Bhagavad Sambadha: “Fotografi Adalah Milik Semua Orang”

Terlena dengan beberapa karya fotografi dari jurnalis foto dunia, rasanya bentuk visual yang umum menjadi pendamping sebuah berita/tulisan ini amat diapresiasi, bahkan sejak ratusan tahun lalu. Pengambilan foto atau momen yang pas saat peristiwa dunia seperti peristiwa perdamaian, atau kerusuhan dijepret oleh para jurnalis foto yang berdedikasi dalam pengabdian gambar-gambar tersebut sebagai terusan informasi yang pada akhirnya mengalir di masyarakat.

Kali ini, kita bicara fotografi jurnalistik, yang membatasi pengeditan foto pada eksekusi dan kemudian penerbitannya. Dan kebetulan, saya mengenal baik salah satu jurnalis foto yang belakangan ini berhasil menangkap karya fotografi dari sebuah kejadian dengan apik.

Saya agak bingung harus memulai dari mana. Yang jelas, narasumber saya kali ini cukup berbeda dari narasumber-narasumber saya sebelumnya. Untuk narasumber saya kali ini, saya cukup mempersiapkan diri dengan jawaban-jawaban balasan darinya yang nyeleneh atau minimal banyak bercandanya. Di luar dugaan, Bhagavad Gita atau Bhagavad Sambadha, alias kakak sepupu saya ini memberikan jawaban-jawaban yang cukup serius.

Ya tidak saya pungkiri, karya-karya fotografinya berhasil menjelaskan sebuah narasi dari keadaan subjek/objek foto yang ia incar. Ia juga, seingat saya, memang senang memotret dan membuat narasi/menulis, bahkan sebelum bekerja sebagai jurnalis foto di Tirto.id.

Keluarga kami dibesarkan dengan kebebasan pemikiran dan ekspresi diri dalam berkarya. Karena itulah, ketertarikan kami kebanyakan tidak jauh-jauh dari seni, sastra atau bahkan manusia dan segala kaitannya dengan pengkaryaan (human interest). Usia saya yang terpaut agak jauh dari Bhaga membuat kami sebenarnya jarang ngobrol saat tidak sengaja ketemu di coffeeshop atau bahkan saat lebaran. Kalau bertemu, yang paling sering terjadi adalah kami saling ejek-ejekan, tentunya dia yang memulai. Jadi, lewat wawancara ini, saya banyak bertanya pada Bhaga soal perjalanan ketertarikannya dalam fotografi, kariernya sebagai jurnalis foto, sampai dengan sedikit kesibukannya menyampaikan suara dan pendapat di Twitter dan kanal YouTube Paguyuban Pamitnya Meeting.

Baca Juga: Juxtaposisi, Narasi dan Realita versi Agan Harahap

 

Bhagavad Sambadha: "Fotografi Adalah Milik Semua Orang"
(Dok. Instagram @fullmoonfolks)
Gimana cerita awal kamu tertarik dalam bidang fotografi?

Gua mulai tertarik dengan fotografi pada sekitar umur 6 tahun, ketika itu gua sering membaca buku-buku seri Time Life tentang alam punya Ayah. Di buku itu, foto menjadi daya tarik seperti ketika gua baca komik, sebagai visual pendamping narasi.

Gimana caranya selama ini kamu melatih kemampuan fotografimu?

Gua pertama kali mengenal kamera fotografi ketika SMA, menggunakan kamera Nikon milik kakak kelas. Selepas SMA, gua melanjutkan kuliah di jurusan film IKJ, di situlah gua untuk pertama kalinya mendapatkan kesempatan untuk belajar teknik dasar fotografi secara formal.

Siapa sosok yang berperan dan mempengaruhi kamu dalam foto jurnalistik? Bagaimana sosok-sosok itu mempengaruhimu dalam eksekusi fotografi?

Gua mulai mengenal foto (dan fotografer) jurnalistik dari surat kabar langganan Ayah. Ketika itu, foto muka (headline) surat kabar sangatlah penting dan berpengaruh besar memberi heads up tentang situasi dan isu apa yang selayaknya menjadi prioritas publik. Gua mulai mengenal nama-nama seperti Oscar Motuloh, Maman Sukirman, dan lain-lain. Sampai sekarang, dua nama tersebut adalah jurnalis foto yang gua anggap memberi pengaruh besar terhadap perspektif gua memandang fotografi dan foto jurnalistik.

Apa arti menjadi seorang jurnalis foto untukmu?

Gua berangkat dari (kalau mau meminjam istilah orang lain) street photography, pergi ke tempat-tempat yang gua kira menarik dan memotret sesuka hati. Pada saat itu, gua tidak terlalu memikirkan pesan atau efek yang dapat dihasilkan oleh sebuah foto karena gua memang hampir tidak pernah mengunggahnya di ruang publik. Setelah menjadi jurnalis foto, gua menyadari bahwa seorang jurnalis foto memiliki kesempatan menentukan perspektif dan pesan untuk diteruskan ke pembaca. Hal itu membuat gua memberi perhatian lebih terhadap pesan dan efek yang bisa dihasilkan dari sebuah foto.

Pernah terpikir enggak, fotografi sebagai sebuah industri yang besar sekarang ini nantinya akan bergerak ke mana?

Dari dulu gua enggak pernah bergabung dalam komunitas fotografi, memperhatikan perkembangan fotografi (atau teknologi kamera misalnya) dan semacamnya, jadi sejujurnya, I have no idea.

Bagaimana ceritanya kamu dapat kesempatan bekerja di Tirto.id dan meliput peristiwa besar yang turut mempengaruhi situasi serta kondisi masyarakat sekarang?

Gua mulai bekerja di Tirto sebagai periset foto, baru menjadi fotografer pada tahun kedua. Ketika meliput sebuah peristiwa besar, gua berusaha menyajikan semacam reportase visual yang biasanya sulit digambarkan lewat tulisan, sebisa mungkin gua juga berusaha menangkap kemungkinan adanya layer informasi yang lain dari peristiwa tersebut.

 

Gimana cerita awal kamu tertarik dalam bidang fotografi? Gua mulai tertarik dengan fotografi pada sekitar umur 6 tahun, ketika itu gua sering membaca buku-buku seri Time Life tentang alam punya Ayah. Di buku itu, foto menjadi daya tarik seperti ketika gua baca komik, sebagai visual pendamping narasi. Gimana caranya selama ini kamu melatih kemampuan fotografimu? Gua pertama kali mengenal kamera fotografi ketika SMA, menggunakan kamera Nikon milik kakak kelas. Selepas SMA, gua melanjutkan kuliah di jurusan film IKJ, di situlah gua untuk pertama kalinya mendapatkan kesempatan untuk belajar teknik dasar fotografi secara formal. Siapa sosok yang berperan dan mempengaruhi kamu dalam foto jurnalistik? Bagaimana sosok-sosok itu mempengaruhimu dalam eksekusi fotografi? Gua mulai mengenal foto (dan fotografer) jurnalistik dari surat kabar langganan Ayah. Ketika itu, foto muka (headline) surat kabar sangatlah penting dan berpengaruh besar memberi heads up tentang situasi dan isu apa yang selayaknya menjadi prioritas publik. Gua mulai mengenal nama-nama seperti Oscar Motuloh, Maman Sukirman, dan lain-lain. Sampai sekarang, dua nama tersebut adalah jurnalis foto yang gua anggap memberi pengaruh besar terhadap perspektif gua memandang fotografi dan foto jurnalistik. Apa arti menjadi seorang jurnalis foto untukmu? Gua berangkat dari (kalau mau meminjam istilah orang lain) street photography, pergi ke tempat-tempat yang gua kira menarik dan memotret sesuka hati. Pada saat itu, gua tidak terlalu memikirkan pesan atau efek yang dapat dihasilkan oleh sebuah foto karena gua memang hampir tidak pernah mengunggahnya di ruang publik. Setelah menjadi jurnalis foto, gua menyadari bahwa seorang jurnalis foto memiliki kesempatan menentukan perspektif dan pesan untuk diteruskan ke pembaca. Hal itu membuat gua memberi perhatian lebih terhadap pesan dan efek yang bisa dihasilkan dari sebuah foto. Pernah terpikir enggak, fotografi sebagai sebuah industri yang besar sekarang ini nantinya akan bergerak ke mana? Dari dulu gua enggak pernah bergabung dalam komunitas fotografi, memperhatikan perkembangan fotografi (atau teknologi kamera misalnya) dan semacamnya, jadi sejujurnya, I have no idea. Bagaimana ceritanya kamu dapat kesempatan bekerja di Tirto.id dan meliput peristiwa besar yang turut mempengaruhi situasi serta kondisi masyarakat sekarang? Gua mulai bekerja di Tirto sebagai periset foto, baru menjadi fotografer pada tahun kedua. Ketika meliput sebuah peristiwa besar, gua berusaha menyajikan semacam reportase visual yang biasanya sulit digambarkan lewat tulisan, sebisa mungkin gua juga berusaha menangkap kemungkinan adanya layer informasi yang lain dari peristiwa tersebut.
(Tirto.id/Bhagavad Sambadha)
Bagaimana caramu merencanakan sebuah narasi visual untuk sebuah reportase?

Untuk headline atau peristiwa aktual, hampir segala aspek (visual dan non-visual) biasanya ditentukan (atau ditemukan) di lapangan.

Membahas sedikit masalah proses pembuatan reportase foto jurnalistik, dari mana biasanya kamu mendapatkan ide untuk reportase yang baru? Bagaimanakah ide tersebut berkembang menjadi satu reportase yang utuh? Dan membahas masalah teknis mengambil foto, bagaimana cara membangun cerita dalam sebuah foto jurnalistik?

Khusus untuk kanal #ceritafoto di Tirto, biasanya dimulai dari menentukan premis/tema awal sambil berusaha menerka perspektif apa saja yang akan muncul dan bisa diangkat dari tema tersebut. Dalam pengerjaannya, biasanya gua tinggal memilih mana yang paling menarik serta secara teknis (ketersediaan narasumber, waktu pengerjaan, dan lain-lain) yang mungkin untuk diangkat.

Saat memoret sebuah reportase, peralatan wajib apa yang kamu bawa?

Baterai aja yang banyak, dan monopod (untuk kebutuhan foto malam hari), dan flask. Hahaha.

Dari koleksi reportase foto jurnalistik beberapa bulan sebelumnya saja kamu harus terjun langsung meliput kerusuhan yang terjadi pada 22 Mei 2019. Bagaimana caranya kamu waktu itu memastikan keamanan diri sendiri?

Standar aja sih, kemarin itu pakai helm, goggle dan masker.

Apa pengalaman personal paling buruk yang pernah kamu dapatkan selama menjadi seorang jurnalis foto atau fotografer?

Gua baru beberapa bulan menjadi jurnalis foto, jadi sepertinya belum ada pengalaman buruk. Kalau sebagai fotografer, pengalaman buruk gua sepertinya hanya satu dan selalu sama; diusir dari pemukiman warga karena disangka mau survey gusuran.

Baca Juga: Pio Kharisma: Melawan Rasa Cepat Puas

 

Bhagavad Sambadha: "Fotografi Adalah Milik Semua Orang"
(Dok. Instagram @fullmoonfolks)
Di luar pekerjaan sebagai jurnalis foto untuk Tirto, kamu ‘kan juga aktif menyuarakan berbagai pendapat mengenai kondisi masyarakat di Twitter. Enggak cuma itu, kamu juga salah satu pendiri kanal Paguyuban Pamitnya Meeting di YouTube. Gimana sih ketiga aspek kehidupan tersebut saling mempengaruhi kehidupanmu? Ada enggak cerita menarik yang melibatkan ketiga hal tersebut; antara pekerjaan, media sosial, dan Pamitnya Meeting?

Kesamaan dari 3 hal tersebut (fotografi, aktivitas gua di Twitter dan kanal YouTube Paguyuban Pamitnya Meeting) adalah ketiganya merupakan manifestasi komitmen gua terhadap demokrasi dan tersedianya ruang untuk berbicara serta berpendapat. Bagi gua, fotografi selalu politis, ia berfungsi sebagai media untuk menyampaikan agenda dan gagasan. Itulah kenapa gua percaya fotografi adalah milik semua orang, bukan hanya milik fotografer (profesional).

Terakhir, dapatkah kamu membagikan sedikit tips untuk mereka yang ingin atau tengah menggarap sebuah esai fotografi atau berniat menjadi seorang jurnalis foto?

Apa ya? Hahahaha. Dalam sebuah proses pembuatan esai foto, menurut gua hal paling berharga adalah waktu. Gua percaya sebuah foto dapat menunjukkan ikatan antara fotografer dengan subyek fotonya, semakin lama fotografer menghabiskan waktu dengan subyeknya akan semakin baik. Sepersekian detik gambar yang ditangkap kamera hanyalah fragmen dari berbagai macam hal yang terjadi di baliknya. Jadi buat bujangan pengangguran yang punya banyak waktu, memotretlah!

 

Kamu seorang fotografer yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?

Foto feature oleh Bhagavad Sambadha