Adriyanto Dewo: Berkarya itu sebuah Keharusan

Menonton film mungkin menjadi salah satu hobi banyak orang, namun jika ditekuni menjadi sebuah hobi serius, menonton film bisa jadi kegiatan yang sangat memuaskan. Apalagi kalau film yang ditonton adalah film yang berkualitas dan mampu memberikan kesan di hati para penontonnya sehingga mereka kepikiran terus-menerus oleh isi cerita yang disampaikan. Enggak heran, film berkualitas semacam itu melampaui ruang dan waktu hingga setelah bertahun-tahun pun, film tersebut masih relevan untuk ditonton kembali. Seperti halnya film berjudul Tabula Rasa besutan Sutradara Adriyanto Dewo pada tahun 2014 silam.

Tabula Rasa adalah film pertama di Indonesia yang membawakan sub-tema makanan dalam isi ceritanya. Film ini berhasil ditayangkan di beberapa festival film seperti: CinemAsia Film Festival di AmsterdamFestival of African, Asian, and Latin American Cinema di MilanCannes Antiphones/Cinephiles di PrancisShanghai International Film Festival, dan Bucheon International Fantastic Film Festival di Korea Selatan. Film ini juga berhasil masuk nominasi FFI (Festival Film Indonesia) 2014 dan membawa pulang empat penghargaan Piala Citra.

Selain pernah memperoleh Piala Citra sebagai sutradara terbaik, Adriyanto Dewo meraih beberapa penghargaan dari karya-karya lain sebelumnya. Karya pertama adalah film pendek berjudul Nyanyian Para Pejuang Sunyi dengan tema Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Hong Kong pada tahun 2010. Film ini berhasil meraih penghargaan sutradara terbaik di 6th Indonesian Film Festival di Melbourne. Selain itu, Adriyanto Dewo menyutradarai film pendek hitam putih berjudul Menunggu Warna, yang merupakan bagian dari film omnibus Sanubari Jakarta. Sebagai film pendek, Menunggu Warna berhasil meraih dua penghargaan: Film Pendek Terbaik di Europe on Screen short film Competition 2014 dan Film Pendek Terbaik di Hanoi International Film Festival 2014. Beberapa karya lainnya, yaitu Lima, Heaven is not a Place, Hi5teria, The Storyteller, dan Kejadian.

Mewakili Crafters, saya menghubungi dan mewawancarai Adri untuk ngobrol tentang perjalanannya sebagai sineas perfilman Indonesia yang masih aktif berkarya hingga sekarang, membicarakan film Tabula Rasa, filosofi di balik proses pembuatan karya filmnya dan pandangannya terhadap industri perfilman Indonesia. Berikut wawancara saya bersama Adriyanto Dewo.

Baca Juga: Ingin berkarya sesukses Adriyanto Dewo namun dalam ranah kuliner? Baca tips membuat food video lebih menarik!

Bagaimana awal Adri memilih dan tertarik untuk berkecimpung melalui sebuah karya film?

Awalnya, setelah lulus SMA saya enggak tahu mau ngapain. Tapi saya suka menggambar dan lumayan bisalah. Saya juga suka musik dan nonton. Dan memang setelah lulus SMA itu saya enggak pengen yang kerja kantoran. Akhirnya, saya daftar kuliah jurusan desain dan diterima di Trisakti waktu itu.

Tetapi di saat itu juga, saya melihat ada buka pendaftaran menarik di IKJ (Institut Kesenian Jakarta) untuk jurusan animasi. Ya sudah, saya ambil. Setelah masuk, saat itu ditanya mahasiswa animasi ada berapa, ternyata yang angkat tangan cuma 4 orang. Ya saya enggak mau dong kuliah orangnya cuma segitu. Akhirnya saya ikut kelas yang orangnya ramai dulu waktu itu, yaitu penyutradaraan.

Di minggu awal kelas, kita diberikan beberapa tontonan film yang memang mungkin penting di sejarah film. Nah, ada satu film dari Italia yang akhirnya mengubah sudut pandang saya, judulnya Bicycle Thieves. Ceritanya sederhana banget; seorang bapak yang bekerja jadi tukang pasang poster dan suatu hari sepedanya hilang karena dicuri orang. Alur ceritanya, si bapak dengan anaknya mencari sepedanya yang hilang itu. Dan itu terjadi di tahun ’40-an dengan kondisinya miskin banget waktu itu setelah Perang Dunia II.

Setelah nonton itu saya berpikir: Bagaimana caranya orang bikin film tetapi setelah berpuluh-puluh tahun orang masih bisa attached, dan itu di negara mana, itu film dari Italia dan beda berpuluh-puluh tahun dan saya masih mikirin tentang itu film. Jadi selesai nonton itu saya berpikir, “Oh begitu ya, hubungan antara bapak dengan anak, dan saya ingin mempelajari itu.” Ternyata jawabannya ada di penyutradaraan.

Dari situ akhirnya enggak nerusin animasi, saya ambil penyutradaraan film. Waktu itu mahasiswanya ada 70 orang, tetapi saat ditanya siapa yang ingin jadi sutradara. Mungkin 60% persen angkat tangan tetapi yang lulus cuma 3 orang. Salah satunya saya. Ya sudah, waktu itu kuliah sambil kerja dan bikin film-film pendek.

Mungkin kalau ditanya, “Kenapa film?” Ya, menurut saya film media seni yang paling lengkap; kamu bisa dengar, kamu bisa lihat. Film itu ada yang bercerita ada yang tidak, maksudnya yang naratif dan nonnaratif. Yang tidak bercerita misalnya seperti eksperimental dan segala macam. Ya tetapi punya elemen lengkap itu. Walaupun, katakanlah film itu biasanya cuma 2 jam, tetapi dalam film kamu bisa lompat ke masalah orang lain. Kamu bisa tahu dan merasakan apa masalahnya, bisa merasakan apa yang si karakter rasakan. Dan itu buat saya sesuatu yang belum bisa dicapai oleh seni yang lain. Film juga memiliki kekuatan yang cukup besar untuk merubah personal orang, bisa merubah society, atau mungkin bisa merubah hal lain, politik misalnya.

Adri menyutradarai film pendek dan panjang. Ada tidak perbedaan yang dirasakan dari keduanya?

Bedanya, saya menganalogikan kalau film pendek itu seperti masa-masa pacaran. Kamu masih bisa bebas, bisa pergi ke mana saja tanpa mikirin apa dan segala macam. Asyik. Istilahnya, bisa diajak ngapain saja. Kalau film panjang itu seperti menikah. Jadi kamu mau membuat pesta pernikahan, tapi duitnya kurang. Kamu ingin ini tapi enggak bisa karena ada tanggung jawab sama orang tuanya. Atau nanti kalau ada anak akan beda lagi. Mungkin seperti itu sih.

Lalu, melalui film pendek kalimat pernyataan kamu bisa lebih direct, seperti misalnya kalau kamu mau memaki-maki seseorang ya tinggal maki-maki aja. Kalau film panjang enggak bisa seperti itu; kamu harus ngikutin ke ceritanya, kamu harus menyembunyikan itu di layar tertentu di dalam ceritanya karena film berdurasi panjang punya audience yang lebih luas.

Lainnya, ya bedalah, mulai dari kru, budget. Kamu mungkin bisa bikin film pendek di bawah 10 juta tetapi kalau film panjang pasti enggak bisa. Mungkin itu karena faktor budget-nya besar, jadi tanggung jawab pembuatan film berdurasi panjang juga besar. Mungkin ada beberapa orang juga yang lebih suka bikin film pendek, dan sebagian lebih suka film panjang. Kalau saya lebih suka film panjang karena lebih bercerita.

Tabula Rasa adalah film panjang pertama dan sekaligus membawamu meraih penghargaan sebagai sutradara terbaik FFI 2014. Apa pembelajaran yang dirasakan, terutama mungkin berpengaruh untuk film berikutnya?

Di film panjang pertama saya banyak belajar. Maksudnya, merasakan proses syuting yang panjang. Setelah film Tabula Rasa, waktu itu ada yang bertanya, “Dri, lu mikirin penonton enggak sih? Mikirin budget enggak sih?” Saya jawab, “Enggak. Ya saya bikin apa yang saya mau saja. Penonton nanti kita cari sendiri.” Setelah itu saya bikin film yang kedua dan persepsi saya berubah. Perubahan ini mungkin bersumber karena saya yang menulis sendiri ceritanya, memproduksi sendiri filmnya; dari urusan penyutradaraan hingga penataan bujet. Saya membuat PH sendiri untuk memproduksi film saya berikutnya.

Dari pengalaman itu, saya bisa melihat lebih luas lagi. Di film pertama saya, Tabula Rasa, saya masuk saat script sudah ada dan memasuki proses draft satu. Selain itu produser juga sudah ada, dan waktu itu saya tidak memikirkan budget karena producer sudah take care semua. Menurut saya, pada saat itu saya beruntung.

Nah, di film kedua ini agak beda perjuangan dan perjalanannya. Jedanya itu 5 tahun dari film panjang yang pertama. Kenapa bisa sampai beda 5 tahun? Ya karena itu tadi, saya ingin benar-benar menulis sendiri. Jadi, setelah selesai Tabula Rasa, saya mulai menulis script untuk film ke-2, Lalu saya ikutkan ke script workshop. Waktu itu terpilih 3 script, saya salah satunya. Kemudian akhirnya terpilih satu. Proses tersebut memakan waktu berbulan-bulan diawasi oleh mentor yang membimbing pembuatan naskah kamu per-draft. Setelah draft pertama jadi, saya kemudian membuat PH sendiri.

Apakah kamu selalu berusaha mencoba menyisipkan pesan personal dalam setiap film-film yang kamu sutradarai? Misalnya, dalam Tabula Rasa ini, banyak yang mengira film ini soal makanan, tetapi melalui sebuah wawancara dengan media online Dewi Magazine, kamu mengatakan kalau film itu berbicara tentang kerinduan.

Kalau secara sengaja saya tidak terlalu ingin memasukkan pesan personal ke film-film saya. Jadi, saya memilih materi yang saya mau saja. Misalnya, sebelum Tabula Rasa ada beberapa script juga yang orang-orang tawarin ke saya. Kenapa akhirnya memilih Tabula Rasa? Karena saya merasa punya koneksi di situ. Koneksinya adalah saat saya baca script-nya, saya bisa ngerasain semua karakternya ini sebenarnya tidak punya rumah; orang-orang perantau semua. Kalau sudah nonton filmnya, si keluarga orang Padang ini merantau ke Jakarta. Sedang karakter utamanya, merantau dari Papua ke Jakarta. Saya merasa terkoneksi karena mungkin di masa lalu saya lumayan sering berpindah tempat.

Dari SD, saya sudah sering berpindah-pindah karena mengontrak dari satu tempat ke tempat lain. Orang tua juga bukan asli Jakarta. Bapak Surabaya, ibu dari Jawa Tengah. Tetapi kalau ditanya, “Lu orang Jakarta?” Ya, gimana ya.. Iya saya tinggal di Jakarta, tapi saya merasa bukan orang Jakarta. Sebenarnya saya punya kampung dari keluarga orang tua tetapi saya juga enggak dekat sama kampung halaman sebab jarang banget pulang. Jadi ketika baca script Tabula Rasa, saya bisa merasakan perasaan karakter di film itu. Ya akhirnya saya ambil tema besarnya, soal kerinduan. Pesan personalnya ada, tetapi mungkin secara tidak sadar.

Apa sih arti berkarya atau terlibat dalam karya film buatmu?

Arti berkarya buat saya sendiri seperti sebuah keharusan. Maksudnya kayak kamu ingin ngomong sesuatu tetapi tidak bisa ngomong, jadinya kamu menyampaikan itu melalui media lain. Kalau saya melalui film. Mungkin ada seniman-seniman lain menyampaikannya melalui musik, lukisan, tapi saya lebih nyaman menyampaikannya melalui cerita di film.

Kalau tidak berkarya itu seperti ada kayak awan hitam di kepala yang tidak bisa keluar. Kayak kepikiran terus. Ya jadi berkarya itu sudah seperti sebuah keharusan. Setidaknya buat saya.

Adriyanto Dewo: Berkarya itu sebuah Keharusan
(Dok. Lifelike Pictures)

Apa yang banyak menginspirasi Adri dalam berkarya?

Inspirasi banyak, tetapi mungkin kalau untuk filmmaker, paling besar mungkin dari film-film yang ditonton. Karena kita suka film tersebut kemudian mempelajari film, jadi film yang ditonton menyumbang banyak porsi terhadap inspirasi pembuatan film saya. Kedua, dari kehidupan pribadi sih; apa yang kamu alami selama hidup. Jadi ya balik lagi soal memilih materi film, apa yang kamu pilih itu apa yang mencerminkan diri kamu. Bicara inspirasi, hal itu bisa datang dari mana saja kalau konteksnya seni.

Film kedua “Homecoming” ada di daftar IFFAM (International Festival Film & Award) 2019. Boleh diceritakan soal ini?

Untuk filmnya sendiri sebenarnya baru selesai. Jadi dari sebulan yang lalu kita submit ke beberapa film festival dan ternyata yang menerima IFFAM di Macau. Film tersebut sebenarnya berstatus in competition, sebutan populer bagi film yang sedang dilombakan dalam festival tersebut. Saya belum belum pernah ikut perlombaan dan ini baru pertama kali. Dan film saya masuk ke dalam kategori in competition yang khusus untuk kategori film pertama dan kedua serta diambil dari beberapa negara. Untuk Asia Tenggara sendiri, sepertinya film yang diambil hanya dari Indonesia saja. Jadi nanti tanggal 5-10 Desember saya berangkat ke sana, ikut acaranya, dan nanti di akhir acaranya akan dibacakan siapa yang menang.

Sebagai seorang sutradara, film luar mana yang paling kamu suka? Apa alasannya?

Banyak. Saya banyak suka film Hollywood. Selain itu film-film Korea dan beberapa film dari Finlandia juga saya suka, tapi mungkin yang paling berkesan adalah film yang sudah sempat saya singgung sebelumnya; Bicycle Thieves, dari Italia, sutradaranya Vittoria De Sica.

Apa yang Adri coba lakukan untuk meningkatkan diri sebagai sineas, khususnya sebagai sutradara?

Untuk meningkatkan diri, selain nonton, ya menulis naskah. Setelah pengalaman membuat film kedua ini, saya sudah melewatkan diri sebagai penulis. Jadi setiap hari saya sempatkan untuk menulis. Bukan tulisan yang panjang, tapi paling tidak ada sesuatu yang saya tulis. Dan ternyata memang benar, penulisan adalah kerangka dasar di bidang perfilman. Bisa dibedakan juga tuh antara sutradara yang menulis dan yang tidak menulis. Sutradara yang menulis itu bisa dilihat dari bentuk filmnya; yang dia banget. Ibarat bikin patung, dia sudah tahu tanah yang dipakai apa. Seperti Mas Garin Nugroho yang menulis ceritanya sendiri. Film yang dibuat jadi berbeda. Di sisi lain, beda banget dengan sutradara yang tidak menulis dan telah dibikinkan kerangka berceritanya.

Menurut pandangan Adri, bagaimana perkembangan industri film di Indonesia saat ini?

Industri film itu sudah berkembang. Meski demikian permasalahannya masih sama. Sebenarnya yang paling susah di industri film adalah mencari pendanaannya. Karena waktu saya ke London Film Festival, mereka seperti punya ada satu pitching forum, di mana semua ide atau orang yang ingin bikin film present satu per satu ide mereka. Hal tersebut juga ada di sini, seperti ALKATARA yang setiap tahun ada. Pitching forum semacam ini di Indonesia baru dimulai dan masih seumur jagung; baru 2 tahun. Kalau semisal forum tersebut telah kokoh dan jadi, kita dapat mendonorkan dana untuk para filmmaker yang ingin membuat film tertentu. Dengan demikian, industri perfilman kita menjadi semakin utuh.

Bicara masalah pelaku industri perfilman Indonesia, yang terlibat di industri ini orangnya itu-itu saja. Coba kalau kamu lihat di Piala Citra, nominasinya itu-itu aja. Ini menunjukan kalau regenerasi berjalan lamban dan orang film itu sedikit. Mungkin karena sekolah film cuma satu waktu itu. Sekarang sih sudah ada di Yogya. Seperti baru berkembang lagi, dan mungkin butuh waktu lagi sih. Mungkin 10 tahun ke depan baru bisa banyak orang filmnya, dan investor juga makin banyak. Kalau sekarang ya masih, orangnya itu lagi itu lagi yang masuk. Haha…

Berkarya dalam industri film, apa yang ingin Adri katakan untuk mereka yang baru ingin berkecimpung di industri film?

Paling penting sih harus benar-benar mencintai medianya. Istilahnya, kamu bernapas film. Ini maksudnya adalah kamu harus suka banget; passion kamu di film, dan kamu ingin bikin film. Kalau tidak, nanti kamu akan tersingkir sendiri, karena benar-benar susah. Kamu ingin bikin suatu film panjang dan dana yang dibutuhkan itu banyak, sampai miliaran. Pembuatan film panjang butuh proses yang lumayan panjang juga. Mungkin bisa 3-5 tahun seperti saya.

Intinya kalau kamu tidak benar-benar suka, ya akan hilang sendirilah. Seperti tadi yang saya ceritakan, sekolah film mahasiswanya berapa dan yang lulus cuma sedikit. Yang memang bekerja di industri film ya sedikit. Sudah begitu, sisanya mungkin balik lagi kerja kantoran, atau berdagang. Dan posisi yang paling berat itu ada 3; produser, sutradara dan penulis. Mereka yang dari awal ada sampai filmnya didistribusikan. Kalau enggak suka-suka banget, kalau cuma setengah-setengah, atau cuma sekadar suka dan tidak mendalami, kamu nanti akan hilang sendiri.

Apa kamu seorang kreator yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?