X

Sign Up to Crafters Newsletter
for Free!

Saba Barnard: Melawan Stigma lewat Technicolor Muslima

By
MLR
 •
April 21, 2020
Dok. Kolase Technicolor Muslima - Saba Barnard

Seperti yang pernah Crafters bahas sebelumnya, Technicolor pernah menjadi teknologi perfilman profesional yang digandrungi para pecinta film era 20-90an. Technicolor juga menjadi simbol kekuatan besar sebuah perusahaan paling berpengaruh di Hollywood dan mengakar kuat dalam benak banyak orang sebagai pionir estetika visual modern. Pengaruh besar frasa Technicolor memang tidak perlu diragukan lagi. Namun siapa sangka, frasa tersebut juga punya arti yang lebih penting dan positif di medium selain film?

Adalah Saba Barnard, seniman Pakistan-Amerika, yang berhasil memadukan frasa Technicolor dengan medium seni lukis untuk membuat pernyataan penting terkait problem rasial terhadap kelompok Muslim di Amerika Serikat. Lewat seri lukisan Technicolor Muslima, Saba berusaha mengubah pandangan negara barat terhadap Muslimah AS pasca tragedi 9/11 melalui potret warna-warni yang memukau.

Baca juga: Tren Membuat Desain Visual Kreatif
Dok. Noor Iskander

Seperti yang diungkapkan Daniel Rivero untuk Splinter, sementara sebagian teman-teman sekelasnya diam-diam pergi ke luar rumah sembari membawa rok pendek untuk dipakai, Saba mengenakan jilbab untuk dikenakan sebelum tiba di sekolah.

Saba ialah wanita berkulit gelap dan berambut tebal yang menggemari hidangan kari; tidak pernah pergi ke luar rumah mengenakan rok mini dan tidak mengonsumsi babi. Seiring waktu, Saba menyadari bahwa gaya hidupnya berbeda dengan teman-teman sepantarannya. Semenjak kecil, Saba telah dihadapkan dengan istilah “yang-lain”; ia menjadi contoh atas istilah perbedaan di sekolahnya yang terletak di North Carolina.

Selama bertahun-tahun, Saba memaksa dirinya untuk membaur dengan lingkungan sekitar. Ia tumbuh di keluarga Pakistan yang cenderung tidak menginginkan seorang wanita tampak menonjol. Keluarganya tak ingin Saba mengenakan jilbab, mengingat stigma buruk yang biasa melekat di kepala masyarakat blok barat. Namun bagi Saba, sepotong pakaian tersebut memberikan rasa kepemilikan. Dan semenjak peristiwa 9/11, Saba jadi merasa bertanggung jawab untuk menunjukkan sisi Muslim yang lebih positif. Dalam pikirannya, jika dengan memakai jilbab sedikit demi sedikir orang di sekitarnya dapat melihat sisi lain dan menjadi contoh yang baik, Saba akan melakukannya.

Keinginan dan rasa tanggung jawabnya untuk mengubah cara berpikir orang di sekitar tentang penganut ajaran Islam inilah yang menggerakkan karier Saba sebagai seorang seniman. Lewat karyanya yang menggambarkan sosok wanita Muslim kuat, Saba berhasil mengadakan pameran di galeri kota asalnya, Raleigh, North Carolina, pada sebuah pertunjukan di World Islamic Economic Forum London tahun 2013.

Seri lukisannya yang berjudul “Technicolor Muslima” menghadirkan pandangan baru terhadap kehidupan seorang Muslim kepada mereka yang mengenal Islam dari penggambaran media arus utama. Dalam pandangan Saba, kebanyakan media arus utama cenderung menggambarkan wanita Muslim sebagai penurut dan tampak seragam. Perlakuan modern terhadap topik Muslim dalam seni dan media sendiri hampir selalu muncul bersamaan dengan kontroversi relijius dan politik. Topik Muslim dan perdebatan hangat seputarnya hampir selalu diberi label “eksotis”.

Meski konflik yang muncul dari pandangan tersebut sangat nyata, seringkali media visual dan “Muslim art” enggak berupaya mengurangi persepsi terhadap para Muslim sebagai obyek eksotis, “yang-lain”, dan homogen. Penggambaran ini langgeng dilestarikan oleh banyak orang hingga muncul anggapan bahwa negara Timur sangatlah bertolak belakang dari paham negara Barat. Penggambaran ini, menurut Saba ketika menjabarkan Technicolor Muslima sebagai salah satu esai yang dapat dibaca di Gender & Women’s Studies, Second Edition: Critical Terrain, sepenuhnya merupakan kelakar.

Saba secara jelas mengungkapkan jika Islam bukanlah sebuah kotak yang kecil. Islam tidak hanya satu dimensi; begitupun dengan orang-orang yang memiliki identitas sebagai seorang Muslim. Oleh karenanya, Saba memilih untuk melukis potret-motret Muslim Amerika yang penuh warna langsung dari kacamatanya, sebagaimana yang ia tahu semenjak kecil; berani dan bersaturasi tajam seperti layaknya terobosan teknologi Technicolor yang pernah menggebrak dunia perfilman bertahun-tahun silam.

Kepada Splinter, Saba Barnard mengungkapkan selagi ia membuat potret manusia yang menunjukkan beragam lapisan identitas, ia berupaya untuk menekankan identitas “Amerika” dan “modern” tanpa menghapus identitas Muslimnya. Bagi Barnard, membangun hubungan dengan sesama lewat seni dan budaya adalah tujuan hidupnya.

“Lewat budaya, kamu memberikan masyarakat sebuah suara. Ketika kamu memisahkan orang dari budaya, tindakan itu tidak manusiawi; seolah-olah orang tersebut tidak memiliki suara, seolah-olah mereka tidak punya apa-apa untuk disampaikan,” tutur Barnard.

Selain Technicolor Muslima, Saba Barnard yang juga dengan bangga memperkenalkan diri sebagai seorang queer Muslim, aktivis dan seniman visual lintas media ini telah membuat berbagai karya lukis menakjubkan lainnya seperti An-Noor, Queer serta beberapa karya penting lainnya. Semua karya Saba Barnard bisa kamu cek langsung di website resminya.

Baca juga: Tren Seni Kolase Digital

Heading 1

Heading 2

Heading 3

Heading 4

Heading 5
Heading 6

Regular

Italic

Bold

  • Test 1
  • Test 2
  1. Test A
  2. Test B

What’s a Rich Text element?

The rich text element allows you to create and format headings, paragraphs, blockquotes, images, and video all in one place instead of having to add and format them individually. Just double-click and easily create content.

Static and dynamic content editing

A rich text element can be used with static or dynamic content. For static content, just drop it into any page and begin editing. For dynamic content, add a rich text field to any collection and then connect a rich text element to that field in the settings panel. Voila!

How to customize formatting for each rich text

Headings, paragraphs, blockquotes, figures, images, and figure captions can all be styled after a class is added to the rich text element using the "When inside of" nested selector system.

Saba Barnard: Melawan Stigma lewat Technicolor Muslima

By
MLR
.
April 21, 2020

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Saba Barnard: Melawan Stigma lewat Technicolor Muslima

By
MLR
.
April 21, 2020

Crafters Newsletter

Sign up to our weekly email to get:
Article Updates
Event Announcements
Webinar Announcements
Free Research
Free
Offers
Free
Tutorials

Asupan Kreatif Mingguan

Gratis

Artikel-artikel kreatif terpercaya

-
-
-
Dapatkan gratis

Langganan Premium

US$ 10 / bulan

8+ tiket webinar marketing gratis setiap bulan
Semua siaran ulang tutorial, diskusi & wawancara
Panduan & riset terdepan di industri
Penawaran eksklusif dari brand & Event VIP
Artikel-artikel kreatif terpercaya

Related articles