X

Sign Up to Crafters Newsletter
for Free!

Ruang Pemutaran Alternatif: Bukan Sekadar Tempat Nonton

By
Pandji Putranda
 •
May 22, 2020
[Dok. Foto - Jakarta Tourism/Kinosaurus Jakarta]

Crafters kembali ngobrol bareng Alexander Matius, programmer film ruang pemutaran alternatif Kinosaurus Jakarta.

Setelah sebelumnya kita membahas tentang dinamika kerja seorang programmer film dan apa saja seluk-beluk programasi film itu sendiri, kali ini Matius akan bercerita tentang peran ruang pemutaran alternatif di tengah konstelasi perfilman (yang notabene dikepung oleh hegemoni jaringan bioskop raksasa) dan keunggulan maupun keunikan ruang pemutaran film alternatif yang barangkali tidak bisa ditemui di ruang pemutaran besar.

Apa itu ruang pemutaran film alternatif? Apa perannya dalam konstelasi perfilman?

Film itu luas banget. Dia bukan sesuatu yang stagnan, bukan ilmu eksak yang pasti. Bentuknya ada banyak, dan fungsinya juga sangat beragam. FIlm bisa jadi sarana rekreasi, bisa juga jadi wadah eksperimentasi estetika audiovisual, bisa juga jadi medium penelitian atau laporan yang sifatnya investigatif.

Nah, ruang-ruang pemutaran yang so-called alternatif ini kan berada di luar wilayah arus utama, jadi tujuan utama didirikannya ruang-ruang pemutaran alternatif ini tuh untuk memberikan tempat bagi film-film barusan. Itu tujuan utamanya, ya. Dari semua keberagaman film dan penonton ini, film yang tidak masuk ke wilayah arus utama jadi punya kesempatan untuk bertemu dengan penonton.

Analoginya, lo pingin makan di restoran, tapi semua restoran yang ada cuma menyediakan menu ayam. Sementara lo pingin juga makan ikan, cumi, tempe, dan lainnya. Nah inilah ruang-ruang pemutaran alternatif. Lo bisa menemukan ragam dan bentuk menu yang baru, yang siapa tahu sesuai dengan selera lo.

Kalaupun ada menu yang nggak sesuai sama selera lo, pasti ada aja orang lain yang doyan. Lo nggak suka sama tempe bukan berarti tempe jadi nggak bisa punya kesempatan untuk disajikan, dong? Kira-kira gitu gambarannya.

Pilihan-pilihan ini pada akhirnya juga akan membuat industrinya sehat. Audiens bisa punya lebih banyak opsi tontonan.

Belum lagi kalau kita ngomongin negara. Dalam artian di negara mana sebuah film diproduksi. Misalnya ada film dari Indonesia dan dari negara lain yang topiknya sama, tapi ternyata resolusinya berbeda. Pada akhirnya lo jadi punya bahan studi komparatif terhadap dua negara tersebut. Lo bisa belajar sesuatu yang baru, yang mungkin selama ini nggak kepikiran sama sekali.

Balik lagi, fenomena kultural begini yang membentuk film lebih sebagai social science ketimbang ilmu eksak.

Baca Juga: Beberapa Pertimbangan Sebelum Kamu Masuk Sekolah Film

[Dok. Foto - Kinosaurus/Kino Postcard]

Bagaimana dengan ruang pemutaran alternatif di Indonesia?

Masalahnya, ruang-ruang pemutaran alternatif di Indonesia kurang tumbuh. Karena memang industrinya sendiri sudah mahal. Di beberapa negara lain, seperti Korea Selatan atau Belanda, ruang-ruang pemutaran alternatif lebih punya kans untuk tumbuh dan sustain. Sekalipun mereka punya tantangannya sendiri-sendiri, setidaknya secara teknis, modal mereka sudah cukup layak untuk bisa disandingkan dengan kemampuan teknis jaringan bioskop besar.

Kendala teknis ini bisa jadi yang paling krusial. Film toh juga produk teknologi yang nggak bisa serta-merta mengesampingkan kemampuan teknis ruang pemutarannya.


Apa keunggulan ruang pemutaran film alternatif yang menurutlo nggak bisa ditemui di ruang pemutaran pada umumnya?

Fleksibilitas program. Ruang pemutaran alternatif tidak terpaku pada perkara finansial semata. Dia juga bisa menawarkan sesuatu yang sifatnya lebih kepada pembacaan [sinema], atau bisa menginisiasi diskusi-diskusi kreatif itu sendiri di kalangan penontonnya. Ada lebih banyak kemungkinan  untuk bisa bereksperimen dengan banyak hal. Tentu aspek finansial penting, tapi setidaknya itu nggak menjadi prioritas utama yang harus melulu dikejar.

Penonton nggak sekadar datang, nonton, pulang. Mereka juga lebih dilibatkan secara aktif untuk berpartisipasi. Bisa dengan diskusi maupun sesi tanya jawab dengan pembuat filmnya. Atau kegiatan bersama, deh. Nggak harus yang serius-serius. Karena toh rundown-nya juga bisa sangat fleksibel.

Baca juga: Alexander Matius: Bioskop Alternatif Harus Bisa Memberikan Pengalaman Personal


Gimana ruang pemutaran alternatif menyikapi kebijakan sensor?

Agak sulit sebenarnya membicarakan sensor di ranah ruang pemutaran laternatif. Sejujurnya gue belum kebayang kalau di Indonesia. Gini deh... Kalau misalnya kita membicarakan tentang bagaimana kita merespons cara pandang orang-orang di seluruh dunia, menurut gue jangan dibatasi oleh ketakutan-ketakutan yang tidak perlu.

Contoh sederhananya adegan film Parasite (2019) yang dipotong. Yang sebenernya ya... gitu aja. Bahwasanya menonton film secara utuh adalah mengapresiasi cara pembuat film mengkomunikasikan karyanya. Seorang pembuat film pasti nggak asal memasukkan adegan tanpa alasan yang kuat. Nggak mungkin mereka terima-terima aja kalau filmnya dipotong.

Orang yang pernah melihat proses syuting pasti tahu betapa ribetnya bikin satu adegan. Ini yang jadi PR sebenarnya.

Misalnya ada film yang ngebahas paham Marxis, ideologi Komunisme, atau apalah, yang dilarang di negara ini, tapi kemudian bisa memunculkan diskusi-diskusi kritis lebih lanjut, ya kenapa harus disensor? Menurut gue zamannya sudah nggak tepat. Zaman sudah bergeser.

Hari gini sensor udah nggak relevan lagi. Kalau kita bicara dalam skup lembaga (Lembaga Sensor Film/LSF), orang-orang ini nggak jelas siapa. Kalaupun dibilang mewakili masyarakat, gue nggak yakin "mewakili masyarakat" menjadi pernyataan yang cukup penting untuk membuat mereka sahih. Karena toh pada dasarnya pandangan tiap orang beda. Terus gimana caranya orang-orang ini bisa "mewakili" masyarakat luas?

Concern-nya lembaga ini kan jadi lebih kayak ketakutan yang menurut gue irasional aja. Misalnya kayak [menyensor adegan kekerasan karena] ketakutan akan munculnya potensi kriminalitas. Kayaknya sejauh ini nggak ada film Indonesia sebegitu ekstrim yang bisa mendorong orang-orang untuk melakukan tindakan kriminal.

Gue nggak bisa membayangkan ada satu lembaga yang berusaha merepresentasikan cara berpikir orang-orang. Sementara lembaga ini paranoid banget sama hal-hal nggak penting. Menurut gue aneh aja. Yang lebih penting diurus justru perlindungan hukum terhadap para pekerja film.

Ini kan sama aja kayak ada lembaga yang ngatur-ngatur cara gue pake baju. Apa yang selama ini dilakukan LSF menurut gue adalah opsi yang paling dangkal untuk mengajak orang-orang berpikir terbuka, bahkan kritis. Di samping itu, nggak ada diskusi-diskusi yang menjadi penyeimbang kelakuan mereka juga. Okelah misalnya mereka melakukan sensor karena alasan perlindungan. Tapi perlindungan macam apa? Perlindungan terhadap bahaya menonton tayangan kekerasan? Kalau begitu, kenapa nggak sekalian dijadikan kurikulum untuk bahan literasi media? Kalau begini, kan, kita kayak dianggap orang-orang bodoh yang nggak bisa diatur dan harus terus disuapin.

Ini nggak cuma untuk wilayah ruang pemutaran alternatif, ya. tapi untuk ruang pemutaran secara keseluruhan, termasuk jaringan bioskop besar.

Ruang Pemutaran Alternatif: Bukan Sekadar Tempat Nonton

By
Pandji Putranda
.
May 22, 2020

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Ruang Pemutaran Alternatif: Bukan Sekadar Tempat Nonton

By
Pandji Putranda
.
May 22, 2020

Crafters Newsletter

Sign up to our weekly email to get:
Article Updates
Event Announcements
Webinar Announcements
Free Research
Free
Offers
Free
Tutorials

Related articles