​Cara Menentukan Tarif untuk Freelancer​

Salah satu yang menentukan sukses atau tidaknya kelangsung usaha kreatif sebagai pembuat konten lepas (freelance) adalah tarif atau harga jual karya atau jasa.

Kalau terlalu mahal, bisa-bisa malah tidak dipilih klien, karena ada yang menyediakan kualitas setara dengan harga lebih terjangkau. Tapi kalau terlalu murah juga, justru berpotensi membuat kita rugi.

Bagaimana sebaiknya kita, sebagai freelancer, menentukan tarif kerja untuk ditawarkan pada calon klien? Berikut ini beberapa yang mungkin bisa diterapkan.

Menentukan dan mengurai jasa yang ditawarkan

Berdasarkan pengalaman dari ratusan project yang berjalan di GetCRAFT, salah satu yang membuat klien memilih kreator tertentu adalah keahlian mumpuni di tipe dan kategori konten tertentu. Misal, desainer grafis yang fokus membuat infografis untuk kategori female lifestyle.

Maka itu, sangat penting untuk menentukan fokus kerja Anda sebagai kreator konten freelance. Soal ini, bisa Anda baca lebih detail di artikel tentang menentukan target market untuk freelancer, di sini.

Karena jika sudah memiliki fokus, maka akan lebih mudah pula buat kita mengurai, apa saja yang perlu dilakukan untuk menggarap project tersebut. Misal, untuk infografis, maka dibutuhkan tahap ideation, lalu wireframe atau kerangka desain, dilanjutkan dengan penggarapan artwork.

Terkait itu juga, kita juga bisa memperkirakan, untuk jenis pekerjaan yang jadi fokus kita ini, tidak dibutuhkan offline meeting, atau proses briefing bisa dilakukan via email atau online platform.

Dengan demikian, kita pun jadi bisa mengukur, apa saja yang kita butuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut; biaya komunikasi, ongkas transportasi, waktu kerja yang dibutuhkan, dsb.

Lakukan hal ini untuk memetakan dulu, berapa biaya yang Anda butuhkan untuk keperluan produksi; sebelum main tembak harga jual per Anda mengerjakan konten yang mesti digarap.

Gali informasi harga pasaran

Langkah penting berikutnya adalah mencari tahu, berapa biasanya para freelance di kategori pekerjaan Anda menjual jasa atau karyanya.

Hal ini mudah dilakukan jika Anda memang berada di lingkaran pekerja kreatif di bidang yang Anda tentukan. Misal, Anda penulis, maka cobalah untuk ngobrol dengan penulis lain terkait berapa biasanya dia menjual jasa penulisan satu artikel.

Jika di sekitar Anda tidak ada pekerja kreatif sejenis, coba untuk bergabung dengan komunitas, forum atau grup di media sosial terkait fokus jasa Anda.

Cara paling instan adalah browsing. Persoalannya, seringkali informasi yang didapatkan dari internet kurang rinci atau bahkan tidak akurat. Sangat disarankan untuk tanya langsung saja.

Untuk bisa menarik kesimpulan sederhana dari aktivitas ini. Dapatkan informasi dari setidaknya 10 kreator lain yang menjual jasa yang Anda juga jual. Lalu tarik nilai rata-ratanya. Dari situ Anda pun mendapatkan gambaran market rate yang bisa jadi acuan untuk perhitungan harga jual Anda.

Selain itu, lengkapi pula informasi tersebut dengan detail layanan yang disediakan.

Misal, ada penulis yang menetapkan tarif Rp200.000 per artikel, tapi hanya berdasarkan hasil browsing data sekunder; dan ada penulis yang menetapkan tarif Rp500.000 per artikel, tapi harga itu termasuk jasa wawancara langsung untuk setengah hari di area Jabodetabek.

Pokoknya, gali informasi ini sedetail mungkin, untuk kemudian Anda jadikan materi komparasi ketika mulai menentukan harga jual Anda.

Tentukan harga dengan target yang jelas

Ada banyak tips yang bisa Anda telusuri di internet soal bagaimana mengkalkulasi harga jual jasa. Dan yang biasanya penting dari hal ini adalah menetapkan keuntungan bersih yang ingin Anda dapatkan dari pekerjaan Anda.

Ada baiknya, untuk menetapkan keuntungan bersih ini, Anda mempertimbangkan tentang apa yang ingin Anda capai, untuk jangka pendek atau rutin, serta jangka panjang.

Untuk jangka pendek, misalnya:

Anda ingin bisa memiliki keuntungan bersih Rp3.000.000 per bulan, untuk bisa cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari dan bayar kontrakan. Artinya, Anda membutuhkan pendapatan setidaknya Rp36.000.000 per tahun.

Dan untuk jangka panjang, misalnya:

Anda ingin berlibur ke Jogja tahun depan. Dan setelah diperhitungkan, anggap saja Anda membutuhkan dana Rp3.000.000. Yang artinya, jika ditambah dengan kebutuhan jangka pendek atau rutin, Anda perlu setidaknya Rp39.000.000.

Dari perhitungan di atas, sebut saja Anda punya target keuntungan bersih Rp40.000.000 sampai tahun depan.

Untuk menetapkan target keuntungan bersih, ada baiknya mempertimbangkan tentang apa yang ingin Anda capai, untuk jangka pendek atau rutin, serta jangka panjang.

Nah, setelah menetapkan target keuntungan bersih, selanjutnya adalah tambahkan nilai itu dengan perhitungan aman biaya bulanan yang mesti Anda keluarkan untuk mendukung usaha kerja freelance Anda.

Misal, biaya listrik, komunikasi, paket data, alokasi biaya transportasi untuk meeting, bahkan kalau perlu sampai biaya asuransi, dsb. Sebut kasar, Anda butuh Rp3.000.000 per bulan, atau setidaknya Rp36.000.000 per tahun.

Dengan perhitungan tersebut, kasarnya Anda perlu mendapatkan penghasilan Rp40.000.000 ditambah Rp36.000.000; yang berarti Rp76.000.000 untuk satu tahun, atau sekitar Rp6.300.000 per bulan.

Sampai tahap ini, kembali ke poin bahasan pertama dan kedua; dari uraian tahap kerja per project, atau berdasarkan hal-hal yang mesti Anda kerjakan (termasuk biaya pemasaran dan perbandingan dengan nilai pasaran), Anda menemukan kalau ongkos produksi per item (untuk misalnya pengerjaan artikel 1.000 kata, hanya berdasarkan browsing via internet dan tanpa wawancara langsung) adalah Rp400.000.

Tapi itu baru ongkos produksi saja, sebut misalnya Anda ingin keuntungan bersih 30% dari tiap artikel (untuk kualitas teknis, orisinalitas, dan kreatif yang Anda janjikan), maka harga jual Anda Rp520.000. Jika turut memperhitungkan pajak yang harus dibayar, sebut saja amannya Rp600.000 per artikel.

Dan untuk bisa mendapatkan target Rp6.300.000 per bulan, berarti Anda mesti mendapatkan project setidaknya 53 artikel tiap bulan (Rp6.300.000 dibagi Rp120.000 yang adalah keuntungan bersih 30% dari ongkos Rp400.000 per artikel).

Jika Anda bagikan 53 artikel ke dalam (misalnya) 20 hari kerja per bulan, artinya Anda mesti menggarap 3 per hari untuk mencapai target yang ditetapkan.

Maka Anda pun jadi tahu, berapa target minimal yang harus Anda capai, berapa nilainya, dan apa yang nilai akan penuhi jika tercapai. Karena Anda memperhitungkan segala hal yang terkait dengan cermat.