Jualan Jasa Freelance, Gimana Caranya?

By
GetCraft

Bagi para kreator konten (terutama yang full time freelancer), salah satu yang penting untuk diperhatikan adalah bagaimana cara mereka menjual jasa kreatifnya. Beberapa komponen kunci untuk mendukung penjualan jasa kreatif itu termasuk kemampuan komunikasi yang baik, platform yang dipakai untuk promosi, portofolio, dan tentunya harga.

Di tengah pandemi dan era kebiasaan baru ini, persaingan antar kreator dan freelancer semakin sengit, alasannya karena makin banyak pula orang yang mencari penghasilan tambahan, atau bahkan kehilangan pekerjaan, membuat jasa-jasa kreatif pun semakin berhamburan. Karena persaingan makin ramai, tak sedikit pekerja freelance yang membanting harga, sehingga persaingan gig economy pun makin ketat.

Terkait situasi ini, sebagian kreator konten, khususnya dari bidang desain, ilustrasi, sampai penulisan menyiasatinya dengan mempercantik feed media sosial sebagai portofolio online, berjualan variasi produk seperti merchandise, untuk tetap bertahan dan mendukung bisnis utamanya. Namun, untuk sebagian kreator konten lainnya, hal ini mungkin masih asing dilakukan; atau mereka belum mendapatkan bayangan, apa tahapan yang mesti mereka lalui untuk membuat strategi "jualan" yang tepat.

Nah, dalam sesi Jakarta Creators Meetup (JCM) kali ini, kita akan berbicara soal cara menjual jasa freelance, khusus di era kebiasaan baru ini, bagaimana melakukan penyesuaian dan menghadapi persaingan yang makin ketat? Apa yang mesti dipertimbangkan untuk mengembangkan dan mengomunikasian variasi produk atau jasa baru yang ditawarkan? Hingga, apa tantangannya dan bagaimana cara mengatasinya?

Bagi para kreator konten (terutama yang full time freelancer), salah satu yang penting untuk diperhatikan adalah bagaimana cara mereka menjual jasa kreatifnya. Beberapa komponen kunci untuk mendukung penjualan jasa kreatif itu termasuk kemampuan komunikasi yang baik, platform yang dipakai untuk promosi, portofolio, dan tentunya harga.

Di tengah pandemi dan era kebiasaan baru ini, persaingan antar kreator dan freelancer semakin sengit, alasannya karena makin banyak pula orang yang mencari penghasilan tambahan, atau bahkan kehilangan pekerjaan, membuat jasa-jasa kreatif pun semakin berhamburan. Karena persaingan makin ramai, tak sedikit pekerja freelance yang membanting harga, sehingga persaingan gig economy pun makin ketat.

Terkait situasi ini, sebagian kreator konten, khususnya dari bidang desain, ilustrasi, sampai penulisan menyiasatinya dengan mempercantik feed media sosial sebagai portofolio online, berjualan variasi produk seperti merchandise, untuk tetap bertahan dan mendukung bisnis utamanya. Namun, untuk sebagian kreator konten lainnya, hal ini mungkin masih asing dilakukan; atau mereka belum mendapatkan bayangan, apa tahapan yang mesti mereka lalui untuk membuat strategi "jualan" yang tepat.

Nah, dalam sesi Jakarta Creators Meetup (JCM) kali ini, kita akan berbicara soal cara menjual jasa freelance, khusus di era kebiasaan baru ini, bagaimana melakukan penyesuaian dan menghadapi persaingan yang makin ketat? Apa yang mesti dipertimbangkan untuk mengembangkan dan mengomunikasian variasi produk atau jasa baru yang ditawarkan? Hingga, apa tantangannya dan bagaimana cara mengatasinya?

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but this Tutorial is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Bagi para kreator konten (terutama yang full time freelancer), salah satu yang penting untuk diperhatikan adalah bagaimana cara mereka menjual jasa kreatifnya. Beberapa komponen kunci untuk mendukung penjualan jasa kreatif itu termasuk kemampuan komunikasi yang baik, platform yang dipakai untuk promosi, portofolio, dan tentunya harga.

Di tengah pandemi dan era kebiasaan baru ini, persaingan antar kreator dan freelancer semakin sengit, alasannya karena makin banyak pula orang yang mencari penghasilan tambahan, atau bahkan kehilangan pekerjaan, membuat jasa-jasa kreatif pun semakin berhamburan. Karena persaingan makin ramai, tak sedikit pekerja freelance yang membanting harga, sehingga persaingan gig economy pun makin ketat.

Terkait situasi ini, sebagian kreator konten, khususnya dari bidang desain, ilustrasi, sampai penulisan menyiasatinya dengan mempercantik feed media sosial sebagai portofolio online, berjualan variasi produk seperti merchandise, untuk tetap bertahan dan mendukung bisnis utamanya. Namun, untuk sebagian kreator konten lainnya, hal ini mungkin masih asing dilakukan; atau mereka belum mendapatkan bayangan, apa tahapan yang mesti mereka lalui untuk membuat strategi "jualan" yang tepat.

Nah, dalam sesi Jakarta Creators Meetup (JCM) kali ini, kita akan berbicara soal cara menjual jasa freelance, khusus di era kebiasaan baru ini, bagaimana melakukan penyesuaian dan menghadapi persaingan yang makin ketat? Apa yang mesti dipertimbangkan untuk mengembangkan dan mengomunikasian variasi produk atau jasa baru yang ditawarkan? Hingga, apa tantangannya dan bagaimana cara mengatasinya?

Related tutorials