Asis Pramono: Jadi Freelance Bukan Langkah Mundur

asis budhi pramono asis pramono

Ketika satu pintu tertutup, maka pintu lain akan terbuka. Kalimat ini benar-benar diresapi benar oleh Asis Pramono. Sepuluh tahun bekerja sebagai jurnalis, keterlibatannya sebagai ‘orang kantoran’ di perusahaan media berujung pada pemutusan hubungan kerja dari tabloid tempatnya bekerja pada 2014, akibat merosotnya pertumbuhan bisnis media cetak.

Peristiwa itu tak membuatnya patah arang. Ia pun mencari cara untuk ‘move on‘ dari peristiwa itu. Akhirnya, sejak awal 2015, Asis memutuskan untuk menjadi penulis lepas (freelance). Sebuah keputusan yang disangsikan banyak orang di sekitarnya saat itu; apalagi mengingat posisi pekerjaan sebelumnya, ia sudah menjadi pemimpin redaksi; sebuah jabatan editorial yang tidak main-main.

Tapi saat itu, Asis sendiri sudah yakin betul dan melihat pekerjaan menulis secara freelance sebagai “pintu lain yang terbuka” untuknya. Pintu yang ia anggap bukan sebagai labirin membingungkan, melainkan pintu yang membuka banyak kesempatan lain untuk mengembangkan karier dan kemampuannya sebagai penulis dan editor. Simak obrolan The Crafters dengan Asis Pramono berikut ini:

Apa pekerjaan Anda sebelum akhirnya memutuskan jadi penulis freelance?

Saya bekerja di bidang pers, tepatnya di media yang berada di bawah naungan grup Kompas Gramedia, yaitu tabloid Soccer. Saya bekerja di sana sekitar 10 tahun, mulai dari menjadi reporter, editor, managing editor, hingga terakhir sebagai editor-in-chief. Selama di sana juga, saya merasakan pengalaman dari mengelola media cetak, sampai media online-nya.

Apa hal yang menjadi dasar pertimbangan Anda, hingga kemudian memilih jalur freelance?

Pertama karena fleksibilitas waktu. Sebagai freelance, saya bisa mengatur waktu sendiri; sehingga jadi bisa punya lebih banyak waktu berkualitas bersama keluarga. Hal itu tidak mudah didapatkan ketika bekerja permanen di sebuah perusahaan. Apalagi ketika beraktivitas di Jakarta yang memang sudah padat, dan ritme kerjanya relatif tinggi.

Selain itu, saya juga melihat prospek cerah di dunia freelance. Ditambah lagi perkembangan teknologi saat ini (sebetulnya) memungkinkan orang bisa bekerja dari mana saja, tanpa harus berada di satu tempat tertentu, terus-menerus. Ini yang saya lihat juga sebagai peluang yang bisa dimanfaatkan.

Tapi, itukan karena Anda sudah punya pengalaman dan jejaring yang bisa mendukung pilihan freelance Anda, jadi mungkin lebih ‘pede’. Bagaimana dengan penulis pemula?

Sangat bisa; kenapa tidak? Tapi, penulis pemula juga harus mau bekerja keras memperbanyak jam terbang, dan memperluas jenis pekerjaan yang bisa dilakukan. Hal itu bakal mengasah kemampuannya, sekaligus untuk memperluas relasi. Saya sendiri melakukannya, untuk meningkatkan kemampuan.

Seperti tadi saya bilang, kini banyak kesempatan yang bisa diambil oleh para penulis pemula. Makin banyak perusahaan perintis yang makin sadar arti penting konten untuk mendukung bisnis mereka. Dan tulisan adalah salah satu jenis konten yang selalu dibutuhkan. Manfaatkanlah keadaan industri itu untuk menambah portfolio pekerjaan.

Nike Football Innovation Summit Madrid Spanyol 2014 2
Salah satu potret oleh Asis ketika meliput Nike Football Innovation Summit 2014 di Madrid, Spanyol. (Sumber foto: Asis Budhi Pramono)
Apa saja yang harus diantisipasi untuk menjadi penulis freelance?

Paling penting adalah manajemen waktu dan disiplin diri. Bekerja sebagai freelance membuat seseorang harus mau mendorong dirinya untuk menyelesaikan pekerjaan. Tidak akan ada yang mengingatkan Anda terkait hal itu. Maka itu, freelancer harus pintar mengelola waktu.

Penetapan skala prioritas akhirnya menjadi penting, karena ada tenggat waktu pekerjaan yang harus ditepati; terutama ketika ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dalam kerangka waktu yang sama.

Apa tips dari Anda agar kualitas tulisan selalu terjaga?

Menulis itu berkaitan erat dengan riset. Hal tersebut bisa dilakukan dengan banyak membaca, bertanya pada pihak lain seperti wawancara, atau mengamati peristiwa secara langsung. Seorang penulis, termasuk freelance, harus mau melakukan riset sebelum mulai menulis.

Ketika bagian tersebut dijalankan dengan baik, hampir dipastikan, mutu tulisan bisa dijaga. Maka itu, penting sekali, si penulis tahu persis apa yang hendak ia sampaikan dalam tulisannya; sehingga ia tahu mesti memfokuskan risetnya ke arah mana. Hal yang biasanya terlatih, jika si penulis memiliki latar belakang atau pengalaman di bidang jurnalistik.

Selain itu, jangan sampai malas untuk membaca ulang tulisan yang sudah jadi. Ini penting untuk menemukan kesalahan atau kekurangan pada tulisan yang dibuat. Hal-hal inilah yang biasanya saya jalankan untuk menjaga kualitas tulisan.

Dengan menjadi freelancer saya bisa mengatur waktu sendiri, menikmati hidup, dan menjalankan pekerjaan sesuai dengan passion saya.
Nike Football Innovation Summit Madrid Spanyol 2014 1
Selama lebih dari 10 tahun, Asis Budhi Pramono kebanyakan fokus pada topik olahraga, khususnya sepak bola. (Sumber foto: Asis Budhi Pramono)
Bagaimana Anda mengatasi “tekanan” sosial, baik dari keluarga atau lingkungan, yang mungkin masih melihat profesi freelance dengan sebelah mata?

Buat saya, pendapat pihak selain keluarga tidak terlalu jadi masalah penting; dan untungnya, saya mendapatkan dukungan maksimal dari keluarga, terutama istri yang mendukung penuh keputusan saya untuk bekerja sebagai freelancer.

Selain itu, orang tua saya juga tidak mempermasalahkan profesi saya; sebab, sejak kecil saya sudah terbiasa mengambil keputusan sendiri, karena memang sudah tinggal terpisah dari orang tua sejak bersekolah di SMA.

Maka itu orang tua cenderung membiarkan saya memutuskan apapun sendiri, asal bisa mempertanggungjawabkannya.

Lagipula, menjadi freelancer kan bukan langkah mundur.

Dengan menjadi freelancer saya bisa mengatur waktu sendiri, menikmati hidup, dan menjalankan pekerjaan sesuai dengan passion saya.

Bagaimana Anda melihat dunia freelance saat ini? Apa yang menurut Anda masih jadi masalah?

Seperti tadi saya bilang, saya melihat prospek cerah di dunia freelance. Perkiraan saya, ke depannya bakal makin banyak perusahaan yang membutuhkan jasa seorang freelancer, karena efisiensi biaya dan perkembangan teknologi.

Hal yang menurut saya masih kerap jadi masalah adalah masih banyak pihak yang alergi memanfaatkan jasa freelancer, karena kecewa dengan hasil atau melewati tenggat waktu yang ditentukan. Inilah yang kerap jadi kesalahan para freelancer, abai dengan kualitas dan tidak disiplin.

Maka itu, sangat penting untuk mengerjakan pekerjaan sepenuh hati; karena ini merupakan bisnis komitmen dan kepercayaan. Sekali saja klien kecewa, akan sulit untuk meraihnya lagi.