Ardhira Putra: Pentingnya Konsisten pada Kebebasan Karya Personal

Banyak dari kita terlena dengan karya animasi atau komik yang pernah muncul di masa kecil kita. Namun tidak semua dari kita pada akhirnya memutuskan untuk membawa memori itu menjadi sebuah inspirasi karier. Dengan cukup mengejutkan, era serba visual ini semakin maju dan artinya, apa pun industri yang menyajikan bentuk visual menarik maju beriringan.

Tidak tersembunyi, para seniman yang mendeklarasikan diri sebagai ilustrator, animator dan visual artist ini semakin diapresiasi keberadaannya –apalagi bicara kesempatan yang muncul lewat media sosial. Rumusnya hanya satu, para kreator ini cuma perlu rajin berkarya dan mem-posting artwork mereka lewat akun media sosialnya. Sisanya, giliran para calon klien yang menilai dan memilih.

Hal ini kemudian kembali lagi pada si seniman dalam mengembangkan diri dan karyanya. Apakah mereka akan pasrah dan terus mengikuti demand industri? Atau malah kukuh mempertahankan sebuah genre dan ciri khasnya sendiri? Kedua hal ini pernah dilewati oleh Ardhira Putra, ilustrator/animator asal Indonesia yang kini berkarier di Singapura.

Baca Juga: Ykha Amelz Bicara Perjalanan Karier, Art Merchandising dan HAKI

Ardhira Putra: Pentingnya Konsisten pada Kebebasan Karya Personal
(Dok. Instagram @ardhiraputra)

Lewat cerita Ardhira, kita dapat memahami inti inspirasi, perjalanan kariernya sejak lulus kuliah, hingga pendapatnya akan pentingnya menggarap serius personal project (di luar pekerjaan utama). Bahkan, Ardhira yang mengaku masih belajar hingga saat ini masih belum bisa memutuskan kalimat apa yang bisa mendeskripsikan karya-karyanya. Untuknya, mungkin ini tidak penting. Untuk Ardhira, mungkin yang paling penting adalah membuat museum bagi masa kecilnya lewat karya ilustrasi dan animasi dan menyampaikannya untuk orang lain yang merasa serupa.

Dalam wawancaranya dengan Crafters, Ardhira bicara soal menjadi ilustrator di Indonesia dan Singapura, industri, dan perbedaan pasar visual di kedua negara hingga perangkat teknis yang ia gunakan dalam membuat karya. Berikut wawancaranya:

Gimana sih cerita awalnya kamu menjadi seorang ilustrator Indonesia yang kemudian bekerja dan berkarya di Singapura?

Saya memang sudah suka menggambar itu dari SD, terpengaruh komik Dragon Ball dan Tintin. Juga karena main game seperti Bomberman dan Mario Kart di Nintendo atau menonton acara televisi Ksatria Baja HitamPatlabor dan Looney Tunes. Kemudian saya sempat mengambil kuliah jurusan Animasi di Multimedia University (Malaysia) yang banyak membuka wawasan baru tentang dunia animasi atau pun dunia visual. Saat itu juga, saya sedang amat menggemari karya-karya Eko Nugroho, Phunk Studio, Jeremmy Ville dan Jon Burgerman. Dan akhirnya saat saya kuliah animasi, keinginan untuk berkarya ilustrasi timbul.

Saya pun sempat nekat berkarya ilustrasi atas nama Keledai di Deviantart di tahun 2007 dan mendapat feedback dan support yang positif. Setelah itu saya sibuk dengan tugas akhir kuliah, kelulusan dan pekerjaan hingga karya-karya personal pun ditinggalkan karena  sibuk hidup di industri animasi dan advertising. Baru kemudian saya cukup lelah berjalan di dalam industri tersebut, lebih tepatnya merasakan repetisi membosankan di dalam pekerjaan. Pada 2018 lalu, akhirnya saya memutuskan untuk fokus berkarya personal lagi dalam bentuk ilustrasi dan animasi. Diawali dengan sebuah karya animasi di video musik Barefood yang berjudul Candy.

Kemudian di tahun 2019, saya mendapat tawaran kerja di Singapura pada bidang Virtual Reality tepatnya. Karena saya merasa medium untuk sebuah karya terus berkembang, mungkin ini adalah sebuah jawaban investasi untuk masa depan juga. Namun, kebebasan berkarya personal saya pun masih saya jalankan sampai sekarang. Karena pada akhirnya, karya-karya di instagram saya itu lah yang membuat saya bahagia.

Tantangan terbesarnya apa saat menyesuaikan diri bekerja kreatif di Singapura?

Menurut saya tantangannya adalah komunikasi. Bagaimana kita bisa membaur ke dalam komunitas baru dan bisa memberi impact yang positif juga tentunya. Sebenarnya ini berlaku dimanapun kita tinggal, ya. Tapi, yang saya rasakan sekarang adalah saya sedang berada di fase transisi; bertemu dan mengenal orang-orang baru dan bertemu komunitas-komunitas baru di Singapura.

Genre itu penting enggak sih bagi ilustrator/animator yang bekerja untuk industri? Atau genre hanya sekedar penting untuk keperluan pengkaryaan pribadi?

Tergantung, untuk ilustrator/animator yang baru saja lulus, ada baiknya untuk mencoba semua genre untuk mengenal dan memperluas wawasan. Serta untuk memiliki pengalaman 2-3 tahun dalam bekerja. Jadi, menurut saya di tahap ini sih lebih baik jangan stay di satu genre. Sampai nantinya bisa menemukan genre personal yang sangat cocok. Nantinya hal ini akan menjadi penting, baik di industri atau personal, karya kita jadi lebih berkarakter.

Lihat di sini para desainer yang tergabung dalam jejaring GetCraft!

Apa perbedaan terbesar dari pasar industri ilustrasi/animasi Indonesia dan Singapura yang kamu rasakan?

Yang paling saya rasakan untuk perbedaan pasar industri animasi, studio atau PH di Singapura adalah bahwa mereka mempunyai network yang kuat dengan klien internasional, mulai dari brand, game, film hingga animasi. Tapi, industri di Indonesia sendiri punya kebebasan yang lebih besar dan beragam dalam berkarya atau membuat IP (Intellectual Property) dan mengembangkannya.

Siapa saja artist yang memberikan inspirasi dalam karyamu dan kenapa?

Yang pertama Pieter Bruegel. Saya dari dulu memiliki obsesi dengan gambar-gambar suasana, dan warna-warni yang beragam dan cukup detail. Lukisan-lukisan Pieter Bruegel yang micro detailedcomplex, dan bercerita sangatlah menarik buat saya.

Yang selanjutnya adalah Masaaki Yuasa. Animasi Mind Games selalu menjadi favorit saya nomor satu. Selain Massaki Yuasa memiliki karakter animasi yang kuat, dia juga berhasil membuat Mind Games ini jadi terasa sangat menghibur dengan jokes-nya yang berkarakter dan terasa sangat religius.

Kemudian ada Herge, si komikus Tintin. Darinya, saya belajar bahwa jika wawasan jurnalisme bertemu dengan kesenian akan menghasilkan sesuatu yang bagus dan penting. Penggambaran detail Herge dalam membuat environment, pesawat-pesawat Tintin dan transportasi mobil sangatlah detail di zaman itu.

Yang terakhir, Eko Nugroho. Dunia dan karakter-karakter di gambarnya, selalu mengingatkan saya tentang kebebasan berimajinasi saat masa kecil, ketika bermain dengan action figure, berimajinasi ke luar angkasa atau markas alien dan karenanya, saya pun jadi membuat ilustrasi juga sampai saat ini.

Baca Juga: Stephanie Priscilla: Berkarya Ilustrasi untuk Dua Budaya

 

Ardhira Putra: Pentingnya Konsisten pada Kebebasan Karya Personal
(Dok. Ardhira Putra)
Ardhira Putra: Pentingnya Konsisten pada Kebebasan Karya Personal
(Dok. Ardhira Putra)
Peran media sosial jadi penting dan itulah mengapa peran genre, spesifikasi skill dan branding sangatlah penting.
Ardhira Putra: Pentingnya Konsisten pada Kebebasan Karya Personal
(Dok. Ardhira Putra)
Menurutmu, bagaimana nantinya perkembangan industri ilustrasi dan animasi di pasar? Apakah akan meningkat atau malah menurun?

Kalau menurut saya dengan adanya internet dan media sosial, industri ini akan bisa meningkat. Enggak peduli kita ada di mana, seharusnya dengan bantuan itu semua kita bisa menciptakan pasar sendiri. Karena ini nyata dan sudah mulai terjadi. Klien internasional yang bisa langsung menghubungi artist yang berada di negara berbeda untuk melakukan, misalnya, commission work melalui media sosial. Peran media sosial jadi penting dan itulah mengapa peran genre, spesifikasi skill dan branding sangatlah penting. Yang saya rasakan juga, dengan cepatnya saya bisa berkomunikasi dengan komunitas dan orang-orang baru yang belum saya kenal lewat media sosial.

Bisa dibilang di 2018, semua tawaran commission work saya datang dari media sosial.

Yang saya baru sadar juga, penggunaan LinkedIn orang-orang di Singapura lebih “hidup” di bandingkan Indonesia. Maka itu, ada pentingnya kita mempelajari peranan tiap media sosial dalam membentuk sebuah portofolio yang baik.

Secara teknis dalam pengkaryaan kamu membutuhkan tools apa saja?

Adobe Illustrator karena kualitas vector-nya. Saya juga suka garis yang solid pilihan warna yang ada. Hampir semua karya saya menggunakan Adobe Illustrator.

Kemudian After Effect untuk animasi dan Cinema 4D–ini biasanya digunakan kalau butuh asset 3D. Karena Cinema 4D lebih mudah untuk bikin effects motion graphic dibanding software 3D lainnya.

Apa pentingnya kolaborasi dan networking bagi kamu sebagai ilustrator/animator?

Saya suka kolaborasi karena saya selalu mempelajari hal baru dari sebuah kolaborasi. Saya suka kalau mendapat referensi-referensi baru dan juga belajar teknik baru. Terkadang saya juga jadi mengerti taste baru, “kenapa si artist ini kok suka dengan gaya seperti itu?” Terkadang akhirnya saya jadi mengerti dan mendapat pemahaman baru yang kemudian dapat diaplikasikan nantinya. Networking itu juga sangat penting untuk artist baru. Berkenalan langsung, berdiskusi untuk membuat nilai respect yang lebih dibandingkan hanya chat via media sosial. Dulu di tahun 2018 saat saya masih di Jakarta, biasanya kalau ada artist yang karya-karyanya menarik, saya langsung mengirim direct message untuk janji ketemuan dan berdiskusi. Dengan mudah di zaman ini kita dapat selalu mendapat wawasan baru karena semuanya lebih mudah. Tinggal kemauan saja.

Terakhir, apa bentuk karya lain yang ingin sekali kamu coba buat?

Karena saya sedang bekerja di bidang VR, semoga ke depannya saya bisa menghasilkan karya dengan medium Hololens atau pun VR.

 

Kamu seorang desainer yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?