Anton Ismael: “Idealisme Bisa Berkompromi”

Anton Ismael: "Idealisme Bisa Berkompromi"
Anton Ismael (Dok. Ifan Hartanto)

Beberapa waktu lalu, saya mengunjungi sebuah studio foto. Bersama seorang teman, saya menghabiskan waktu seharian di sana membuat konsep dan menemani fotografer kami memotret dua model untuk sebuah proyek. Saat itu terlintas dalam kepala saya bahwa bidang tersebut merupakan bidang yang menantang.

Kemudian sesosok pria muncul di studio foto yang kami gunakan untuk memotret proyek tersebut dan mulai memotret kedua model saya dengan kamera pocket-nya, saya takjub. Memotret menjadi tampak sangat menyenangkan.

Saya bertanya kepada teman mengenai pria tersebut dan teman saya menjawab kalau pria itu adalah Anton Ismael, seorang fotografer sekaligus pendiri Kelas Pagi Jakarta. Mencari informasi mengenai pria itu, saya akhirnya mendapati sederetan foto yang berbeda dari karya-karya fotografer kenamaan lain. Saya sangat terkesan. Setelahnya, saya bergegas menghubungi beliau untuk berbincang lebih lanjut mengenai dunia fotografi.

Fotografer yang memiliki nama panjang Antonius Widya Ismael itu lahir di Jakarta pada tanggal 17 September 1975. Anton Ismael dilahirkan dari sebuah keluarga dengan ayah yang memiliki latar belakang seorang tentara Kopassus; sangat keras. Sebaliknya, ibunya adalah seorang ibu rumah tangga yang awalnya belajar seni. Jadi, Anton Ismael merupakan gabungan dari kedisiplinan militer dan ibu yang lemah lembut dan suka seni.

Ditemui di Third Eye StudioCrafters berhasil berbincang dengan Anton Ismael membahas beragam topik mulai dari seputar perjalanannya sebagai fotografer, industri fotografi, dan insights-nya saat berkolaborasi dengan brand dan menggarap karya pribadi, serta pandangannya terhadap fenomena fotografi di Indonesia.

Apa yang pertama kali membuat Mas Anton jatuh cinta dengan dunia fotografi?

Pertama kali saya tidak jatuh cinta, tapi adalah sebuah respons saya atau kebutuhan saya untuk berekspresi. Ternyata saya itu punya kelemahan yakni bahasa; bicara di depan orang, menulis, dan angka-angka. Saya enggak baik di situ. Akhirnya ada satu alat yaitu visual atau gambar. Kerjaannya dulu itu rebutan majalah Donal Bebek, karena itu, kan visual semua, sebab dulu saya belum bisa membaca.

Dan ternyata kesenangan saya pada gambar berkembang serta terus berkembang. Pertama kali adalah gambar. Dari gambar, saya bisa mengekspresikan sesuatu. Nah, kemudian beralih ke memotret yang diperkenalkan oleh bapak saya. “Nih kamera,” katanya. Saya diberikan kamera pocket. Jepret! Lebih cepat daripada gambar, akhirnya saya lebih bisa mengekspresikan bahasa saya lewat kamera. Fotografi itu langsung. Apalagi sekarang sudah digital. Jepret! Langsung jadi. Itu jadi menarik buat saya. Jadi makanya fotografi untuk saya adalah sebagai sebuah alat berkomunikasi.

Seperti apa proses kreatif Mas Anton dalam membuat karya? Mulai dari pra produksi sampai pasca produksi?

Ada dua hal. Satu, proses kreatif untuk klien, di mana saya bekerja untuk orang lain. Itu saya proses kreatifnya tentunya harus mengumpulkan data-data dulu, tentang klien-klien saya, tentang target marketnya itu. Hal yang tadinya enggak saya pelajari di visual, ternyata penting juga, bahwa ternyata untuk membuat gambar yang sifatnya mengkomunikasikan sesuatu kita harus tahu target market kita. Di situ saya mulai belajar tentang bagaimana sih market, bagaimana sih pemikiran orang lain, kebiasaan orang lain. Di situ saya harus tahu.

Setelah itu, setelah tahu bahasa target market saya. Itu artinya, saya bisa mengkomunikasikan sesuatu dengan lebih baik. It’s not always a good picture, tapi ‘sebuah foto yang berkomunikasi’ bagi saya jadi lebih penting pada saat saya bekerja dengan klien, karena klien juga memiliki target untuk berkomunikasi dengan target audiens. Katakan saja, kalau iklan sabun, apakah itu untuk remaja, untuk ibu-ibu, dan semacamnya.

Yang kedua, proses kreatif saya dalam membuat karya pribadi. Nah, metodenya macam-macam. Yang namanya proses kreatif itu menurut saya tidak ada yang fix. Katakanlah saya brainstorming dulu, berimajinasi dulu, bengong dulu, ngawang-ngawang, tapi besoknya mungkin enggak harus ngawang-ngawang dulu. Bisa ngobrol dengan orang. Mungkin kali ini metodenya, saya akan ngobrol dengan orang dulu, menggali cerita, menggali pengalaman orang, kemudian ditransformasikan menjadi sebuah karya visual.

Ada kalanya tidak dari mengobrol dengan orang. Bisa juga dari pengalaman sendiri. Jadi saya berkomunikasi dengan diri saya sendiri. Apa ya? Kenapa begitu ya? Lebih ke arah kontemplatif. Itu juga bisa. Saya selalu merubah metode saya berkarya. Karena menurut saya, kalau kita melakukan metode yang berbeda-beda kita akan mencapai sebuah hasil akhir yang berbeda pula. Jadi saya akan mengusahakan untuk membuat proses saya sekreatif mungkin sehingga saya mencapai sebuah hasil akhir yang kreatif.

Baca Juga: Pio Kharisma: Melawan Rasa Cepat Puas

 

Anton Ismael: "Idealisme Bisa Berkompromi"
(Dok. Instagram @antonismael_rawfile)
Anton Ismael: "Idealisme Bisa Berkompromi"
(Dok. Instagram @antonismael_rawfile)
Apa alasan Mas Anton menekuni dunia fotografi fashion?

Nah, kamu berpikir bahwa saya menekuni bidang fotografi fashion. Sebenarnya enggak. Kebetulan saja saya terkoneksi cukup erat dengan fashionWhy? Karena mungkin itu yang terlihat di permukaan. Fashion is always interesting for everybody. Wanita cantik, up to date, OOTDkayak gitu… tapi karya saya selain fashion banyak, seperti cerita tentang pendalaman edukasi itu seperti apa.

Menjawab pertanyaan ini, awalnya itu saya kejeblos di fashion. Saya pertama kali senang memotret manusia dan saya suka melihat pakaian bagus dan wanita cantik. Pakaian bagus dan wanita cantik, keduanya digabungkan menjadi sebuah keindahan. Saya dapat berekspresi membuat macam-macam. Mengekspresikan cerita juga bisa. Mengedukasi orang akan pesan saya lewat wanita cantik dan pakaian bagus. Itu jadi satu hal yang menarik.

Memotret wanita cantik itu membuat semangat. Sesimpel itu. Tapi fashion fotografi itu sebenarnya sama seperti melukis. Kalau kamu melihat foto fashion saya, saya selalu meng-incorporate a lot of things yang bukan hanya pakaian, tapi juga kebudayaan juga, goresan kuas saya. Goresan kuas lewat bentuk desain bajunya seperti apa. Seperti tadi, saat memotret, melihat bajunya mengambang di air terlihat serupa goresan kuas.

Pada saat memotret fashion, jangan pernah berpikir kalau akan stuck memotret fashion. Di hadapan ada model dengan baju indah, ya sudah, itulah kanvas putihmu. Goreskan kuasmu di situ. Begitu.

Siapakah sosok fotografer yang mempengaruhi Mas Anton dalam berkarya dan bagaimana pengaruh mereka terhadap cara Mas Anton menggarap foto, jalan karier, serta cara berpikir Mas Anton?

Saya terpengaruh oleh banyak fotografer. Tapi lebih banyak lagi, pelukis. Dan lebih banyak lagi, adalah orang di sekeliling saya. Jadi, menurut saya, kalau kita hanya mencari sumber ide atau reference hanya dari seorang fotografer, kita tidak akan menjadi siapa-siapa. Kita akan menjadi fotografer yang enggak bebas. Begini deh, mencari reference fotografi dari fotografer. Ya sudah jadinya begitu-begitu saja. Tapi kalau kamu nongkrong bersama pelukis, tukang parkir, tukang parkir, karyamu akan berkembang.

Lihat fotografer yang tergabung dalam jejaring GetCraft!

Tapi untuk sosok pelukis sendiri, karya siapa saja yang mempengaruhi Mas Anton?

Wah, banyak. Gustav Klimt, Frida Kahlo, Jackson Pollock, Warhol-meskipun ia menggabungkan ini itu-Renoir, Rembrandt, Degas… banyak.

Sejujurnya apa yang ingin Mas Anton bagikan melalui fotografi Mas Anton dan bagaimana foto-foto Mas Anton berhasil menjadi medium dalam membagikan cerita tersebut?

Jadi misalkan ada satu karya saya yang disebut fotografi, tapi di dalamnya saya menceritakan tentang sebuah edukasi, tentang bagaimana seharusnya edukasi dijalankan oleh saya. Bukan oleh orang lain, ya. Beda manusia, beda cara menjalankannya.

Saya bercerita tentang bagaimana edukasi itu seharusnya membebaskan dan membiarkan karena edukasi itu sangat erat dengan ilmu praktik yang kita harus terapkan dengan orang-orang yang ada di sekeliling kita. Makanya ada kata-kata “keluar, tumbuh, liar”. Ketiganya adalah sistem edukasi yang saya terapkan. Ibaratnya, kita semua ini sangat disayangi oleh rumah kita, orangtua kita, seperti sebuah tanaman yang ada di dalam sebuah pot. Dikasih pupuk dan disirami. Karena itu, kita sebagai tanaman akan tumbuh baik. Iya, tumbuh dengan baik. Tapi akarnya tidak akan ke mana-mana.

Kalau saya, saya akan ambil tanaman itu dari pot dan akan saya lempar di hutan. Dan akan saya diamkan. Ya mungkin dalam satu minggu pertama, ia akan menjadi tanaman yang sangat layu. Tapi setelah itu, akarnya akan mulai merambat ke bawah, bertunas, dan dia akan menjadi tanaman yang paling lestari di antara tanaman mana pun. Dan ini yang saya lakukan dengan anak saya. Semenjak SMP saya suruh dia keluar dari rumah saya dan tidak saya lindungi. Dan mengatakan hal itu lewat fotografi. Ada bukunya, judulnya ‘Rumah’. Pameran dua sampai tiga tahun lalu ada pameran juga dengan tajuk ‘Rumah’. Dan ‘Rumah’ adalah sumber pertama edukasi kita pertama kali.

 

Anton Ismael: "Idealisme Bisa Berkompromi"
(Dok. Instagram @antonismael_rawfile)
A great leader, fotografer yang besar, is always a good storyteller. Just like who? Who is our great president? Soekarno. He is a great storyteller. A photographer is a leader, that’s why kita sebagai fotografer we have to be a good storyteller. So, try to be a good storyteller, before we think to be a photographer.
Alasan yang membuat Mas Anton terus memotret baik itu dari segi ekonomi, intelektual, atau emosional?

Ekonomis ya. That’s the only thing that I can do. Memotret. Dari segi emosional juga. Pada awalnya, ya itu, saya memotret untuk berkomunikasi. Sama seperti komunikasi sudah menjadi kebutuhan primer manusia, memotret bagi saya adalah kebutuhan primer. Sekalipun itu menggunakan handphone.

Selanjutnya selain kebutuhan primer, tempat berekspresi, dan saya bisa dekat dengan banyak orang di sekeliling saya. Itu jadi hal yang menarik. Saya bisa dekat dengan siapa pun, mulai dari anak berusia muda sampai yang lebih tua dari saya. Dari segala lintas pendidikan apa pun.

Bagaimana cara Mas Anton membangun cerita di dalam sebuah karya?

Cerita yang saya utarakan, saya simbolisasikan lewat foto. Saya banyak menggunakan simbol-simbol. Caranya macam-macam. Seperti pada salah satu karya saya yang cukup dekat dengan banyak orang. Ada penggambaran mie goreng yang barusan dimasak, kemudian dimasukkan ke sebuah tempat bekal. Sama seperti manusia.

Ceritanya ada sebungkus mi yang baru dimasak sama ibu saya pada pukul 6 pagi, bentuknya masih acak-acakan. Kemudian mi itu dimasukkan ke dalam sebuah tempat berbentuk kepala kucing, Hello Kitty. Dari jam 6 pagi sampai 11.30 siang, saat baru mau disantap, kita menyendok mi tersebut… apa yang kamu makan? Kamu makan kepala kucing. Saat disendok, mie tersebut tercetak dengan bentuk kepala kucing. Intinya cerita apa yang saya sampaikan? Jangan terlalu lama berada di suatu tempat, nanti kamu kaku, enggak bisa kebuka pikirannya.

Hal-hal seperti yang coba saya simbolisasikan ke dalam sebuah visual. Bagaimana kita sebagai manusia harus banyak “piknik”. Harus nongkrong, berteman dengan siapa saja agar pikiran kita terbuka dan wawasan kita lebih luas lagi.

Bagaimana cara mengarahkan model agar Mas Anton bisa mendapatkan hasil yang diharapkan?

Satu rumus saja: to be a photographer is to be a good mirror. Kalau saya tersenyum, kamu akan tersenyum. Kalau saya lompat-lompat, kamu akan melompat-lompat. Kalau saya sedih, kamu akan secara otomatis merasa sedih. Saya harus bisa melihat bagaimana saya ingin di-perceived oleh seseorang.

Mengenai foto, sebelumnya Mas Anton mengatakan kalau ide bisa datang dari mana saja seperti mengobrol dengan seseorang. Itu kan inspirasinya banyak sekali. Biasanya bagaimana cara Mas Anton menentukan konsep foto yang ingin dihasilkan tanpa terdistraksi dengan inspirasi lainnya?

Saya selalu tanyakan ke diri saya: “Ton, lo pengen ngomong apa? Judul foto ini apa?” Yaudah, stick with it. Kalau ada waktu, eksplor. Tapi lo maunya apa? Itu dulu, selesaikan. Why? Sebab kamu bekerja dengan waktu terbatas, dengan tim yang membantu, yaudah. Selesaikan dulu. Kalau misalkan kebutuhan pokok dalam memenuhi tema itu beres, baru bisa main-main. Sama seperti orang hidup. Penuhi dulu kebutuhanmu, baru bertamasya.

Bagaimana Mas Anton melihat fenomena fotografi di Indonesia saat ini?

Fenomena fotografi di Indonesia dan di luar negeri, hampir sama. Yang terjadi sekarang ini adalah perkembangan teknologi kita berpengaruh besar terhadap apa yang terjadi dalam dunia fotografi kita. Instagram, aplikasi-aplikasi yang utamanya adalah berfungsi sebagai platform yang memamerkan hasil-hasil foto kita. Semua orang sekarang bisa melakukan hal itu. Gadget-gadget dengan kemampuan super bisa mengambil foto yang sangat keren dan indah. Suddenly, semua orang bisa memotret. Suddenly, everybody’s a photographer.

Nah, ini menjadi satu hal yang cukup menarik bagi saya. Ada beberapa orang yang berpendapat kalau sekarang ada banyak fotografer berkeliaran, susah mencari job, harga semakin murah-banting-bantingan harga, persaingan tambah ketat.

Ada juga yang melihat itu sebagai keuntungan. Kenapa? Untuk saya, itu adalah keuntungan yang menarik. Karena sebenarnya fotografi telah menjadi konsumsi banyak orang. Sehingga mereka memberikan sebuah data, pengetahuan, informasi, dan kebudayaan di segala lapisan. Kamu bisa mengenal seseorang. Itu adalah sebuah data yang berharga bagi saya untuk bisa berkomunikasi dengan siapa pun orangnya.

Orang yang bisa menang adalah orang yang mempunyai data dan informasi. Sudah ada orang seperti ini, tapi kebanyakan masih belum bisa mengolah data tersebut menjadi sebuah kekuatan. Kita harus bisa arif menggunakan data-data ini dengan baik. Kalau kamu nggak laku sebagai fotografer, artinya perbaiki skill kamu. Mungkin bukan skill fotografi, tapi skill komunikasi kamu. Cobalah bermain. Jadilah muda, bukan dalam segi umur tapi spirit untuk terus belajar.

Ketakutan saya adalah menjadi orangtua yang kaku, menjadi guci. Pada saat mau diubah, guci pecah. Saya ingin selalu bisa dibentuk dan menjadi anak kecil.

Menurut Mas Anton, apakah menjadi fotografer sudah menjadi profesi yang menjanjikan di Indonesia?

Jadi fotografer di Indonesia adalah profesi yang sangat menjanjikan. Tergantung kamu sebagai seorang fotografer. Seorang fotografer yang berhasil bukan fotografer yang bisa membuat foto bagus semata, tapi dia memiliki skill komunikasi yang cukup baik pula. Dia bisa membangun komunikasi dengan orang-orang di sekeliling dia, dengan klien-kliennya, sehingga foto yang akan dihasilkan adalah foto yang berkomunikasi, foto yang menjawab target pasarnya seperti apa.

Kalau kamu bekerja dengan orang dan hanya mengikuti idealismemu saja, artinya itu bukan idealisme. Itu adalah egoisme. Idealisme bisa berkompromi. Makanya belajarlah untuk berkompromi.

Baca Juga: Raja Siregar: Pentingnya Membangun Cerita di Balik Foto Fashion

 

Anton Ismael: "Idealisme Bisa Berkompromi"
(Dok. Instagram @antonismael_)
Apa kekurangan di Indonesia sehingga sulit bagi masyarakat untuk memilih profesi sebagai fotografer?

Orang Indonesia itu manja. Letak negara kita itu di garis khatulistiwa. Mau negara kita pendapatannya di bawah negara-negara lainnya, tapi apakah ada orang Indonesia yang kelaparan? No. Tanah negara kita itu subur, segampang itu menanam pangan. Bandingkan dengan Jepang, salah menanam, kamu nggak makan.

Intinya semua itu sudah tersedia di sini. Dan itu yang membuat ktia menjadi malas. Kita jadi manja dan jadi seorang yang mengeluh. Pesan saya adalah never complainNever ever complain about anything. Kalau kamu tidak setuju terhadap sebuah sistem, make your own system. That’s why I created Kelas Pagi. Kita janganlah jadi beban bagi bangsa ini, jadilah orang yang bisa membantu negara ini. Belajar. Jangan manja. Tidak ada kompromi lagi.

Menurut Mas Anton, seberapa besar peluang bagi setiap fotografer untuk menjadi besar?

Peluangnya tergantung terhadap orangnya. Untuk menjawab itu, ada sebuah pernyataan. A great leader, fotografer yang besar, is always a good storyteller. Just like who? Who is our great president? Soekarno. He is a great storyteller. A photographer is a leader, that’s why kita sebagai fotografer we have to be a good storyteller. So, try to be a good storyteller, before we think to be a photographer.

Menurut Mas Anton, seberapa besar pengaruh dunia fotografi terhadap perkembangan industri kreatif di Indonesia?

Wah besar sekali. Industri kreatif… apa sih yang enggak pakai visual sekarang ini? Now you tell me. Mau dagang daster, tinggal foto pakai handphone dan masukin salah satu platform seperti Bukalapak atau Tokopedia. Itu semua pakai foto. Bayangin kalau kamu menjual dengan kata-kata saja. “Ini adalah sebuah daster dengan pola bunga-bunga warna merah.” Orang akan mikir keras untuk mengimajinasikan hal itu.

Pesan apa dari Mas Anton bagi mereka yang ingin berprofesi sebagai fotografer?

Ada dua hal yang ingin saya utarakan. Pertama, belajar hal teknis dahulu. Tahu nggak sih, kadang orang melewati hal itu. Tapi kalian generasi instan, jangan takut kalian dibilang generasi instan. Baru ikut kursus seminggu kemudian kalian buat perusahaan. Ya silahkan, enggak apa-apa. Banyak orang yang skeptis dengan generasi instan. Man, go for it. Lakukan dengan cara kalian. Tapi satu, pelajari teknis, karena teknis bisa mendukung ide yang tak terbatas. Kalau kita punya ide yang tak terbatas, tapi kita nggak tahu cara mewujudkannya secara teknis, hasilnya akan sayang sekali.

Setelah itu, nongkronglah di mana-mana. Jangan hanya sama fotografer saja. Jangan hanya berkutat dalam satu komunitas terus. Orang punya pendapat lain, kamu serang karena enggak setuju. Dengerin dulu. Ambil yang bagus. Enggak setuju ngak apa-apa. Filter dulu. Belajar pengetahuan baru. Ilmu pengetahuan itu sangat penting karena Ilmu pengetahuan akan mengarahkan kamu.

Yang kedua, kebodohan itu menyesatkan, tetapi ingat, ketidak tahuan itu akan membebaskanmu. Gabungkan semuanya. Pada saat kamu sudah memiliki banyak ilmu pengetahuan dan hanya berkutat dalam ilmu itu saja, dalam hal ini fotografi, kamu akan menjadi fotografer yang kaku. Well,apa yang bisa saya lakukan? Yang saya lakukan adalah belajar untuk “terserah gue”, nggak mau tahu. Kadang-kadang harus begitu. Pakai kamera pocket, lucu-lucuan. Karena itu membebaskan saya. Give me the present. Apa yang akan gue dapet ya? Kemudian, combine those together, supaya menjadi sebuah kekuatan yang lengkap.

 

Kamu seorang fotografer yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?