5 Mitos dan Tren SEO di Indonesia

Di era internet, kegiatan mencari informasi tak lagi sama. Jika dulu kita beralih ke buku, jurnal, atau surat kabar ketika ingin mengetahui mengenai sesuatu hal atau barang, sekarang ini kebanyakan orang bergantung pada mesin pencari (search engine). Kita mengandalkan mesin pencari seperti Google; menuliskan frasa atau kata populer di kotak pencari dan membuka hasil tautan rekomendasi yang muncul di halaman pertama mesin pencari tersebut.

Pola pencarian informasi yang mengandalkan mesin pencari ini tentunya berdampak pada penyebaran konten dan website. Para pengelola brandpublisher dan mereka yang bekerja di bidang agensi sebagai pihak yang memproduksi informasi berkaitan dengan jasa dan barang yang mereka tawarkan turut terpengaruh dengan hal ini. Mereka kemudian mengenal istilah SEO (Search Engine Optimization), yakni upaya mengoptimalkan website agar mudah ditemukan di mesin pencari. Setelahnya, masing-masing pihak berlomba-lomba mengerahkan segala cara agar nilai SEO mereka bagus; konten, barang, atau website mereka muncul di laman pertama ketika user mengetik kata atau frasa tertentu. Terdengar mudah? Padahal, permasalahannya ada banyak!

Kompetisi untuk tampil di halaman pertama mesin pencari sangatlah ketat. Belum lagi dengan kenyataan bahwa algoritma mesin pencari kerap berubah. Dengan kondisi tersebut, para pengelola brand, publisher, agensi dan praktisi SEO hampir selalu menghadapi tantangan yang sama setiap harinya; strategi dan taktik apa yang harus diterapkan agar konten mereka dapat teroptimalisasi dengan baik dan berujung pada funnelling marketing yang diidam-idamkan pengelola brand? Bagaimana sih caranya mengalahkan para kompetitor dan memenangkan search engine?

Baca Juga: 15 Ide Seru untuk Blog Anda

Demi menjawab tantangan berkaitan dengan mesin pencari tersebut, GetCraft menghadirkan tiga pembicara dalam acara Jakarta Creators Meeting (JCM) yang didukung oleh Rumah Kreatif BUMN dan Bank Mandiri pada Kamis pekan lalu (11/07/2019) di Mandiri Inkubator Bisnis.

Berjudul SEO Hacks: How To Win Search Engine Game, Indra Jaya (CEO Krona Digital Marketing Agency), Nur Anasta Rahmat (Advisory Commissioner Grovh), dan Aulia Naratama (GM Grovh) berbagi pengetahuan dasar mengenai SEO, mitos dan kenyataan apa saja yang beredar di kalangan pihak awam akan SEO, tips tentang SEO dan kiat menghadapi perubahan algoritma mesin pencari, hingga trennya.

 

5 Mitos dan Tren SEO di Indonesia
Mengenal elemen SEO, mitos dan fakta di lapangan

Sebelum membahas lebih jauh mengenai algoritma dan tren terkait SEO, Nur Anasta Rahmat sebagai Advisory Commissioner Grovh menjabarkan apa saja yang menjadi pilar sebuah SEO yang baik.

Pada dasarnya SEO terbagi menjadi tiga pilar; content, On Page, dan Off Page. Pilar pertama yakni content terdiri dari artikel-artikel, produk, dan konten yang dihasilkan oleh user (UGC). Pilar kedua, On Page, memiliki fokus terhadap susunan website dan terdiri dari teknis, elemen, serta UI/UX. Terakhir, Off Page terdiri dari backlink dan press release.

Secara teori, dengan mengoptimalkan ketiga pilar tersebut, sebuah website tentu akan mendapat angka SEO yang bagus. Hanya saja, beberapa mitos yang berkembang dan dipercayai oleh pengelola brand mengenai SEO serta faktanya di lapangan membuat kolaborasi ketiga pilar SEO tersebut sulit terwujud.

Nur Nasta Rahmat menjabarkan ada lima mitos mendasar yang telah berkembang dan seolah telah mendarah daging di kalangan praktisi SEO serta fakta-faktanya:

  • Mitos #1: Keyword muncul di Page One, urusan kelar 

Faktanya, meskipun konten kita muncul di halaman pertama mesin pencari belum berarti pekerjaan berkaitan dengan SEO telah rampung. Nur Nasta Rahmat mengatakan jika kita harus menganalisa kata kunci dan budaya pencarian informasi user.

“Pengguna yang memasukkan kata kunci pendek yang populer ke mesin pencari biasanya bertujuan untuk mencari informasi (research). Sementara itu, jika semakin banyak kata kunci dimasukkan ke dalam mesin pencari, biasanya user telah memiliki purchase intent atau keinginan membeli barang/jasa tertentu,” begitu tutur Nur Nasta Rahmat.

  • Mitos #2: Banyak backlink itu bagus!

Faktanya, Nur Nasta Rahmat mengungkapkan jika cara tersebut tak efektif dilakukan sekarang ini. Permasalahannya ada pada algoritma yang diterapkan oleh mesin pencari seperti Google. Jika ada sebuah konten yang memiliki backlink dengan jumlah tak normal, konten tersebut secara otomatis akan dianggap menyalahi aturan.

  • Mitos #3: Artikel panjang adalah artikel yang bagus

Faktanya, bicara mengenai kualitas dan nilai SEO, panjang tak melulu bagus. Sebuah artikel yang dibuat dengan tepat, memperhatikan kenyamanan pembaca, dan berkualitas, meski pendek pun mampu membuat nilai SEO kamu bagus.

  • Mitos #4: Memasang Google Ads dapat membantu skor SEO

Faktanya, pemasangan Google Ads dapat membantu atau mematikan skor SEO kamu. Itu semua tergantung user experience (UX). Jika user experience setelah iklan diklik bagus, tentu saja nilai SEO kamu akan meningkat. Namun, saat user experience setelah iklan diklik dinilai tidak pantas, nilai SEO kamu cenderung akan turun.

  • Mitos #5: Memasang iklan di media sosial akan membantu skor SEO

Faktanya, algoritma mesin pencari seperti Google tidak pernah sejalan dengan algoritma jejaring sosial seperti Facebook. Ini berarti apa yang kamu tulis di Facebook belum tentu terbaca sebagai informasi di Google.

 

5 Mitos dan Tren SEO di Indonesia
Memahami Algoritma Google

Setelah memahami definisi, elemen, dan mitos yang berkembang serta faktanya, seorang praktisi SEO yang baik dan mampu memenangkan search engine harus mengenali “musuh” mereka: algoritma Google, sebagai mesin pencari paling populer di Indonesia.

Bicara algoritma berarti membicarakan serangkaian instruksi yang dibuat dengan tujuan menyelesaikan permasalahan. Dalam kasus Google, algoritma yang diterapkan oleh mesin pencari tersebut sangatlah banyak dan rumit.

Masing-masing algoritma yang dikeluarkan Google secara bertahap ini memiliki tujuan tersendiri, dan empat di antaranya telah mengubah cara kerja SEO selama beberapa tahun terakhir ini. Aulia Naratama, GM Grovh, mengungkapkan keempat algoritma Google tersebut ialah Panda (2011), Penguin (2012), Hummingbird (2013), dan Mobile First (2016).

Algoritma Panda dibuat sebagai solusi atas banyaknya konten yang banyak tapi memiliki konteks yang sama. Penguin dibuat supaya memerangi link tidak natural dan spamming link kata kunciHummingbird menjadi jawaban atas spam kata kunci dalam konten. Terakhir, Mobile First dibuat untuk memerangi website dengan waktu loading yang lama.

“Munculnya keempat algoritma ini memberikan dampak yang sangat hebat terhadap cara kerja SEO. Keempatnya membuat dunia persilatan SEO gempar dan menuntut hadirnya solusi baru menampilkan konten serta website,” tutur Aulia Naratama.

Baca Juga: Kerja Freelance Itu Harus Serius! Ini Kiatnya

Jadi, bagaimana cara memenangkan permainan search engine?

Mengetahui pilar, mengupas mitos dan mengetahui fakta di lapangan, serta memahami algoritma Google belum tentu cukup memenangkan permainan search engine ini. Melengkapi pemahaman yang telah diungkapkan sebelumnya, Indra Jaya, CEO Krona Digital Marketing Agency, mengungkapkan jika untuk memenangkan mesin pencari, seorang praktisi SEO haruslah peka terhadap sekelilingnya.

“Fokuslah terhadap pola perilaku pasar. Kenapa? Karena inilah yang dilakukan Google lewat update algoritmanya yang di-update setiap hari dan seolah tak berkesudahan,” ungkap Indra Jaya. Tak hanya itu, praktisi SEO pun dituntut untuk memahami tren pencarian yang berevolusi; dari komputer (desktop), ke laptop, ke ponsel, ke suara, dan seterusnya.

Bicara produksi konten yang mampu memenangkan aturan main mesin pencari, Aulia Naratama mengungkapkan jika keempat algoritma yang membentuk dunia SEO seperti sekarang mengharuskan seseorang memiliki kemampuan creative writing, memproduksi tautan yang natural, menghadirkan konten dengan konteks yang tepat, dan website yang cepat.

“Kesimpulannya, pengoptimalan SEO adalah kegiatan multidisiplin. Demi menjaga semua elemennya memiliki performa maksimal, kita membutuhkan upaya yang maksimal. Selain itu, jangan pelit terhadap toolsTools atau perangkat pembantu SEO punya tujuan untuk memudahkan membaca arus pengunjung website,” ungkap Aulia Naratama merangkum seluruh presentasinya.

Ia pun melanjutkan, “SEO fokusnya itu diproses, ukuran, dan perkembangan. Jika kamu tidak bisa mengukur perkembangan konten atau website kamu dalam segi skor SEO, bagaimana kamu bisa mengembangkannya secara lebih baik?”

 

Apa kamu seorang content creator yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?