Crafters

Portal konten yang fokus mengangkat beragam hal seputar industri kreatif. Mulai dari wawancara, laporan khusus, sampai tips dari para kreator yang berkarya di bidang seni, kebudayaan, bisnis kreatif, dan teknologi.

Melalui Crafters, kami ingin memberikan kontribusi untuk perkembangan industri kreatif di Asia Tenggara.

Dikelola oleh

Sign up to receive bi-weekly creative inspiration, delivered directly to your inbox!

Banana Publisher: Serunya Dunia Penerbitan dan Masa Depan Peminat Buku

Beberapa waktu lalu, beredar meme di linimasa Facebook yang membuat dahi saya mengernyit. Dalam meme tersebut, tersirat gagasan si kreator mengkritik ungkapan yang dilontarkan para ahli mengenai rendahnya minat baca orang Indonesia, dan membandingkannya dengan harga buku di pasaran.

Seolah-olah lewat meme dengan tempelan muka Zac Efron itu, si pembuat meme tidak setuju dan menggumam, “Bagaimana minat baca orang Indonesia enggak rendah kalau harga buku saja mahal sekali, sekitar 50-80 ribu per satu buku?” 

Barangkali, si pembuat meme juga muak dengan sekian artikel yang beredar mengungkapkan rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Atau barangkali ia marah, sebab jika minat baca masyarakat rendah, tentunya akan berdampak pada aspek lain seperti struktur pemikiran yang kurang oke, tempramen pendek, atau lain sebagainya. Bisa juga, itu hanya ungkapan dongkol karena si pembuat meme tidak mampu membeli buku yang sangat ingin ia baca. Siapa yang tahu?

 

Banana Publisher: Serunya Dunia Penerbitan dan Masa Depan Peminat Buku
Meme yang beredar soal mahalnya harga buku (Dok. Istimewa)

Namun, berkat meme tersebut, timbul pertanyaan dalam benak saya: apa benar minat baca masyarakat di negara yang saya tinggali ini sedemikian rendah karena harga buku yang mahal? Kok sepertinya, tiap waktu masih saja penerbit baru bermunculan menerbitkan banyak judul buku baru? Bagaimana sebenarnya iklim industri perbukuan yang ada di Indonesia sekarang ini; hal baik dan buruknya?

Mencari jawaban atas sederet pertanyaan itu, saya mewawancarai Yusi Avianto Pareanom, seorang penulis, editor, dan juga pendiri Banana Publisher yang saya temui usai prafestival JILF (Jakarta International Literary Festival) di Pasar Santa beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Yusi Avianto Pareanom: Menulis Itu Butuh Ketekunan dan Kekeraskepalaan dalam Derajat Tertentu 

 

Banana Publisher: Serunya Dunia Penerbitan dan Masa Depan Peminat Buku
Salah satu buku yang diterbitkan oleh Banana Publisher (Dok. BaNANA Publisher)
Bicara sebagai penerbit, menurut Mas Yusi, apa saja hal baik dan buruk di industri penerbitan kita saat ini?

Hal baiknya banyak. Kita punya banyak penulis dari segala lapisan umur, garapan tema yang beragam, dan sebagainya. Bicara penerbit mainstream, mereka itu memiliki kecenderungan latah. Saat satu jenis buku laris, penerbit mainstream ini akan mengeluarkan buku-buku serupa. Hal itu tidak melanggar hukum, dan barangkali juga yang membuat mereka besar karena pintar membaca pasar.

Kebaikannya mungkin itu, tapi memang harus selalu ada tawaran yang berbeda. Sama seperti makan. Agar seimbang, ada menu karbohidrat, daging, dan sayurnya. Kalau makan yang manis-manis melulu kan berbahaya. Begitu juga seperti tawaran buku di pasar.

Mungkin niatanku sebagai penerbit dengan modal kantong sendiri berangkat dari keinginan untuk mengajukan tawaran yang berbeda. Supaya bisa terus berbeda ini memerlukan kemulusan bisnis yang berjalan. Kalau dari segi bisnisnya enggak jalan, habis modalnya. Agar bisnisnya tetap berjalan, mesti ada kekeraskepalaan juga. Ibaratnya, kalau di sana menunya ayam goreng tepung, di sini ayam dengan sambal kecombrang. Tapi bukan berarti yang di sana tidak bagus loh, ya.

Lagi pula, kalau mengikuti produk masal, modal kami tak akan kuat. Ambil contoh terjemahan buku dari negara-negara belahan Barat yang sudah laris seperti Harry Potter dan Yuval Noah Harari. Bukannya kami tidak ingin menerbitkan, tapi kami enggak kuat kalau harus beli copyright yang mahal sekali.

Apa yang mendorong Mas Yusi memutuskan membuat penerbitan buku sendiri?

Mungkin ini alasan yang agak personal. Makanya enggak kunjung kaya sebagai penerbit, hahaha. Aku ini ingin lebih banyak orang membaca buku yang aku suka dan menurutku asyik. Beberapa berhasil, beberapa tidak. Tidak apa-apa. Nanti akan ketemu formula yang makin pas supaya dari segi bisnis pun tetap bisa jalan.

Bagaimana Mas Yusi sebagai pelaku penerbitan buku (sekaligus penulis) melihat perkembangan industri buku di Indonesia?

Lagi-lagi untuk menjawab pertanyaan kuantitatif, aku tidak memegang data. Teman-teman yang di penerbit mainstream biasanya memegang data tersebut. Namun, dari kegiatan-kegiatan seperti pameran buku, kan mendatangkan pengunjung banyak. Nilai transaksinya juga besar, baik acara cuci gudang akhir tahun penerbit besar seperti Big Bad Wolf, Patjar Merah dan lain sebagainya. Selain itu  banyak pula bermunculan toko buku komunitas seperti Post Santa, Kineruku, dan toko buku daring.

Mungkin perbedaannya, kalau dulu untuk menjual buku harus masuk toko buku besar, sekarang gerainya jauh lebih banyak. Yang pemain besar tetap bisa menjalankan jaringan toko buku besar. Sementara itu, pemain-pemain kecil bisa dengan sesama toko buku kecil. Menurutku, sekarang jadi lebih atraktif daripada sepuluh tahun yang lalu, misalnya.

Menurut Mas Yusi, apa kekurangan dari para penerbit indie dan online (daring) yang belakangan bermunculan?

Pertanyaan ini terlalu luas kalau dijawab dengan jawaban tunggal. Begini, mendengar kabar ada orang baru yang ingin dan memutuskan untuk menerbitkan, aku tetap gembira. Terlepas dari motivasi mereka ingin sepenuhnya menjalankan bisnis, atau ada yang lain, ketika mereka memilih bisnis buku, keinginan yang muncul dalam kepala mereka kan berkaitan dengan membangun literasi. Meskipun keinginan itu sangat paralel dengan keinginan berbisnis hingga namanya besar. Aku tetap senang.

Hanya saja, mau penerbit baru atau lama, kalau bisa, alih-alih latah, mereka bisa mengangkat penulis baru yang sebenarnya oke dengan kurasi yang bagus. Bisa juga mengangkat penulis bagus dari daerah yang tidak kita ketahui atau menerjemahkan karya-karya penting tapi tidak cukup dikenal di Indonesia.

Kembali ke penerbitnya. Kalau misalkan dia mau menerbitkan buku proyekan yang dibeli untuk tujuan tertentu, ya itu silakan saja. Tidak masalah sih, artinya saya tidak punya masalah personal.

Pasar buku Indonesia tak hanya mencakup buku fisik. E-book pun sudah memiliki peminatnya sendiri dan dipilih beberapa orang sebagai alternatif bentuk.  Menurut Mas Yusi, apakah itu berarti buku fisik nantinya akan kehilangan peminatnya terutama di Indonesia?

Aku enggak tahu, tapi kalau sampai 10 tahun ke depan rasanya belum. Yang paling terpukul dengan digitalisasi itu sebenarnya surat kabar dan majalah konvensional. Kalau buku, lain ceritanya sebab banyak orang lebih senang memegang buku fisik. Beberapa ada yang merasa enggak kuat kalau membaca terlalu banyak dengan huruf kecil. Lagi pula ada kebanggaan ketika seseorang memegang buku untuk dipamerkan. Hal-hal tersebut juga berpengaruh.

Ke depan, untuk generasi yang jauh lebih muda dariku, semisal seumuran anak bungsuku yang berumur 17 tahun, kegiatan membaca sudah pasti melalui media digital. Sekarang pun sudah begitu. Tapi, pada saat yang bersamaan, buku dapat menjadi collectable item. Jadi, sampai 10 tahun ke depan rasanya buku fisik masih memiliki peminat yang tinggi.  Moga-moga aku masih bisa bertahan sampai 10 tahun ke depan.

Dalam industri penerbitan buku belakangan ini, sering saya temui ‘jualan’ tema cerita soal isu sosial dari kekerasan Orde Baru dan hilangnya aktivis ’98. Menurut Mas Yusi sampai seberapa jauhkah tren perbukuan dengan tema tersebut akan terus diminati oleh para pembaca, dan membentuk sastra Indonesia?

Munculnya tema seperti itu wajar, sebab dulu saat kita ingin membicarakan sesuatu terhalang pemerintah. Represi yang dilakukan pemerintah pada saat itu membuat penulis dan penerbit memakai jalan yang memutar. Sekarang bisa lebih mudah, lebih lugas. Meski demikian, persoalannya lagi-lagi seperti dari jawabanku sebelumnya, bukanlah tema atau agenda, tapi bagaimana kau menceritakan itu.

Tidak ada karya yang tiba-tiba menjadi bagus melulu karena tema yang diusungnya. Misalnya, tentang perempuan penderita kesehatan mental yang dipasung. Memang sangat penting memperjuangkan kemanusiaan, tapi kalau ceritanya jelak, ya orang tetap tidak tertarik. Semua orang tahu isu itu penting, tapi bagaimana kau bisa meyakinkan pembacamu kalau kamu saja tidak beres membuat kalimat, menyusun plot, dan karakter-karakternya tidak meyakinkan?

Kamu bisa mengangkat cerita-cerita yang sebetulnya kelihatan klise di permukaan, tapi memiliki penceritaan yang memukau. Pembaca pun akan menyimpulkan, “Oh… Oke… Mungkin ada yang lebih penting dari sekadar ini.”

Baca Juga: Langkah Membuat Puisi Menurut Joko Pinurbo

Beberapa tahun lalu sempat ada seorang penulis yang memprotes regulasi pemerintah soal pajak penulis yang amat besar. Sebagai seorang penulis dan pelaku industri buku, bagaimana tanggapan Mas Yusi terhadap regulasi pemerintah soal pajak penulis dan ekosistem perbukuan di Indonesia?

Satu, setiap warga negara yang baik harus bayar pajak.  Aku percaya itu. Seberapa besar kisarannya dan seperti apa aturan mainnya, mari duduk bersama untuk memutuskan jumlah yang adil. Nantinya hal ini berlaku juga di industri kreatif lainnya seperti industri perfilman; seberapa besar sih sebetulnya patokan pajak bagi pelaku industri kreatif

Istilah industri kreatif itu masih baru. Maksudku, kata “kreatif” dilekatkan dengan kata “industri”, penggunaannya itu baru digunakan belakangan ini. Jadi, mungkin nanti akan ketemu. Aku enggak tahu kapan. Aku enggak mengamati, tapi pasti ada formula yang pas untuk menentukan besaran pajak yang dikenakan ke seorang pelaku industri. Terlepas dari hal itu, pada prinsipnya seorang warga negara yang baik mesti membayar pajak.

 

Apa kamu seorang kreator yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?

June 28, 2019
Edward Suhadi Berbagi Tips Panduan Produksi Konten Video
Simak penjelasan tahapan produksi video secara umum dan tipsnya dari Edward Suhadi berikut ini.
July 2, 2019
Panduan Membuat Video dengan Format Flat Lay
Ternyata, membuat video dengan format flat lay tidak sulit, lho. Pelajari hal-hal penting dalam...