Bagaimana Cara Tirto.id Menggarap Infografik dan Visual Report?

Rupert Murdoch, seorang jurnalis senior Australia mengatakan bahwa “Great journalism will always attract readers. The words, pictures and graphics that are the stuff of journalism have to be brilliantly packaged; they must feed the mind and move the heart.” Kutipan ini saya rasa sangat melambangkan sebuah media lokal yang cemerlang di usia media yang masih sangat muda: Tirto.

Lahir pada 2016, Tirto hadir sebagai media yang cukup membawa penyegaran berkat produksi infografik dan multimedia yang selalu menarik untuk disimak. Selain itu, tulisan-tulisan yang terbit melalui Tirto juga dinilai berkualitas tinggi oleh pembacanya.

Diambil dari nama seorang pahlawan nasional, bapak pers Tirto Adhi Soerjo, media ini hingga sekarang terus mengembangkan konten-konten visualnya yang saat ini dikepalai oleh seorang manajer multimedia bernama Sabda Armandio Alif, yang biasa disapa Dio. The Crafters berkesempatan mewawancarai Dio untuk bicara dan belajar tentang produksi infografik dan laporan visual ala Tirto (Tirto Visual Report).

Tirto.id (Dok. Giphy)
Standar Tirto

Dio menceritakan awal mula visi misi Tirto sejak ia bergabung sebagai desainer. Saat itu, Tirto baru berumur enam bulan dan masih berbentuk beta. Saat itu, tim Tirto sudah memiliki konsep infografik (data driven journalism), namun belum tertata seperti sekarang. Kemudian, Dio dan tim berusaha mengajukan beberapa bentuk untuk infografiknya yang akhirnya berjalan hingga launching Tirto. Ternyata, standar yang ia terapkan sejak saat itu masih digunakan Tirto hingga sekarang.

Menyinggung soal target pasar, Dio menjelaskan bahwa sebenarnya Tirto mengincar pasar yang sama seperti Kompas, Detik, dan media lain. Namun, ia sangat memperhatikan pembaca. “Kalau konsepnya tidak bisa blend ke anak-anak muda, saya pikir kami akan sulit mendapatkan pembaca,” jelasnya. Memang, mengingat laporan Tirto yang banyak bersifat long-form (laporan panjang) dan bisa berjilid-jilid, wajar saja jika Dio, sebagai desainer saat itu khawatir tidak akan mendapatkan banyak pembaca. Maka itu, ia memutuskan untuk menggunakan salah satu trik ampuh yaitu desain infografik yang dekat dengan pasar pembaca yang diincar pada saat itu.

Baca juga: Majalah Lifestyle Belum Menyerah di Era Digital

“Saat itu kami memutuskan untuk membuat konsep. Bentuk tulisan dari para reporter boleh sangat serius dan proper secara jurnalistik, tapi kita tetap merebut demografi pembaca dari umur 20-30,” ujarnya. Bagaimana caranya? Kemudian ia melakukan bermacam-macam riset yang juga dibantu dengan tim yang berisi individu-individu dengan rentang umur yang sama dengan target pembaca Tirto.

 

Infografik Tirto
Contoh infografik Tirto (Dok. Tirto)

“Jadilah, terbentuk seperti sekarang, ada diversity dari pembaca Tirto,” tuturnya. Saat ini, Tirto dikenal dengan infografiknya yang kreatif dan tanggap isu. Suntikan-suntikan humor dan pop-culture dalam infografik yang diterbitkan Tirto dianggap sebagai karakter khas infografik yang menonjol dari media tersebut.

Lihat juga: Para desainer infografik dan GIF yang sudah bergabung di marketplace GetCraft

Faktanya, Tirto telah lolos verifikasi dari International Fact-Checking Network (IFCN) pada awal 2018. Setelah berjuang untuk uji verifikasi selama satu tahun, akhirnya Tirto mendapatkannya. Menurut Dio, walaupun sebagian orang menganggap ini hanyalah label, namun ini adalah hal yang sangat penting bagi sebuah media. Menurutnya, pengaruh dari verifikasi tersebut sangat signifikan. “Mengingat banyak sekali produksi berita palsu (fake news dan hoax), salah satu tujuan verifikasi ini adalah untuk menunjukkan bahwa berita ini tidak hoax.” Jelas, data juga menjadi salah satu standar terpenting untuk Tirto.

Karena kembali lagi, bahwa prinsip utama jurnalistik adalah si berita. Tulisan harus punya nilai untuk publik, jadi publik nggak sia-sia baca itu.
Proses infografik dan Tirto Visual Report

Pernah melihat infografik Tirto? Kalau belum pernah, saya yakin Anda tidak bisa berhenti membaca setidaknya hingga 30 menit ke depan. Kemudian Dio menjelaskan bagaimana proses yang dilakukan ia dan timnya saat memproduksi infografik-infografik tersebut.

Sebagai manajer multimedia, ia menjabarkan bahwa pusat pertama dari sebuah infografik adalah tim riset Tirto. Setiap data yang ada di dalam infografik Tirto disediakan oleh tim ini. Baru kemudian, data-data tersebut didistribusikan ke tim penulis dan storyboard artists. Tugas divisi ini adalah untuk merangkum data yang ‘membosankan’ itu menjadi lebih mudah dimengerti dan dipahami, namun tetap tidak menghilangkan esensi dari data itu sendiri.

“Setelah itu dilempar ke desainer untuk mereka mengerjakan visualnya, lalu ada pemeriksaan terakhir itu ada dari supervisi infografik itu sendiri untuk memeriksa typo dan tampilan akhirnya. Setelah itu baru, setiap beberapa waktu sekali, kami mengadakan review infografik yang sudah publish. Apakah ini sebaiknya gaya seperti ini perlu dipertahankan dan mana yang tidak. Review ini dipimpin oleh Art Director,” jelasnya.

Baca juga: Fenomena Sponsored Content dalam Comic Strip

Secara personal, saya mengakui bahwa infografik Tirto lebih sering saya baca lewat media sosial mereka. Untuk hal ini, Dio menjelaskan memang setelah melakukan riset di awal, ia merasa bahwa media sosial merupakan corong utama untuk sharing berita dan penggunanya sangat beragam.

“Jadi, kita pakai rasio yang sudah didukung dengan Instagram atau Twitter, jadi bisa di-share di mana saja dan kapan saja. Kami menghindari infografik-infografik yang visualnya panjang, Karena kembali lagi, bahwa prinsip utama jurnalistik adalah si berita. Tulisan harus punya nilai untuk publik, jadi publik nggak sia-sia baca itu,” tuturnya. Maka itu, untuk menyiasati itu, infografik Tirto tidak pernah hanya terisi dengan data, namun juga rangkuman dari berita yang diangkat. Hanya visualnya saja yang disesuaikan dengan tampilan platform media sosial untuk mendukung penyebaran konten tersebut.

Untuk terus mencari tahu tentang teknologi juga menjadi hal yang penting untuk Tirto. Agar dapat terus merespon teknologi, Tirto banyak membuat konten interaktif yang risiko gagalnya cukup besar. Namun, dengan kerjasama tim yang baik, mereka berhasil menerbitkan salah satu berita interaktif yang sangat dikenal. Yaitu sebuah artikel tentang isu Reformasi 1998Tirto menyebut artikel sejenis ini dengan nama Tirto Visual Report (TVR).

Tirto.id Infografik Visual Report
Salah satu contoh TVR Tirto (Dok. Tirto.id)

“Prosesnya mirip dengan infografik, tapi jauh lebih rumit karena ini tugas lintas divisi. Sebenarnya di awal, TVR itu lahir, kebutuhannya untuk upgrade dari sistem infografik yang still jadi lebih menarik. Untuk merespon teknologi juga, berhubung sudah ada website yang responsif, jadi ya kita coba pakai itu untuk mengembangkannya.” jelas Dio.

Memang, jenis visual report seperti ini sudah lama ada di situs-situs berita lainnya seperti Kompas dan DetikX. Namun, khas dari Tirto yang tidak hilang adalah pengaplikasian humor dan pop kultur di dalamnya. Jadi, desain yang mereka buat selalu lebih dekat dengan anak muda, tapi juga tidak pernah keluar dari kode etik jurnalistik yang dijunjung tinggi oleh tim Tirto. Saat ini, rata-rata Tirto menerbitkan 12 hingga 14 infografik setiap harinya. Untuk TVR sendiri, Dio mengaku saat ini masih terus mengembangkan produksinya agar maksimal. Konten interaktif berisi berita yang saat ini terbit satu bulan sekali, diharapkannya terbit lebih sering dan konsisten di waktu mendatang.