Belajar Mengerti Tantangan dari Kolaborasi Brand & Influencer

Bagaikan telur dan ayam, saat brand bekerja sama dengan influencer atau sebaliknya, pasti ada saja tantangan/kendalanya, entah siapa yang memulai. Semakin tidak dikomunikasikan, masalahnya bisa semakin besar dan besar hingga berakhir kacau dan promosi produk pun gagal.

Hal ini tidak jarang dialami oleh kedua belah pihak. Lewat Indonesia Creative Meetup dengan tema Influencer 101: Tips Kolaborasi dengan Klien, GetCraft membahas isu ini dengan narasumber dari kedua belah pihak langsung. Mengundang Michael Gunawan, seorang Social Media Influencer dan Muhammad Widi Prastomo, selaku Social Media Manager GO-JEK, hal ini didiskusikan secara terbuka dengan para peserta yang hadir.

Sedikit pendahuluan, bahwa Influencer Marketing saat ini termasuk sebuah usaha Native Ads yang punya demand tinggi di GetCraft. Tidak hanya asal bicara, memang kesuksesan Influencer Marketing ini dibuktikan dengan hasil engagement yang tinggi. Dengan hasil yang begitu baik, keefektifan biaya yang dikeluarkan untuk Influencer Marketing juga mendukung laku kerasnya bentuk marketing yang satu ini. Apa yang bisa dihasilkan dari kegiatan Influencer Marketing? Tentu, untuk meningkatkan Brand Awareness si target pasar brand.

Di Indonesia Creative Meetup lalu, GetCraft bekerja sama dengan Sucor Sekuritas dan Maubelajarapa. Hasilnya? Ada banyak kunci dan tips yang disampaikan juga oleh para narasumber sebelum panel diskusi dimulai.

Baca Juga: Tips Sukses Influencer Menambah Followers di Media Sosial

 

Belajar Mengerti Tantangan dari Kolaborasi Brand & Influencer
Kedua pembicara di Indonesia Creative Meetup
Berawal dari tantangan keduanya

“Klien itu banyak mau, tapi enggak mau tahu,” kata Widi, yang cukup valid rasanya mewakili klien karena ia sudah berkecimpung di sisi klien di waktu yang cukup lama.

Memang, kedua narasumber dari sudut pandang yang berbeda ini memulai pembicaraan dengan tantangan-tantangan yang umum dihadapi mereka masing-masing saat kolaborasi berjalan. Michael Gunawan, influencer dengan lebih dari 60.000 followers ini mengatakan bahwa ia mengalami tantangan-tantangan sebagai berikut: brief yang berganti-ganti dari klien, pembayaran yang lama turun, klien yang pelit dalam menjelaskan brief secara detail serta budget yang minim, konten yang challenging untuk para influencer, juga konten yang terlalu hard-selling untuk para influencer ini.

Tidak diragukan, saat bekerja sama, brand dan influencer harus mulai mengerti posisi satu sama lain, tidak hanya menjalankan pekerjaan sekenanya saja untuk hasil yang maksimal. Maka itu, kedua narasumber sepakat jika kedua belah pihak melakukan komunikasi yang baik, maka segalanya akan lebih mudah.

Dari sisi klien sendiri, Widi mengatakan bahwa klien juga selalu memiliki tantangan yang tidak kalah rumitnya dengan si influencer. Menurutnya, dalam bekerja sama dengan influencer, ia sering menghadapi hal-hal seperti para influencer yang merasa berpengalaman dan enggak terlalu menganggap serius briefinfluencer yang terkadang sering mengambil shortcut dalam pembuatan kontennya dan tricky-nya para influencer dalam menyampaikan dan mengeksekusi target engagement yang mereka janjikan. Sama-sama pusing? Mari cari tahu solusinya.

Baca Juga: Apa Langkah Selanjutnya untuk Para Influencer?

 

Belajar Mengerti Tantangan dari Kolaborasi Brand & Influencer
Peserta yang hadir di Indonesia Creative Meetup
Diakhiri dengan solusi

Hal apa saja yang bisa dilakukan kedua belah pihak untuk menghindari kusutnya kolaborasi tersebut? Michael menyampaikan bahwa, ada enam pilar penting yang perlu dilakukan oleh influencer tiap kali bekerja sama dengan brand. Yang pertama, ukur dengan baik angka yang bisa influencer hasilkan dan berikan ke klien dengan jujur. Selanjutnya, jadilah seorang influencer yang responsif, artinya, jangan sulit dihubungi! Lalu, Michael melanjutkan dengan sebuah kalimat “your attitude determine your career.” Michael percaya bahwa dengan bersikap sopan, klien akan menghargai influencer lebih baik lagi.

Tidak selesai di situ, ia juga mengingatkan para influencer untuk selalu merangkai konten dengan baik. Jangan cuma asal-asalan, apalagi asal jadi. Jangan lupa juga bahwa influencer memiliki hak untuk tegas. Artinya, jangan menjadi yes man untuk para klien. Sampaikan suara kalian dan berani mengatakan tidak di awal jika kalian tidak setuju dengan brief yang disampaikan. Yang terakhir: jadilah profesional! Jangan pernah kabur dan menghilang di tengah project atau melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan.

Lain lagi jika bicara dari sisi para brand. Widi juga menyampaikan tiga hal penting yang perlu dilakukan klien dalam kerja samanya dengan influencer. “It’s not about you, jangan ikutin terus ego kamu. Duduk bareng dan lakukan tujuan project/campaign sampai tuntas,” tegasnya. Yang kedua, ia menjelaskan betapa pentingnya “collaborate with compassion”, artinya, untuk bekerja sebagai partner–bukan atasan dan bawahan yang bisa berdampak pada komunikasi buruk. Yang terakhir, Widi mengingatkan untuk selalu menghargai kritik. “Jangan baper kalau dikasih masukan,” jelasnya.

Di akhir diskusi, para panelis, moderator dan peserta sepakat bahwa dari semua permasalahan yang sering dihadapi brand dan influencer, solusinya adalah berkomunikasi dengan baik selama proses kerja sama tersebut berlangsung. Bicarakan semua kendala dan sampaikan semua pertanyaan untuk mengindari hasil yang tidak maksimal.