X

Sign Up to Crafters Newsletter
for Free!

Ryan Pradana: Kreatif karena Kepepet

By
Ryan Pradana
 •
April 23, 2020

Halo, nama gue Ryan Pradana. Gue visual artist dari Jakarta. Gue banyak melukis di atas kanvas maupun merchandise. Gue memilih melukis di atas kanvas karena gue mau mencoba hal yang baru selain watercolor. Ada suatu ketika gue bosan, lalu merasa "udah cukup" di kanvas. dan gue memilih akrilik karena cetaknya relatif lebih mudah diaplikasikan ketimbang oil. karena oil kan harus pakai terpentin. harga akrilik juga lebih terjangkau daripada oil.

Sampai akhirnya gue memutuskan untuk jadi freelancer, dan ini cerita perjalanan gue.

Karya gue “jejepangan” banget karena gue tumbuh dan besar di masa yang sangat dipengaruhi oleh budaya Jepang. Anime hari Minggu pagi misalnya. Gambar pertama yang gue bisa tuh Dragon Ball. Jadi adik bungsu nyokap tuh punya komik Dragon Ball. Dia juga bisa gambar, terus gue coba-coba sendiri, eh bisa. Sampai akhirnya gambar gue berkisar di situ. Kalau enggak anime ya manga.

Ciri khas karakter di karya gue itu gambar sosok perempuan yang gue adopsi kurang lebih dari Kitsune, salah satu mitologi Jepang yang metafornya memberi kesan agung. Terus ada juga Hannya, sebagai penggambaran "demon"nya.

Dok. Behind the Craft


Lalu beranjak gue sekolah, masuk yang namanya Playstation. Di majalah-majalah game kayak HotGame, kan suka ada fanart tuh. Gue suka lihat gambar-gambarnya. Gue coba-coba latihan gambar dan kirim, terus karya gue dipajang di majalah itu dan gue dapat hadiah stik PS.

Beranjak SMP, gue sempet punya fokus lain. Masa itu gue lebih memilih main basket daripada melukis. Ditambah, gue suka banget sama manga Harlem Beat yang ceritanya seputar basket. Harlem Beat juga mempengaruhi gaya menggambar gue. Masuk SMA, gue bisa dibilang hampir enggak nyentuh gambar sama sekali. Lagi labil-labilnya di usia tanggung.

Begitu masuk kuliah, style gambar gue berubah lagi karena udah mulai mengenal lebih banyak gaya dan metode. Kuliah di Itenas Bandung, ambil jurusan DKV. Itupun gue kuliahnya telat 2 tahun. Dan gue termasuk mahasiswa yang tidak teladan, karena pada akhirnya gue lebih memilih nge-band daripada kuliah. Gue kuliah sampai Semester 6 sampai akhirnya gue kena Pemutihan. Jadi gue disuruh tes ulang, bayar ulang, layaknya mahasiswa baru, tapi gue enggak perlu turun angkatan. Tapi karena gue enggak mau nyusahin nyokap, akhirnya gue bilang ke nyokap kalau gue enggak nerusin kuliah lagi dan cari kerja aja. Pulang ke Jakarta.

Gue pernah ngajar di studio lukis buat anak-anak. Lucu tuh. gue enggak lulus kuliah tapi bisa jadi guru! Tanpa bekal ngajar sama sekali, semata gue suka sama anak kecil. Di situ gue mau enggka mau harus belajar dan eksplorasi warna. Jadinya malah gue yang lebih banyak belajar di situ.

Teman gue pernah bilang lebih baik gue jadi graphic designer aja. Kan percuma kalau ngelukis, begitu dapat duit, langsung habis lagi buat beli cat dan bahan lainnya. Apalagi dia bilang kalau gambar gue belum punya karakter.


Gue enggak mau gambar "kopong" doang. Percuma gambar bagus tapi ngandelin teknik doang.

Dok. Behind the Craft

Kreatif Karena Kepepet

Jadi freelancer jelas enggak gampang. Ada satu masa di mana enggak ada proyekan sama sekali dan gue kebingungan. Temen-temen gue bilang gue terlalu idealis. "Lo enggak bisa hidup cuma bermodalkan skill lo doang". Tapi di satu sisi, gue  tahu kalau banyak visual artist yang bisa hidup dengan skill mereka. Gue mau ambil satu bagian dalam hidup mereka untuk gue coba aplikasikan ke dalam hidup gue sendiri.

Sampai saat di mana gue lagi enggak megang uang sama sekali. Biasanya kan manusia kalau udah kepepet baru bisa berpikir kreatif. Gue akhirnya kepikiran untuk gambar di atas merchandise. Tapi saat itu, yang pertama kali gue buat di atas fanny pack. Nah, waktu itu lagi musimnya fanny pack di Hypebeast. Gue coba dulu untuk bikin prototipenya, ternyata bisa, enak, dan pas juga buat digambar. Mulai dari situlah gue jadi sering bikin karya di merchandise.

Dok. Behind the Craft

Melanjutkan Cita-Cita Ayah

Gue dapat bakat menggambar ini dari almarhum bokap. Pada akhirnya gue berpikir kalau gue bisa hidup di jalur seni. Mungkin orang melihat dengan menjadi karyawan kantoran pada umumnya [hidup] akan lebih menjanjikan. Dan itu benar. Karena hidup sebagai seniman, terutama freelancer, hidup terasa seperti roller coaster. Naik-turun banget.

Almarhum bokap tuh awalnya musisi. Pemain drum band reguler dari bar ke bar. Dari situ dia bangun jaringan pertemanan, dan teman-temannya akhirnya tahu kalau bokap bisa ngegambar. Pas masih kecil, gue selalu ngeliat dia ngelukis. Tapi style bokap karikatur.

Sampai suatu ketika, dia kecelakaan abis pulang nge-band. Kakinya hancur dan rumah sakit sudah menyarankan amputasi. Dan karena enggak mau diamputasi, akhirnya dibawa ke tukang urut. Akhirnya bokap sembuh, bisa jalan lagi, tapi trauma dan akhirnya enggak bisa main drum lagi.

Keluarga bilang kalau gue sama banget kayak bokap. Pola pikirnya sama, keras kepalanya sama. Singkat cerita, akhirnya bokap milih untuk hidup sendiri di Bali. Di sana dia berkarya penuh. Mungkin bokap berpikir kalau dia tinggal di Jakarta, dia enggak akan bisa ngapa-ngapain. Sampai akhirnya dia pindah ke Bali dan mencoba hal lain selain melukis. Memahat misalnya.

Sampai akhirnya bokap benar-benar pulang pas gue masuk SMA. Dia sampai di Jakarta persis pas tragedi Bom Bali. Dia sempet was-was soal kondisi Bali, sampai akhirnya memutuskan untuk menetap lagi di Jakarta. Memindahkan semua bisnisnya ke Jakarta.

Suatu ketika, bokap baru ketahuan kalau sakit. Dia didiagnosa kanker paru-paru, tapi bukan karena dia merokok berat. Dia sakit karena pekerjaannya sendiri. Misalnya waktu memahat dan melukis, pakai airbrush, enggak pernah pakai masker. Lalu enggak sampai setahun kemudian, bokap meninggal.

Dari situ gue berkaca. Gue pingin kayak bokap, kalau bisa malah lebih dari bokap. Gue berusaha untuk tetap idealis karena gue melihat perjalanan bokap. Gue ingin meneruskan mimpi dan talenta yang mungkin enggak pernah kesampaian.

Akhirnya banyak banget pekerjaan yang gue lakoni demi kebutuhan hidup. Sampai akhirnya gue sadar kalau jalan gue enggak di sini. Jalan gue di seni rupa. Tahu-tahu gue melukis lagi, gue mempersiapkan pameran pribadi. Gue sampai di tahap ini.

Pokoknya, dari semua jatuh bangunnya kehidupan gue sebagai freelancer. Gue yakin banget dengan apa yang gue lakukan sekarang bisa membawa gue ke depannya tetap menjalani hidup apa adanya. Gue enggak akan berhenti begitu saja. Gue yakin dengan berkesenian, kita enggak bakal berhenti berproses sebagai manusia.

Heading 1

Heading 2

Heading 3

Heading 4

Heading 5
Heading 6

Regular

Italic

Bold

  • Test 1
  • Test 2
  1. Test A
  2. Test B

What’s a Rich Text element?

The rich text element allows you to create and format headings, paragraphs, blockquotes, images, and video all in one place instead of having to add and format them individually. Just double-click and easily create content.

Static and dynamic content editing

A rich text element can be used with static or dynamic content. For static content, just drop it into any page and begin editing. For dynamic content, add a rich text field to any collection and then connect a rich text element to that field in the settings panel. Voila!

How to customize formatting for each rich text

Headings, paragraphs, blockquotes, figures, images, and figure captions can all be styled after a class is added to the rich text element using the "When inside of" nested selector system.

Ryan Pradana: Kreatif karena Kepepet

By
Ryan Pradana
.
April 23, 2020

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Ryan Pradana: Kreatif karena Kepepet

By
Ryan Pradana
.
April 23, 2020

Crafters Newsletter

Sign up to our weekly email to get:
Article Updates
Event Announcements
Webinar Announcements
Free Research
Free
Offers
Free
Tutorials

Asupan Kreatif Mingguan

Gratis

Artikel-artikel kreatif terpercaya

-
-
-
Dapatkan gratis

Langganan Premium

US$ 10 / bulan

8+ tiket webinar marketing gratis setiap bulan
Semua siaran ulang tutorial, diskusi & wawancara
Panduan & riset terdepan di industri
Penawaran eksklusif dari brand & Event VIP
Artikel-artikel kreatif terpercaya

Related articles