dari cerita-cerita dan ilmu yang diberikan oleh seorang Reda Gaudiamo.

Bicara Buku Anak Sembari Nyore Bersama Reda Gaudiamo
AriReda (Dok. Youtube Han Lahandoe)