X

Sign Up to Crafters Newsletter
for Free!

TikTok: Dulu Dirundung, Kini Digandrung

By
MLR
 •
March 12, 2020

Tahun 2018, dunia internet Indonesia dihebohkan dengan aplikasi baru bernama TikTok. Bermodal desain aplikasi yang mudah digunakan dan filter beragam, TikTok yang resmi diluncurkan pada September 2017 ini menghadirkan jejaring sosial baru dengan format video berdurasi 15-60 detik. Aplikasi ini pun tak membutuhkan waktu lama untuk digandrungi, sampai akhirnya menjadi medium kegemaran anak-anak remaja tanah air untuk mengekspresikan diri mereka.

Sama seperti fenomena jejaring sosial lain seperti Instagram dan YouTube, keberadaan TikTok pun memunculkan sosok bintang kreator seperti Bowo Alpenliebe yang sempat menimbulkan kontroversi. Kala itu, kemunculan Prabowo Mondardo atau yang akrab disapa Bowo Alpenliebe dan TikTok dinilai negatif. Bowo Alpenliebe menjadi korban perundungan internet. Dan saking tingginya komentar negatif dari berbagai pihak, TikTok sempat diblokir di Indonesia oleh Kominfo.

Direktur Aplikasi Informatika Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan, bahkan sempat berujar kepada BBC Indonesia pada tanggal 3 Juli 2018 jika TikTok dianggap telah banyak melakukan pelanggaran dari pornografi hingga pelecehan agama. Publik Indonesia kemudian menganggap fenomena tersebut hanya tren sesaat dan banyak yang beranggapan jika TikTok akan surut penggunanya.

Meski sempat diolok-olok dan diblokir oleh Kominfo dua tahun silam, bukannya semakin surut pengguna, TikTok malah semakin populer dan menjadi aplikasi fenomenal dengan skala internasional. Aplikasi ini laris tak hanya di negara Indonesia tapi juga merambah beberapa negara seperti Korea dan Amerika Serikat. Pada tahun 2020, TikTok telah diunduh 1.5 miliar pengguna di seluruh dunia. Efeknya, konten-konten TikTok kembali merajai jagat jejaring sosial dan banyak kreator hijrah mencoba peruntungan baru di aplikasi ini, mengikuti jejak Bowo Alpenliebe beberapa tahun silam.

Hal tersebut menimbulkan banyak pertanyaan, seperti, kenapa kok aplikasi ini mendadak booming kembali -malahan semakin meledak popularitasnya dibandingkan 2018? Potensi apa, sih, yang dimiliki TikTok sebagai aplikasi jejaring sosial baru? Diambil dari berbagai sumber, simak penjabaran Crafters tentang TikTok berikut ini.

Baca Juga: Upaya Edukasi Industri Video

TikTok: Dulu Dirundung, Kini Digandrung
(Dok. TikTok)

Mengenal perjalanan TikTok jadi penguasa pasar aplikasi berbasis video

Demi melacak sejarah berdirinya jejaring sosial berformat video pendek ini, sangatlah penting untuk mengetahui bahwa TikTok mulanya tidak berdiri dengan nama tersebut. TikTok merupakan aplikasi milik ByteDance, sebuah perusahaan teknologi asal negara Cina. Selain TikTok, perusahaan tersebut memiliki banyak aplikasi jejaring sosial populer lainnya.

Supaya kamu punya sedikit gambaran seperti apa perusahaan ByteDance itu, anggap saja perusahaan tersebut seperti Facebook versi negara Cina. Sama seperti Facebook, aplikasi-aplikasi yang dibuat oleh ByteDance digunakan oleh miliaran orang setiap harinya. Semenjak berdiri di tahun 2012, ByteDance telah melebarkan sayapnya membuat berbagai jenis aplikasi jejaring sosial. Dan di tahun 2016, ByteDance meluncurkan sebuah aplikasi berformat video pendek bernama Douyin.

Aplikasi pembuat video pendek sendiri sebenarnya bukanlah hal yang baru di pasar Cina, tapi popularitas Douyin meledak hingga jadi aplikasi kegemaran di Cina. Dalam jangka waktu setahun, Douyin memiliki 100 juta pengguna dan 1 miliar jumlah penonton tiap harinya. Setahun setelahnya, tahun 2017, Douyin mengadakan ekspansi ke luar pasar Cina dan merambah pasar internasional dengan nama baru yakni TikTok. Platform ini kemudian jadi sangat populer di negara seperti Thailand, Jepang, dan pasar benua Asia lainnya.

Sementara TikTok mendulang popularitas di bumi belahan timur, sebuah aplikasi berbasis video pendek lainnya telah lebih dahulu populer di Amerika Serikat. Aplikasi itu bernama Musical.ly, sebuah aplikasi yang fokus pada video lip-sync berdurasi 15 detik. Di AppStore sendiri, aplikasi ini sangat populer.  Ia menduduki peringkat 1 di antara aplikasi gratis lainnya pada musim panas 2015 dan tidak pernah turun dari daftar aplikasi populer. Dari platform Musical.ly inilah, generasi baru konten kreator lahir.

Ketika aplikasi berbasis video populer lainnya yang bernama Vine tutup di tahun 2016, konten kreator aplikasi tersebut hijrah ke Musical.ly untuk meneruskan kerja mereka. Kemudian, di tahun 2017, ByteDance membeli Musical.ly senilai US$ 1 miliar. Di bawah payung ByteDance, Musical.ly terus menjajaki peringkat pasar aplikasi video di Amerika Serikat, dan TikTok dipasarkan di luar Amerika Serikat.

Tak lama berselang, di tahun 2018, ByteDance mengumumkan jika mereka akhirnya menutup dan melebur Musical.ly ke aplikasi TokTok. Semenjak merger ini, TikTok makin populer di Amerika Serikat. Enggak heran, dengan popularitas yang terus meroket, TikTok sekarang digunakan oleh berbagai influencer perusahaan besar hingga artis papan atas internasional. Efek ledakan popularitas TikTok sebagai platform di kancah internasional merembet hingga ke tanah air. TikTok di tahun 2020 pun muncul sebagai platform kreatif baru dan jauh lebih populer dibandingkan dua tahun sebelumnya.

TikTok: Dulu Dirundung, Kini Digandrung
(Dok. Routers Stringer)

Potensi TikTok sebagai aplikasi jejaring sosial baru

Bicara soal potensi TikTok sebagai jejaring sosial baru tak lepas dari pembicaraan fitur yang menjadi keunikannya, yakni format video itu sendiri. Karena TikTok menghadirkan format video dan punya sifat yang berfokus pada musik, TikTok tak hanya asyik dimainkan mereka yang menggemari video, namun juga musisi hingga grup penari.

Musisi dunia seperti Lil Nas X menjadi contoh nyata fenomena ini. Setelah mengeluarkan lagu Old Town Road dan viral dengan kemasan tantangan tari berlatar lagu tersebut di aplikasi TikTok, namanya semakin dikenal. Semakin banyak video yang diproduksi oleh para pengguna TikTok, entah untuk tantangan tari atau sekedar membuat meme, semakin tinggi juga peringkatnya di daftar Billboard.

Terkait fitur, proses membuat sebuah video sendiri jadi lebih mudah dengan TikTok. Para pengguna TikTok tak perlu belajar terlalu keras dalam hal penyuntingan video seperti umumnya dilakukan oleh para YouTuber. Hadirnya transisi-transisi unik dan filter video yang mudah digunakan, tantangan-tantangan kreatif yang selalu ada, serta pustaka lagu yang beragam, memungkinkan siapapun untuk membuat video yang enak ditonton.

Potensi TikTok tak hanya besar bagi para musisi, grup tari, tapi juga bagi orang awam yang ingin membuat video tanpa harus menghabiskan waktu lama menguasai kemampuan penyuntingan video. Seperti yang sudah diungkapkan, TikTok memiliki jumlah pengguna yang besar. Meski demikian, persaingan antar pembuat konten TikTok masih relatif sepi di tanah air dibandingkan platform jejaring sosial lainnya seperti YouTube dan Instagram. Ini memberikan ruang gerak yang luas bagi siapapun yang ingin terjun ke platform ini.

TikTok: Dulu Dirundung, Kini Digandrung
(Dok. Medcom)

TikTok yang sempat menghebohkan jagat dunia maya tanah air di tahun 2018 dengan sentimen negatif tampil berbeda di tahun 2020 berkat ekspansi ByteDance yang agresif. Hadirnya TikTok jelas membantu lagu Old Town Road jadi fenomena global setelah Lil Nas X mengunggah lagu tersebut ke TikTok. Tapi apakah TikTok hadir sebagai aplikasi yang cocok bagi semua orang? Mungkin tidak. Meski demikian, TikTok bisa dijadikan pilihan untuk mengeksplorasi ekspresi diri kamu dan tak menutup kemungkinan popularitasnya akan langgeng seperti YouTube serta Instagram.

Heading 1

Heading 2

Heading 3

Heading 4

Heading 5
Heading 6

Regular

Italic

Bold

  • Test 1
  • Test 2
  1. Test A
  2. Test B

What’s a Rich Text element?

The rich text element allows you to create and format headings, paragraphs, blockquotes, images, and video all in one place instead of having to add and format them individually. Just double-click and easily create content.

Static and dynamic content editing

A rich text element can be used with static or dynamic content. For static content, just drop it into any page and begin editing. For dynamic content, add a rich text field to any collection and then connect a rich text element to that field in the settings panel. Voila!

How to customize formatting for each rich text

Headings, paragraphs, blockquotes, figures, images, and figure captions can all be styled after a class is added to the rich text element using the "When inside of" nested selector system.

TikTok: Dulu Dirundung, Kini Digandrung

By
MLR
.
March 12, 2020

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

TikTok: Dulu Dirundung, Kini Digandrung

By
MLR
.
March 12, 2020

Crafters Newsletter

Sign up to our weekly email to get:
Article Updates
Event Announcements
Webinar Announcements
Free Research
Free
Offers
Free
Tutorials

Asupan Kreatif Mingguan

Gratis

Artikel-artikel kreatif terpercaya

-
-
-
Dapatkan gratis

Langganan Premium

US$ 10 / bulan

8+ tiket webinar marketing gratis setiap bulan
Semua siaran ulang tutorial, diskusi & wawancara
Panduan & riset terdepan di industri
Penawaran eksklusif dari brand & Event VIP
Artikel-artikel kreatif terpercaya
Tags:

Related articles