Annisa Rizkiana: Hidup dalam Dongeng Sambil Terus Berkarya

Every child is an artist. The problem is how to remain an artist once they grow up. -Pablo Picasso

Selalu ada perasaan yang hangat muncul, saat saya berpapasan dengan sebuah karya yang dibuat dengan kenaifan yang tulus, namun sepenuh hati. Bentuknya bisa apa saja, mulai dari lukisan, tulisan, hingga karya seni lainnya. Adalah Annisa Rizkiana, seorang perempuan berbakat yang mulanya bergerak melalui karya zine-nya di tahun 2010. Sejak kecil, Annisa yang bercita-cita menjadi seniman dan ilmuwan ini selalu hidup dalam dunia dongeng yang manis dan pada akhirnya menuangkan inspirasinya pada hasil akhir karya seninya.

Annisa Rizkiana: Hidup dalam Dongeng Sambil Terus Berkarya
Annisa memeluk buku-buku dongeng favoritnya

Annisa sudah banyak berpartisipasi dalam banyak pameran kolektif seperti Jakarta Biennale, One Billion Rising dan Metamorfosa di Semarang. Dalam karyanya, Annisa sering mengangkat isu kebahagiaan, lingkungan hidup, dan pendidikan. Maka itu, belakangan ini ia juga mulai sering berpartisipasi dalam membuat mural di sekolah-sekolah dengan tujuan mengingatkan para siswa agar terus peduli menjaga lingkungan. Hal ini ternyata menjadi penting untuk Annisa sebagai seniman. Bagaimana karyanya bisa terus hidup, menginspirasi, dan menghangatkan siapa saja yang melihatnya.

Baca Juga: Bicara Buku Anak Sembari Nyore Bersama Reda Gaudiamo

Berbicara dengan Annisa rasanya seperti bicara dengan seorang sosok karakter yang keluar dari buku-buku karangan Hans Christian Andersen. Annisa selama ini dikenal lewat karya-karyanya yang sederhana–yang rasanya bisa membuat kita sekejap lupa akan kegelisahan yang kita alami. The Crafters berhasil ngobrol dengan Annisa sambil bicara tentang karya, art block, hingga proses dan tantangan yang dihadapi Annisa di era serba media sosial ini.

Bagaimana awal mulanya kamu mulai berkarya?

Aku sudah tertarik pada kegiatan menggambar sejak masih kecil. Ini terdengar naif, namun aku senang mengingat masa-masa tersebut. Tembok di rumah selalu penuh dengan garis yang ditarik ke sana kemari. Kemudian pada tahun 2010, kurang lebih 7-8 tahun yang lalu aku membuat zine pertamaku serta bergabung dengan kolektif seni di Semarang bernama Hysteria.

Karyamu dikenal dengan ide kesederhanaan yang sering dilupakan. Apakah yang melatarbelakangi itu semua?

Aku senang bagaimana sebuah karya membuat kita ‘merasa’. Aku juga ingin ketika orang membaca maupun melihat karyaku, mereka merasa hangat. Seperti dipeluk.

Siapakah seniman lain yang menginspirasimu?

Chihiro Iwasaki, Mary Engelbreit, Yumi Sakugawa, dan seniman-seniman perempuan yang pemberani, penuh kasih serta warna dalam karyanya. Mereka selalu memberikan inspirasi yang besar untukku.

Boleh diceritakan awal mulanya kamu membuat mural di sekolah-sekolah?

Awalnya tahun lalu (2017) aku membuat mural kecil untuk salah satu rumah perpustakaan di kota Lamo, Riau. Beberapa bulan kemudian, salah seorang kawan mengajakku meneruskan proyek-proyek mural yang edukatif dan kami berkenalan dengan dua sekolah yang penuh semangat di Ungaran, Kabupaten Semarang. Satu mural dibuat untuk SD Langensari 02 dan satu lagi untuk SD Candirejo 01. Pernah ada satu hari di mana hujan turun deras sekali saat aku melukis mural. Jadi saat itu aku, seorang kawanku, serta 3 orang anak-anak SD harus sembunyi di kamar mandi kosong sampai berjam-jam agar bisa melanjutkan menggambar lagi hahahaha. Betul-betul pengalaman yang seru dan lucu.

 

Annisa Rizkiana: Hidup dalam Dongeng Sambil Terus Berkarya
Annisa melukis mural di sekolah SD Candirejo 01
Aku senang bagaimana sebuah karya membuat kita 'merasa'. Aku juga ingin ketika orang membaca maupun melihat karyaku, mereka merasa hangat. Seperti dipeluk.
Dari seluruh project yang telah kamu jalankan, project manakah yang sangat kamu nikmati dari proses hingga hasil akhirnya?

Baru-baru ini aku terlibat dalam pameran Metamorfosa di Semarang sebagai rangkaian konser album terbaru Andien dengan judul yang sama. Sebab tema besarnya sendiri adalah perjalanan Andien menjadi seorang ibu, kami seperti dibawa ke dalam pengalaman yang tersebut. Ada perasaan hangat, sakral, dan sentimental. Salah satu karya yang aku buat adalah sebuah puisi berjudul “Ibu, Aku Ingin Makan Pisang Rebus”, yang terinspirasi dari kasih sayang perempuan-perempuan dewasa di rumah. Dulu, kala aku masih kecil, nenek atau ibu menggunakan metode ini dalam proses menyembuhkan seorang anak di saat mereka sakit. Mereka memberikan pisang rebus hangat maupun makanan lunak nan manis lain sebagai selingan makanan utama.

Baca Juga: Nick Filbert: Ilustrator di balik Sampul Buku Harry Potter

Apa yang kamu lakukan saat menghadapi art block?

Art block atau kebuntuan kreatif adalah hal yang wajar. Dalam arti perasaan tersebut organik, yah. Sama seperti kita saat merasa bahagia, penuh ide, bersemangat, maka perasaan ingin diam atau ingin berhenti itu dapat divalidasi keberadaannya. Aku adalah seorang penyimpan. Mengumpulkan barang-barang kecil yang mengingatkan aku pada satu hal yang menyenangkan dapat membuatku terinspirasi kembali. Karya-karya lama, tulisan kecil, buku harian, buku dongeng, foto, maupun barang-barang yang membawa kita pada kenyamanan, bagiku adalah hal yang layak disimpan. Dengan begitu, kita membekukan memori, dan saat kita datang untuk melihatnya kembali, mereka meredefinisi maknanya sendiri.

Proses atau ritual personal apa yang biasa kamu lakukan saat berkarya?

Aku sering tidur di lantai… hahahaha. Iya, aku sering tidur di lantai, atau duduk melamun jam 3 pagi. Kesunyian adalah hal berharga bagiku untuk mencapai diri yang paling utuh. Kadang, ada saatnya juga aku duduk di bawah pohon seperti bersembunyi dari dunia ini. Dalam persembunyian tersebut kita akan menjadi lebih peka pada suara burung, suara angin, bebauan tanah dan daun, serta suara hati nurani kita sendiri.

Menurutmu, apakah keuntunganmu menjadi seniman yang memiliki akses networking lewat media sosial? Apakah ini membantu kamu dalam berkarya?

Tentu. Aku banyak menggunakan karyaku sebagai media penyampai pesan akan kasih dan kebaikan dunia. Media sosial membuat komunikasi itu terjadi, meskipun melalui caranya sendiri. Aku merasa setiap dari kita yang menciptakan sesuatu memiliki kewajiban untuk mengisi dan membagikan konten yang baik. Sedang hasil yang lain hanyalah perpanjangan tangan saja.

Apa tantangan terbesarmu sebagai seniman selama ini?

Tantangan terbesar adalah bertahan hidup dan sambil tetap percaya pada panggilan hati kita.

Misi besar apa yang akan kamu kejar di masa mendatang?

Aku ingin menulis buku. Duduk di kursi pendek, tinggal di rumah kecil yang dikelilingi anjing, kucing, kelinci, merpati, dan ayam kate. Serta merasa bahagia telah hidup.

 

Annisa Rizkiana: Hidup dalam Dongeng Sambil Terus Berkarya
Salah satu karya Annisa di akun Instagram-nya