Bernard Batubara: Industri Buku, Media Sosial dan Konsistensi

Kali pertama saya kepincut dengan salah satu buku Bernard Batubara adalah pada akhir 2014. Saat itu, saya dan seorang teman mempunyai misi untuk membaca sebanyak-banyaknya karya penulis muda Indonesia. Setelah mengelilingi toko buku besar, sebuah buku berhasil menarik perhatian saya.

Sampul buku itu warnanya ungu dengan judul kuning terang, yang ketebalannya rasanya pas untuk saya saat itu. Judulnya adalah Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri. Hanya dari judulnya, saya dan teman saya saat itu sepakat bahwa isi cerpen dalam buku ini dapat menawarkan ironi atau sisi pandang lain dari cinta —sebuah tema yang jelas laku di pasaran.

“Aku tidak bersepakat dengan banyak hal, kau tahu. Kecuali, kalau kau bilang bahwa jatuh cinta adalah cara terbaik untuk bunuh diri. Untuk hal itu, aku setuju.” tulis Bernard Batubara, atau yang biasa dipanggil Bara, dalam buku yang berisi 15 cerpen itu.

Dalam buku yang judulnya dinilai cukup kontroversial ini, Bara tidak sekedar menulis cinta-cintaan pop remaja saja, namun ia berhasil menuliskan sisi lain cinta yang tidak ditawarkan buku lain pada umumnya.

Usut punya usut, ternyata buku ini bukanlah buku pertama yang ditulis Bara. Terhitung sebagai penulis muda, Bara hingga saat ini telah menerbitkan 14 buku fisik dan 1 novel digital, yang masih terus terbit dalam bentuk on-going series.

Bernard Batubara: Industri Buku, Media Sosial dan Konsistensi
Bernard Batubara

Konsistensi Bara tidak hanya dalam jumlah karya saja, melainkan juga standar dari karya tulisnya sendiri selalu ia jaga untuk memastikan bahwa ia tidak hanya sekadar menerbitkan buku, namun juga selalu memuaskan pembacanya.

Baca Juga: Leila S. Chudori: Sastra, Isu Politik dan Generasi Z

Wawancara Crafters dengan Bara mengantarkan kita ke sebuah pemahaman baru, bahwa penulis di era ini punya banyak hal yang dapat dimanfaatkan untuk mengerti pasar lewat hal-hal baru, seperti media sosial dan bentuk “penerbitan” yang berbeda. Tapi, apa sih sebenarnya tujuan seorang penulis untuk menerbitkan buku?

Dalam sebuah artikel Medium, Bara menuliskan raison d’etre atau alasan penulis (spesifiknya di umur 25 tahun ke bawah) itu terbagi menjadi dua hal: uang dan ketenaran. Namun untuknya, Bara menjawab tegas dalam wawancara bahwa ia punya satu misi penting lain.

“Sederhana. Saya ingin tetap bisa menulis,” katanya.

Berikut wawancara Crafters dengan Bara, tentang soal profesi penulis, penulis panutannya, konsistensi dalam berkarya hingga peran media sosial dalam membantu Bara berkarya.

Bagaimana Bara pada akhirnya memutuskan untuk menjadi penulis, dan apa alasannya?

Pertama saya masuk ke industri buku pada 2011, lalu meneruskan menulis untuk mengisi gap year karena Alhamdulillah, kebetulan, karya-karya awal saya diterima cukup baik di pasaran. Tapi saya ingat momen ketika secara sadar saya ketok palu untuk bekerja sendiri sebagai penulis adalah waktu menjelang resign dari kantor pertama.

Saya pernah kerja di sebuah penerbit buku mainstream di Jakarta sebagai editor akuisisi selama lebih kurang satu setengah tahun. Di periode tersebut, teman-teman penulis yang sebaya banyak yang berprestasi di dunia sastra lewat karya-karyanya. Saya menikmati bekerja sebagai editor, mengurusi naskah orang lain, tapi ada saatnya kangen mengerjakan karya sendiri. Suatu hari saya sadar ambisi saya bukan sebagai editor melainkan penulis.

Saya akhirnya memberanikan diri untuk enggak melanjutkan kontrak, mundur dari kenyamanan (pekerjaan yang saya sukai, kantor yang orang-orangnya kreatif dan fun, gaji bulanan yang memadai) untuk fokus hanya menulis. Itu tahun 2015. Saya tidak menyesali keputusan itu.

Selain yang menjadi tema besar buku-buku Bara, yaitu cinta, apa lagi hal-hal yang menginspirasi Bara dalam menulis sebuah karya?

Sumber tulisan saya kebanyakan adalah memori. Memori tentang pengalaman cinta dan juga kekerasan. Sebagian besar buku saya yang pernah terbit isinya tentang kisah cinta, mungkin bisa dibilang roman picisan, karena pada saat menuliskan buku-buku itu hanya hal tersebut lah yang dekat dengan saya.

Seiring waktu, ada hal-hal yang saya pikirkan di luar tema cinta, at least cinta yang eros (erotis berdasarkan hasrat, seperti pacar-pacaran), yang biasanya jadi bahan tulisan-tulisan saya, terutama karya fiksi.

Saya menggali ingatan dari masa kecil, dan yang muncul adalah peristiwa kekerasan manusia yang dilakukan secara kolektif. Tema ini muncul di buku kumpulan cerita Metafora Padma. Semenjak menuliskan buku tersebut saya terus menggali bahan bacaan tentang kekerasan manusia. Pemikiran-pemikiran mengenai identitas menjadi salah satu bahan utama yang saat ini jadi sumber inspirasi saya, enggak hanya buat menulis, tapi juga buat mengembangkan diri sebagai manusia.

Buat saya menulis adalah bentuk pencarian. Tulisan tidak pernah jadi sekadar bahan bacaan, tapi juga wujud pencarian serta perkembangan pemikiran penulisnya. Apa yang saya pikirkan di waktu lampau bisa jadi tidak lagi saya pikirkan saat ini, begitu pula sebaliknya. Inspirasi dan intensi menulis juga berkembang seiring waktu, seiring saya bertumbuh.

 

Bernard Batubara: Industri Buku, Media Sosial dan Konsistensi
Salah satu buku kumpulan cerpen Bernard Batubara
Bara adalah penulis muda yang aktif di media sosial seperti Twitter dan Instagram. Apakah berada di lingkup media sosial membantu Bara dalam menjadi penulis? Dan apakah keuntungan Bara sebagai penulis dengan aktif di media sosial?

Media sosial mengizinkan saya menyebarkan gagasan tanpa harus menunggu proses yang sangat lama seperti mencetak dan menerbitkan buku. Saya menggunakan Twitter dan Instagram tidak hanya untuk melihat informasi tapi juga latihan menulis. Caption yang saya tulis di Instagram, misalnya, adalah pikiran yang melintas di kepala saya sehari-hari, saya coba tulis dengan cara yang, saya usahakan, semakin baik dari waktu ke waktu.

Ruang-ruang terbatas di medsos, misalnya jumlah karakter dalam satu tweet dan satu caption, menjadi bahan latihan saya menyampaikan gagasan dengan efektif. Itu salah satu tujuan penulis menulis, untuk menyampaikan gagasan. Latihan menulis bisa dilakukan di mana saja menggunakan sarana apa saja, saat ini yang paling dekat dengan keseharian adalah handphone dan medsos. Saya berusaha memanfaatkannya sebaik mungkin.

Selain menyentuh pembaca secara langsung, manfaat dari main medsos adalah mendapatkan feedback dari audiens. Bukan netizen secara umum, tapi audiens saya sendiri. Followers. Dari mereka saya belajar tentang bagaimana mereka bereaksi terhadap gagasan-gagasan yang saya sampaikan, hal-hal apa yang mereka harapkan. Reaksi followers memberi saya input tentang cara berkomunikasi, cara saya menyampaikan gagasan.

Lewat interaksi langsung dengan followers, pembaca yang aktif di medsos, saya juga belajar mencari tahu tentang niatan saya sendiri sebagai penulis. Ke mana tujuan tulisan-tulisan saya, kepada siapa saya menyampaikan gagasan-gagasan saya, ke mana saya sebagai penulis mengarahkan pikiran-pikiran saya.

Siapa penulis favorit dalam dan luar negeri Bara?

Eka Kurniawan, karena selalu mengeksplorasi gaya menulis yang baru di setiap bukunya. Linda Christanty untuk esai-esainya yang jernih.

Saya menyukai karya teman-teman penulis Indonesia yang sebaya seperti Rio Johan, Norman Erikson Pasaribu, Dea Anugrah, Sabda Armandio. Mereka auto-buy saya, kalau ngeluarin buku baru pasti langsung saya beli tanpa pikir panjang. Alasannya karena saya merasa mereka betul-betul menggambarkan penulis pada generasinya, generasi baru yang menyampaikan gagasannya lewat bentuk-bentuk tulisan baru, dan mereka sangat diverse, baik dari referensi maupun style. Satu lagi, Abinaya Ghina Jamela, yang ini paling muda dan menakjubkan.

Kalau luar negeri, saat ini saya sedang menyukai Jhumpa Lahiri dan Michael Ondaatje. Jhumpa Lahiri karena novel-novel dan cerita-cerita pendeknya mengangkat persoalan kebimbangan identitas, sesuatu yang jadi kegelisahan pribadi saya. Juga karena ia datang dari India, ada beberapa hal yang mirip dengan latar Melayu saya, yang membuat saya merasa dekat dengan tulisan-tulisannya.

Kalau Michael Ondaatje saya sukai untuk alasan yang lebih teknis. Sebagai novelis, saya membayangkan novel yang ideal itu adalah yang seperti ditulis Michael Ondaatje, at least sebagian besar novelnya. Novel-novel Michael Ondaatje utuh, rapi, dan melingkar.

Saya juga menyukai Orhan Pamuk karena tulisannya selalu intens tapi juga jernih, Etgar Keret karena pendekatan komedinya terhadap tragedi, Haruki Murakami untuk surealismenya, Richard Dawkins untuk gagasan-gagasan mengenai biologi evolusioner, dan Siddhartha Mukherjee untuk tulisan-tulisannya yang jernih dan prosais tentang dunia genetika.

Dalam sebuah artikel, Bara menyebutkan betapa pentingnya konsistensi dalam menulis. Apakah Bara memiliki tips yang bisa di-share mengenai konsistensi dalam menulis?

Konsistensi dalam menulis tidak hanya berarti penulis harus terus-terusan memproduksi tulisan layaknya industri manufaktur, tapi juga menerbitkan tulisan yang semakin tajam dari waktu ke waktu, makin terarah. Konsistensi berarti terus-menerus bertanya, merawat energi untuk melakukan pencarian yang panjang dan kian mengerucut.

Buat saya yang penting adalah terus memelihara kesadaran dan mengasah sikap kritis. Tidak ada yang tidak boleh dipertanyakan kembali. Penting bagi penulis mencari arahnya, tidak hanya arah tulisan tapi juga arah berpikir, karena hal tersebut akan menentukan tulisan macam apa yang akan ia buat.

Kalau persoalan teknis, tipsnya sangat sederhana, yakni membiasakan diri menulis. Membangun kebiasaan mencatat apapun yang dipikirkan. Selain itu juga mencari gaya baru dalam menyampaikan pesan lewat tulisan, tidak hanya baru tapi juga yang lebih efektif. Konsistensi berarti tidak hanya konsisten menulis tapi juga membaca, berpikir, dan yang tidak kalah penting: berefleksi.

 

Bernard Batubara: Industri Buku, Media Sosial dan Konsistensi
Buat saya menulis adalah bentuk pencarian. Tulisan tidak pernah jadi sekadar bahan bacaan, tapi juga wujud pencarian serta perkembangan pemikiran penulisnya.
Untuk mengasah imajinasi terus-menerus, apa yang Bara lakukan? Serta apa hal yang biasa Bara lakukan saat kehilangan inspirasi dalam menulis?

Dari kecil saya memang senang mengkhayal. Imajinasi adalah salah satu hal, jika bukan satu-satunya, yang penting bagi hidup saya. Selama ini saya bergerak karena imajinasi dan akan terus demikian. Berimajinasi membuat saya instingtif, sudah otomatis.

Kalau untuk mengasahnya mungkin dengan, well, membayangkan yang belum ada, atau mungkin perlu ada. Membaca buku-buku dari penulis di negeri-negeri lain yang belum pernah saya kenal, film-film dari berbagai genre, mencoba hal-hal baru dapat menumbuhkan imajinasi jadi semakin subur.

Rasanya sampai hari ini saya belum pernah mengalaminya, kehilangan inspirasi. Inspirasi selalu ada karena kita selalu berpikir dan merenung, juga menyerap dan mengalami. Palingan yang sering kejadian adalah kehilangan mood, kalau sudah begini biasanya saya meninggalkan tulisan untuk melakukan hal-hal lain. Nongkrong sama teman-teman sambil ngopi, ke bioskop, atau sekadar main-main ke toko buku bisa jadi cara mengisi waktu rehat.

Selain karya tulis (novel, cerpen, esai) adakah bentuk karya lain yang ingin Bara coba lakukan?

Saya pengin bisa menulis skenario. Sudah pernah coba, tapi sifatnya sebagai latihan saja, belum untuk keperluan profesional. Tapi bentuk-bentuk tulisan yang itu, novel, cerita pendek, dan esai, sebetulnya bagi saya juga masih merupakan dunia yang sangat luas, banyak bagian-bagian yang belum saya jelajahi.

Pesan Bara untuk penulis muda yang masih berusaha menerbitkan buku?

Ubah mindset. Saat ini teknologi sudah berkembang. Buku enggak cuma berarti sesuatu yang berbentuk lembar-lembar kertas yang dijilid. Sekarang buku juga dapat berbentuk tulisan di layar gadget, buku elektronik, e-book, dan sudah banyak jalur-jalur menerbitkan tulisan atau buku.

Jadi, update dulu definisi “buku” dan “menerbitkan”. Bahkan, definisi “penulis” pun perlu disesuaikan. Menurut saya yang penting saat ini bukan menerbitkan buku, tapi cari tahu (bertanya ke diri sendiri) ingin jadi penulis seperti apakah dirimu? Buat apa kamu menerbitkan buku? Dan buku seperti apa yang ingin kamu terbitkan? Dan mengapa?

Perluas wawasan tentang industri buku. Pelajari industri buku, baik yang selama ini sudah ada maupun situasi terbaru. Lalu cari tahu ke diri sendiri, di posisi mana kamu ingin berdiri.

Baca Juga: Sukutangan: Pentingnya Memahami Naskah Dalam Menjadi Book Cover Designer