Beni Satryo: Puisi yang Baik, Puisi yang Berterima

Bagi seorang yang baru saja menikmati puisi, menemukan sebuah buku puisi yang sederhana, dekat, sekaligus membekas adalah sebuah mimpi yang tak muluk namun sepertinya agak sulit dicapai. Apalagi kalau kita lihat beberapa tahun ini ada sekian ratus judul buku puisi dalam dan luar negeri yang menghiasi display toko buku.

Ada yang sederhana, tapi tak membekas. Ada yang membekas, tapi seperti harus berupaya lebih untuk memanjat arti tersembunyi di balik bait-baitnya. Kadang, malah jika tidak dicari, sebuah buku puisi yang dekat dengan pembacanya, sederhana, tapi membekas malah menampakkan diri tanpa usaha menarik hati yang berlebihan. Bagi saya, buku-buku puisi Beni Satryo adalah buku yang tepat untuk pencarian saya selama ini.

Beni Satryo adalah (seperti yang diungkap olehnya) orang biasa yang memiliki sampingan sebagai penyair, alumnus Filsafat UGM yang lahir di Jakarta, 21 November 1988 dan sekarang aktif menjadi wartawan pada salah satu media terkemuka ibu kota. Ia telah menerbitkan dua buku puisi berjudul “Pendidikan Jasmani dan Kesunyian” serta “Antarkota Antarpuisi” yang baru terbit bulan Agustus 2019.

Puisi-puisinya tak jarang membuat saya tersenyum dan bertanya-tanya sendiri. Apakah saya adalah kaus kaki? Apakah saya adalah bungkusan gel silika? Apakah hatinya adalah “mie goreng cakalang” yang penah “diuyel-uyel garpumu yang jalang” seperti yang ia tulis di buku pwissie (baca: puisi) “Pendidikan Jasmani dan Kesunyian”? Bagaimana ia bisa membuat puisi-puisi yang sederhana tapi membekas luar biasa di hati para pembacanya?

Ingin mengetahui bagaimana proses pembuatan buku puisi, filosofi di balik pembuatan puisi-puisinya, wacana yang ia hadirkan lewat dua bukunya, serta bagaimana kondisi urban menjadi “rahim” puisi-puisinya, saya menghubungi Beni Satryo lewat kawan saya. Ditemui di bilangan Jakarta Selatan, berikut wawancara Crafters dengan Beni Satryo.

Baca Juga: Penulisan Kreatif: Apa Saja Hambatan dan Solusinya?

Beni Satryo: Puisi yang Baik, Puisi yang Berterima
(Dok. Beni Satryo)

Kapan tepatnya kamu menyadari jika kata-kata memiliki kekuatan untuk mempengaruhi seseorang?

Kalau untuk itu, mungkin pertama aku dengar lagu, bukan dari sastra. Aku senang mendengarkan lagu-lagu Iwan Fals. Terus liriknya kubaca. Lagu-lagu beliau banyak mengubah aku dan lingkungan teman-temanku saat SMP. Hanya dengan mendengarkan sebaris lirik lagunya membuat aku merasakan sesuatu yang “wah”. Sesepele itu.

Jadi kamu tipe yang mendengarkan lirik dulu atau melodi dulu saat mendengarkan lagu?

Tentu lirik dulu. Hehehe.

Bagaimana awal mula kamu memutuskan untuk menulis puisi?

Pertama kali aku mencoba menulis di buku diary; menulis lirik-lirik, lalu aku membagikannya kepada kawan-kawan. Pada zaman itu masih populer bertukar file diary. Ketika teks itu tidak bermelodi; dilepaskan dari lagu, tidak ada bunyinya, terus aku berpikir sepertinya ini menarik.

Katakanlah aku meminjam beberapa liriknya dan aku rubah sedikit kata-katanya. Waktu itu lirik yang aku ambil dari melodi tersebut digunakan saat mendekati perempuan. Lagu-lagu cintanya, tentu. Selepas itu masih terus menulis, sepertinya menarik. Baru pada masa SMA, kayaknya aku tertarik untuk–sederhananya–menumpahkan pikiran dalam bentuk kata-kata tanpa merubah lirik lagu orang, khususnya Iwan Fals. Itu bentuknya puisi. Ya puisi remeh-temeh zaman SMA. Enggak jelas.

Kamu pernah menulis cerpen atau novel tidak?

Cerpen pernah sih, tapi kalau novel enggak. Dulu saat menulis bentuknya paling seperti essay. Aku kesulitan menulis cerpen karena cerpen itu terbatas. Cerpen dan puisi itu berbeda. Kalau cerpen itu lebih seperti mereka adegan dan membayangkan dialog. Aku tidak memiliki kemampuan untuk membayangkan; kira-kira orang ini ngomong apa? Seperti itu. Lebih baik aku menceritakan kejadian daripada mengarang dialog. Ya, suatu kali mungkin aku tertarik menulis dalam bentuk itu. Beberapa kali aku sudah mencoba, tapi aku simpan sendiri. Cerpen-cerpen yang sudah kutulis belum untuk dipublikasikan. Aku belum berani. Hehe. 

Menurutmu elemen apa yang membuat sebuah karya puisi disebut puisi yang baik? Apa alasannya?

Puisi yang disebut baik itu, tentu berterima ya. Berterima itu aku tidak bicara licentia poetica (kebebasan memilih cara dan daya ungkap puisi-red)misalnya kamu seorang penyair dan bisa bebas membelok-belokkan logika dengan serampangan. Hanya saja, harus ada hal-hal yang logis juga di situ, meskipun dalam dunia semesta puisi.

Pertama puisi itu, harus tetap logis, artinya bisa kita terima. Kemudian dia menyediakan ruang yang cukup untuk pembaca. Aku membayangkan menulis puisi itu seperti membuat pagar. Saat aku menulis puisi, aku tidak akan membuat pagar yang sangat tinggi sehingga pembaca itu berpikir: ini tuh ngomongin apa sih? Aku berusaha agar puisi ini relate dengan orang. Artinya menyediakan ruang tafsir yang cukup, dan dia bisa dirasakan banyak orang. Bukan menyajikan hal-hal yang abstrak yang membuat para pembaca bertanya, “Ini maksudnya apa ya?” Maka dari itu aku banyak membuat puisi dari hal-hal yang mungkin bisa orang rasakan sehari-hari. Ya paling yang penting logis, relate, dan sederhana saja, tidak perlu terbebani dengan kata-kata yang puitis begitu. Biasa saja.

Beberapa orang sempat menyanjung kamu dengan mengatakan bahwa puisimu memiliki kadar kejenakaan meyerupai Joko Pinurbo. Dalam wilayah apa beliau mempengaruhimu dalam berkarya?

Ini hubungannya mungkin dengan buku yang pertama. Kalau buku yang pertama itu aku menulis puisi mengandalkan tenaga dalam. Seperti ya sudah, nulis ya nulis saja. Tidak perlu banyak dipikirin, apa yang dirasakan ya ditulis saja, mengalir saja. Dan mungkin power-nya itu  besar. Tetapi tentu ada hal-hal yang perlu diatur sedemikian rupa, termasuk kekuatan tersebut. Hal itulah yang aku lakukan di buku yang kedua.

Aku enggak banyak referensi penyair dari luar. Aku bacanya penyair-penyair dalam negeri. Aku selalu bilang di berbagai kesempatan. Yang memberi pengaruh cuma tiga orang; Sapardi, Joko Pinurbo, dan Iwan Fals. Jika Sapardi mungkin aku lebih banyak mengambil semangat lirihnya, yang tenang, yang mendayu.

Kalau Joko Pinurbo bukan kejenakaannya tetapi bagaimana dia menuturkan kata-kata suatu peristiwa dengan sepele, dengan hal-hal yang domestik, yang ada di sekeliling kita. Aku merasa memiliki spirit yang sama dengan beliau. Seperti itu. Aku berusaha untuk mencoba menjadi radikal gitu; aku memuja Joko Pinurbo tetapi aku harus memuntahkannya dengan hal yang berbeda. Dan mungkin dalam wilayah itu ada sedikit irisan gaya dan irisan semangat. Mungkin seperti itu sih.

Kamu cenderung tidak pernah mengumbar puisimu lewat social media seperti kebanyakan penulis lainnya. Mungkin ada, namun samar terlihat melalui status Twitter. Apakah kamu memiliki alasan khusus untuk memilih tidak menulis di social media?

Pertama, aku bukan penyair yang mengirimkan karyaku ke koran. Aku tidak besar di koran. Ya, setiap penyair punya medianya sendiri. Dan kenapa aku tidak mengumbar semua di media sosial? Tentu jawabannya adalah prinsip eksklusivitas. Haha. 

Ada beberapa yang aku bagi, misalnya untuk kepentingan membuat orang penasaran sehingga mereka bertanya-tanya aku lagi bikin puisi seperti apa atau aku lagi mempelajari puisi gaya seperti apa. Nah, itu yang aku cuplik dan kutaruh di Twitter. Membagikan apa yang sedang kukerjakan paling di Twitter karena aku besar dan masih aktif di Twitter. Dulu kan aku juga pernah jualan di Twitter. Hahaha. Tapi apa yang aku bagikan tidak semuanya.

Aku juga sebenarnya tidak ingin dianggap penyair. Aku ingin dianggap orang biasa yang menulis puisi. Apalagi di akun pribadi. Artinya aku bisa mengomentari apa pun. Tetapi di sisi lain aku punya sampingan menulis puisi. Jadi ya begitu. Tidak semua yang aku tulis di buku catatan aku bagikan semua di sana. Di bukunya saja nanti.

 

Beni Satryo: Puisi yang Baik, Puisi yang Berterima
(Dok. Kineruku)
Beni Satryo: Puisi yang Baik, Puisi yang Berterima
(Dok. Kineruku)

Kamu sering berkisah tentang gaya hidup kelas menengah perkotaan yang sarat dengan masyarakat industrialis dalam puisimu dan tak lupa kamu juga menyisipkan humor. Mengapa kamu memilih topik tersebut? Apa peranan humor dalam puisi-puisi kamu? Apakah ia menertawakan kondisi gaya hidup kelas menengah atau justru menyamarkan wacana yang ingin kamu bicarakan?

Sebelum menulis puisi, tentu aku harus dekat dengan apa yang aku tulis. Karena aku tumbuh dan berkembang di sana, jadi urban itu rahim dari puisi yang aku tulis dengan segala ketakjubanku akan kondisi urban. Aku kan dari daerah. Selama ini aku bangun pagi sampai malam, tidak ada kekontrasan yang kurasakan seperti di Jakarta atau kota besar dengan malam yang sepi dan kondisi pagi  yang sudah sangat berbeda; ramai dan panas. Seperti itu misalnya.

Aku menulis puisi dari tema-tema yang dekat sama aku. Yang bisa aku ceritakan dengan baik karena aku tahu, dan aku hidup di sana. Aku tidak secara niat atau sadar untuk membuat puisi yang lucu. Bukan begitu. Humor itu muncul dari efek yang aku ceritakan. Jatuhnya mungkin bisa humor, bisa satir atau bahkan datar saja. Dan kalau misalnya puisi-puisiku kesimpulannya banyak humornya, memang kehidupan kita di kota ini ya patut ditertawakan. Kira-kira semacam itulah. aku gak tahu, cuman kembali lagi aku tidak secara sengaja mau melucu. Tidak. Cuma ya humor tersebut merupakan efek yang muncullah dari puisi-puisi yang aku tulis soal urban atau kehidupan kota, manusia dengan rutinitasnya. Lucu ya ternyata. Hidup gini-gini saja, ternyata lucu.

Bagaimana kali pertama proses penerbitan buku Pendidikan Jasmani dan Kesunyian?

Sebenarnya tidak berniat untuk menerbitkan secara penerbitan dalam jumlah banyak. Dulu aku punya teman di MI, dia yang menggambar cover-nya. Dan aku punya puisi yang sejak zaman kuliah dan sudah sekitar 8 tahun menulis puisi dan aku ingin punya buku. Tetapi aku tidak mau mempublikasikannya. Eksklusif saja. Jadi cetak 3 atau 4; untuk aku dan Desta, temanku, dan sisanya untuk teman yang mau.

Jadi dicetaklah edisi yang pertama itu, jahitan gitu. Dengan kertas yang bagus, karena aku pikir kalau orang tidak punya suka puisinya minimal kamu menikmati desainnya. Kertasnya bagus. Gambarnya bagus. Akhirnya dicetak cuma dua. Waktu itu harganya 100ribuan. Dan waktu itu diunggah sama Desta di Instagram atau apa gitu. Dan saat itu ada satu orang, Mas Puthut, namanya melihat. Katanya, ”Lho, ini Beni bikin buku. Udah diterbitin aja di tempatku aja.” Lalu akhirnya dibuat dan dicetak di tempat dia, di EA Books.

Akhirnya dia menyuruh orang buat mengontak aku. Tapi waktu itu aku bilang, aku maunya jahitan juga, tidak mau buku yang kayak biasa gitu. Karena karya pertama. Terus dia bilang bisa, ya sudah akhirnya aku dikontrak, diterbitkan secara komersial. Begitu.

Adakah yang berbeda saat menerbitkan buku puisi pertama dan Antarkota Antarpuisi dari segi wacana yang dihadirkan?

Kalau dari wacana sih ada. Dalam menulis puisi, aku berniat menerbitkan buku perdana, aku juga mau ini bukan buku yang terakhir dan aku akan bikin beberapa lagi. Setelah buku pertama muncul, aku baca-baca lagi. Ada sekitar 3 tahunan membaca ulang, kira-kira apa saja yang bisa dikembangkan untuk buku kedua. Ada banyak lubanglah di situ. Banyak tema yang ingin kulepaskan. Oh, ternyata setelah aku bikin ini ternyata khalayak beranggapan jika puisiku itu banyak humornya dan membahas sekitar topik kuliner. Aku mau melepaskan identitasku itu. Bahwa aku juga bisa bermain di luar ranah yang lain.

Di bukuku yang kedua ini lebih tenang, lebih teratur, kalau dilihat secara kasar ya tema-temanya lebih teratur sih. Masih bicara kuliner, tetapi sedikit banget. Karena itu yang aku kembangkan. Aku enggak maulah main banyak-banyak di ranah kuliner, lebih ke mana lagi.

Sebagai seorang penyair, seberapa penting interpretasi pembaca akan puisi yang kamu buat?

Penting enggak penting sih. Interpretasi pembaca bisa penting buat mengukur seberapa efektif puisi yang kubikin bisa menggambar sesuatu di kepala mereka. Maksudku, kalau pembaca enggak punya interpretasi apapun terhadap puisiku, ya artinya puisi itu mati.

Dan, interpretasi pembaca kan macam-macam tuh, terkadang malah ada yang meleset jauh banget dari niat si pembikin puisinya. Nah, di titik ini, interpretasi itu (mau meleset jauh kek, atau bahkan persis banget) buatku enggak penting. Interpretasinya penting, tapi seberapa akurat interpretasi itu yang enggak penting.

Baca Juga: Joko Pinurbo: “Aku Menulis, Maka Aku Ada”

 

Beni Satryo: Puisi yang Baik, Puisi yang Berterima
Bedah buku puisi Beni Satryo di Post Santa (Dok. Instagram/post_santa)

Semisalnya berkolaborasi dengan ilustrator?

Kalau ilustrator masih lebih terbayang. Ya, aku ingin berkolaborasi dengan ilustrator.  Tentu saja. Dalam pikiranku kalau aku membuat 50 puisi mungkin ada 50 gambarnya. Mungkin untuk buku selanjutnya. Kita tunggu saja.

Buku apa yang kamu rekomendasikan untuk dibaca dan apa alasannya?

Kalau novel aku suka dengan Raden Mandasia dan Bumi Manusia. Kalau puisi, puisi yang aku suka mungkin malah, cringe gitu ya. Ada satu, tahun 70-an, Seno Gumira Ajidarma pernah bikin puisi gitu, judulnya Catatan-catatan. Kalau dibaca sebenarnya puisinya jelek gitu, haha. Cuma ya aku senang aja gitu. Dan itu, enggak banyak yang tahu Seno bisa bikin puisi. Senja-senjaan gitu lah, enggak jelas. Ya tentu Sapardi, Dukamu Abadi itu bagus. Lalu Joko Pinurbo yang Celana. Terus, aku menunggu Aan Mansyur yang baru ini sih. Penasaran.

Terakhir, apa pesanmu untuk mereka yang baru memutuskan untuk menulis puisi?

Apa ya. Haha. Enggak usah. Hahahahaha. Ya, tulislah puisi yang biasa saja. Kamu tidak perlu terjebak dengan puisi itu harus indah. Tidak. Yang penting kamu tahu apa yang kamu ceritakan di situ. Yang penting kamu paham cara mengembangkan dirimu. Intinya, tulisnya puisi yang dekat, tak usah membayangkan terlalu jauh. Tema-tema sederhana juga bisa ditulis. Enggak perlu cinta-cintaan melulu. Yang penting sederhana. Begitulah pokoknya.

 

Apakah kamu seorang penulis yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?