X

Sign Up to Crafters Newsletter
for Free!

Silke Widjaksono: Jangan Takut Memulai dari Bawah!

By
Pandji Putranda
 •
March 12, 2020

Setelah lulus cum laude di jurusan Komputer Akuntansi Universitas Bina Nusantara, Silke justru merasa bimbang. Duh… Ia baru sadar kalau ia salah jurusan begitu mulai mencari pekerjaan. Membayangkan duduk di meja bersekat di gedung perkantoran, berkutat dengan angka-angka yang sifatnya repetitif, agaknya kurang menarik bagi Silke. Sementara itu, impiannya untuk menjadi seorang Art Director belum padam.

Tidak lama berselang, Silke mati-matian memutar otak. Ia menguras sebagian besar tabungannya untuk mempelajari desain grafis dengan lebih intensif, lalu memfokuskan keahliannya di ranah 3D Modelling and Animation, dan terus meningkatkan ilmunya sembari menimba berbagai pengalaman sebagai freelancer.

Silke Widjaksono: Jangan Takut Memulai dari Bawah
(Dok. Silke Widjaksono)

Perjalanan kariernya sebagai freelancer ia tumpahkan dalam bukunya yang berjudul The Wonder Freelancer. Lewat ini, Silke mengupas habis dinamika hidup sebagai seorang freelancer, seperti apa proses kreatif yang berlangsung, manajemen relasi dengan sesama freelancer dan para klien, termasuk bagaimana menghadapi klien yang “menyebalkan”.

Berikut obrolan kami.

Sejak kapan berminat pada dunia desain grafis? Apakah sejak zaman pra-kuliah, atau justru begitu lulus di jurusan Komputer Akuntansi?

Sebenarnya sejak SMA sudah mulai tertarik dengan photoshop, tetapi pas kuliah, Mama menyarankan jurusan Komputer Akuntansi aja yang lebih populer dan mudah dapat kerja. Saat itu keluarga saya sangat terbatas secara ekonomi, jadi carinya kuliah yang praktis-praktis aja, yang murah dan begitu lulus gampang dapat kerja.

Tetapi setelah lulus kuliah, baru nyadar salah jurusan pas mulai wawacara kerja, nyadar kalau saya enggak pingin stuck duduk di cubicle, [office hours] 9 to 5. Akhirnya coba-coba cari alternatif lain.

Apa/siapa yang mempengaruhimu/menginspirasimu untuk menjadi seorang freelancer?

Sumber inspirasinya dari secarik kertas yang isinya daftar hal yang saya inginkan. Semacam bucket list.

Ceritanya waktu saya masih kerja sebagai Creative Manager di sebuah perusahaan fashion retail, saya sempat mendapatkan career coaching saat perusahaan tempat saya bekerja mempekerjakan Action Coach. Saya diwajibkan mengikuti programnya selama beberapa bulan.

Dalam salah satu sesi coahing, saya diminta untuk menuliskan hal-hal apa saja yang saya inginkan dalam hidup, tetapi haya diberi waktu sekian detik supaya saya bisa bebas menuangkan impian tanpa overthinking atau dibatasi logika. Nah, daftar itulah yang kemudian menjadi inspirasi saya.

If you want to be treated like a pro, then act like a pro.
Pola Pikir Freelancer yang Sukses Ala Silke Widjaksono
(Dok. Silke Widjaksono)

Jumlah freelancer terus meningkat tiap tahunnya, termasuk di kawasan Asia Tenggara. Filipina bahkan menjadi negara ke-6 di dunia dengan jumlah freelancer terbanyak. Bagaimana pandanganmu terhadap tren freelancing di Indonesia?

Well… yang pasti jumlah freelancer di Indonesia makin meningkat dan [makin lama] profesi ini sudah cukup bisa diterima [publik]. Bagi sebagian millennial, kata “freelancer” terdengar keren karena tidak terkekang dengan gaya hidup biasa atau kantoran pada umumya, ada perasaan “rebel” dan “cool”.

Kemajuan arus teknologi dan makin menjamurnya berbagai tempat kursus untuk desain dan fotografi juga ikut melipatgandakan jumlah freelancer di sektor kreatif.

Namun efek negatifnya, saat siapapun bisa mengklaim profesi desainer dengan mudah dan tidak ada standarisasi yang jelas megenai profesi ini -berbeda dengan profesi lain di sektor formal seperti dokter, akuntan, bahkan pelatih kebugaran yang mana harus tersertifikasi dan tidak bisa sembarangan buka praktik- seringkali profesi freelance designer maupun freelance photographer dipandang sebelah mata, bahkan terkesan kurang dihargai.

Apa yang membuatmu terpikir untuk membuat buku The Wonder Freelancer? Apa harapanmu terhadap buku ini?

Basically karena geregetan. Banyak yang suka ngeluh di Facebook group/forum kalau jadi freelancer kreatif di Indonesia itu madesu alias masa depan surem karena market-nya belum bisa menghargai kreativitas.

Sementara saya berpikir, “Enggak juga. Gue freelancer dan hidup gue makmur kok. Beberapa temen freelancer juga pada makmur secara finansial: cukup untuk beli kendaraan, properti, liburan, dan masih punya sisa untuk deposito. Tapi kok banyak yang ngeluh ya?”

Akhirnya suatu pagi saya terinspirasi untuk nulis kisah saya yang tidak kuliah desain tapi bisa menghasilkan milyaran rupiah dari freelancing, menandatangani licensing deal dengan Apple Inc., bahkan salah satu desain saya untuk Tupperware sempat mendapatkan titel best label design.

Saya berharap bisa menyemangati sesama pekerja kreatif di Indonesia sekaligus melemparkan ‘barang bukti’ kalau jadi pekerja kreatif di Indonesia itu sebenernya enggak madesu kok. Selama kamu memiliki mindset yang tepat dan USP (Unique Selling Point) atau nilai kekhasan yang jelas sebagai pekerja kreatif. Makanya buku The Wonder Freelancer juga dilengkapi dengan workbook Unique Selling Point.

Jangan takut mulai dari bawah, awal-awal kerja gratis demi portofolio enggak apa-apa, asalkan kamu punya visi yang jelas kedepannya mau apa.

Belum ada regulasi yang secara khusus mengatur perihal freelancing di Indonesia. Bagaimana menurutmu?

Buat saya, regulasinya ada kok. Ada hukumnya di Indonesia terkait transaksi bisnis (pertukaran jasa dengan uang). Saya memandang proyek freelancing layaknya perjanjian bisnis.

Saya meyertakan kontrak yang jelas, kesepakatan di atas materai, atau minta PO (Purchase Order) yang sah dari klien untuk kenyamanan semua pihak. Hanya saja banyak freelancer yang justru “ngegampangin” kontrak dan ujung-ujungnya malah ngeluh begitu disepelekan balik sama klien.

Motto saya ”If you want to be treated like a pro, then act like a pro.” Kalau kita tidak memperlakukan bisnis kita layaknya transaksi bisnis profesional, maka klien juga tidak akan menghargai bisnis kita. Mengenai masalah tidak dibayar, jangankan freelancer, bayak kok perusahaan-perusahaan besar dengan tumpukan invoice yang tidak tertagih selama bertahun-tahun. It’s part of business. Enggak mungkin ada bisnis yang 100% untung terus, sekali-kali pasti akan ketemu model klien yang tidak beretika. Jangan patah semangat cuma gara-gara klien yang enggak punya etika, ya! Rugi di kita dong!

Apa pengalamanmu yang paling berkesan selama berkarier sebagai freelancer?

Saat saya mendapatkan kontrak kerja dengan sebuah perusahaan asal Malaysia, dan mereka rela menerbangkan saya ke Kuala Lumpur untuk meeting dan photoshoot selama 4 hari. Semua biaya transportasi dan akomodasi ditanggung mereka~

Baca Juga: Pola Pikir Freelancer yang Sukses Ala Silke Widjaksono

Pola Pikir Freelancer yang Sukses Ala Silke Widjaksono
(Dok. Silke Widjaksono)

Ada tips untuk mereka yang ingin memulai freelancing?

Open up your mind. Mulai dari mindset yang tepat. Baca buku The Wonder Freelacer, deh, semua yang saya tahu mengenai dunia freelancing saya tuangkan di sana.

Jangan takut mulai dari bawah, awal-awal kerja gratis demi portofolio enggak apa-apa, asalkan kamu punya visi yang jelas kedepannya mau apa, dan kerja gratis-mu itu bisa jadi portofolio yang medukung karier kamu nantinya. Jadi, ya, jangan sembarangan kerja gratis juga. Pilih dan pilah-lah yang bisa menguntungkan masa depanmu.

Ada pesan untuk mereka yang masih memandang profesi ini sebelah mata?

Enggak ada. I don’t care. hehehe…

Awalnya saya juga dianggap sebelah mata. Terus kenapa? Biarin aja. Toh saya pikir ini visi saya, impian saya, kalau orang lain enggak paham ya enggak apa-apa lah. Intinya kerja keras aja, nanti kalau sudah sukses otomatis kan banyak yang datang untuk bertanya “kok bisa?” “ternyata kerja freelance dari rumah kayak lo enak ya?”

Dulu pernah ada kerabat yang memandang profesi saya sebelah mata, kini malah dia yang merekomendasikan saya ke perusahan-perusahaan. Suatu hari orang yang menyepelekan kamu malah bisa jadi supporter kamu. Tentu saja asal kamu gigih dan kosisten.

Suatu hari orang yang menyepelekan kamu malah bisa jadi supporter kamu.

Silke Widjaksono: Jangan Takut Memulai dari Bawah!

By
Pandji Putranda
.
March 12, 2020

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Silke Widjaksono: Jangan Takut Memulai dari Bawah!

By
Pandji Putranda
.
March 12, 2020

Crafters Newsletter

Sign up to our weekly email to get:
Article Updates
Event Announcements
Webinar Announcements
Free Research
Free
Offers
Free
Tutorials

Related articles