Aji Susanto Anom: Menciptakan Karya adalah Proses Memahami Diri Sendiri

Agnes Martin, seorang pelukis abstrak kelahiran Kanada-Amerika, pernah berkata jika seniman adalah kaum intuitif. Ia berpendapat jika seniman adalah orang yang tabah menunggu inspirasi. Dengan kata lain, ia mengatakan kalau seni, apapun bentuknya, ialah sebuah kerja intuitif yang memiliki dasar pada perasaan. Seni sejatinya merupakan ide yang menghasilkan ide lain. Maka tak heran karya seni mampu mencetuskan perasaan bahagia, gelisah, ketakutan, atau perasaan lainnya.

Bicara soal perasaan saat melihat karya seni, baru-baru ini saya tergerak melihat sebuah karya foto salah satu fotografer Indonesia. Pada sebuah foto yang tampil dalam karyanya, saya mendapati diri saya digelayuti melankolia. Saya menemukan pertanyaan-pertanyaan yang juga mampir dalam kepala mengenai rumah dan mimpi-mimpi. Berjudul Recollecting Dreams, karya Aji Susanto Anom berhasil membekas di ingatan dan menggerakkan sesuatu dalam hati saya.

Aji Susanto Anom sendiri adalah seorang fotografer asal Solo, Indonesia. Karya-karya yang ia hasilkan merupakan refleksi dari penyelaman akan pertanyaan-pertanyaan personal dirinya terhadap hidup. Aji Susanto Anom telah menerbitkan lima photobooks secara independen; “Nothing Personal”, “Poison”, “Recollecting Dreams”, “River of Hades”, dan “Recollecting Dreams Verse II”.

Aji Susanto Anom: Menciptakan Karya adalah Proses Memahami Diri Sendiri
Aji Susanto Anom

Pada 2015, ia terpilih sebagai salah satu partisipan dalam “Angkor Photography Workshop” di bawah mentor Antoine D’Agata, seorang fotografer senior asal Prancis, dan Sohrab Hura dari India. Di tahun 2016, salah satu karyanya terpilih menjadi finalis BURN MAGZINE Emerging Photographer Fund 2016.

Tak hanya di majalah BURN, kamu yang ingin mengenal lebih dekat karya-karya Aji Susanto Anom pun dapat melihat publikasi fotonya di Lens Culture, The Invisible Photographer Asia, Top Photography Films, Monovisions, Dodho Magazines, Sidewalkers Asia, dan masih banyak lainnya. Sampai saat ini, Aji Susanto Anom aktif membagikan refleksinya lewat street photography di laman profil Instagramnya.

Ingin mengetahui lebih lanjut mengenai filosofi dan kisahnya menekuni dunia fotografi, saya pun menghubungi Aji Susanto Anom. Mewakili Crafters, berikut wawancara saya dengan Aji membicarakan kisahnya menekuni dunia fotografi, buku kumpulan fotografinya, hingga pandangannya terhadap budaya fotografi Indonesia.

Baca Juga: Panduan Mengenal Kamera Analog, DSLR dan Mirrorless

Kapan pertama kali Aji mengenal fotografi, hingga akhirnya melahirkan beberapa karya photobook: Nothing Personal, Poison, Recollecting Dreams (dua edisi) dan yang paling baru R.O.H. (River of Hades)?

Saya mengenal fotografi dari kecil, karena kebetulan ayah saya punya studio foto waktu itu. Saya ingat dulu sering bermain dengan selongsong seluloid film bekas ataupun seluloid film yang tidak terpakai. Sayang studio ayah saya cuma berumur sampai saya berusia 5 tahun. Kemudian saya mulai serius mendalami fotografi lagi saat mulai kuliah di tahun 2008, dengan kamera peninggalan ayah saya: Nikon FM10. Dari situ, saya mulai perjalanan fotografi saya.

Bagaimana Aji mendeskripsikan gaya fotografi yang ditekuni?

Pertanyaan yang sulit, nih. Sebenarnya, jenis/gaya fotografi saya berangkat dari pendekatan street photography, kemudian dalam perkembangan kekaryaan saya, gaya fotografi saya terus berkembang, saya sekarang mendalami personal documentary namun tetap mempertahankan pendekatan surreal dan candid dari gaya street photography, karena bagi saya, itulah yang membuat fotografi menyenangkan dan menantang.

Apa yang paling menginspirasimu dalam berkarya?

Biasanya inspirasi muncul tiba-tiba sih–dipicu oleh banyak hal seperti lagi nongkrong di angkringan bersama teman,  bertemu dengan orang-orang di jalanan, novel-novel yang dibaca, film-film yang ditonton, musik-musik yang didengar, sampai melamun di toilet. Yang paling menginspirasi bagi saya adalah kehidupan itu sendiri dalam bentuk apa pun itu, yang penting kita stay open saja dan keep practice “seeing”.

 

Aji Susanto Anom: Menciptakan Karya adalah Proses Memahami Diri Sendiri
(Dok. Aji Susanto Anom)
Sebagai seorang fotografer yang sudah memiliki beberapa karya, kesulitan atau tantangan seperti apa yang dihadapi?

Tantangannya lebih kepada menjaga konsistensi dan semangat untuk terus berkarya. Saya mengalami satu periode beberapa tahun belakangan… ya, kalau dianalogikan dalam istilah penulisan buku biasanya disebut-sebut sebagai writer’s block. Saat itu, saya merasa  kehilangan teman untuk berdiskusi atau sparring wacana dalam berkarya, khususnya teman yang memang sevisi dalam gaya atau model pengkaryaan.

Jadi buat teman-teman fotografer semua, saya sarankan untuk paling tidak memiliki satu atau dua orang teman diskusi yang memang memiliki kesamaan visi dalam berkarya, itu akan sangat membantu.

Fotografi kan tidak melulu soal visual tapi juga rasa, nah dari karya-karyamu, adakah audiens yang ingin disasar, atau memang seluruh karya merupakan bentuk ekspresi diri saja?

Daripada bentuk ekspresi diri, saya lebih suka menyebutnya proses memahami diri sendiri dalam konteks kehidupan yang melingkupinya. Kalau audiens tertentu yang disasar tidak ada, sih. Menurut saya, ada yang lebih penting: yaitu memahami segmentasi atau preferensi audiens, serta bagaimana karyanya bisa sampai untuk diapresiasi audiens tersebut. Misalnya, dengan memilih media publikasi tertentu yang sesuai dengan gaya fotografi kita.

Dituliskan bahwa karya Aji menggali pertanyaan-pertanyaan pribadi tentang kegelapan hidup. Selain itu, karyamu banyak menggunakan warna hitam dan putih (BnW). Apakah ada keterkaitan antara keduanya?

Tidak ada kaitannya antara penggunaan warna hitam putih dan substansi makna saya dalam berfotografi. Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, dalam berfotografi saya lebih banyak mencoba untuk menyelami, merefleksikan dan mempertanyakan ulang fenomena-fenomena dalam kehidupan pribadi saya.

Kamu merupakan salah satu peserta terpilih yang mengikuti Angkor Photography Workshop tahun 2015. Pengalaman dan pelajaran apa yang dikira banyak memberikan pengaruh, terutama untuk terus berkarya sampai saat ini?

Saat mengikuti workshop tersebut, setiap peserta membuat sebuah project foto yang dikerjakan dalam waktu terbatas dan dibimbing oleh mentor-mentor tertentu. Mentor saya waktu mengikuti workshop itu adalah Antoine D’Agata dan Sohrab Hura dari Magnum Photos. Dalam proses pengerjaan project itu, saya banyak mendapatkan pengalaman dan pelajaran yang menurut saya sangat berharga bagi proses berfotografi saya ke depannya.

Salah satunya yang saya pegang sampai saat ini adalah bahwa setiap orang memiliki caranya sendiri dalam melihat kehidupan. Sehingga melalui fotografi, setiap fotografer mampu menciptakan keajaibannya sendiri yaitu melalui caranya menyelami, menghayati dan memaknai hidupnya sendiri.

 

Aji Susanto Anom: Menciptakan Karya adalah Proses Memahami Diri Sendiri
(Dok. Aji Susanto Anom)

Fotografi selalu terkait dengan disiplin ilmu-ilmu lainnya seperti filsafat, antropologi, sosiologi dan masih banyak lagi, jangan terkungkung dalam persoalan teknis saja, teknis penting pada awal proses pembelajaran namun selanjutnya perluas cakrawala berpikirmu dan asah terus semangat untuk berpikir kritis.

Selain teknis menciptakan foto yang bagus, apa yang mesti dipelajari pegiat fotografi menurutmu?
  1. Perbanyak referensi visual dengan sering-sering melihat dan “bertamasya visual” melalui karya-karya fotografer lain.
  2. Baca novel, tonton film, dengarkan musik yang asyik menurutmu sebagai pemicu munculnya inspirasi dalam berkarya.
  3. Fotografi selalu terkait dengan disiplin ilmu-ilmu lainnya seperti filsafat, antropologi, sosiologi dan masih banyak lagi, jangan terkungkung dalam persoalan teknis saja, teknis penting pada awal proses pembelajaran namun selanjutnya perluas cakrawala berpikirmu dan asah terus semangat untuk berpikir kritis.
  4. Be open and experience.

Baca Juga: Anton Ismael: “Idealisme Bisa Berkompromi”

Seiring dengan berkembangnya media sosial saat ini, apa pandanganmu terhadap budaya fotografi yang sekarang?

Media sosial dalam beberapa aspek sangat membantu fotografer saat ini, seperti dalam mencari referensi karya-karya fotografi ataupun visual lainnya, lalu juga dalam mempublikasikan atau mendistribusikan karyanya ke audience. Tapi yang jelas, jangan sampai media sosial yang menguasai fotografer. Dalam arti hanya memotret demi likes atau komen yang banyak tentu salah satu jebakan media sosial yang perlu disadari oleh fotografer yang menggunakan media sosial.

Adakah sosok yang berpengaruh dan menginspirasi Aji, pertama  untuk menjadi diri sendiri saat ini, kedua, tentu sebagai seorang fotografer?

Kalau untuk diri sendiri tentu banyak yang berperan mulai dari keluarga, teman, hingga istri saya, namun khususnya mungkin sosok almarhum bapak saya yang secara tidak langsung mengenalkan saya pada fotografi. Kalau sebagai seorang fotografer juga banyak, mulai dari teman diskusi saya, Gregory Rusmana, Ian Hananto, Kurniadi Widodo dan Arif Furqan. Sampai sosok yang memberi inspirasi dalam berkarya seperti Erik Prasetya dan Antoine D’Agata.

 

Apakah kamu seorang fotografer yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?