6 Langkah Menulis Karya Jurnalisme Sastra

Seorang penulis bernama Jon Franklin memenangkan penghargaan Pulitzer Prize untuk kategori Feature Writing lewat tulisannya, “Mrs. Kelly’s Monster”. Sepintas terdengar, tulisan ini seolah merupakan judul novel, tapi pada kenyatannya, tulisan tersebut merupakan sebuah artikel sepanjang 3.539 kata yang menceritakan tentang kegagalan operasi otak di tahun 1979. Enam tahun setelah publikasinya, Franklin memenangkan Pulitzer kedua dalam Explanatory Journalism untuk sebuah seri artikel mengenai pengetahuan tentang otak.

 

Apa yang dilakukan oleh profesor University of Maryland tersebut adalah jurnalisme sastra. Bersama Tom Wolfe, John McPee dan Truman Capote, Franklin memelopori penggunaan teknik menulis fiksi untuk tulisan non fiksi. Kemunculan jurnalisme sastra ini ditandai dengan mulainya gerakan New Journalism di Amerika Serikat yang populer dari tahun ’60-an sampai ’70-an. Jurnalisme sastra sendiri adalah jenis tulisan jurnalistik yang teknik dan gaya penulisannya menggunakan cara yang biasa dipakai dalam karya sastra seperti cerpen atau novel. Jurnalistik sastra ini hadir lebih efektif menyentuh emosi pembaca dan memberikan gambaran lebih utuh akan sebuah daerah, tokoh, atau permasalahan tertentu.

 

Dalam sebuah buku yang ditulis oleh Franklin membahas masalah gaya kepenulisan, Writing for Story: Craft Secrets of Dramatic Nonfiction by a Two-Time Pulitzer Prize Winner, ia membagikan teknik gaya penceritaan yang membuat tulisan nonfiksi miliknya menarik dibaca. Untuk kamu yang ingin mencoba membuat sebuah artikel jurnalisme sastra, berikut Crafters telah merangkum hal-hal yang harus kamu perhatikan saat menulis dari Jon Franklin.

Baca Juga: Remotivi: Upaya Mengangkat Isu Media dan Politik yang Kering Menjadi Populer

 

6 Langkah Menulis Karya Jurnalisme Sastra
(Dok. Tech Crunch)

Pilih sebuah cerita yang menarik

Saat menulis “Mrs. Kelly’s Monster,” Franklin mengikuti cerita seorang dokter bedah otak yang tengah menangani kasus seorang perempuan bernama Edna Kelly. Perempuan tersebut mengidap aneurisma yang ia sebut sbagai “monster”-nya. Tanpa operasi, Mrs. Kelly akan meninggal.

Dalam sebuah interview di tahun 2011 dengan Paige Williams, Franklin mengatakan jika ia tahu bahwa artikelnya akan menceritakan sebuah kisah yang sangat menarik. Franklin menyarankan para penulis untuk memastikan bahwa mereka memilih cerita yang tepat sebelum menulis.

Masih dalam interview yang sama, Franklin berkata jika ia tidak akan bisa menuis ketika dirinya bosan dengan subyek yang ia geluti. Sebagai seorang penulis, kamu bisa menghabiskan berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun dengan sebuah topik. Jadi, memilih materi cerita yang kamu sukai itu sangatlah penting.

Bagaimana Whiteboard Journal sebagai salah satu media dengan jurnalisme sastra dapat berkembang? Baca di sini!

Apa yang diinginkan tokoh utama ceritamu?

Di awal cerita, Franklin memberitahu pembacanya apa yang Mrs. Kelly inginkan. Ia menjelaskan dengan contoh konkrit bagaimana aneurisma menghancurkan hidup Mrs. Kelly. Ia kehilangan indranya, mengalami kejang, dan paralisis atau lumpuh. Gejala-gejala tersebut kemungkinan besar bertambah buruk. Mrs. Kelly tidak bisa melanjutkan hidupnya terus menerus dengan kondisi seperti itu. Lakukan operasi atau mati, hanya dua itulah yang jadi pilihan Mrs. Kelly. Sebagai pembaca, kita tahu apa yang ia inginkan yakni proses operasi yang sukses.

6 Langkah Menulis Karya Jurnalisme Sastra
(Dok. Getty Image)

Struktur, suara, point of view, dan mood

Secara struktural, “Mrs. Kelly’s Monster” memiliki awalan, tengah, dan akhir yang jelas serta memuaskan. Franklin bercerita sesuai alur hari, dimulai dari pagi dan diakhiri di siang hari setelah operasi. Tak hanya itu, sebagai seorang jurnalis, Franklin melaporkan dan menulis secara objektif serta berjarak. Tone suara yang ia pilih bernada authoritative dan dapat dipercaya. Apa yang ia tulis adalah hal yang dilihatnya melalui kedua bola matanya. Franklin pun mendorong para penulis menulis cerita nyata seperti itu; tak berfokus pada sentimen tertentu dan menonjolkan topik apa yang harus dibicarakan para pembaca.

Rekam semuanya selagi melapor

Menulis sebuah tulisan nonfiksi sedetail dan evokatif seperti Franklin membutuhkan catatan neurotic. Jika kamu tak melaporkan apa yang kamu lihat, cium, dengar, dan sentuh, kemungkinan besar detail-detail tersebut akan hilang selamanya. Sementara melaporkan kejadian ke pembaca, Franklin menangkap setiap detail, termasuk kapan tepatnya kejadian berlangsung.

Manfaatkan foreshadowing

Dalam Writing for Story, Franklin menggambarkan konsep foreshadowing dengan chestnut tua dari penulis Anton Chekov: jika adegan pembuka ceritamu menunjukkan sebuah pistol tergantung di bagian mantel, pistol tersebut haruslah ditembakkan di akhir cerita. Prinsip dramatis “Chekov’s Gun” ini mendorong para penulis memastikan setiap elemen cerita relevan dan tiap janji yang diberikan pada pembacanya ditepati.

Baca Juga: Jurnalis Komik: Berangkat dari Kekosongan Dunia Jurnalisme

Bereksperimen

Sebagai seorang penulis nonfiksi, Franklin berkata jika dirinya selalu mencoba proses, gaya, dan genre yang berbeda. Oleh karenanya, selalu bereksperimenlah dengan teknik dan proses dalam pekerjaanmu. Jika kamu menulis dengan komputer, cobalah cara yang lain. Jika kamu menulis cerita yang serius, cobalah menulis cerita lucu. Jika kamu cenderung menulis cerita dengan akhir bahagia, kamu bisa mencoba menulis cerita yang ironis.

 

Apa kamu penulis yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?