X

Sign Up to Crafters Newsletter
for Free!

Tren Fotografi Analog

By
Pandji Putranda
 •
March 17, 2020

Fotografi analog sedang hype akhir-akhir ini. Ya, di tengah kepungan modernisasi yang serba digital, sebagian dari kita tampaknya masih enggan melepaskan hal-hal yang tradisional. Misalnya saja, tidak sedikit individu yang masih mengonsumsi buku fisik, kendati popularitas buku digital dan perangkat untuk membacanya terus meningkat dan berlipatganda. Atau, masih ada yang getol mengoleksi dan mendengarkan musik via medium kaset, CD, juga vinyl, di saat beragam fasilitas streaming musik menawarkan kemudahan dan akses yang jauh lebih luas.

Hal yang sama terjadi dalam dunia fotografi. Di mana komunitas kamera analog masih bertahan -bahkan berkembang- di tengah serbuan tren kamera DSLR (Digital Single Lens Reflect) maupun Mirrorless. Ada anggapan klasik bahwa proses memotret menggunakan kamera analog selalu terasa lebih romantis ketimbang kamera digital.

Berbeda dengan kamera digital yang hasilnya dapat segera kamu lihat dan kamu koreksi (edit), memotret dengan kamera analog membutuhkan kesabaran dan kejelian khusus, terutama terhadap elemen-elemen teknis, sehingga foto yang kamu hasilkan dapat dipastikan bagus dan sesuai dengan apa yang kamu kehendaki.

Singkatnya, kamu dituntut untuk melakukan eksplorasi dan bermain-main dengan intuisi secara langsung, terutama karena keterbatasan yang dimiliki kamera analog.

Baca Juga: Tips-tips Memotret Kamera Analog untuk Pemula

Selain proses memotret, yang tidak kalah menarik dari fotografi analog adalah proses pasca-memotret, yakni mencuci film (developing film) di kamar gelap. Proses ini membutuhkan kemahiran tersendiri yang sama pentingnya dengan proses pengambilan gambar.

Jika kita mengibaratkan proses memotret dengan kamera analog sebagai kerja fisika, di mana kita berinteraksi langsung dengan ihwal teknis kamera dan kalkulasi saat pengambilan gambar, maka proses mencuci film adalah kerja kimia, yakni saat kita berhadapan langsung dengan cairan emulsi, mencelup gambar ke dalam takaran yang pas, untuk memperoleh hasil yang diinginkan.

Dan seperti halnya saat memotret, proses mencuci film juga menawarkan ruang eksplorasi yang luas. Tidak ada rumusan baku dalam proses ini. Misalnya saja, teknik push/pull untuk menaikkan atau menurunkan pencahayaan dalam roll film, mencuci roll film berwarna dengan cairan untuk mencuci roll hitam putih (atau sebaliknya), bahkan kamu bisa bereksperimen menggunakan kopi atau cairan vitamin c untuk mencuci roll film-mu. Macam-macam.

Para Pegiat Kamera Analog

Komunitas fotografi analog yang terus bertambah dapat dilihat dari jumlah komunitas dan kegiatan yang bertemakan fotografi analog.

Di daerah Jabodetabek sendiri ada festival bertajuk Low Light Bazaar (selanjutnya LLB) yang diadakan secara bianual, atau dua kali tiap tahun) oleh Jelly Playground. Acara ini mencakup lokakarya fotografi analog, pameran karya, toko kamera analog, sampai jasa reparasi kamera analog.

Selain itu, banyak pula bermunculan laboratorium yang menjual varian roll film, sekaligus menawarkan jasa cuci/pindai (develop/scan) roll film seperti labrana, ruangtustel, marka.lab, hipercat.lab, soup n film, dan lain sebagainya.

Untuk para newcomer yang ingin mencoba bermain-main dengan kamera analog, ada kelas-kelas online di kanal YouTube seperti Kelas Pagi yang membahas hal-hal teknis hinga tips ‘n trick memotret dengan kamera analog.

Di luar Jabodetabek, persisnya di DIY Yogyakarta, kamu juga dapat menemui komunitas kamera analog seperti Komunitas Kamera Analog Yogyakarta yang berisi review kamera dan lensa analog, galeri foto-foto analog, serta ulasan mengenai tokoh-tokoh fotografi analog mancanegara.

Kamu dituntut untuk melakukan eksplorasi dan bermain-main dengan intuisi secara langsung, terutama karena keterbatasan yang dimiliki kamera analog.

Pada akhirnya, tren fotografi analog agaknya lebih dari sekadar nostalgia romantisme semata. Fotografi analog menawarkan tantangan dan tingkat kemahiran tersendiri yang bahkan tidak dimiliki fotografi digital.

Bahwasanya pengalaman serta pembelajaran yang didapat dari memotret kamera analog niscaya akan mempertajam intuisi dan kemampuan seorang fotografer, bahkan fotografer digital sekalipun.


Heading 1

Heading 2

Heading 3

Heading 4

Heading 5
Heading 6

Regular

Italic

Bold

  • Test 1
  • Test 2
  1. Test A
  2. Test B

What’s a Rich Text element?

The rich text element allows you to create and format headings, paragraphs, blockquotes, images, and video all in one place instead of having to add and format them individually. Just double-click and easily create content.

Static and dynamic content editing

A rich text element can be used with static or dynamic content. For static content, just drop it into any page and begin editing. For dynamic content, add a rich text field to any collection and then connect a rich text element to that field in the settings panel. Voila!

How to customize formatting for each rich text

Headings, paragraphs, blockquotes, figures, images, and figure captions can all be styled after a class is added to the rich text element using the "When inside of" nested selector system.

Tren Fotografi Analog

By
Pandji Putranda
.
March 17, 2020

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Tren Fotografi Analog

By
Pandji Putranda
.
March 17, 2020

Crafters Newsletter

Sign up to our weekly email to get:
Article Updates
Event Announcements
Webinar Announcements
Free Research
Free
Offers
Free
Tutorials

Related articles