Ayu Utami: Menulis adalah Proses Menemukan Diri Sendiri

Saya belajar kesabaran yang sesungguhnya setelah rampung membaca Larung, novel karya Ayu Utami yang bagi saya saat itu memiliki bahasa berbelit-belit dan sempat membuat saya ngambek membaca buku tersebut. Saya belajar kesabaran yang sesungguhnya lewat sekian banyak tokoh dengan latar belakang rumit. Lewat karya Ayu Utami tersebut dan beberapa karyanya yang lain, saya menyadari ada banyak pertanyaan yang ingin sekali saya tanyakan padanya.

Ayu Utami adalah salah satu penulis yang dianggap sebagai pendobrak kemapanan, khususnya masalah seks dan agama yang ia angkat dalam karya-karyanya. Saman merupakan novel pertamanya yang terbit pada tahun 1998. Beberapa karyanya yang lain yaitu: Larung (2001), Si Parasit Lajang (2003), Bilangan Fu (2008), Manjali dan Cakrabirawa (2010), Cerita Cinta Enrico (2012), Soegija: 100% Indonesia (2012), Lalita (2012), dan Pengakuan Eks Parasit Lajang (2013). Kehadiran Ayu Utami di dunia sastra menuai beragam tanggapan dan kontroversi. Karya-karya yang ditulisnya merupakan upaya menciptakan wacana seksualitas dari sudut pandang perempuan.

Sebagai penulis, Ayu Utami meraih beberapa penghargaan seperti: Pemenang Sayembara Penulisan Roman Terbaik Dewan Kesenian Jakarta tahun 1998 untuk novel Saman. Kemudian, ada Prince Claus Award dari Prince Claus Fund, sebuah yayasan yang bermarkas di Den Haag tahun 2000. Dan Penghargaan Khatulistiwa Literary Award tahun 2008 untuk novelnya Bilangan Fu. Selain itu, Ayu Utami juga ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan ikut membangun Komunitas Utan Kayu, sebuah pusat kegiatan seni, pemikiran, dan kebebasan informasi sebagai kurator. Ia juga anggota redaktur Jurnal Kalam dan peneliti di Institut Studi Arus Informasi.

Baca Juga: 5 Langkah Menulis Novel Serial Pertamamu

Ayu Utami: Menulis adalah Proses Menemukan Diri Sendiri
(Dok. Crafters)

Tepatnya, hari Minggu, 7 Oktober 2019, pada acara press conference untuk acara LIFEs (Literature & Ideas Festival) 2019 di Komunitas Salihara, saya dan rekan saya mewakili Crafters berkesempatan mewawancarai Ayu Utami. Bincang-bincang kami cukup panjang, membahas soal perjalanan penulisannya, idealisme dalam hal menulis, wacana seksualitas dan diskusinya 20 tahun semenjak reformasi, hingga pandangannya terhadap produk sastra yang selalu menjadi pertanyaan yang mengganggu benak saya sedari tuntas membaca Larung dan beberapa karyanya yang lain. Berikut wawancara kami:

Hal apa yang membuatmu jatuh hati dan memutuskan untuk menekuni dunia tulis-menulis?

Saya rasa waktu kecil saya suka baca, salah satu bacaan yang membuat saya ingin menjadi penulis dan juga wartawan pada saat itu adalah komik Tintin. Karena Tintin itu kan wartawan, ya. Kemudian, ada Lima SekawanLima Sekawan kalau zaman sekarang itu seperti Harry Potterlah ngetopnya.

Dan saya pertama kali menulis novel itu ketika masih SMA. Modelnya seperti Lima Sekawan, yaitu novel tentang petualangan remaja. Tetapi sesudah saya tulis, sudah saya gambar, segala macam lengkap dengan ilustrasi dan sampul. Saya bawa ke Gramedia tetapi ditolak.

Sedih sih, tapi ya sudah, enggak apa-apa. Kemudian waktu kuliah, saya mulai kerja sana-sini, enggak sengaja waktu itu nyoba jadi wartawan dan akhirnya merasa nyaman. Lalu kemudian, rupanya tulisan saya dinilai cukup bagus, saya juga ditawarkan menulis kolom mingguan.

Pada saat itu, tidak gampang untuk menulis kolom mingguan karena tidak seperti sekarang. Kalau sekarang kan orang bisa menerbitkan sendiri ya. Kalau pada zaman saya dulu itu tidak, harus melalui editor dan lain-lain. Terus ya sudah, ternyata dunia ini asik, dan saya punya bakat menulis.

Apa pengalaman pertama yang membuat Ayu sadar jika bahasa memiliki kekuatan untuk mengubah dan mempengaruhi?

Saya lebih dulu sadar bahwa bahasa itu punya kekuatan untuk menyesatkan orang, daripada saya sadar bahwa bahasa punya kekuatan untuk memperbaiki atau mengubah orang.

Saya sadar ada bahaya pada bahasa. Kesadaran itu datangnya dari mana? Jadi, waktu kecil saya mendengar atau menemukan istilah-istilah yang tidak bisa saya mengerti. Contohnya adalah kata “WTS”; Wanita Tuna Susila. Itu kata yang normal pada saat itu. Saya tidak mengerti WTS itu apa. Apa arti sebenarnya Wanita Tuna Susila?

Lalu pelan-pelan saya mulai mengerti kata itu maksudnya apa, tetapi pelan-pelan saya juga menyadari bahwa ini aneh, dan pelan-pelan lagi saya menyadari ini tidak adil. Bagaimana mungkin orang menghakimi orang lain sebagai Tuna Susila dan kata itu dianggap halus? Lebih halus dari kata pelacur. Ada kemunafikkan yang luar biasa di situ. Kemudian juga ada satu kata yang tidak saya mengerti, yaitu perawan tua. Pelan-pelan saya mengerti tetapi juga menyadari bahwa ini tidak adil. Semua kata-kata ini tidak adil. Pelan-pelan saya menyadari bahwa bahasa itu bisa memelihara ketidakadilan kalau kita tidak hati-hati.

Nah, saya lebih terdorong oleh hal-hal itu, bahwa kita harus membebaskan bahasa atau menyelamatkan bahasa, atau mengembalikan bahasa kepada sesuatu yang jauh lebih membebaskan daripada menekan atau membuat kita berlaku tidak adil tanpa kita sadar. Dan itu artinya kita harus mengeksplorasi bahasa, mengembalikan bahasa kepada arti-arti yang bebas dari bias.

Apa elemen terpenting dari sebuah karya tulis yang baik menurutmu?

Tulisan itu sebenarnya adalah pemikiran, boleh pemikiran yang sangat logis, sadar, atau pun kesadaran yang separuh bawah sadar. Misalnya apa sihYa kamu bisa menulis sesuatu seperti prosa atau pemikiran yang sangat logis, sangat argumentatif tetapi kamu juga bisa menulis yang indah, yang puitis, yang mungkin juga tidak terlalu logis, tetapi masuk ke dalam kekayaan batin manusia.

Nah, yang baik seperti apa? Tulisan yang baik menurut saya yang membantu kita memahami kedalaman batin. Jadi bukan yang cetek, misalnya kamu hanya mengulang-ulang yang dianggap benar oleh orang banyak. Katakan gini, yang paling tidak politis ya, misalnya orang berpendapat bahwa cantik itu putih atau mancung, atau misalnya laki-laki yang keren itu kaya, atau yang gagah, gagah itu badannya besar.

Itu semua kan stereotype-stereotype yang dibangun masyarakat. Kalau kita hanya mengulangi itu saja, itu tulisan yang cetek. Tetapi kalau kita mencoba memperkaya apa yang dianggap cantik. Manusia itu seperti apa sih? Manusia itu kan tidak cuma yang baik saja kan, manusia juga punya sisi gelapnya. Dalam hal karya seni, atau karya tulis, yang baik itu yang  membantu kita memperkaya hal itu.

Menurutmu, sampai pada derajat apakah seorang penulis harus mengusung idealismenya dalam menulis?

Menulis itu kan bisa menjadi suatu pekerjaan. Seperti misalnya kita menjadi wartawan, kita menulis. Ketika kita menjadi karyawan, kita menulis apa yang diusung atau dianggap ideal dalam dunia wartawan. Tetapi harus diingat bahwa apa yang ideal di dunia wartawan itu belum tentu ideal dengan diri kita, dengan pemikiran kita sendiri. Jadi, pertama kamu tahu saja dulu kamu menulis sebagai apa?

Ya kalau kamu menulis untuk iklan, ya menulis iklanlah dengan baik, kalau sedang menulis biografi pesanan, ya menulislah dengan baik, nah itu kan pekerjaan, ya berarti baik-baik saja. Idealisme itu, pertama, tergantung tulisan yang kamu buat itu untuk apa? Di luar itu, buat saya, kita sebagai manusia, bukan hanya sebagai penulis, memang harus memiliki nilai yang kita asah dan kita jaga. Kalau itu yang dianggap idealisme, maka idealisme itu bukan untuk sebagai penulis tetapi sebagai manusia.

 

Ayu Utami: Menulis adalah Proses Menemukan Diri Sendiri
Dok. Bookabuku

Ayu aktif berbagi ilmu tentang kepenulisan. Apakah ini sekadar kegiatan yang kamu suka atau ada dorongan besar lain di baliknya?

Saya suka, dan memang saya punya misi. Misinya itu apa? Saya berpikir bahwa manusia seharusnya bisa menjadi manusia yang tidak dihalang-halangi oleh macam-macam, menjadi bebas. Bebas itu maksudnya apa? Ya, paling tidak kamu bebas menemukan dirimu itu siapa sebenarnya. Bebas di sini arahnya ke situ. Saya percaya bahwa manusia itu boleh atau bebas untuk mengeksplorasi dirinya, potensi dirinya, semaksimal atau seoptimal mungkin. Yang kita tahu adalah, ternyata banyak sekali halangan, ada nilai-nilai; nilai agama, nilai masyarakat, sosial, politik dan lain-lain.

Terus ada lagi perbedaan kelas, perbedaan suku bangsa, macam-macam. Ternyata kita tuh tidak bisa bebas karena dikelilingi banyak sekali bentuk-bentuk yang sangat mungkin menghambat. Jadi, arah dan cita-citanya itu ke sana, intinya saya percaya bahwa manusia itu harus dan boleh menemukan dirinya di antaranya adalah mengajak kita mampu berpikir kritis dan terbuka.

Kritis saja menurut saya tidak baik. Kritis tetapi juga terbuka. Terbuka pada apa? Terbuka pada misteri manusia lain, sisi gelap pada manusia lain. Artinya ada keterbukaan tetapi juga bersikap kritis. Misalnya tadi yang paling sederhana, mampu tidak manusia bersikap kritis pada bahasa?

Bahasa itu kan sebetulnya alat berpikir dan banyak sekali biasnya. Sebagian orang menggunakan kata-kata tidak menggunakan daya kritis, main dipakai begitu saja. Tidak berpikir bahwa WTS itu tidak adil, tidak berpikir bahwa kata perawan tua itu tidak adil. Nah, ini kan harus ada kemampuan sadar untuk berpikir: kayaknya ada yang enggak bener nih. Dari sana, sebenarnya saya juga punya misi untuk mengajar pada pemikiran yang benar. Yang benar itu yang membebaskan manusia.

Kemudian karya seni atau sastra itu medium yang bagus, karena itu memberitahu bahwa kamu itu bisa berpikir dengan cara yang kreatif lho. Bukan hanya yang rasional, logis, rasional itu sendiri juga ada bahaya menjadi dogmatis. Penulisan kreatif itu bisa membantu kita memahami satu cara berpikir yang kreatif. Tetapi kalau dianalisa, kreatif itu tidak gampang diterangkan. Namun, melalui kreativitas, kita diajak untuk melihat kekayaan dan keragaman manusia. Apakah itu sisi terangnya, atau sisi gelapnya. Jadi memang saya punya misi, kalau yang tadi, metode pengajarannya itu misinya mengajari cara berpikir kritis yang benar atau yang terstruktur atau rasio yang benar. Akan tetapi seni itu mengajari kita memahami lapisan-lapisan manusia yang mungkin bentuknya non rasional.

Bahasa itu adalah pikiran itu sendiri. Tanpa bahasa kita tidak bisa mikir. Pikiran itu juga adalah alat kekuasaan, sehingga, siapa yang berkuasa, akan menggunakannya. Karena itu, kita juga harus menguasai bahasa supaya kita tidak ditipu oleh orang-orang luar, pihak lain yang memanipulasi, jadi kita sendiri harus tahu bagaimana pikiran dan bahasa itu bekerja agar kita tidak gampang dimanipulasi oleh yang lebih mampu atau berkuasa.

Selama proses penulisan, apa hambatan atau tantangan yang dihadapi dan bagaimana Ayu melewatinya?

Pada zaman saya muda, saya ada di zaman Soeharto. Jadi tantangannya itu lebih ke sensor dari pemerintah, sensor militer. Dan sensor itu sifatnya real, orang bisa masuk penjara, dan bisa hilang, seperti Widji Tukul yang keberadaannya tidak diketahui sampai sekarang, enggak pulang sampai sekarang, dibunuh!

Tetapi kalau saya lihat zaman sekarang, di dalam masyarakat itu, tantangan terbesarnya adalah dogmatisme. Jadi orang tidak berani berpikir terbuka, tidak berani berpikir kritis karena takut nilai-nilai, terutama nilai agama. Kalau saya mengatasinya itu, tidak tahu ya, saya dari dulu mungkin tidak takut. Saya tumbuh dalam didikan yang religius dan saya juga religius, tetapi ketika saya mulai kritis dan mempertanyakan dogma-dogma agama, saya tidak pernah takut. Jadi buat saya, ya kalau memang harus dipertanyakan ya pertanyakan, dan harus coba dijawab meskipun mungkin jawabannya susah, atau tidak ketemu. Banyak orang misalnya meragukan dogma agama, tetapi mereka tidak perduli atau tutup mata. Nah, kalau saya tidak bisa tutup mata, saya selalu mencoba mengejar itu, sesuatu yang tidak saya mengerti. Dari kecil itu kebiasaan yang ada dalam diri saya.

Tidak hanya soal agama saja, ada hal lain juga. Saya ingat hal-hal kecil yang saya lakukan dan saya merasa itu mengganggu. Hal-hal kecil tetapi latihannya di situ, misalnya itu, saya ingat pernah ngatain pembantu saya goblok, dan saya terganggu, tetapi saya tidak tahu salahnya di mana karena memang dia tidak pintar, tetapi saya merasa itu ada yang tidak benar, saya terganggu. Saya juga pernah dibantu diseberangkan oleh tukang becak terus saya empaskan lengan si bapaknya karena saya takut dianggap itu bapak saya. Waktu itu saya masih kecil, tetapi saya ingat, saya merasa seperti ada suara moral saya yang mengatakan; kamu tuh enggak bener lho, kan dia baik mau bantu nyebrangin kamu, kenapa tangannya kamu singkirkan hanya karena kamu takut dikira itu bapak kamu. Nah, itu saya ingat, jadi saya punya daya kritis terhadap diri saya sendiri dan itu yang selalu membuat saya mengejar – di balik hal ini ada apa sih?

Dari situ, tantangan terdalam seorang penulis menurut saya adalah tidak berani untuk melihat lebih dalam pada dirinya sendiri. Itu juga yang pelan-pelan saya ajarkan ke murid-murid saya untuk berani melihat ke dalam diri mereka. Tidak perlu diceritakan ke orang lain tetapi jujur pada diri sendiri. Punya ruang pengakuan dosa pada diri sendiri yang orang lain tidak perlu lihat. Paling tidak dalam diri kamu sendiri kamu itu tahu. Dan begitu kamu terbiasa untuk mengkonfrontasi dirimu sendiri, nanti kamu akan bisa menjawab pertanyaan dengan gampang, tetapi kalau kamu ada masalah kamu tidak berani hadapi. Nanti kamu akan banyak gitu juga, banyak pertanyaan tetapi kamu tidak bisa jawab.

Apa pandanganmu soal idealisme dalam kepenulisan atau karya tulis?

Gampangnya begini, menulis itu adalah proses berpikir dan kesadaran itu sendiri. Sekarang kamu ingin menulis dengan model apa? Dikembalikan saja ke situ. Kalau saya, saya tetap percaya bahwa manusia itu punya berlapis-lapis kesadaran. Kalau kamu hanya mengakui satu lapis kesadaran dan menolak lapisan lain, kamu sebetulnya sudah mereduksi dirimu sendiri. Misalnya, kamu merasa bahwa menulis itu harus ringan, berarti kamu mereduksi kemampuan yang lebih tinggi atau yang lebih berat. Tetapi juga, kalau kamu mengatakan bahwa menulis itu harus serius, harus idealis, berarti kamu juga mereduksi atau mengabaikan lapisan lain.

 

Ayu Utami: Menulis adalah Proses Menemukan Diri Sendiri
(Dok. KPG)

Semenjak kebebasan berpendapat diraih bersamaan dengan runtuhnya era Orde Baru, produk tulisan menjadi sangat beragam. Dari kacamata Ayu sebagai seorang penulis, adakah perbedaan atau ciri tersendiri dari kepenulisan yang sastra dan yang bukan sastra?

Tidak terlalu gampang tetapi sebetulnya bisa dilihat. Kita tahu bahwa dari awal kita tidak bisa menentukan bahwa ini sastra dan itu bukan sastra. Tetapi nanti, samar-samar kita bisa merasakan ini masuk sastra dan yang itu tidak. Contoh sederhananya gini, ada beberapa tulisan, yang biasanya tidak masuk sastra itu nanti akan terlihat umurnya pendek. Tetapi kalau dirinci, itu tidak akan terlalu tampak.

Umurnya pendek maksudnya hanya memuaskan hasrat yang tipis, misalnya sesuatu yang sentimental saja, atau misalnya untuk membenar-benarkan ajaran agama saja, nanti akan kelihatan itu cetek karena dia tidak menggali ke ironi atau paradok-paradok manusia. Jadi biasanya, tulisan yang murahan gitu tidak bisa melihat paradoks. Benar, itu bisa memuaskan pembaca, tetapi kita bisa melihat tulisan ini tidak mampu melihat kedalaman batin manusia.

Persoalannya, tulisan yang mampu melihat kedalaman batin manusia juga belum tentu ditulis dengan bagus. Jadi memang kalau mau melihat tulisan sastra itu, ya tulisan yang mampu melihat kedalaman dan kompleksitas manusia dan ditulis dengan keterampilan yang tinggi. Dan kadang-kadang keterampilan tinggi itu tidak harus canggih, kata-katanya hebat, tidak! Justru terkadang kata-katanya sederhana. Bisa seperti tulisan yang sederhana tetapi kita bisa melihat ini ada ironi, ada paradoks. Mungkin yang bisa membedakan dengan cepat tentu saja orang yang berpengalaman, yang menguasai dan memiliki spesialisasi di bidang bahasa dan pemikiran. Jadi kalau untuk pembaca biasa, mungkin mereka hanya berdasarkan; ya ini gue banget, ini seru. It’s okay, itu bisa menyenangkan tetapi nanti dari sisi orang yang berpengalaman bisa dilihat itu menyenangkan tetapi tidak ada kedalaman.

Ada yang berpendapat jika sastra dapat pula menjadi medium menyampaikan kebenaran ketika kebenaran dibungkam. Menurut Ayu, sampai sejauh mana seseorang yang ingin mengetahui kebenaran akan sebuah peristiwa dapat mempercayai informasi yang terkandung dalam cerita fiksi?

Sebetulnya kalau kebenaran yang dibawa sastra itu bukan kebenaran faktual. Kalau kebenaran faktual, ya jangan lewat sastra, lewat berita saja atau persidangan. Karena itu sifatnya faktual, objektif. Nah, faktual dan objektif itu bukan kebenaran yang dikejar oleh sastra, maksudnya kelebihan sastra bukan di situ, tugasnya sastra itu bukan di situ. Tugasnya sastra itu justru melihat orang melampaui hal-hal objektif, karena kan perasaan dan pemikiran kita bukan sesuatu yang objektif. Bisa disebut subjektif, tapi intinya itu bukan data, apa itu kesedihan kita, kegembiraan kita, keterasingan kita, itu semua kan bukan data objektif. Sastra itu justru masuknya ke situ, dia mungkin data yang diceritakan, tidak faktual tetapi itu menyatakan kebenaran.

Ada yang belum tuntas dibahas dari kejadian ‘98. Semenjak karya Saman terbit, telah banyak penulis cerita pendek atau novel hingga tokoh politik yang terus menggali peristiwa tersebut melalui medium buku sampai saat ini. Menurutmu, sampai pada tahapan apa cerita tersebut dapat membentuk lanskap kesusastraan Indonesia?

Kalau saya, bicara soal Peristiwa ’65, itu sudah bukan membentuk lanskap kesusastraan. Bukan itu perannya sastra, jadi itu bukan untuk sastra. Perannya sastra itu bagaimana? As if kalau menulis cerita, itu mau jualan buku? Enggak, bukan itu! Justru lihatnya begini, Peristiwa ’65 adalah kunci dalam sejarah kita, kalau itu tidak berhasil terbuka, yang sebelumnya juga tidak akan terbuka, dan yang di depan juga tidak akan terbuka.

Sebelumnya itu apa? Ada, banyak, peristiwa pembunuhan yang cukup massal pada tahun ’48 terhadap komunitas etnis Tionghoa, tidak pernah dibuka. Jadi ada peristiwa kekejaman yang tidak pernah dibuka atau diceritakan, tidak masuk ke buku sastra dan tidak diakui. Kemudian puncaknya 65, kalau 65 ini berhasil kita buka, ini yang lainnya bisa kita buka juga. Kalau kejadian 65 ini tidak terbuka, kita tidak tahu yang ke depannya itu bagaimana. Nah, jadi peristiwa 65 adalah kunci. Sekarang ini kan belum diakui secara resmi dalam sejarah dan masih kontroversial. Berarti apa? Berarti harus ada orang-orang yang memelihara kesadaran ini, salah satunya adalah sastra.

Kita coba lihat, Pulau Buru misalnya, sekarang orang-orang di Pulau Buru sudah tidak mau berbicara soal peristiwa yang pernah terjadi di sana. Jadi, ya itu akan hilang jejaknya. Kalau di Eropa mereka punya banyak monumen, itu dipelihara. Di Korea juga, tempat-tempat kekejaman militer itu dijadikan museum. Indonesia belum ada, dan kita akan kehilangan tempat-tempat itu. Kalau tidak ada yang memelihara kenangan akan peristiwa itu, kejadian 65 akan hilang dari kesadaran kita. Dan kalau itu hilang dari kesadaran kita nanti di depan akan terjadi lagi. Nah, karena itu, jangan sampai sekarang ada orang; nih orang sok kritis, menjual peristiwa 65 untuk sastra. Bukan begitu cara berpikirnya. Secara berpikir, kita itu memelihara sesuatu yang belum beres, yang belum diakui. Jadi selama itu belum diakui, selama dia belum jadi monumen, ya tetap harus diceritakan dengan cara apa pun. Kira-kira gitu ya cara melihatnya.

Menulis novel adalah satu hal, namun bagi orang banyak, menulis novel serial adalah hal yang lebih rumit. Untukmu yang sudah sering menulis novel serial, apa sih kiat-kiat yang bisa dibagi untuk para penulis lain yang baru ingin mencoba?

Ya, kalau menulis serial, pertama kita harus suka dulu sama tokoh-tokohnya. Kalau tidak suka nanti tidak diteruskan. Sama seperti pacaran aja kalau sudah bosan ya berhenti. Kira-kira gitu, yang paling sederhana itu kamu senang dan suka dengan tokoh-tokohnya. Kemudian, setting-nya itu tidak gampang habis dieksplorasi. Kira-kira itu saja.

Baca Juga: Leila Chudori: Sastra, Isu Politik dan Generasi Z

Sebagai seorang penulis dan perempuan yang karyanya kemudian dinilai kontroversial karena membahas hal yang tabu, bagaimana pandanganmu terhadap diskusi seksualitas di masyarakat tanah air sekarang? Apakah diskusi tersebut berjalan dengan sehat atau justru meredup diterpa kegelisahan yang lebih penting?

Buat saya yang tumbuh di zaman dahulu agak heran ya. Kok isu-isu perkawinan dini itu masih ada pendukungnya. Buat saya itu menyedihkan, seks masih dianggap sesuatu hal tabu, terus cara penyelesaiannya sangat simplistis. Di satu pihak misalnya, seks dianggap tabu tetapi cara penyelesaiannya supaya tidak zina ya kawin dini, gitu. Umur berapa, pokoknya habis menstruasi boleh kawin. Lalu sekarang kan ada wacana untuk mengkriminalisasikan pelaku hubungan seks di luar nikah. Kalau Undang-Undang kita, itu bisa diadukan kalau suami atau istri yang dikhianati. Kalau sekarang kan bukan hanya seperti itu, kaum agamawan inginnya perzinahan tanpa pengkhianatan juga dihukum dan dijadikan kasus kriminal. Jadi bukan delik aduan tetapi malah polisi bisa langsung menyerbu yang dianggap melakukan perzinahan. Dan perzinahan sekarang bukan lagi soal perselingkuhan tetapi orang yang single pun dianggap melakukan zina secara hukum negara. Menurut saya, ini hal-hal yang harusnya sudah selesai dari zaman dahulu.

Maksudnya begini, saya paham bahwa seksualitas itu kan perlu dikontrol pada masa ketika alat kontrol pada tubuh kita belum ada. Artinya, nanti bisa hamil, sederhananya gitu. Lalu perempuan belum dapat perlindungan, sebelum Masehi itu kan perempuan tidak dapat perlindungan, bahkan bukan perempuan saja, kalau kamu tidak masuk ke dalam klan atau kelas tertentu kamu juga sebagai individu tidak dapat perlindungan, atau kalau kamu tidak ada materai dari keluarga apa gitu, kamu tidak dapat perlindungan.

Tetapi kan itu zaman dulu, zaman sekarang sudah beda. Ini juga sama seperti pertanyaan soal poligami. Poligami itu maksud akal di mana perempuan itu tidak dapat perlindungan dari siapa pun kecuali dari laki-laki yang adalah suami atau ayah. Kalau hukumnya seperti itu, maka poligami wajar untuk melindungi perempuan. Nah, sekarang kan sudah beda, perempuan sudah diakui sebagai manusia, negara harus melindungi dia, dia tidak perlu lagi perlindungan dari suami atau ayah. Ya kalau mau sih, silakan, tetapi kalau menurut saya sebagai perlindungan ya tidak.

Jadi kenapa saat itu seks dikontrol dengan sedemikian ketat ya karena perlindungan itu tadi. Sekarang alat kontrasepsi kan ada; yang melindungi dari penyakit ada juga. Jadi sebetulnya seks itu sudah tidak semenakutkan dulu karena sekarang bisa dikelola. Menghukum manusia karena kesalahan seksual itu kan akibatnya banyak, jadi hukuman itu sendiri menjadi ketidakadilan baru. Misal hukum rajam, apa sih adilnya itu? Kalau untuk melindungi sesuatu zaman dulu boleh lah ya, tetapi sekarang mau kamu lakukan lagi. Ini kan kejahatannya apa sih? Atau homoseksualitas misalnya, coba kamu baca lagi cerita Sodom dan Gomora itu, yang selalu dipakai untuk menyalahkan homoseksual, coba baca lagi dengan benar. Kan bukan homoseksualitasnya yang jahat, tetapi pemerkosaan terhadap yang lemah, yang tidak punya keluarga.

Homoseksualitas kalau lihat aturan gereja atau agama ya pasti salah tapi tidak sejahat itu. Yang jahat pemerkosaannya bukan hubungan sodominya. Saya tidak membela hubungan sodomi, tapi tidak sejahat itulah. Apalagi kalau kita lihat sekarang ada alat-alat pengelolanya. Itu kan bukan kejahatan yang besar. Tapi kan sekarang ini, mereka yang mendukung bahwa seks itu sebagai kejahatan yang besar itu masih cukup subur, jemaatnya banyak tetapi mungkin melakukannya juga. Jadi saya tidak mengerti gitu. Mungkin jadi lebih asyik kali ya, lebih masochist dengan aturan itu.

Saya ada sedihnya juga, kenapa pemahaman agama kita itu sebegitu ceteknya? Karena itu, sebenarnya yang ingin saya promosikan juga adalah apa yang disebut spiritual kritis. Orang boleh spiritual tetapi jangan hilang daya kritis. Sebaliknya juga, kritis itu tidak cuma tetapi terbuka dengan ajaran-ajaran yang dibawa oleh kaum spiritual, kaum agama. Seperti misalnya argumen-argumen apa itu hidup? Apa itu makna hidup? Orang kritis tidak bisa memaknai makna hidup, mereka itu bisanya menyerang. Kalau kamu ditanya makna hidup menggunakan daya kritis kamu tidak akan bisa menjawab. Jadi, menurut saya harus ada dua keseimbangan ini: kita harus bisa berpikir kritis tetapi kita juga terbuka untuk beberapa tafsiran mengenai yang tidak bisa dijawab oleh daya kritis.

Adakah saran atau pesan yang bisa dibagikan kepada mereka yang ingin menjadi penulis, utamanya penulis perempuan?

Menulis itu asyik sekali sebetulnya, karena dia adalah proses menemukan diri sendiri. Jadi kalau kita memperlakukan tulisan sebagai salah satu proses untuk menemukan diri kita sendiri, itu tidak akan habis. Tetapi dengan syarat, harus berani, kalau cuma image depan doang dan kamu sudah merasa menemukan diri sendiri, ya selesai nanti tulisan. Tetapi kalau kamu masuk terus, itu tidak akan habis-habis. Kemudian, menulis itu menyenangkan sekali karena dalam menulis itu tidak ada pengalaman-pengalamanmu yang sia-sia. Jadi, pengalaman buruk pun tidak sia-sia karena kamu menuliskannya. Jadi diputus pacar atau pacar nyeleweng, punya pacar nyebelin itu, jadi tidak sia-sia.

Hal yang paling menyenangkan dalam menulis itu, kamu akan bisa mengubah segala macam untuk keuntunganmu sendiri karena menjadi tulisan. Misalnya kamu punya kesialan hidup dan kamu tuliskan, maka kesialan itu, jadinya kan tidak sia-sia. Jadi karya. Menulis itu asyik. Paling tidak, ada dua hal tadi: membantu kita menemukan diri sendiri dengan cara yang menyenangkan, dan membantu kita mengubah pengalaman apa pun atau bahkan yang tidak menyenangkan menjadi sebuah karya yang tidak sia-sia.

 

Apakah kamu seorang penulis yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?

Penulis: BR & MLR