Aziz Comi Kariko: Lirik Lagu Sebagai Medium Bercerita

Pada 2016, saya dan teman-teman terkejut ketika nama pemenang nobel sastra diumumkan. Komite yang biasa menganugerahkan figur besar atas sumbangsihnya terhadap ranah kesusastraan itu memberikan titel pemenang kepada Bob Dylan, seorang musisi dan penulis lagu, “untuk membuat ekspresi puisi yang baru dalam tradisi besar lagu Amerika.”

Sontak, seluruh teman-teman saya yang menggemari karya Bob Dylan tersenyum lebar. Baru kali ini seorang penulis lagu diakui keberhasilannya dalam membentuk kesusastraan dunia. Menangnya Bob Dylan seolah menjadi pernyataan jika lirik lagu adalah produk sastra yang tak kalah rumit, indah, serta memiliki nilai universal seperti produk sastra lainnya. Kemenangan si penutur tembang Blowin’ in the Wind dan Tangled Up in Blue tersebut pada akhirnya mendorong saya berpikir, bagaimana dengan lirik lagu Indonesia?

Bicara lirik lagu Indonesia, pasti tak lepas dari pembahasan mengenai tren musik yang berkembang di negara ini. Di era sekarang, saat penyanyi dan band berlomba merebut perhatian dengan gimmick serta unsur puitis, kita dihadapkan dengan serangkaian lirik indah dan beragam. Pembahasannya pun banyak, ada yang membawa persoalan romantika, isu sosial, kepercayaan, hingga balutan pandangan politik. Tapi sampai sejauh mana sih sebenarnya perkembangan lirik lagu di Indonesia sekarang ini? Bisakah seseorang sepenuhnya menjalani profesi sebagai penulis lirik lagu, mendedikasikan hidupnya untuk menulis lirik lagu hingga akhirnya mampu menandingi kepiawaian Bob Dylan dan mendapatkan pengakuan dari komite Nobel Sastra?

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kepenulisan lirik, saya menghubungi Aziz Comi Kariko. Sebagai seorang pemain bass yang aktif, Aziz Comi Kariko juga menulis lagu untuk kedua band-nya; Payung Teduh yang membawakan tembang-tembang puitis dan memiliki banyak penggemar serta Logam Mulia, band metal yang lagu-lagunya sarat isu sosial. Di luar aktivitas bermusiknya, Aziz Comi Kariko juga bekerja sebagai dosen Sastra Inggris di salah satu perguruan tinggi swasta Indonesia.

 

Aziz Comi Kariko: Lirik Lagu Sebagai Medium Bercerita
(Dok. Payung Teduh)
Aziz Comi Kariko: Lirik Lagu Sebagai Medium Bercerita
(Dok. Logam Mulia)

Baca Juga: Bicara Buku Anak Sembari Nyore Bersama Reda Gaudiamo

Berikut wawancara Crafters dengan Aziz Comi Kariko, membahas proses penulisan lirik lagu di Payung Teduh dan Logam Mulia hingga bagaimana pekerjaan di luar dunia musik mempengaruhi karyanya.

Boleh diceritakan sejak kapan kamu tertarik menekuni bidang musik dan memutuskan untuk turut membuat lirik lagu baik itu bagi Payung Teduh dan Logam Mulia?

Sebenarnya, aku bisa dibilang agak telat untuk belajar musik. Teman-temanku sudah belajar main gitar dari SMP, tapi aku mulai bermusik semenjak SMA kelas 1. Waktu itu aku mulai sering menonton MTV dan kebetulan punya teman yang jago bermain gitar. Akhirnya aku belajar gitar sedikit-sedikit. Tapi yang aku pelajari itu lebih ke permainan bass, enggak murni gitar. Kenapa? Karena sepengetahuanku, dulu pemain bass itu jumlahnya sedikit. Tidak banyak yang mempelajari instrumen itu. Jadi ya sudah, aku belajar bermain gitar dan bass sedikit-sedikit sama temanku.

Selain itu, kebetulan juga kakak iparku, Willy Soemantri adalah seorang musisi yang memiliki sekolah musik. Dia menawarkan ke aku untuk ikutan kursus di sekolah musiknya. Kakak iparku bertanya, “Mau belajar main instrumen apa?” Aku bilang sama dia mau belajar main bass meskipun aku enggak tahu dasar bermain instrumen itu sama sekali. Setelah dari sekolah musik itu, aku melanjutkan kursus di tempat lain juga seperti Farabi Musik. Kemudian aku dan teman-teman membentuk Payung Teduh.

Dulu itu yang membuat lirik Payung Teduh biasanya Mas Kecak, sutradara teater kami, Is, dan Cito. Namun untuk single kedua Payung Teduh yang akan kami rilis sebelum akhir tahun ini aku yang menulis.

Bicara menulis lagu, sebenarnya aku malah menulis lirik lagu untuk Logam Mulia terlebih dahulu daripada untuk Payung Teduh. Dari lima lagu yang telah kami rekam, empat diantaranya aku yang menulis meskipun pada akhirnya itu adalah kolaborasi bareng-bareng. Cuma ada tiga lagu yang aku mulai; Musuh PublikSang Penghasut dan Seni Manipulasi. Intinya di Logam Mulia, kami semua menulis lirik.

Apa elemen-elemen terpenting dalam sebuah kepenulisan lirik lagu yang baik?

Liriknya itu jujur dan enggak pretensius. Bicara soal tema, kalau di Logam Mulia dengan warna musik rock atau metal, pilihannya memang bisa lebih luas karena dapat mencakup banyak isu yang berkembang seperti isu sosial. Untuk musik seperti Payung Teduh dengan warna musik pop, cakupan tema liriknya enggak seluas musik rock. Intinya, bagaimana pun warna konsep musik yang ingin dihadirkan, tema yang terkandung di dalam lirik adalah yang dekat dengan kita supaya apa yang disampaikan juga jujur.

Dari mana sajakah datangnya inspirasi menulis lirik lagu berasal?

Dari pengalaman pribadi, game, buku, isu sosial… juga dari cerita temanku mengenai birokrasi bertangan besi dan sangat hierarkis seperti yang coba aku tuangkan di lagu Seni Manipulasi.

Dari harapanku akan masa depan bersama Kyra, anakku, yang coba aku tuangkan dalam single kedua Payung Teduh tahun ini.

Pada awalnya, inspirasi-inspirasi yang dituangkan lewat lirik lagu tersebut seperti cerita menggantung. Lewat campur tangan teman-teman, lirik lagu tersebut berkembang dan meluas menjadi cerita yang utuh–lagu yang utuh.

 

Aziz Comi Kariko: Lirik Lagu Sebagai Medium Bercerita
Selain aktif di bidang musik, kamu adalah dosen pengajar di jurusan Sastra salah satu universitas swasta Jakarta. Bagaimana aktivitas sebagai dosen pengajar tersebut turut membantumu dalam mengembangkan karya, utamanya ketika menulis lirik lagu?

Kelas adalah ruangan yang sangat cocok untuk berdiskusi soal gagasan, lirik, dan berbagi mengenai pengalaman pribadi. Menurutku, menulis adalah menggali perasaan atau pengalaman yang ada di kita dan menuangkannya menjadi sebuah lirik. Daripada perasaan itu menguap begitu saja, lebih baik ditulis dan dijadikan karya supaya orang lain juga bisa relate dengan yang kamu alami.

Sebagai dosen, aku mengajar Creative Writing atau kelas kepenulisan kreatif. Dalam kelas itu aku sering sharing ke murid-muridku. To write is not that difficult. Jadi aku selalu kasih tunjuk ke mereka. “Ini lagu-lagu gue. Ini liriknya. If I can do this, then you also can do it.” Dan akhirnya, murid-muridku juga akhirnya lebih percaya diri untuk menulis. Seenggaknya dengan menunjukkan karyaku, aku memberikan inspirasi kepada mereka. Tulisan murid-muridku pun jadi keren-keren semua.

Lirik lagu sama seperti bentuk kepenulisan lainnya sering dijadikan objek analisa sastra. Tak jarang objek-objek sastra tersebut mengandung arti lain dan dicacah berdasarkan teori sastra yang dikenal sampai sekarang. Dapatkah kamu menceritakan teori-teori sastra apa saja yang turut membantu dalam menulis lirik lagu untuk Payung Teduh dan Logam Mulia?

Kami selalu memakai figurative language (kiasan); metaphor (metafora) and hyperbole (hiperbola) untuk Payung Teduh. Untuk Logam Mulia sih, titik beratnya di metafora dan peribahasa. Contohnya, frasa “berlayar di angkasa”, “sang aktor agen ganda”, “serigala berbulu domba” dan “bandit kerah putih.”

Menurutku, jika semuanya terlalu gamblang dan mudah dipahami, maka enggak akan seru. Kami menyamarkan maknanya agar pendengar musik kami kritis dan berpikir untuk memahami liriknya.

Bicara band metal, kebanyakan band aliran tersebut cenderung menyatakan pandangan politik tertentu lewat lirik lagunya. Apakah kamu pun turut menyisipkan pandangan sosial politik tertentu lewat lirik lagu Logam Mulia?

Band metal memang cenderung mengungkapkan pandangan politik tertentu, tapi di band ini kami tidak menyatakan sebuah pandangan politik atau sosial tertentu. Keempat personil yang tergabung dalam Logam Mulia sendiri punya pandangan politik yang berbeda-beda. Jadi kami lebih menyuarakan isu sosial saja. Kami tidak ingin mendukung satu pihak tertentu atau menjadi moral compass, sok suci, sok benar…. Lagipula dengan mendukung satu pihak tertentu berarti akan mengurangi fanbase juga.

Mengapa kamu tertarik menulis lirik untuk dua jenis musik yang berbeda?

Aku tertarik menulis di Logam Mulia karena satu: aku dan teman-teman sedang membangun band ini. To make things easier, aku turut menulis dan vokalisku, Apit, juga menulis. Kedua, ada banyak yang ingin aku ceritakan. Meskipun aku tergabung dengan Payung Teduh dari awal, metal has always been in me.

Untuk Payung Teduh sendiri, mengingat aku sudah menjadi bagian dari band tersebut selama hampir 10 tahun ini, aku punya tanggung jawab untuk menulis lirik di sana. Selain itu, momennya juga ada. Tapi, aku menulis lirik lagu di band ini selalu dengan feedback dari teman-teman yang lain. Enggak sendiri. Aku selalu bertanya, liriknya bagaimana?  Apakah ada yang harus diganti? Apakah ada yang cheesy? Lagipula dengan melibatkan anggota band lainnya, menulis lirik itu berubah jadi sebuah kesenangan bersama.

Intinya, aku tertarik menulis lagu untuk keduanya berdasarkan alasan productivity—memenuhi stok lirik lagu, ada cerita yang ingin kubagikan, dan bersenang-senang dengan teman band lainnya.

 

Aziz Comi Kariko: Lirik Lagu Sebagai Medium Bercerita
Dalam segi apa kedua jenis lirik lagu dari dua aliran musik berbeda tersebut saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya?

Yang jelas keduanya memperlancar produktivitas. Kalau ditanya pengaruhnya bagaimana, aku juga bingung jawabnya bagaimana. Soalnya Payung Teduh dan Logam Mulia itu (sudah jelas) berbeda jauh. Untuk kepenulisannya juga punya switch yang berbeda.

Tapi begini, deh. Aku punya pengalaman. Waktu menulis lirik untuk Payung Teduh dan aku kasih tunjuk ke Cito (drummer kedua band), dia bilang, “Ini mah lirik buat Logam Mulia. Serem amat.” Hahahaha. Saat prosesnya, kadang suka kecampur, tapi bicara pengaruh sih enggak. Keduanya enggak saling mempengaruhi satu dengan lainnya.

Apa saja tantangan dalam menulis lirik lagu untuk kedua genre berbeda ini?

Untuk di Payung Teduh, tantangannya adalah menghindari klise. Bagaimana caranya supaya lirik ini tidak cheesy, tapi tetap mengusung ciri khas Payung Teduh yang poetic. Di Logam Mulia, tantangannya adalah penyampaiannya. Bagaimana caranya supaya liriknya bisa sampai dan dipahami pendengar, meskipun disampaikan dengan metafora dan amarah, misalnya. Mengingat lirik lagu Logam Mulia bercerita mengenai isu sosial, kami enggak mau terlalu jauh menyamarkan maknanya sampai orang enggak mengerti lirik tersebut.

Bagaimana kamu melihat fenomena musik Indonesia sekarang ini, utamanya jika dilihat dari kepenulisan lirik lagu?

Yang kulihat sekarang, masyarakat lebih mudah memilih musik apa yang ingin mereka dengar. Musisi juga lebih gampang menyebarkan karya mereka. Karena kemudahan tersebut, lirik yang diproduksi juga lebih beragam, lebih bervariasi seperti salad bowl.

Apakah menjadi seorang penulis lirik lagu menjanjikan di Indonesia?

Mungkin yang bisa menjawab pertanyaan ini adalah mereka yang bekerja di major label karena mereka yang punya stok songwriter. Kalau dari band indie sih, selalu kita-kita saja yang nulis. Hanya saja menurutku, profesi tersebut bisa menjanjikan, as long as you know the right people and the right band. 

Baca Juga: Theoresia Rumthe: Menyuarakan Kegelisahan adalah Kewajiban untuk Penulis

Apa saja modal yang harus diasah oleh seorang penulis lirik lagu?

Apa pun genrenya, modalnya adalah banyak baca dan banyak menulis. Apa pun yang ingin kita tuangkan, tuangkan saja. Semisalnya belum menjadi lagu, lirik tersebut bisa menjadi stok kita. Minimal jadi sebuah lirik atau sajak yang dekat dengan kita.

Dapatkah kamu menceritakan proyek yang ambisius mendatang yang tengah kamu godok baik itu untuk Payung Teduh dan Logam Mulia?

Kalau Payung Teduh, kami sedang proses merilis single kedua dari lagu yang saya tulis. Meskipun sebenarnya ya itu terserah management. Kurasa band itu seharusnya memiliki tugas untuk membuat lagu sebanyak-banyaknya kemudian nanti dipikirkan kapan idealnya waktu merilis lagu tersebut oleh management. Yang memutuskan untuk menetapkan single pertama atau kedua dari stok yang sudah ditulis adalah management. Kemungkinan besar yang dirilis jadi single kedua adalah lagu yang saya tulis. Target jangka panjangnya sendiri adalah tahun depan mau merilis album. Paling telat Desember tahun depan.

Untuk Logam Mulia sudah 75% albumnya beres. Kita sudah rekaman. Lima lagu sudah beres, lagu keenam sudah rampung proses workshop. Rencananya ada delapan lagu dalam album ini. Insha Allah, tahun ini rilis albumnya. Setelah itu, baru deh saya bisa lanjut studi. Hahaha.

Dapatkah kamu membagikan tips untuk mereka yang ingin memulai atau tengah menulis lirik lagu?

Just pick up a pen and start writing whatever it is on your mind. The only failure is to not write. Saya pernah baca salah satu tips copywriter adalah dia harus mencoba hal-hal baru karena hal tersebut bisa memberikan inspirasi. The same thing can be applied to writing lyrics. Jadi, banyak-banyaklah membaca, mencoba sesuatu yang baru, menggali perasaan yang ada dalam diri sendiri dan jujurlah pada karyamu sendiri. Bikin aja dulu, enggak usah dipikirin.

 

Apa kamu seorang penulis yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?

Foto feature oleh Maulana Subagio