Avianti Armand: “Dengan Menulis, Saya Menemukan Suara Saya yang Paling Jujur”

Avianti Armand: "Dengan Menulis, Saya Menemukan Suara Saya yang Paling Jujur"
(Dok. Avianti Armand)

Beberapa dari kita menjadikan puisi sebagai sebuah bacaan ringan, bacaan berat, pelarian, atau mungkin seperti saya, sebagai sebuah cara untuk lebih mengerti perasaan saya sendiri–lebih seperti sebuah pencarian. Tentu, hal itu menjadi sebuah misi penting bagi saya sebagai penikmat karya puisi.

Tapi tidak dipungkiri, tidak semua buku puisi berhasil membuat saya menemukan apa yang saya cari.

Sejak dulu, buku-buku kumpulan puisi tulisan Avianti Armand selalu dapat memberikan perasaan lega untuk saya–memberikan saya sebuah cara untuk mengerti dan menemukan perasaan-perasaan yang rasanya belum familier itu. Dari situ, saya jadi paham bahwa buku puisi yang baik adalah buku puisi yang dapat menemani saya tumbuh, menginspirasi saya mencipta sebuah karya, atau setidaknya membuat saya mengerti sebuah rasa baru dari segala sesuatu yang kadang terlalu susah dijelaskan.

Saya ingat betul beberapa tahun lalu, saya dan teman saya, Mahda, buru-buru ke toko buku untuk membeli buku kumpulan puisi yang berjudul Perempuan Yang Dihapus Namanya setelah tahu bahwa buku tersebut diluncurkan dengan desain sampul baru. Ia juga, adalah teman baik yang mengenalkan saya pada tulisan-tulisan indah Avianti Armand.

Setelah membeli buku itu, kami ambil foto selfie dan mem-posting-nya di akun Twitter kami–tentunya, dengan mention Mbak Avianti agar ia tahu bahwa kami amat mengapresiasi karya-karya tulisnya. Di luar dugaan, ia membalasnya sembari berterima kasih. Seperti umumnya para penggemar, kami cekikikan dan amat senang, berharap seorang Avianti Armand akan terus menulis, setidak-tidaknya untuk kami–untuk kemudian dapat kami nikmati dan diskusikan.

Dalam buku kumpulan puisi Perempuan Yang Dihapus Namanya, saya ingat betul bahwa saya mengunggah penggalan akhir dari puisi tersebut di akun Instagram saya. Judulnya adalah Hawa. Penggalannya berbunyi begini:

Di baris ke tujuh, sebelah kiri, empat kursi dari

Ujung, Tuhan duduk dan menangis. Di

Tangannya tergenggam sebuah dadu. Pada

Semua sisinya tertulis: dosa.

Lewat buku kumpulan puisi itu, Avianti dengan cerdas merekonstruksi kisah-kisah perempuan dalam kitab Perjanjian Lama. Tema yang ia angkat dalam buku kumpulan puisinya amat unik, kompleks dan menarik. Bayangkan saja, saya yang sudah menggemari karya-karya Avianti Armand sejak bertahun-tahun lalu mendapatkan kesempatan mewawancarainya untuk artikel Crafters ini.

Dalam wawancara ini, saya bertanya beberapa hal soal kepenulisan puisi, pemilihan tema yang diangkat hingga kiat menulis puisi versi Avianti Armand. Berikut wawancara saya dengannya.

Baca Juga: Theoresia Rumthe: Menyuarakan Kegelisahan adalah Kewajiban untuk Penulis

Menurut Mbak Avianti, apa arti menulis, utamanya menulis puisi?

Ini tentu berbeda untuk setiap orang. Alasan saya sendiri sederhana. Dengan menulis, saya menemukan suara saya yang paling jujur.

Dari banyak buku kumpulan puisi yang telah diterbitkan, buku mana yang paling membutuhkan banyak proses untuk Anda?

Saya cuma punya tiga buku kumpulan puisi, 1/ Perempuan Yang Dihapus Namanya 2/ Buku Tentang Ruang 3/ Museum Masa Kecil. Perempuan Yang Dihapus Namanya dan Museum Masa Kecil saya perlakukan seperti project, ada tema, ada riset, ada jangka waktu yang saya tetapkan untuk menyelesaikannya. Sementara Buku Tentang Ruang adalah kompilasi dari puisi-puisi yang saya tulis dan terbitkan di lembaran sastra Kompas dan Koran Tempo. Masing-masing memiliki keunikan proses pengerjaannya. Perempuan Yang Dihapus Namanya mengharuskan saya membaca ulang Kitab Suci dan melakukan riset tentangnya dan sejarah bangsa Yahudi. Sementara Museum Masa Kecil membawa saya hingga ke London dan Scotland.

Untuk Mbak Avianti, apakah puisi modern juga perlu mematuhi kaidah sastra secara utuh (irama, matra, rima, serta penyusunan larik, bait, dst)? Bagaimana Mbak Avianti selama ini memandang hal ini dan kemudian menerapkannya dalam penulisan puisimu?

Saya kira, kunci dari semua puisi, selain dari makna dan kejutan, adalah bunyi. Dalam bunyi ada matra, irama, dan rima, yang tersusun dalam larik dan bait.

Dalam wawancara Mbak Avianti dengan (media) Jurnal Ruang, kamu membahas sedikit tentang pergeseran media puisi (dari fisik ke media sosial). Dan hal ini kamu rasa amat menarik. Namun, dalam beberapa kesempatan wawancara Crafters dengan penulis puisi, ada banyak kritik juga soal pergeseran media tersebut (kebanyakan menyatakan keprihatinannya akan kecerobohan para penulis). Bagaimana pandangan soal hal tersebut? Atau bagaimana kamu turut berdaptasi sebagai seorang penulis di era digital seperti sekarang ini?

Saya yakin perubahan tidak bisa dihindari. Jika memang harus ganti media, ikuti saja. Soal kecerobohan para penulis, itu memang butuh waktu. Kritik saja. Mereka akan belajar, selain dari kesalahan sendiri, juga masukan dari orang lain. Saya rasa, saya menghadapi pergeseran ini dengan cukup santai. Adaptasi akan terjadi dengan sendirinya, jika kita merasa perlu untuk pindah media. Jika tidak, ya tidak usah dipaksakan. Media konvensional, saya yakin, masih akan tetap bertahan.

Bagi saya pribadi, semua buku Mbak Avianti memiliki tema unik yang amat menarik. Bagaimana selama ini menentukan tema untuk sebuah buku puisi?

Saya cuma selalu berusaha menuliskan tema yang baru dan menarik buat saya. Itu saja.

 

Avianti Armand: "Dengan Menulis, Saya Menemukan Suara Saya yang Paling Jujur"
(Dok. RumahKayu Indonesia)
Membaca, buat saya, bukan cuma sebuah penyerapan konten--tapi juga pengalaman visual dan fisik.
Apa saja 3 buku kumpulan puisi Indonesia wajib baca versi Mbak Avianti?

Don Quixote, Goenawan Mohamad, Ibu Mendulang, Anak Berlari, Cynta Hariadi dan Sergius Mencari Bacchus, Norman Erikson Pasaribu.

Lanskap puisi liris Goenawan Mohamad selalu luas dan kaya. Kita dihadapkan pada diksi-diksi yang segar dan dalam maknanya. Membacanya seperti menemukan rindu, cinta, kesedihan, dan kebahagiaan, dalam warna dan bunyi yang berbeda total.

Cyntha Hariadi bisa menghadirkan hubungan ibu-anak – dengan dilema, konflik, kehangatan, kekacauan, kepahitan, dan cinta – dengan sangat jujur. Terus terang, sebagai ibu dan penyair, saya iri.

Norman membawa puisi dari kehidupan pribadinya. Satu tindakan yang membutuhkan keberanian untuk berdiri di depan publik dan membuka diri. Dan puisinya menghadirkan hal ini dengan jelas:  ia bisa mengangkat kepedihan dan kesedihan tanpa menjadi cengeng.

Di wawancara dengan Jurnal Ruang pula, kamu menyampaikan ketertarikan dalam membuat sebuah novel. Selain novel, adakah bentuk karya tulis atau mungkin kolaboratif yang ingin dilakukan?

Selain menulis, saya juga mengkurasi beberapa pameran. Sekarang ini saya sedang menyiapkan satu pameran, dengan sponsor dari Jerman, dalam rangka 100 tahun Bauhaus. Tema pamerannya adalah “Occupying Modernism”, tentang bagaimana arsitektur modern di Indonesia beradaptasi dengan dan diokupasi oleh kehidupan kita yang jauh lebih relaks, temporer, chaotic, dan kasual, dibanding dengan di negara-negara asalnya (Eropa dan Amerika).

Baca Juga: Joko Pinurbo: “Aku Menulis Puisi, Maka Aku Ada”

Untuk saya, semua buku kumpulan puisi Mbak Avianti memiliki tampilan minimalis yang apik (juga ilustrasi yang bagus). Seberapa penting layout dan ilustrasi dalam sebuah buku kumpulan puisi menurut mbak?

Bukan cuma buku puisi, tapi semua bacaan konvensional. Membaca, buat saya, bukan cuma sebuah penyerapan konten–tapi juga pengalaman visual dan fisik. Karena itu, saya tidak cuma mengatur tata grafisnya saja, tapi juga memilih kertas yang akan dipakai (tekstur, warna, ketebalan), ukuran buku (lebar, panjang, berat), juga cara menjilidnya. Dalam perencanaan itu, saya membayangkan bagaimana buku dipegang, permukaannya yang teraba dengan jari, suaranya ketika halaman dibaiik, kehati-hatian kita saat melakukannya, baunya ketika buku baru kita dekatkan ke hidung, dan lain-lain.

Terakhir, mari bicara sedikit tentang kiat-kiat menulis puisi, yang pasti banyak ingin diketahui para pembaca. Untuk Mbak Avianti sendiri, apa sih 3 hal/bahan bakar paling penting dalam menulis puisi?

Pilih topik yang unik.

Gunakan diksi yang segar.

Beranikan diri anda bereksperimen dengan format yang berbeda.

Saya rekomendasikan Museum Masa Kecil sebagai contoh yang cukup sukses (jieeeee) dari tiga tips di atas.

 

Apakah kamu seorang penulis yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?

Foto feature: mekongreview.com