Adek Berry: Cerita Pengalaman Memotret di Medan Perang

profil adek berry 2
Photo by: Boy Slamet

Dunia fotografi dari mata Adek Berry bukan sekadar tentang visualisasi, tapi juga seni bercerita. Menurutnya, lewat fotografi ia bisa berkarya dengan cara berbagi cerita lewat foto ke banyak orang. Dan karena itu pula perempuan yang lahir pada 14 September 1971 ini tertarik menggeluti kegiatan memotret sejak duduk di bangku SMA.

Namun, Adek baru sempat serius mengasah kemampuan fotografinya ketika duduk di bangku kuliah di Universitas Jember, Jawa Timur. Ketika itu, ia bergabung dengan komunitas Holcyon Photography Club. Menggunakan kamera Yashica FX-3 dan lensa 50mm, Adek mulai mempelajari berbagai prinsip-prinsip dasar fotografi.

Dari situ, seiring waktu Adek makin menikmati kegiatannya bercerita lewat fotografi, karena dalam perjalanannya ia merasa belajar tentang banyak hal; entah itu dari kegiatan memotret penyanyi di atas panggung, pebalap yang melintas di sirkuit, hingga para tentara di Afghanistan.

Simak obrolan The Crafters dengan Adek Berry, yang cukup dikenal sebagai fotografer wilayah konflik tangguh, berikut ini:

Selain memang minat, apakah Anda pernah menjalani pendidikan formal terkait fotografi?

Belum pernah. Selama ini saya belajarnya otodidak, dari buku, majalah, atau mengikuti seminar, juga workshop singkat. Meski begitu, kemajuan pengetahuan yang pesat saya rasakan ketika bergabung dengan sebuah klub fotografi di Jember, tempat saya kuliah dulu, yaitu Holcyon Photography Club (HPC).

Saat itu, di klub tersebut, pembimbingnya memang jurnalis foto. Saat latihan, anggota klub langsung diajak praktik, berlatih, bahkan fotonya bisa langsung dipakai untuk jadi sumber penghasilan. Dari situ saya merasa mengalami transfer ilmu yang cepat dan terarah.

Siapa fotografer favorit Anda?

Sejak masih belajar sampai sekarang, saya belum punya figur khusus, atau membuat saya terinspirasi ingin seperti dia. Selama ini pegangan saya hanya menyadari daya tarik fotografi dan dampaknya yang powerful.

Sepanjang pengalaman Anda, apa tugas foto yang dianggap paling menantang?

Setiap tugas peliputan punya tantangan masing-masing. Tapi tentunya, peliputan olahraga dan konflik saya rasakan butuh persiapan lebih dari yang lainnya. Hal itu termasuk soal gear misalnya, pada fotografi olahraga, persiapan teknisnya lebih khusus, agar mendapatkan hasil maksimal.

Begitu juga peliputan konflik (seperti di Afghanistan), yang tak hanya soal teknis, tapi juga persiapan informasi seperti background tentang tempat yang bakal didatangi, serta kesiapan fisik dan mental, juga network atau kenalan di lokasi peliputan.

Saat peliputan di Afghanistan misalnya, kamera apa yang Anda gunakan?

Untuk itu, saya membawa dua bodi kamera, Nikon seri D. Kamera tersebut adalah pegangan utama yang saya gunakan sehari-hari.

Buat mendukungnya, saya bawa lensa wide 14-35mm, 35-70mm, dan 70-200mm, yang menurut saya cukup untuk mengambil general view, portrait, juga objek yang agak jauh. Selain itu, lensa-lensa itu juga relatif ringan dan ringkas, sehingga memungkinkan saya bergerak cepat dan cukup nyaman.

Apa saja hal yang Anda rasakan menantang terkait peliputan wilayah konflik atau keadaan perang, seperti di Afghanistan?

Tantangan kekerasan cukup menghambat di beberapa tempat; selain itu juga banyak pihak di sana sulit menerima keberadaan perempuan. Tapi buat saya, sebagai perempuan, ada keuntungan diterima dengan baik ketika memotret semua yang berhubungan dengan perempuan.

Seperti saat pasukan marinir perempuan AS mengunjungi perempuan Afghanistan, ketika itu akses terbuka lebar justru buat jurnalis foto perempuan seperti saya. Contoh lain, saya juga mudah masuk ke salon kecantikan di Kabul, atau memotret korban perang perempuan di rumah sakit.

Tantangan lainnya lagi, di lapangan itu sulit sekali memprediksi siapa kawan, dan siapa lawan, terutama pada orang asing yang kita tidak kenal sama sekali, atau di tempat-tempat yang baru kita kunjungi.

Peliputan konflik itu bukan hanya soal teknis, tapi juga persiapan informasi, seperti background tentang tempat yang bakal didatangi; serta kesiapan fisik dan mental, juga network atau kenalan di lokasi peliputan.
afp photo adek berry 1
Bagaimana Anda mempersiapkan mental untuk menghadapi tantangan peliputan semacam itu (di wilayah konflik atau keadaan perang)?

Salah satu caranya adalah membekali diri dengan informasi mendalam terkait masalah setempat yang terjadi, kebudayaan, situasi geopolitik, dan sebagainya. Penting juga mengetahui apa yang harus dilakukan, dan dihindari; juga cuaca dan perubahannya.

Hingga kini saya sudah melakukan peliputan ke Afghanistan sebanyak tiga kali. Pertama pada Februari sampai Maret 2011, ketika itu musim dingin dan sangat luar biasa dinginnya. Kabul bahkan bersalju ketika saya baru masuk. Ketika itu saya dikirim jauh ke Afghanistan bagian selatan, tepatnya Provinsi Helmand, Kota Garmser. Karena tahu, maka saya mempersiapkan pakaian yang cocok agar tidak sakit akibat cuaca.

Kali kedua pada September 2011. Cuaca cukup nyaman, karena ada di penghujung musim panas. Namun pada kali ketiga di Juni 2012, Afghanistan mengalami musim panas luar biasa. Panasnya bukan main. Saking panasnya, di kamp marinir AS pada siang hari, semua orang hanya bisa berlindung di dalam tenda masing-masing. Dehidrasi menjadi tantangannya.

Saya juga banyak bertanya pada teman-teman yang sudah berpengalaman meliput di daerah konflik. Para fotografer senior yang sudah lebih dulu merasakan peliputan di Afghanistan pun dengan senang hati berbagi pengalamannya. Hal itu juga saya lakukan setelah selesai liputan, berbagai pengalaman pada rekan-rekan yang bertanya.

Apa saja sih benda yang harus selalu ada di tas saat menjalani tugas peliputan di wilayah konflik seperti itu?

Yang pasti ID card. Hal itu bisa dibilang lebih penting ketimbang uang.

Ada cerita lucu saat saya baru pulang dari Provinsi Helmand di Afghanistan bagian Selatan. Saya diajak makan malam oleh teman-teman AFP (agensi berita internasional Agence France-Presse) yang notabene orang asing semua. Kami berlima (saya, beserta empat orang warga negara Prancis dan Inggris) naik mobil yang dikemudikan warga asli Afghanistan.

Dalam perjalanan, kami harus melewati beberapa check point yang memiliki kegiatan pemeriksaan, namun pada saat itu hanya kartu identitas sopir saja yang dicek. Jadi kami aman sampai ke restoran.

Tapi begitu tiba di restoran, ternyata semua orang harus menunjukkan kartu identitasnya. Teknis pengecekannya juga luar biasa ketat, oleh petugas bersenjata; seolah-olah kami sedang mengunjungi penjara, padahal hanya restoran, yang juga banyak dikunjungi orang asing. Jadi saat itu nyaris saya tidak bisa lolos masuk ke dalam restoran, hanya karena tidak bawa ID card; karena saya pikir hanya mau makan malam dan bukan liputan. Untungnya, teman-teman bisa meyakinkan petugas untuk membiarkan saya masuk. Jadi memang kartu identitas tidak boleh lepas dari leher saya.

Kalau trauma atau tekanan psikologis akibat meliput daerah konflik, apakah ada?

Takut, terkejut, atau sedih, iya pasti ada. Tapi tidak sampai trauma. Justru traumanya pernah ketika saya kembali berada di Jakarta, dan menerima kabar kalau salah satu rekan saja, seorang jurnalis AFP di Afghanistan tewas tertembak bersama keluarga kecilnya, di sebuah restoran, saat sedang makan malam.

Saat itu saya trauma, karena saya mengenalnya cukup baik. Kami bekerja sama selama tugas penuh di Kabul, maupun di luar Kabul. Selama lebih dari dua minggu saya tidak berani memikirkan kenyataan tragedi yang menimpanya itu. Bahkan, hingga kini saya masih sangat sedih.

Apakah Anda berniat menuangkan pengalaman fotografi Anda ke dalam buku?

Iya. Saat ini saya sedang mempersiapkan memoir fotografi jurnalistik berjudul Adek Berry. In Shaa Allah bisa segera terbit. Semoga buku ini bisa jadi sumbangan positif dunia fotografi jurnalistik, dan bisa menginspirasi siapapun yang membacanya.

Karena, nanti juga kalau sudah berhenti dari profesi ini, saya berniat mengajar, dan memotret dalam rangka penyusunan buku, dan lebih banyak menulis.

Terakhir, bagaimana Anda menyeimbangkan pekerjaan dengan keluarga serta hobi personal?

Seperti tadi diungkapkan, saya senang menulis, juga membaca dan mendengarkan tausiyah via YouTube; ini biasanya masih bisa dilakukan di sela pekerjaan. Tapi selain itu juga kegiatan waktu senggang favorit saya adalah bermain dengan anak-anak, dan menghabiskan waktu bersama mereka untuk berenang atau menggambar.

Untuk keluarga, saya ini ibu rumah tangga, seorang istri, dan ibu dari anak-anak saya. Jadi tidak ada masalah, dan Alhamdulillah, keluarga juga sangat mengerti pekerjaan yang saya jalani.

Banyak fotografer berkualitas seperti Adek Berry yang telah bergabung di GetCraft untuk menawarkan jasa fotografi untuk para klien di seluruh Indonesia. Ingin tahu fotografer mana saja yang sudah gabung? Yuk lihat disini!