By
GetCraft

Problem Tarif dan Target di Kalangan Freelancer

June 10, 2020

Ada dua pertanyaan klasik yang masih sering dilontarkan di forum-forum freelancer. Pertama, cara menentukan pasar (target market), dan kedua, cara menentukan tarif (fee).

Pasar

Saat ditanya soal pasar, tidak sedikit freelancer yang clueless. Masih ada yang menjawab "Siapa aja yang butuh ilustrasi," atau "Siapa aja yang butuh artikel." Sebagai freelancer, kamu harus punya jawaban spesifik tentang pasar yang kamu incar.

Kamu harus punya fokus sebagai nilai promosi untuk audiens dan calon klien.Kenapa fokus ini krusial? Mudahnya: karena tidak semua orang butuh jasa kita. Seperti halnya kalau kamu lagi bikin usaha. Usahamu ada di bidang kuliner, misalnya. Tapi lalu apa spesialisasimu? Masakan Eropa? Masakan Jepang? Tidak semua pecinta kuliner akan cocok dengan hidanganmu. Sebabnya, kamu butuh menentukan fokus demi menyasar pasar yang tepat.

Kamu bisa mulai dengan proses evaluasi. Kamu minat di bidang apa, ahli soal apa, dan lain sebagainya. Hal ini akan menentukan posisimu di antara kompetitor-kompetitor lain yang menawarkan jasa sejenis. Jika kamu seorang desainer, apa fokus desainmu? Garapan ilustrasi, logo, atau karikatur? Jika kamu penulis, kamu menulis profil atau naskah feature? Jika kamu fotografer, kamu memotret produk atau reportase human interest?

Setelahnya, kamu perlu memperinci fokusmu lagi. Jika kamu desainer spesialis logo, tentukan logo seperti apa yang menjadi keahlianmu. Logo untuk restoran, untuk perusahaan, atau untuk produk? Semakin rinci fokusmu, niscaya semakin mudah untuk mengidentifikasi pasar potensialmu.

Kebanyakan klien tidak mencari kreator konten yang serba bisa, tapi justru kreator spesialis yang meyakinkan untuk menggarap konten mereka.

Tarif

Kalau kemahalan, takutnya klien pada kabur. Tapi kalau kemurahan, selain kamu rugi, ada pula kemungkinan kamu bakal dimusuhi lantaran merusak harga pasaran. Enggak ada rumusan fix dalam menentukan tarif. Variabel hitungnya pun bisa kamu tentukan sendiri. Namun sederhananya, semakin tebal portofolio dan semakin tinggi jam terbangmu, semakin leluasa pula kamu menentukan tarif.Anggaplah kamu seorang freelance graphic designer yang fokus di pengerjaan infografik. Selanjutnya, kamu perlu mengurai "apa saja yang kamu butuhkan selama mengerjakan sebuah proyek".

Dalam hal ini, misalnya, kamu akan menempuh tahap perencanaan atau konsep (ideation), lalu menyusun kerangka desain yang sudah disepakati bersama klien, sebelum akhirnya mulai penggarapan artwork.

Langkah-langkah ini bisa jadi panduanmu untuk memperkirakan tarif. Contohnya biaya komunikasi. Tidak semua brief atau meeting dilakukan secara offline. Online meeting dengan klien tentu akan mempengaruhi biaya komunikasi, namun di saat yang sama juga mengurangi biaya transportasi.Setelah tahap brief rampung, kamu bisa mulai mengestimasikan durasi kerjamu sambil lihat-lihat harga pasaran. Jangan sungkan untuk bertanya ke sesama creative freelancer, terutama graphic designer yang juga fokus di infografik. Intip komunitas-komunitas pekerja kreatif yang ada di sekitarmu untuk menggali informasi lebih banyak agar referensimu tidak sebatas dari internet saja.

Kamu juga perlu jeli memperhatikan tipe layanan yang disediakan. Tarif desainer infografik tentu akan berbeda dengan desainer produk. Meski keduanya sama-sama desainer, proses kerja dan metode kreatif yang ditempuh keduanya tentu saja lain sama sekali.

Berikutnya adalah perencanaan nyata dan berjangka. Misalnya untuk jangka pendek, kamu ingin pendapatan bersih bulanan sebesar Rp3.000.000 (Rp36.000.000/tahun). Atau jika kamu punya perencanaan lain, misalnya rencana liburan, dan setelah kamu hitung, anggaran jalan-jalanmu sekitar Rp4.000.000. Maka total pendapatan bersih yang harus kamu terima dalam setahun adalah Rp40.000.000.

Setelah menghitung target minimal pendapatan bersih, kamu tinggal menambahkan jumlahnya dengan jumlah pengeluaran bulanan rutin. Misalnya, biaya kost, listrik dan air, transportasi, internet, bahkan kalau perlu asuransi. Anggaplah kasarnya kamu butuh Rp5.000.000 tiap bulan untuk pengeluaran rutin (Rp60.000.000/tahun).

Melalui perhitungan tersebut, secara kasar, kamu perlu mendapatkan Rp40.000.000 ditambah Rp60.000.000, yang berarti Rp100.000.000 dalam satu tahun, atau sekitar Rp8.340.000/bulan. Inilah target bulananmu. Dari sini, kamu bisa lanjut memperkirakan jumlah proyek yang harus kamu kerjakan untuk mencapai target. Asumsikan kamu memasang tarif Rp500.000 untuk satu infografik, berarti ada sekitar 16-17 infografik yang harus kamu kerjakan dalam sebulan untuk mencapai angka Rp8.340.000.

Mengurai pengeluaran dan pendapatan secara bertahap seperti ini membutuhkan ketelitian serta kedisiplinan yang tinggi. Namun, cara ini akan sangat membantumu dalam membuat perencanaan berjangka pendek maupun panjang, dan yang paling penting: memberi gambaran tentang jumlah tarifmu.

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Tags:

Related researches