Adeste Adipriyanti: Menemukan Taman Bermain di Dunia Menulis

Adeste Adipriyanti 1

Adeste Adipriyanti memulai karier sebagai penulis di sebuah publishing house yang bernaung di perusahaan media nasional pada 2009.

Saat itu ia menulis artikel seputar topik seni, ekonomi, kemanusiaan, gaya hidup, perjalanan, fashion, dan profil. Dari situ kariernya bergulir sebagai editor dan managing editor di berbagai media cetak, khususnya majalah gaya hidup.

Sebenarnya, dunia tulis-menulis bukanlah hal yang baru ia geluti di dunia kerja. Lulusan Hubungan Internasional Universitas Parahyangan ini seakan menemukan ‘tempat bermain’ yang seru saat menulis sejak masih duduk di bangku SMP.

Ia pun memberanikan diri menulis beberapa cerpen yang lantas dikirimkannya ke beberapa media cetak remaja dan berhasil dimuat.

Passion besar di dunia menulis ini pun berbuah manis. Ia mengantongi beberapa penghargaan dari hasil karyanya. Sebut saja First Winner of National Writing Competition “Young Generations Unwrap International Problems” pada 2008, 1st Place Creating Magazine Competition di Majalah Gadis, hingga Juara 5 National Book Summarize Competition yang diselenggarakan Aksara Publisher. Deretan penghargaan ini pun semakin memantapkan pilihan kariernya di dunia menulis.

Bagaimana awal mula Anda terjun ke dunia menulis?

Saya mulai menulis sejak SMP. Tapi mulai memberanikan diri memasukkan tulisan ke beberapa majalah saat SMA. Lalu saat kuliah, saya sempat terjun ke dunia pers mahasiswa. Selanjutnya menulis menjadi rutinitas keseharian hingga akhirnya memilih profesi selepas kuliah pun tak jauh-jauh dari aktivitas menulis.

Apa yang menginspirasi Anda untuk menjadi penulis?

Ayah saya, karena dia juga seorang jurnalis dan penulis. Selain itu, saya selalu terusik dengan kata-kata Pramoedya Ananta Toer yang berkata: “Menulis adalah sebuah keberanian.”

Bidang penulisan apa yang menjadi passion Anda?

Saya tertarik dengan tema-tema budaya, gaya hidup, dan traveling. Bisa jadi karena sangat berdekatan dengan sisi-sisi manusia yang tidak pernah habis digali.

Menulis adalah sebuah keberanian. ~ Pramoedya Ananta Toer
Adeste Adipriyanti 2
Apa project tulisan yang menjadi favorit Anda dan kenapa?

Saya sangat suka mewawancarai orang-orang dari berbagai latar belakang, entah itu tokoh politik, budayawan, akademisi, atau siapa pun. Ini jadi suatu kemewahan tersendiri, karena kita bisa mendengar langsung pemikiran, pemahaman, serta sudut pandang mereka terhadap banyak isu dan kehidupan itu sendiri. Selain itu, bertemu dengan banyak narasumber membuat pikiran jadi lebih terbuka.

Buku Anda, “Little Stories“, menceritakan tentang apa?

“Little Stories” merupakan buku kumpulan cerpen kolaborasi pertama saya dengan empat penulis lain yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama, pada 2014. Ada 20 cerpen dengan berbagai tema.

Ada future project yang menarik dan bisa di-share?

Saat ini saya sedang mengumpulkan beberapa cerpen saya terdahulu untuk kembali dibukukan dan sedang berjuang menyelesaikan novel terbaru yang kali ini berlatar sejarah.

Ada lagu yang menjadi andalan untuk menemani saat proses menulis?

Saya bukan penyuka musik klasik, tapi saat menulis saya suka mendengarkan Mozart, Debussy, atau Bach. Tinggal buka YouTube dan cari playlist seputar “Musical Classic for Writing or Concentration“.

Saya juga bukan penyuka musik hip hop atau rap. Tapi biasanya, sebelum mulai menulis, saya harus dengar lagu-lagu milik Snoop Dogg, Kanye West atau M.I.A. Entah ini sugesti atau apa, biasanya ritual mendengarkan musik seperti ini cukup ampuh buat saya.

Menulis itu seperti otot, harus dilatih setiap hari. Kalau tidak, tak akan terasah dan berkembang.
Apa yang Anda lakukan saat sedang mengalami kebuntuan ide?

Biasanya saya membaca buku, majalah, koran atau apa saja yang menarik perhatian saya. Sambil membaca, saya ‘belanja kata’, maksudnya ketika saya menemukan kosakata menarik saya langsung catat. Buat saya ini sangat efektif memancing ide dan memperkaya diksi dalam tulisan nantinya.

Ada nasihat seputar menulis yang mengena di hati Anda?

Ada dua, yang pertama: “Menulis itu seperti otot, harus dilatih setiap hari. Kalau tidak, tak akan terasah dan berkembang.”

Yang kedua mungkin terbilang klise, tapi ini memang mutlak dilakukan penulis atau tidak bisa jauh dari aktivitas menulis: “If you don’t read, you don’t write.”